
💕
💕
"Di mana Nania? Aku tidak bisa menghubunginya!" Suara Daryl terdengar gusar dari seberang sana. Sementara Regan menggenggam ponsel milik perempuan itu yang tidak menyala.
"Regan?"
"Nania sedang belanja, Pak." Lalu dia menjawab seraya tetap memperhatikan Nania yang tengah asyik mengisi troli dengan beberapa barang. Setelah dua troli yang sebelumnya dia bawa penuh.
"Belanja apa? Jam berapa ini, mengapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?"
"Ma-maaf, Pak. Tadi waktu saya hampir berbelok ke jalan rumah tiba-tiba saja Nania meminta ke supermarket."
"Hah, aku kira dia sudah di rumah."
"Maaf, Pak." Regan hanya bisa meminta maaf.
"Ya sudah, setelah belanja langsung antar dia pulang. Katakan jika aku sudah menunggunya di rumah." ucap Daryl.
"Baik, Pak." Lalu percakapan diakhiri.
"Pak Daryl menelpon." Regan segera mendekati Nania.
"Hmm …."
"Dia menelpon ke hapemu."
"Oh, hapenya mati. Aku lupa udah dua hari nggak di charge."
"Bagaimana kalau ada hal penting?" Regan mengikutinya menyusuri lorong supermarket terbesar di Jakarta itu.
"Kan ada kamu."
"Kalau kamu tidak pergi dengan saya?"
"Nggak mungkin. Kalau nggak sama bos kamu, ya aku perginya sama kamu lah. Mana ada aku pergi sendiri?"
"Umm …."
"Eh, itu lagi ada diskon!" Nania bergegas ke area di mana dia melihat tulisan diskon yang cukup besar.
"Kebetulan persabunan hampir habis." Perempuan itu menepuk-nepuk kedua tangannya dengan raut riang. Lalu dia mengambil beberapa hal yang mungkin dibutuhkan di rumah.
Detergen, sabun cair, sabun mandi, sabun untuk pembersih peralatan dapur juga beberapa macam pewangi dan yang lainnya. Yang segera membuat troli yang Regan pegangi menjadi semakin penuh.
"Saya rasa yang diskon hanya detergen saja. Yang lainnya tidak." Pria itu menatap isi troli dan tulisan di atas rak.
"Masa?" Nania pun melakukan hal sama. "Oh iya." Lalu dia tertawa. "Biarin lah, masa mau dibalikin lagi? Hahaha." Kemudian dia melanjutkan petualangannya di dalam supermarket tersebut.
Beberapa kotak daging, ikan, dan bahan makanan lain termasuk yang dikemas di dalam kaleng dipisah di wadah tertentu. Sementara sayur dan buah disatukan dalam sebuah tote bag besar.
Dan belanjaan lain yang sudah dikemas sebelumnya pun telah menunggu di mana Regan berada.
"Baik Ibu, total semuanya lima juta tujuh ratus tiga puluh lima ribu lima ratus rupiah." Kasir menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Nania.
"Duh, banyak juga ya?" Perempuan itu tertawa.
"Iya, Ibu. Itu sudah dipotong diskon lima persen karena total belanjaannya yang cukup banyak."
Nania mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian dia merogoh dompet di tasnya.
"Regan, kartu aku nggak ada. Di mana ya?" Namun dia tak menemukan benda yang dimaksud.
"Apa?" Sehingga Regan segera menghampirinya.
"Debet aku nggak ada, kayaknya aku lupa bawa deh?" Nania menunjukkan isi tas dan dompetnya.
"Ah, iya di laci kamar. Aku emang nggak bawa karena nggak ada rencana belanja!" Lalu dia menepuk keningnya sendiri.
Regan tampak mendengus, tapi dia segera mengeluarkan dompet miliknya. Apalagi melihat antrian yang cukup panjang di belakang istri atasannya tersebut yang sudah terlihat tak sabar.
"Saya bayar dulu." katanya yang mengeluarkan kartu miliknya.
"Telfon suami aku aja, biar dia transfer." Nania sempat menahannya.
"Lama." Pria itu mendekat kepada kasir lalu menyerahkan kartu tersebut. "Totalnya berapa tadi?" Dia bertanya.
"Lima juta tujuh ratus tiga puluh lima ribu lima ratus rupiah, Pak." Sang kasir menjawab.
"Baik." Lalu pembayaran pun segera Regan lakukan.
"Terima kasih sudah berbelanja, kembali lagi lain kali ya, Bu?" ucap perempuan berkerudung hitam itu dengan begitu ramah.Â
Tentu saja, konsumen kali ini berbelanja dalam jumlah yang cukup besar di tempat mereka.
"Memangnya, kebutuhan rumah setiap bulannya sebanyak ini ya?" Regan memindahkan barang belanjaan Nania ke bagian belakang mobilnya.
"Nggak." Perempuan itu menjawab.
"Atau lebih dari ini?"
"Nggak sama. Tapi untuk rumah tangga aku biasanya kurang dari ini. Soalnya kan lebih sering makan di rumah besar. Pakaian aku juga diurusin sama art di sana."
Regan menatap Nania sebentar.
"Lalu mengapa kamu belanja sebanyak ini?" tanya nya dengan rasa heran yang cukup besar.
"Nggak kenapa-kenapa. Lagi mau belanja aja."
"Apa?"
"Dari pada aku minta anter kamu pergi piknik, bisa jadi masalah serius. Mending aku belanja kebutuhan rumah. Se nggaknya pikiran aku teralihkan." Nania menjawab dengan segala kepolosannya.
__ADS_1
"Astaga!" Regan sampai menggelengkan kepala sambil tertawa.
"Nggak ada yang lucu tahu. Ini semua berguna karena bisa jadi bahan pelampiasan aku kalau marah." Nania bersedekap.
"Ada belanja karena marah?"Â
"Ada lah, dan bagus juga. Aku kalau marah harus makan biar nggak ngamuk. Jadi persediaan makanan di rumah harus full."
Regan tertawa lagi, lalu dia menutup pintu belakang mobilnya setelah yakin semua barang belanjaan Nania masuk ke dalam sana.
"Marah kenapa? Memangnya ada masalah ya?" Regan beralih membuka pintu penumpang.
"Iya." Nania menjawab.
"Masalah apa?"
"Bos kamu nyebelin."
Tawa hampir menyembur dari mulut Regan.
"Malah ketawa? Karena udah biasa ya?"
"Ya, bukankah sejak dulu Pak Daryl memang begitu? Dan kamu juga sudah tahu, lalu apa masalahnya?" Dia menutup pintu begitu Nania sudah masuk dan berjalan memutar ke kursi pengemudi.
"Aku nggak ada masalah sama sifatnya, karena memang udah tahu dia kayak gimana." Nania kembali berbicara.
"Lalu apa yang membuatmu marah? Bukankah kamu sudah terbiasa dengan tabiat Pak Daryl yang seperti itu? Selama ini tidak ada yang tahan dengan apa pun yang Pak Daryl lakukan, dan hanya kamu satu-satunya yang tidak terganggu." Regan menyalakan mesin mobilnya.
"Aku bilang aku nggak ada masalah sama semua itu."
"Lantas?" Mobil pun mulai melaju.
"Tapi aku nggak bisa tahan kalau lihat dia mesra-mesraan sama perempuan lain."
"Apa?" Seketika Regan menginjak rem sehingga kendaraan roda empat itu berhenti mendadak.
"Aku lihat bos kamu pelukan sama orang dari agensi. Sama model-modelnya juga." Nania mencondongkan tubuhnya ke depan, dan dia seperti sedang mengadu pada kakak laki-lakinya.
"Pak Daryl selingkuh?" Pria itu pun menoleh.
"Nggak. Eh, aku nggak tahu juga. Katanya itu cuma formalitas."
"Kamu lihatnya kapan?" Lalu Regan bertanya.
"Tadi siang,"
"Tadi siang?"
"Iya, sama agen model yang temennya itu."
"Di FSH?"
Nania menganggukkan kepala.
"Sherin?"
"Memang. Sherin dari Ring's Modeling. Dan dia memang teman SD nya Pak Daryl. Yang kamu lihat bukan mesra-mesraan, tapi memang formalitas. Begitulah di dunia mereka."
"Aku tahu soal itu."
"Terus kenapa kamu marah?"
"Otak aku yang bilang begitu."
"Apa?" Regan kembali tertawa.
"Mungkin bagi kalian yang kerjanya di dunia hiburan merasa kalau itu hal biasa. Tapi buat aku rasanya nggak masuk akal aja, gimana laki-laki yang udah nikah malah diam aja waktu ada beberapa perempuan yang berusaha mendekat. Mereka bahkan berani memeluk dan mencium padahal tahu kalau laki-laki itu udah nikah."
Regan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia memikirkan bagaimana caranya menjelaskan masalah ini kepada Nania yang mungkin tidak mengerti, bahwasannya begitulah interaksi di dunia kerjanya Daryl.
Â
"Bukannya aku nggak ngerti, tapi logika aku nggak sampai ke sana." Perempuan itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku tahu mungkin hal itu udah biasa di dunia kerja mereka. Tapi tetep aja sinyal bahaya di kepala aku berbunyi terus. Dan aku pusing." Lalu dia memijat kepalanya yang terasa nyeri.
"Aku berlebihan nggak sih kalau sebagai istri merasa nggak suka dengan interaksi suami aku yang kayak gitu sama model-modelnya? Apa aku lebay?"
Regan tak dapat menjawab hal tersebut, karena walau bagaimana pun Nania adalah perempuan. Dan sebagai seorang istri, dia jelas berhak merasa tidak suka atau cemburu kepada suaminya. Apalagi jika melihat dengan mata dan kepalanya sendiri apa yang terjadi. Terlebih, dia tidak terbiasa dengan hal tersebut.
"Kalau dia melarang aku untuk berinteaksi sama orang lain, terus kenapa dia malah melakukannya?" ucap Nania lagi yang menatap keluar mobil di mana langit sudah temaram.
Sementara Regan hanya melirik kaca spion di atas kemudi.
"Aku dilarang-larang terus, tapi dia bebas-bebas aja ngelakuin apa pun. Rumah tangga macam apa ini?" keluhnya yang kemudian terdiam hingga perjalanan berlanjut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daryl berdiri di teras setelah mondar-mandir di depan rumah. Dia seperti seorang ayah yang sedang menunggu kepulangan anak gadisnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau mau belanja? Aku buru-buru pulang tadi." Rentetan pertanyaan segera menyambut begitu Nania turun dari mobil. Namun perempuan itu tak menggubrisnya sama sekali. Dia malah sibuk menyesap jus kemasan dalam dekapannya.
"Malyshka?" Dan Daryl mengikutinya ke dalam rumah.
"Kenapa aku tidak bisa menelfonmu tadi?" Lalu dia bertanya lagi, dan masih tetap tak di jawab. Hanya Regan saja menyerahkan benda pipih milik Nania kepadanya.
"Hape Nania mati, dan sebaiknya Bapak tidak mengganggunya terlebih dahulu." Sang asisten memberitahukan.
"Kenapa?" Daryl segera merebut ponsel tersebut.
"Berat, Pak. Berat. Menghadapi perempuan yang sedang cemburu itu ibarat memegang pedang bermata dua. Apa pun yang kita lakukan tetap akan melukainya."
"Apa? Dia mengeluh padamu?" Daryl membelalak tidak senang.
__ADS_1
"Dari pada Nania mengamuk, lebih baik dia berkeluh kesah, Pak. Mungkin bicara akan mengurangi beban pikirannya."
Daryl mendengus keras. Tapi asistennya itu ada benarnya juga.
"Lalu ke mana saja kau membawanya hingga pulang selarut ini? Tidak tahu aku sampai tidak makan karena menunggunya ya?" Daryl mencak-mencak, namun dia berhenti ketika Regan membuka pintu belakang mobilnya.
"Healing, Pak."
Mulut pria itu menganga saat melihat isi bagian belakang kendaraan itu, yang diantaranya adalah beberapa tote bag berukuran besar, sedang dan kecil juga kotak kardus yang dia perkirakan berisi bahan-bahan kebutuhan rumah mereka.
Regan memindahkannya ke dalam rumah hingga mobilnya kosong.
"Mau sekalian saya bereskan ke dalam penyimpanan, Pak?" tawar Regan setelah dia selesai mengeluarkan barang belanjaan Nania.
"Nggak usah. Udah malam, kalau mau pulang ya pulang aja." Namun Nania menyahut dari tangga.
"Biar aku aja." katanya, yang kini sudah berganti pakaian.
"Baik, kalau begitu." Kemudian Regan menyerahkan struk belanjaan yang tadi dibayarnya kepada Daryl. "Ini saya serahkan kepada Bapak atau Dinna saja?" tanya nya.
"Apa ini?" Pria itu segera menerimanya.
"Struk belanjaan tadi, Pak."
"Struk?"
"Iya."
"Kau yang bayar?"
Regan menganggukkan kepala.
"Kenapa?"
"Aku lupa bawa kartunya. Tadi cuma ada uang dua ratus ribu aja di dompet. Minta biar kamu yang transfer Regan nggak mau." Dan Nania menyambar kertas tersebut dari tangan suaminya.
"Takutnya terlalu lama, karena saya melihat pembeli lain sudah kesal, Pak." Regan menjawab.
"Bagaimana tidak kesal? Belanjaannya sebanyak ini?" Daryl menunjuk barang-barang teraebut.
"Iya, maaf udah ngerepotin. Nanti aku ganti. Mungkin sebentar lagi aku transfer ya? Soalnya hape akunya mati. Nanti mau di charge dulu." ujar Nania yang melipat kertas tersebut.
"Tidak apa-apa. Santai saja karena …."
"No way! Enak saja belanjaan istriku kau yang bayarkan? Aku bayar sekarang juga!" sergah Daryl yang melenggang ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya.
"Berapa tadi yang harus aku bayar?" Lalu dia segera kembali dengan ponsel yang menyala dan merebut kertas dari tangan Nania.
Lalu matanya membulat ketika melihat angka yang tertera di bagian paling bawah kertas tersebut. "Apa saja yang kamu beli?" Dia beralih kepada Nania, kemudian menatap meja makan dan counter dapurnya yang dipenuhi barang belanjaan.
"Udah aku bilang nanti aku yang ganti." Perempuan itu hampir saja kembali merebut struk belanjaannya.
Daryl mendengus lagi sambil menjauhkan benda tersebut lalu membuangnya ke dalam tong sampah di bawah counter.
"Sudah aku transfer, sekalian dengan upah lemburmu hari ini." Kemudian dia menunjukkan layar ponselnya kepada Regan. Di sana tertera jumlah uang yang masuk ke rekening asistennya tersebut yang memang lebih dari yang seharusnya.
"Sebenarnya ini terlalu banyak …."
"Pulanglah, sudah malam. Cukup untuk hari ini, terima kasih." ucap Daryl yang membuat Regan mengerti dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Memangnya kita mau buka catering ya, sampai-sampai kamu belanja sebanyak ini?" Daryl akhirnya memberanikan diri untuk bersuara setelah Nania hampir selesai membereskan belanjaannya.
Lemari es nya sudah penuh dengan berbagai jenis bahan makanan, dan lemari penyimpanannya apa lagi.
"Biar tenang aja kalau banyak makanan di rumah." Nania menjawab asal.
"Tapi tidak sebanyak itu juga, Malyshka. Siapa yang akan memakannya?"
"Aku."
Daryl menatap wajahnya yang biasa saja padahal siang tadi mereka hampir saja bertengkar.
"Tapi kita seringnya makan di rumah besar, Sayang."
Dih, manggil Sayang? Apa kabar tadi siang peluk cium sama model? Batin Nania menggerutu. Dia tidak akan pernah lupa dengan apa yang dilihatnya sebelum ini.
"Mulai sekarang aku mau masak dan makan di sini aja. Di rumah besar kalau lagi kumpul-kumpul aja." Nania menjawab.
"Tapi kita kan sudah terbiasa begitu?"
"Ya udah, kamu aja yang makan di sana sementara aku di sini. Terserah." Perempuan itu memasukkan lipatan totebag ke dalam laci dapurnya.
"Malyshka, kalau kamu masih marah karena kejadian tadi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk …."
"Udah ah, aku pusing kalau bahas hal nggak penting. Rasanya migrain aku kambuh. Terserah kamu aja lah." Nania kembali berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Sayang, aku belum selesai bicara." Dan Daryl mengikutinya yang segera masuk ke kamar mereka.
Perempuan itu meminum sebutir obat dari laci nakasnya, kemudian naik ke tempat tidur. Lalu membenamkan tubuh kecilnya di bawah selimut.
"Sayang?" Daryl pun mengikutinya, meski Nania tetap tak menggubrisnya sama sekali.
Dan pria itu tertegun ketika ternyata Nania sudah lebih dulu tertidur. Hal itu terdengar dari dengkuran halusnya, dan napasnya yang sudah beraturan.
"Aarrgghh! Kenapa hal seperti itu membuatmu sangat marah?" Dan dia tak tahan untuk segera memeluknya saja.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Ayoloh ... Gimana cara luluhinnya? ðŸ¤ðŸ¤