
💞
💞
"Usia kandungan delapan minggu, dan ini sesuai dengan perkiraan." Dokter beralih pada pasangan itu yang sama-sama menatap monitor besar di depan menampilkan kondisi di dalam rahim Nania.
"Tiga janin di dalam tumbuh dengan baik dan mereka sehat. Hanya saja …." Dia memperbesar tampilan layar pada salah satu janin.
"Kenapa?" Daryl bereaksi dengan mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat gambar lebih jelas.
"Salah satunya lebih kecil dari dua saudaranya. Tapi itu tak apa, dan biasa." Dokter melanjutkan, namun membuat Nania dan Daryl terdiam untuk beberapa saat.
"Jangan khawatir, mereka masih berkembang dan semuanya bisa diusahakan."
"Is that … okay? I mean …."
"Semuanya baik-baik saja. Jika Bu Nania menjalankan semua saran saya dan menepati aturan dokter, tidak akan ada kendala. Mereka akan baik-baik saja karena rahim ibu merupakan tempat terbaik untuk berkembang."
Daryl dan Nania saling pandang.
"Selalu memakan makanan yang bergizi dan baik untuk tubuh karena itu akan berdampak juga pada perkembangan janin ya, Bu Nania? Dan jangan lupa obat, vitamin dan susunya diminum sesuai aturan." Dokter berkerudung hitam itu tersenyum.
"Dokter serius? Jangan membuat saya takut dengan berita semacam ini, Dokter. Anda tahu apa yang sudah kami alami dan ini merupakan hal yang kami nantikan setelah sekian lama." Daryl meyakinkan keadaan kandungan Nania.
"Tidak apa, Pak Daryl. Ini bukan hal yang serius. Sudah saya katakan jika perkembangan janin masih berlangsung dalam tahap awal ini, dan semuanya tergantung kebiasaan ibu."
"Hmm …."
"Lanjutkan konsumsi semua vitamin dan suplemennya ya? Kalau soal makan saya yakin Anda sudah paham." ucap dokter itu lagi yang hampir menyudahi sesi konsultasi pada hari itu.
"Baik, Dokter. Terima kasih." Daryl menjawab kemudian membantu Nania bangkit dan membenahi pakaiannya setelah USG nya selesai.
"Lalu bagaimana dengan saya, Dokter?" Sebelum keluar dia bertanya lagi.
"Anda kenapa, Pak?"
"Ngidamnya kenapa saya yang merasakan? Ini mulai sedikit mengganggu, Dokter." Dia mengadu, yang membuat dokter tersebut tertawa.
"Begitulah kehamilan simpatik, Pak. Anda hanya harus bersabar ya? Nanti reda dengan sendiri."
"Tapi masa sampai berbulan-bulan? Saya kan tersiksa. Apalagi kalau harus lama-lama jauh dari Nania. Rasanya seperti mau mati!"
Nania memutar bola matanya karena semakin lama kekonyolan yang ada pada suaminya semakin bertambah parah saja. Belum lagi dengan keinginannya yang kadang tidak masuk akal dan merepotkan hampir semua orang yang ada di rumah.
"Alihkan saja pada hal positif, Pak. Saya yakin pasti bisa karena para ayah tidak memiliki tanggung jawab di rumah sebanyak ibu-ibu."
"Misalnya apa?"
"Apa saja. Bisa dengan olahraga, atau menjalankan hobi."
"Olahraga dan hobi saya ya dengan Nania. Eh … maksudnya harus dengan Nania." Pria itu meralat ucapannya ketika Nania menepuk pahanya di bawah meja.
"Ya selama itu hal positif dan tidak memberatkan ibu hamil, lakukan saja. Olah raga ringan juga sangat dianjurkan agar kebugaran ibu tetap terjaga dan bisa melancarkan proses kelahiran nantinya." jelas sang dokter.
"Begitu?"
"Ya. Jalan bersama setiap pagi dan sore, jogging atau berenang. Itu sangat baik untuk ibu hamil."
"Baiklah."
***
"Hati-hati, Baby!" Pria itu membantu Nania masuk ke dalam mobil dan dia memastikan jika perempuan itu duduk dengan nyaman di tempatnya.
Daryl bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai tempat bersandar bagi Nania agar bisa tetap mengetahui keadaannya selama dalam perjalanan pulang. Sementara perempuan itu hanya menerima semua perlakuan suaminya tanpa protes sedikitpun.
Dia tahu bagaimana Daryl akan bereaksi jika melakukannya, dan itu jauh lebih menyeramkan dari apa pun.
__ADS_1
"Kamu mau beli dulu sesuatu, hum? Makanan atau minuman misalnya? Apa kita masih punya camilan di rumah? Atau ada yang kurang? Bagaimana?" Pria itu tak melepaskannya sepanjang perjalanan padahal seharian ini kegiatan Nania di kampus cukup padat.
"Nggak usah, aku mau pulang aja ah." Begitulah jawaban Nania yang bersandar dengan nyaman pada tubuh suaminya.
"Yakin? Tidak mau beli dulu milk tea atau semacamnya? Jangan sampai kamu merengek kalau kita sudah di rumah ya?"
Nania tertawa sambil menganggukkan kepalanya. "Ada Mbak Mima yang bisa bikinin, Dadd."
"Oh, baik sekali istriku ini. Kamu tidak mau merepotkan suamimu ya?" Daryl mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang, kemudian memeluknya erat-erat.
Sementata Regan di balik kemudian memutar bola matanya, jengah. Setiap hari, setiap saat dia harus menyimak adegan seperti ini karena memang sejak Nania mengandung tugasnya selain menjadi asisten juga merangkap sebagai sopirnya Daryl. Apalagi sejak pria itu mengalami gejala kehamilan simpatiknya.
"Yang benar saja? Yang hamilnya memang tidak merepotkan siapa-siapa, tapi dirinya sendiri setiap waktu membuat semua orang kelimpungan." Batinnya bermonolog.
Memang benar, setiap hari ada saja kelakuan Daryl yang membuat siapa pun yang ada di sekitarnya mengelus dada. Entah itu soal makanan, tempatnya bekerja atau apa pun yang kadang membuatnya kehilangan mood untuk bekerja. Dan bagian tersulit dari ini tentu saja menjadi tanggung jawab Regan untuk menghadapinya karena ia lah yang setiap saat ada di dekatnya.
"Tapi Daddy, aku kayaknya mau ayam bakar deh." Nania bicara setelah beberapa lama.
"Apa? Ayam bakar?"
"Hu'um." Nania menganggukkan kepala.
"Baik, aku telpon dulu Mama agar menyuruh Mima membuatkannya untukmu." Daryl merogoh ponselnya di dalam saku jas. "Kamu maunya kapan? Begitu kita sampai rumah atau bagaimana?" tanya nya kemudian.
"Aku maunya ayam bakar di rumah Ibu." Nania dengan sedikit ragu.
"Di rumah Ibu?" Daryl membeo.
"Iya." Perempuan itu bangkit sambi menatap wajah suaminya.
"Aku udah cerita kan kalau ibu itu jualan nasi ayam di rumah? Rasanya enak banget, aku kayaknya mau itu deh."
Daryl terdiam.
"Ya, boleh ya? Kita mampir dulu ke tempat ibu. Cuma sebentar beli ayam bakar doang, habis itu kita langsung pulang. Nggak apa-apa nggak makan di sana juga biarpun emang lebih enak di makan di sana sih, tapi nggak usah lah. Kita take away aja. Boleh Dadd?" Nania memiringkan kepala dengan tatap memohon kepadanya, yang tentu saja ingin Daryl tolak.
"Hey, aku kan belum jawab. Kenapa reaksimu seperti itu, hum?" Namun Daryl segera menariknya agar mereka kembali berdekatan karena mode mood Nania yang seperti ini membuatnya merasa ngeri.
"Regan, kau dengar kan apa maunya Nania? Cepat kita pergi ke sana!" Lalu dia beralih pada sang asisten.
"Baik, Pak." Regan pun segera menjalankan perintah atasannya.
Dan wajah Nania terlihat senang begitu mereka tiba di gang menuju rumah Mirna yang sore itu tampak cukup ramai.
Aroma menggiurkan dari daging ayam berbumbu yang dibakar menggoda Indra penciuman siapa saja yang melintas dan hal tersebut memang menjadi daya tariknya.
"Ramai juga tempat ibumu?" Daryl menggengam tangan Nania erat-erat dan dia menjauhkan perempuan itu dari orang-orang yang lalu lalang seolah takut dia akan tertabrak atau terjadi sesuatu kepadanya.
"Kemarin nggak seramai ini, Dadd. Pasti sekarang orang-orang udah tahu kalau di sini ada makanan enak." Nania menatap kerumunan di halaman rumah ibunya dengan raut bangga.
"Yeah, right." Pria itu memutar bola matanya. "Tunggu sebentar! Biarkan orang-orang itu lewat dulu. Kamu mau berdesakan dengan mereka apa?" Lagi-lagi dia menarik Nania yang hampir masuk ke area itu di mana beberapa orang pembeli sedang menunggu.
Nania hanya tertawa sementara Regan di belakang mereka hanya terdiam dan sesekali menggelengkan kepala mendengar dan menyimak ucapan sang atasan.
"Nania?" Mirna menyadari keberadaan putrinya begitu orang-orang sudah pergi setelah mendapatkan pesanan mereka.
Dan Nania tersenyum begitu melihat wajah ibunya yang tampak kelelahan tetapi terlihat gembira. Ya, dia tahu bahwa Mirna merasa gembira karena sorot matanya yang tenang dan tampak menikmati pekerjaannya sekarang ini.
"Ibu!!" Kini dia tak bisa dihentikan meski Daryl tetap menggenggam erat tangannya, dan malah terus menarik pria itu untuk mendekat.
"Aku kangen! Ibu sehat?" Tanya nya yang segera menghambur untuk memeluk sang ibu.
"Seperti yang kamu lihat, Ibu baik-baik saja." Mira menjawab, lalu pandangannya beralih kepada Daryl yang terdiam tanpa melepaskan tangan Nania.
"Iya, aku lihat tadi ramai. Apa setiap hari kayak gini?" tanya Nania yang melihat sekeliling.
"Tidak selalu, tapi ya beginilah kalau sedang ramai. Namanya juga berdagang. Ada waktunya ramai, kadang sepi. Tapi kadang biasa saja."
__ADS_1
Nania menganggukkan kepala.
"Kalian dari mana?" Mirna kemudian bertanya.
"Dari rumah sakit, Bu."
"Rumah sakit?"
Nania mengangguk.
"Kamu sakit?" Mirna memegangi pundak Nania kemudian membingkai wajahnya. Dia memeriksa keadaan putrinya, dan tampak raut khawatir di wajahnya.
Dan hal tersebut membuat sang putri terdiam karena ini merupakan pertama kalinya dia menerima perlakuan tersebut. Matanya bahkan terasa memanas dan dia hampir tak bisa berkata-kata.
"Kamu sakit apa? Tidak parah kan?" tanya Mirna lagi yang juga membuat Daryl dan Regan saling pandang.
"Aku … nggak apa-apa." Suara Nania sedikit tercekat.
"Terus siapa yang sakit? Kamu, Daryl?" Dai beralih pada menantunya.
"Nggak!" Nania sedikit terkekeh untuk menetralisir perasaan aneh di dalam hatinya setelah melihat reaksi sang ibu. "Aku cuma … hamil." katanya kemudian.
"Apa?"
Perempuan itu tersenyum sambil menganggukkam kepala.
"Kamu hamil?" Mirna memastikan apa yang dia dengar.
"Iya, udah dua bulan." Nania menyentuh perutnya seraya menoleh kepada suaminya dengan senyum yang cukup lebar.
"Dua bulan? Ya Tuhan!" Miran kemudian menyentuh perutnya juga. "Kamu hamil? Astaga! Kenapa Ibu baru tahu?"
Nania masih tersenyum sementara Daryl dan Regan tampak waspada. Mereka tidak akan pernah lupa dengan apa yang telah terjadi sebelumnya.
"Dan ini ada tiga, Bu." Nania melanjutkan yang membuat kedua bola mata perempuan itu melebar.
"Tiga?"
Nania kembali mengangguk.
"Oh Tuhan! Kemarilah, Nak! Kamu hebat sekali! Tiga itu banyak dan kamu melakukannya dengan baik! Ya Tuhan!" Mirna segera memeluknya dengan segenap rasa haru di dada, dan dia bahkan hampir menangis karenanya.
Daryl mengeratkan genggaman tangan ketika dua perempuan itu saling berpelukan dan dia masih tidak percaya jika mertuanya bersikap demikian.
"Nah, sekarang duduklah. Kamu mau apa? Mau ayam bakar? Ayam penyet? Atau apa? Ayo katakan kepada Ibu!" Kemudian Mirna menariknya ke tempat duduk di belakang mereka, dan sesekali dia menyeka sudut matanya yang basah.
"Aku mau ayam bakar, makanya mampir ke sini." Nania menjawab setelah meneguk minuman yang perempuan itu tuangkan untuknya.
"Ayam bakar? Baik, tunggu sebentar akan Ibu buatkan," katanya. "Dan kamu mau apa?" Lalu dia beralih lagi kepada menantunya yang diam saja tanpa mengatakan apa-apa sejak mereka tiba.
"Dia nggak usah, aku doang yang mau. Paling bikinin untuk Regan aja." Nania menjawab yang mengetahui bagaimana perasaan suaminya saat ini.
Tentu ia mengerti bahwa pria itu belum bisa sepenuhnya menerima Mirna karena peristiwa yang terjadi kepadanya lebih dari setahun yang lalu. Dan Nania tidak akan memusingkan hal itu saat ini, apalagi memaksa Daryl untuk bersikap seperti yang dia inginkan. Karena dengan begini saja dia sudah merasa senang.
"Baiklah." Dan Mirna pun paham akan hal itu, maka dia segera saja membuatkan apa yang putrinya inginkan.
"Mungkin ayam bakar akan sangat enak kalau dimakan sore-sore begini." Namun tiba-tiba saja pria itu buka suara yang membuat keadaan tiba-tiba saja menjadi hening.
Nania dan Mirna saling pandang, namun sesaat kemudian senyum muncul di bibir keduanya.
"Baik, tunggu sebentar." Dan perempuan itu benar-benar melakukan apa yang anak dan menantunya minta.
💞
💞
💞
__ADS_1
Bersambung ....