
💕
💕
Tanpa sadar kedua sudut bibir Regan tertarik membentuk sebuah senyuman setelah membaca story whatsapp Anandita sore itu.
Seperti biasa, dia memeriksanya sekitar satu atau dua jam sekali karena memang gadis itu selalu memperbaharuinya. Dan Regan tahu bahwa apa yang Anandita tulis adalah ditujukan kepadanya.Â
"Geer!" Dia bergumam, kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jasnya.
"Sepertinya hari ini kau gembira sekali ya?" Daryl melirik sekilas bawahannya yang tengah membereskan dokumen dan hal-hal lainnya.
"Maaf, Pak?" Regan menghentikan pekerjaannya.
"Kau ini habis dapat lotere atau apa? Aneh sekali." Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala kursi.
"Atau baru saja dapat pesan cinta dari kekasihmu?" Dia menatap penuh selidik.
Baru saja Regan akan menjawab pertanyaannya, pria itu tiba-tiba saja bangkit. "Haih, kenapa aku jadi kepo sekali ya? Padahal bagus juga jika kau punya kekasih, tidak akan kesepian lagi kan?" katanya. "Aku mau pulang lah, Nania sudah menungguku di rumah." Daryl pun melenggang keluar dari ruangannya.
Dan suasana hatinya pun tak kalah gembira, terdengar dari siulan yang mengalun dan sesekali dia bersenandung.
"Waktunya pulang, Dinna. Jangan bekerja terus." Terdengar juga ucapannya kepada sekretaris di depan, sementara Regan membereskan mejanya.
Terlihat dari story terakhirnya, Anandita masih berada di sekolah. Lengkap dengan foto kegiatan yang tengah dia lakukan bersama teman-temannya yang mengandung keterangan 'Last day sebelum UTS' tersemat pada fotonya. Dan Regan dengan sabar menunggu.
"Apa pula yang anak itu lakukan sampai sesore ini? Sekolah macam apa ini? Pabrik? Sampai ada lemburannya juga." Dia bergumam sambil menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore.
Lalu perhatiannya beralih ketika sayup-sayup terdengar kegaduhan dan gerbang tinggi SMA terkenal di Jakarta itu perlahan terbuka, dan ratusan siswanya berurutan keluar. Dan sosok Anandita segera Regan temukan di kerumunan.
"Ann, tunggu!" tampak teman laki-lakinya menyeruak dari belakang.
"Apa?" Dan gadis itu menoleh tanpa menghentikan langkah.
"Besok ada acara kumpul sebelum UTS, mau ikut nggak?" tanya nya, dan mereka berhenti setelah melewati gerbang.
"Kumpul apaan? Party?" Anandita bertanya.
"Ya semacam itulah."
"Duh, nggak janji deh. Soalnya yakin nggak bakalan dapat izin." Lalu dia menjawab.
"Banyakan kok, lagian bukan di tempat yang gimana-gimana."
"Emang kumpulnya di mana? Berapa orang?" Gadis itu bertanya dengan teliti.
"Cuma di Kemang. Sampai saat ini udah tiga kelas yang ikut."
"Banyak juga."
"Makanya."
"Kelas kita termasuk?" tanya Anandita lagi.
"Udah setengahnya yang mau ikut."
Dia berpikir sebentar.
"Jam berapa?"
"Dari sore sampai malam."
"Duh, yakin nggak akan dapat izin, hahaha." Lalu Anandita tertawa. "Nggak deh, nggak ikut. Aku malas debatnya sama Papa aku."
"Ayolah, kalau mau aku sama temen-temen yang nemuin papa kamu, biar yakin." bujuk pemuda itu.
"Nggak deh, nggak usah. Lagian besok aku ada kegiatan juga di rumah baca. Anak-anak juga mau ujian, kan sama." Sesaat kemudian dia sudah membuat keputusan.
"Ah, kamu nggak asik, Ann. Apa sih salahnya sesekali kumpul sama teman? Kan nggak dosa?"
"Bukan masalah dosa atau nggak dosa, tapi aku punya prioritas dan komitmen untuk ngejalanin apa yang udah lebih dulu aku ikutin. Dan aku juga punya tanggung jawab, nggak boleh setengah-setengah." jawab Anandita, diplomatis.
"Hmm … ya udah deh."
"Maaf ya, Rangga? Mungkin lain kali."
Pemuda itu menganggukkan kepala.
"Ann?" Lalu panggilan lainnya menarik Anandita untuk menjauh.Â
Tampak Arkhan yang sudah siap di sisi trotoar dengan motornya, dan Anandita mendekat.
"Kamu telfon Papa gih, aku mau mampir dulu ke bengkel." ucap saudara kembarnya.
"Apa?"
"Kamu minta jemput Papa aja, aku mau servis si ijo dulu."
"Ish, kamu! Bukannya bilang dari tadi? Tar aku harus nunggu dulu, kan lama?" Dia bereaksi. "Udah ikut aja." katanya yang meminta helm cadangan.
"Nggak bisa, Ann. Aku servisnya lama. Velg mau dipoles, nau ganti jok, rem juga udah tipis, belum businya kotor." Arkhan beralasan.
"Hah, kamu banyak keluhannya nih motor?"
"Ya, namanya juga …."
"Terus aku nunggu di sini gitu? Kan lama, Ar? Anterin dulu pulang lah, kamu servisnya besok aja." ujar Anandita yang hampir naik di belakangnya.
"Nggak bisa, nanti bahaya!"
"Alah, alesan aja kamu!"
"Udah, telfon Papa aja. Atau order taksi online. Nih ongkosnya aku kasih." Arkhan menyodorkan selembar uang pecahan dua puluh ribu kepada saudaranya tersebut.
"Nggak butuh! Dua puluh ribu mah aku punya." Anandita mendelik sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Oh, ya udah." Dan Arkhan hampir kembali memasukan uangnya ke dalam saku celana ketika di saat yang bersamaan Anandita menyambarnya dengan cepat.
"Duh? Katanya nggak butuh?" Dia sedikit terkejut.
"Aku mau jajanin es boba aja sambil nunggu jemputan!" Lalu perdebatan kakak dan adik itu pun berakhir saat Anandita mundur ke tepi trotoar dan Arkhan memutuskan untuk pergi.
"Enak bener jadi anak cowok. Bisa pulang telat dengan alesan pergi ke bengkel." Anandita menggerutu sambil menyalakan ponselnya untuk menghubungi sang ayah.
"Hallo, Papa? Arkhan nya mampir ke bengkel, jadi aku pulang sendirian." Dan dia langsung tersambung pada ayahnya.
__ADS_1
"Iya, Papa tahu. Ini mau menjemputmu." Arfan menjawab dari seberang.
"Ya udah, cepetan." Lalu pandangannya beralih ketika sebuah mobil berhenti di depannya, dan dia tertegun ketika mengenali siapa yang berada di balik kemudi.
"Umm … Papa?" Anandita buru-buru memangil sang ayah.
"Ya, Ann? Tunggu sebentar. Ini Papa mau mengeluarkan mobil." Arfan menjawab lagi.
"Umm … kayaknya nggak usah, soalnya …." Dia tersenyum ketika Regan turun dan berjalan ke arahnya.
"Papa udah dulu. Ada Om Regan lewat." , katanya yang tiba-tiba saja merasa begitu gembira.Â
"Apa?"
"Ada Om Regan, aku mau ikut aja biar nggak lama."
"Jangan, Ann. Ini Papa benar-benar mau pergi menjemputmu. Tunggu saja."
"Umm … nggak usah, aku ikut Om Regan aja biar nggak lama." katanya lagi yang segera mematikan panggilan.
"Belum ada yang menjemput?" basa-basinya setelah jaraknya cukup dekat dengan gadis itu. Padahal dia juga tahu bahwa baru saja terjadi perdebatan sengit antara dua saudara kembar tersebut meski tak tak tahu apa yang mereka perdebatkan.
"Belum." Anandita menjawab.
"Arkhan ke mana?" Dan Regan berlagak seolah mencari keberadaan Arkhan yang sudah pergi beberapa saat yang lalu.
"Mau ke bengkel, jadinya aku ditinggal." adunya sambil cemberut, seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya.
"Papamu?" Pria itu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan keadaan aman.
"Mau aku telfon tapi keburu Om datang." Anandita merasakan jantungnya berdebar hebat sekarang ini.
"Belum?"
"Umm …." Kemudian gadis itu menggelengkan kepala sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Ya sudah, ayo?" Regan pun menyentakkan kepala, lalu dia mundur setelah itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Om mau anterin aku pulang?" Anandita berbasa-basi.
"Ya masa saya mau culik kamu?" Regan menjawab asal.
Nggak apa-apa diculik juga, aku rela. Anandita membatin, lalu dia terkikik. Merasa lucu dengan pikirannya sendiri.
"Hey, apa yang kamu tertawakan?" Namun ucapan Regan membuatnya sedikit terkejut.
"Umm … nggak, Om." jawabnya, dan dia segera masuk ke dalam mobil seperti yang Regan perintahkan.
"Saya antar Ann pulang, Pak." Pria itu mengirimkan pesan kepada Arfan sebelum menjalankan mobilnya.
Tanda centang dua segera berubah warna menjadi biru tak lama setelah pesan tersebut terkirim, namun tak ada balasan sehingga Regan segera menghidupkan mesin beroda empat itu, dan dia langsung membawa anak gadis Arfan Sanjaya tersebut meninggalkan area sekolah.
"Kamu tahu, Ann." Regan memulai percakapan. "Sangat beresiko jika kamu terlalu sering membuat story seperti itu." Dia mencoba fokus pada lalu lintas jalanan ibu kota yang cukup padat.
"Resiko apa?" Sementara gadis itu menyalakan musik di ponselnya.
"Papamu bisa tahu lalu mencurigai sesuatu."Â
"Curiga soal apa? Masa cuma story papa bisa sampai curiga?" Anandita tertawa. "Lagian itu storynya kan aku privasi, cuma Om doang yang bisa lihat."
"Tetap saja …."
"Sebagian ada. Apalagi jika hapenya Pak Arfan yang pegang."
"Masa?"
"Kamu tidak tahu saja …."
"Serem …."
"Makanya …."
"Tapi kan nggak ada yang tahu itu storynya buat siapa?"
"Kecurigaan Pak Arfan bisa saja membuatnya menyelidiki dan akhirnya nanti tahu."
"Ah, Om berlebihan." Anandita tertawa lagi. "Kan cuma story, Om."
Regan tampak menghembuskan napasnya di udara seraya menghentikan laju mobil saat lampu lalu lintas berubah merah.
"Lagian, kalau misalnya perkara story aja bikin bahaya, terus kenapa Om malah lewat ke area sekolah dan turun untuk bawa aku pulang?" Gadis itu melontarkan pertanyaan.
"Saya tidak sengaja lewat, hanya kebetulan saja dari kampus Nania." Regan beralasan.
"Habis ngapain? Jemput Tante Nania? Mana orangnya?" Anandita menoleh ke belakang untuk menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya adalah benar.
"Tidak …." Regan segera menjawab.
"Terus habis apa?"
"Ada urusan." bohongnya, dengan otaknya yang mulai berputar untuk mencari jawaban.
Benar juga. Kenapa kau melakukannya, Regan? Pria itu membatin.
"Urusan apa?" tanya Anandita lagi yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.
"Urusan pekerjaan lah, urusan apa lagi?" Regan menjawab dengan ketus dengan harapan gadis itu akan mempercayai ucapannya.
"Hmmm …." Anandita mundur sambil bersedekap dan memicingkan mata. "Urusannya sama Mahira ya?" katanya, dengan penuh rasa curiga.
"Apa?" Yang membuat Regan memalingkan wajah.
"Aku tahu, setiap pagi Om bolak-balik ke kampus Tante Nania, buat apa lagi kalau bukan ada urusan sama Mahira?"
"Tidak, Ann. Bukan itu!" Regan pun bereaksi.
"Hmm … nggak percaya." Gadis itu mencebik. "Lagian apa yang mau diurusin, orang Tante Nania nya juga hari ini nggak masuk kuliah."
"Kamu tahu?"
"Ya tahu lah, orang Tante Nania bikin story lagi di rumah seharian."
Regan mengatupkan mulutnya lagi.
"Masa cuma lapor izin sama dosen Om juga yang ngerjain?" lanjut Anandita, masih dengan mode curiga. "Pasti ada urusan lain kan?" katanya lagi.
__ADS_1
"Ya, memang ada urusan lain." Pria itu kembali menjawab.
"Iya, urusan sama Mahira."
"Bukan, Ann!" sergah Regan yang kembali melajukan mobilnya ketika lampu di depan berubah hijau.
"Terus apa?" Gadis itu terus bertanya.
"Eee …."
"Om bohong!" Anandita memicingkan mata.
"Tidak!"
"Nggak percaya."
"Serius." Regan seolah tengah meyakinkan kekasih yang sedang cemburu.
"Hmm … bener juga nggak apa-apa. Tapi aku sumpahin hubungan itu nggak akan berhasil." Anandita berujar.
"Apa?"
"Mau sama siapa pun, ujungnya harus sama aku. Kalau nggak, aku kutuk Om jomblo seumur hidup!" ucap gadis itu dengan serius, membuat Regan menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba.
"Om!!" Beruntung seatbelt yang mereka kenakan sangat kuat sehingga tak terjadi insiden terlontar ke depan karena hal tersebut. Hanya saja menimbulkan kegaduhan di luar dari mobil di belakang yang pengemudinya merasa kesal karena Regan berhenti secara tiba-tiba.
"Om mau bikin kita kecelakaan?" Anandita berteriak.
"Habisnya kamu bicara sembarangan!" Regan kembali melajukan mesin beroda empat tersebut, sementara gadis di kursi penumpang masih bersungut-sungut.
"Aku serius."
"Hey, kita ini bukan siapa-siapa. Tidak punya hubungan apalagi ikatan. Mengapa kamu bersikap begitu?" Regan terus berbicara.
"Bodo amat! Om juga ngawasin aku terus padahal nggak ada yang nugasin."
"Ann!"
"Udah, jangan ngomong terus. Cepetan aja anter aku pulang!" Gadis itu cemberut.
***
Anandita keluar lalu membanting pintu dengan keras sebelum Regan sempat turun, kemudian dia berjalan tergesa ke dalam rumah.
"Lho, Ann? Kenapa?" Dygta yang tengah menyiram tanaman di pekarangan pun bereaksi.
Mati kau, Regan! Batin Regan yang menatap bangunan bertingkat dua tersebut untuk mencari keberadaan Arfan. Hal pertama yang memang selalu dia lakukan jika memasuki area rumah itu.
"Om Regan nyebelin!" Gadis itu berteriak.
"Hah?" Dygta menoleh ke arah Regan.
"Eee … maaf, Bu. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya bicara kalau … eee …." Dia berpikir lebih keras.
"Apa ada masalah?" tanya perempuan 42 tahun itu.
"Ha-hanya salah paham, Bu. Maaf." Regan menjawab.
"Salah paham apa?" Kini Dygta yang bertanya dengan raut penuh selidik.
"Eee … itu …."
Duh, apa ya? Regan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Alasan apa kali ini yang harus dia lontarkan? Apalagi kini dia benar-benar berada di kediaman Arfan Sanjaya. Bisa-bisa akan timbul kesalah pahaman lagi karena gadis itu.
Namun setelah beberapa menit rupanya Anandita menyadari apa yang akan terjadi, dan apa yang akan ditimbulkan dari sikapnya dan itu membuatnya kembali kembali seraya melemparkan buku tugasnya di sekolah. Sayang juga jika Regan harus dicurigai berbuat macam-macam karena kemarahannya.
"Orang aku cuma diskusi soal tugas kok, Om ngomelnya malah ke mana-mana. Kayak Arfan Sanjaya!" katanya, lalu dia kembali berlari ke dalam rumah dan berharap dengan begitu ibunya tak lagi bertanya-tanya.
"Duh?" Lalu Dygta memungut benda tersebut dan memeriksa isinya.
Regan paham, dan mereka berdua harus menutupi hal ini. Meski sebenarnya dia tak mengerti apa yang harus ditutupi, tapi akan berbahaya jika tak melakukannya. Karena kecurigaan yang aka timbul atas sikap Anandita kepadanya akan menyebabkan sesuatu hal yang tak baik untuk mereka.
"Hanya tugas, Regan. Memangnya apa yang kamu lihat?" Perempuan itu menunjukkan isi buku tugas putrinya.
"Eee … saya kira tadi … Ann dan temannya itu sedang …."
Dygta tertawa keras hingga wajahnya mendongak ke atas. "Regan, Regan. Kamu ada-ada saja. Kamu kira Ann sedang pacaran? Lucu sekali." Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Mana berani dia berbuat seperti itu? Bisa digantung Papanya kalau ketahuan."
Duh …
"Pantas dia sampai marah-marah. Tidak kamu, tidak papanya. Kalian sama-sama curigaan." Dygta tertawa lagi.
"Umm …."
"Sudah, tidak apa-apa. Besok juga dia baikan, sekarang pulanglah." katanya lagi.
"Tapi Bu, Ann …." Regan menatap ke lantai dua di mana dia melihat bayangan Anandita di jendela kamarnya sedang mengawasi.
"Tidak apa, nanti saya bicara kepada papanya. Pasti akan membuatnya tertawa juga."
Regan sedikit tertawa meski dia merasa canggung.
"Pulanglah, terima kasih sudah mengantarnya, dan menjaga dia dari hal yang tidak diinginkan. Kerjamu bagus, dan saya akan mengatakannya kepada Daryl." Perempuan itu menepuk pundaknya.
"Ti-tidak usah, Bu. Saya hanya lewat." Regan tergagap. Bisa dibully dia jika Daryl sampai tahu soal kejadian hari itu. Di mana dirinya yang tanpa alasan berada di sekitar sekolah Anandita, padahal tak ada tugas apalagi jalan pulangnya tak melewati area itu.
"Tetap saja, kerjamu bagus. Dan itu harus diapresiasi." ucap Dygta lagi.
"Kalau begitu saya pamit, Bu?" Regan kembali melirik ke jendela lantai dua.
"Baiklah. Walau ssbenarnya saya mau mengajak kamu masuk dan menunggu papanya Ann, tapi sepertinya itu bukan ide yang bagus."
"I-iya, Bu. Eh …."
"Hmm … pergilah," ucap Dygta lagi, dan Regan pun segera meninggalkannya dengan perasaan sedikit lega.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ...
Ava-avaan itu, Ann? ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤