The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Cerita Di Lembah


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Papa ikuut!" Anandita berlari mengejar ayahnya yang sudah siap dengan sepatu olahraganya.


"Tidak usah, lebih baik kamu di sini saja." Arfan menolaknya.


"Tapi aku mau ikut." Namun gadis itu cepat-cepat mengenakan sepatunya, lalu segera mengikuti sang ayah.


"Kami mau ke bawah menyusuri tracknya Arkhan, Ann." Pria itu tetap menegaskan kepada putrinya untuk tak ikut.


"Iya tahu."


"Jauh."


"Nggak apa-apa, aku tetap mau ikut." Anandita melirik ketika sosok Regan muncul dari jalan setapak di bawah.


"Nanti kamu capek."


"Iya iya, tahu."


"Awas jangan minta digendong!" Arfan memperingatkan sehingga membuat sang putri tertawa terbahak-bahak.


"Emangnya aku Anya?" katanya yang menggerakkan tangan dengan samar ketika melewati Regan yang berdiri di pinggir jalan, membiarkan mereka berjalan lebih dulu.


"Ya siapa tahu? Mommy mu dulu juga begitu." Dan Arfan menatap asisten adik iparnya tersebut lewat sudut mata ketika dia mengangguk.


"Masa?"


"Ya."


"Emangnya Papa kuat gendong Mommy? Nggak kebayang, ahahaha." Gadis itu tertawa lagi sambil membayangkan adegan yang ayahnya ucapkan.


"Sembarangan kamu!"


"Eh, kita mau ngikutin tracknya Arkhan biar apa? Dia kan jalannya pakai motor?" Anandita mengalihkan topik pembicaraan sambil sesekali berpura-pura menengok ke belakang di mana Regan juga berjalan dalam jarak beberapa meter dari mereka.


"Mau tahu apa yang sebenarnya dia lakukan sampai-sampai betah di sin?"


"Kenapa nggak nyuruh orang cari tahu aja sih? Kan Papa nggak perlu capek-capek jalan. Lagian, bukannya semalam udah nyuruh Om Regan nemuin Arkhan? Emangnya nggak berhasil bawa dia pulang?"


"Berhasil."


"Terus?"


"Tadi subuh sudah pergi lagi."


"Aduh?"


"Makanya. Lagipula kita bisa sambil olah raga kan?"


"Mm … mungkin di sana Arkhan punya gebetan, jadi betah." Anandita tertawa lagi.


"Masa iya?" Arfan menghentikan langkah.


"Bisa aja kan? Soalnya dia mencurigakan. Sering menghilang, terus banyak alesan kalau pulang sekolah."


"Tidak mungkin."


"Mungkin aja, Papa."


"Tidak. Papa yakin pengawasan untuknya benar-benar ketat, dan apa yang disampaikan orang suruhan Papa itu akurat."


"Apa?"


"Maksud Papa …."


"Papa ngawasin Arkhan?"


"Eee …."


"Jangan-jangan ke aku juga?"


Pria itu tak menjawab.


"Kayak tahanan kota!"


"Umm … Regan?" Dia malah mengalihkan perhatian.


"Ya Pak?" Regan menyahut dari belakang.


"Daryl tidak ikut?" Dia bertanya.

__ADS_1


"Tidak, Pak."


"Lalu apa yang dia lakukan?"


"Tadi …." Regan menggaruk kepalanya yang tak gatal.Β 


Dia berpikir jawaban apa yang sepantasnya disampaikan kepada pria di depan mengingat apa yang mungkin sedang dilakukan oleh atasannya.


Berbulan madu, apa lagi? Karena di saat semua orang berkumpul, atasannya tersebut malah memisahkan diri.


"Kau tidak menunggui atasanmu, heh?" Arfan berbicara lagi seraya melanjutkan perjalanannya ke bagian bawah resort.


"Pak Daryl mengatakan saya boleh pergi, Pak." Regan pun menjawab.


"Benarkah?" Arfan menoleh sekilas.


"Ya." Dan pria di belakang itu berhent berjalan.


"Hey, kau mau ke mana?" tanya Arfan saat Regan hampir saja berbrlok ke sebuah jalan di sisi kiri.


"Saya mau melihat ke area sini, Pak." jawabnya yang merasa menemukam cara untuk menghindari pria itu.


"Jangan, nanti kau tersesat." ucap Arfan yang juga berhenti.


"Maaf, Pak?"


"Itu jalan ke atas dan hanya ada satu track saja. Selebihnya hanya tebing dan semak belukar. Jika kau pertama kali berkunjung ke sini maka kau akan tersesat."


"Umm …."


"Ikut kami saja." ucap Arfan kemudian yang kembali melanjutkan langkahnya mengikuti para ipar yang sudah terlebih dahulu pergi.


"Regan??" Pria itu setengah berteriak saat Regan tertegun di belakang dengan raut heran.


"I-iya, Pak." Regan pun segera mengikutinya.


***


"Masih jauh nggak sih, kok lama banget? Kaki aku udah nggak kuat ini!" Anandita berhenti kemudian memegangi kakinya yang sudah terasa pegal.


"Sedikit lagi." Arfan pun ikut berhenti, seperti halnya Regan yang sejak tadi ada di belakang mereka.


"Dari tadi Papa bilang sedikit lagi, sedikit lagi. Tapi kita nggak sampai-sampai?" Gadis itu menggerutu.


"Sudah Papa katakan jangan ikut, tapi kamu tidak mau mendengar." Arfan memutar bola matanya.


"Kembali lagi saja ke villa sana!" ucap sang ayah yang meninggalkannya bersama Regan.


"Jauh, Papa!"


"Terserah!" ucap Arfan yang terus berjalan hingga ke bawah.


"Kamu rese sih?" Regan maju dua langkah sehingga dia mensejajari Anandita.


"Capek, Om. Bukannya Rese."


"Terus bagaimana? Mau kembali?" Mereka berdua menoleh ke belakang menatap jalan setapak yang sudah dilewati selama dua jam penuh.


Anandita bergidik ngeri kemudian menggelengkan kepala. "Nanjak, Om. Aku nggak akan kuat. Gimana baliknya nanti? Bisa-bisa kaki aku patah." katanya.


"Lebay!" Regan bergumam.


"Tapi kalau nanjaknya sama Om nggak apa-apa deh, paling kalau aku pingsan Om yang gendong. Iya kan?" Dia kemudian tertawa sambil bergeser ke dekat pria itu.


"Ann?" panggil Arfan dari bawah seolah memberi putrinya peringatan.


"Iya, Papa." Dan dengan terpaksa gadis itu bergegas mengikutinya.Β 


"Whoaaaaa …." Lalu mereka berhenti sebelum mencapai tempat tujuan.


Sebuah area terbuka yang awalnya merupakan lahan datar kini telah berubah menjadi trak berundak dan berkelok menyerupai arena balap berlumpur.


Memang belum sepenuhnya rampung,Β  namun jelas sekali akan menjadi sesuatu nantinya.


"Apa yang dia lakukan?" gumam Arfan yang kemudian buru-buru turun untuk mencari tahu.


"Arkhan dalam masalah besar." Regan berujar, lalu dia dan Anandita pun mengikuti pria itu.


"Kakak! Lihat, Kak Arkhan lagi motor-motoran!" Anya yang sudah tiba lebih dulu bersama Dimitri dan Satria juga yang lainnya menunjuk ke arah tengah di mana Arkhan dan beberapa orang pemuda sedang menjajal track.


"Arkhan!!" Lalu terdengar panggilan Arfan yang segera menuju ke tempat di mana putranya berada.


"Aduh … bencana besar akan segera terjadi." Darren bergumam seraya menahan Zenya yang berlari mengikuti pria itu.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Mengapa Papa tidak tahu?" katanya saat jaraknya sudah dekat dengan sang putra yang menghentikan laju motornya.


"Papa?" Dan Arkhan segera melepaskan helmnya.


Dia tampak terkejut dengan kehadiran sebagian anggota keluarganya yang tiba-tiba berada di tempat itu.


"Apa kamu bercanda?" Arfan menatap sekeliling area yang sudah tak seperti saat awal ia membangunnya.


"Umm …."


"Arkhan!"


"Eee … hehe. Iya, Pah." Hanya itu yang Arkhan ucapkan.


"Astaga! Kamu benar-benar serius, rupanya?" Dimitri dan Darren pun datang menghampiri. Sedangkan Satria masih menatap kagum pada apa yang tampak dalam pandangannya.


"Kamu yang membuat semua ini, Nak? Untuk apa? Mau mengadakan turnamen?" Pria itu pun mendekat, yang membuat Arkhan merasa percaya diri untuk menghadapi sang ayah yang mungkin akan murka kepadanya.


Dia tahu jika itulah kemungkinan yang akan terjadi karena menjadikan sebagian kecil lahan resort milik ayahnya sebagai tempat untuknya berlatih. Setidaknya, itulah rencananya.


"Eee …."


"Tidak! Masalahnya kamu tidak memberitahu Papa, Arkhan!" sela Arfan yang masih tidak percaya dengan penglihatannya.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan semua ini? Bagaimana bisa?" katanya lagi dengan nada sedikit kecewa.


"Mommy mu tahu?" tanya nya.


Arkhan menggelengkan kepala.


"Jadi kamu membuat ini tanpa sepengetahuan siapa pun?"


Lalu dia mengangguk.


"Untuk apa?" Arfan sedikit membentak.


"Eee … untuk … latihan, Pah." Akhirnya dia menjawab.


"Latihan apa? Kamu mau balapan?"


"Kurang lebih begitu."


"Yang benar saja!"


"Eee … nggak balapan juga sih, tapi …."


"Kamu tidak bisa begitu saja membuat sesuatu tanpa izin. Apalagi tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Papa atau Mommy. Memangnya kamu anggap apa kami ini?"


Arkhan terdiam.


"Kamu tidak bisa seenaknya berbuat seperti itu, apalagi ini dibuat di resort. Di tempat orang-orang menginap dan menghabiskan waktu untuk berlibur. Dan orang datang kemari untuk mencari ketenangan, bukannya malah mendengarkan suara berisik dari mesin motor yang kamu tunggangi. Apa-apaan ini?" Arfan tampak tak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh putranya.


"Tapi, Pah. Aku …."


"Papa sudah cukup memberikan kebebasan yang kamu mau, tapi apa? Kamu berbuat seenaknya dan itu mengecewakan!" Arfan tampak serius.


"Selalu beralasan agar bisa keluyuran, sering tidak ada di rumah bahkan untuk acara keluarga, kamu bahkan sudah tidak punya niat untuk melanjutkan sekolah. Apa karena ini?" Arfan menghempaskan helm dari genggaman putranya, dan dia tak main-main.


"Mau jadi apa kamu?" Dia melanjutkan.


"Dengan begini saja kamu sudah tidak menghargai Papa dan Mommy, lalu apa selanjutnya? Hidup di jalanan dan melakukan hal tidak berguna?" Suaranya semakin meninggi.


"Arfan?" Namun Satria segera menghentikannya.


"Sekarang bereskan kekacauan ini dan kembali ke atas!" katanya lagi yang maju dan merebut kunci motor dari salah satu temannya Arkhan.


"Tapi Pah, aku …."


"Sekarang!"


Arkhan menatap ke arah Satria untuk meminta pertolongan. Namun sang kakek hanya menyentakkan kepala, memberinya isyarat untuk menurut.


"Cepat, Arkhan! Suruh teman-temanmu untuk pulang dan kamu kembali ke villa!" ucap Arfan lagi, dan kali ini Arkhan tak punya pilihan lain.


Dia memungut helm dari tanah dan mengenakannya kembali. Kemudian menuruti apa yang ayahnya katakan sementara pria itu mengikutinya dari belakang dengan motor milik temannya.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...

__ADS_1


Aduh, sabar Papa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Selamat makan daging, Gaess🀣🀣🀣


__ADS_2