The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kantor Fia's Secret


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Nania membiarkan Daryl menyentuhnya sesuka hati. Dia bahkan tertawa senang saat pria itu menelusuri leher dan dadanya dengan lidahnya yang hangat. Sedangkan kedua tangannya meremat apa pun yang dia temui.


Dada, bokong dan sekujur tubuhnya tak ada yang luput dari sentuhannya, dan mereka benar-benar melupakan segala hal.


Pria itu lantas mendorongnya hingga tubuh basah Nania terjatuh di atas tempat tidur, dan dia segera mengungkungnya seraya mengarahkan alat tempurnya pada milik istrinya.


"Oouuhh!" Nania melenguh kala benda itu terbenam di pusat tubuhnya. Kedua matanya terpejam dan wajahnya mendongak sehingga leher jenjangnya tampak semakin menggiurkan untuk diterkam.


Dan Daryl memang melakukannya, dia kembali menikmati kulit dingin itu seperti tak pernah merasa puas meski jika tak ada halangan dia setiap saat melakukannya.


"Aaahh, Daddy!" Perempuan itu merintih saat Daryl menghentak dengan keras sehingga ujung alat tempurnya benar-benar menyentuh bagian terdalam dirinya.


Sementara kedua tangannya memeluk tubuh kekar pria itu dengan erat seolah dia takut akan terlepas jika tak melakukannya. Kedua kakinya bahkan melingkar di pinggang Daryl sehingga membuat pertautan tubuh itu terasa semakin dalam.


Hentakan demi hentakan benar-benar mengobrak-abrik pusat tubuhnya sehingga Nania bahkan tak sempat untuk mengimbangi. Menjadikan Daryl benar-benar memegang kendali pada percintaan saat itu.


Dia menyentuh seluruh tubuhnya, menikmati semua yang terpampang di hadapannya, dan melakukan segala hal yang dia inginkan pada perempuan itu yang hanya bisa pasrah menerimanya.


Bibirnya sudah membengkak dan tanda merah sudah bertebaran di mana-mana, suara desahannya pun terdengar semakin lirih namun sepertinya dia belum berniat mengakhiri permainan.


Daryl bahkan malah mencabut senjatanya, dan dengan cepat membalikkan Nania sehingga perempuan itu membelakanginya, dan tanpa menunggu lama dia kembali membenamkan benda tersebut dari belakang.


"Aahhh!" Nania mengerang keras dan kedua tangannya mencengkram kain di bawah.


Seluruh indra di tubuhnya menjadi semakin sensitif, dan Daryl yang menyebabkannya. Pria itu terus memberikan stimulasi yang lagi-lagi membuatnya menginginkan hal yang lebih, dan menjadikannya meracau tak karuan.


"Oohh, Daddy!" Dia menggeliat dan napasnya tersengal-sengal. Keringat bahkan sudah menggantikan air yang semula membasahi tubuhnya, dan Daryl semakin senang menyentuhnya.


Kedua tangannya meremat bulatan kenyal dari belakang tanpa menghentikan hentakannya yang semakin lama terasa semakin keras saja.


Apalagi ketika mendengar suara des*han Nania yang semakin lirih, pria itu menjadi semakin tak terkendali.


"Ooouwwww, Daddy! Aku mau udahan!" Nania merengek saat merasakan jika dirinya hampir tiba di pelepasan. Membuat Daryl berpacu semakin keras untuk mengejarnya.


Hentakan pinggulnya terus meningkat dan dia sampai menarik rambut hitam Nania yang setengah basah.


"Wait for me, Baby! Wait for me!" Dia mer*mas kedua bongkahan bokongnya, sementara pinggulnya terus menghentak. Yang pada akhirnya membuat mereka sama-sama merasakan pelepasan menyerang begitu hebat dan meluluh lantakkan pertahanan keduanya.


"Aarrggghh!" Daryl menghujamkan senjatanya dengan keras sambil menekan pinggul Nania saat sesuatu memancar hebat dari dalam dirinya. Sementara perempuan itu langsung ambruk sesaat setelah menerima pelepasan.


***

__ADS_1


"Pak Daryl belum keluar?" Regan tiba setelah menyelesaikan tugasnya.


"Belum."


"Apa pekerjaannya belum selesai, ya? Padahal sudah sore." Pria itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah enam hampir petang. Tapi atasannya masih belum memanggilnya untuk pulang.


"Tidak tahu, Pak. Saya baru kembali setelah menyelesaikan pekerjaan di bawah." Dinna menjawab. Dan memang perempuan itu baru kembali setelah memeriksa beberapa hal.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" Lalu Regan bertanya.


"Sudah, Pak."


"Mau pulang sekarang?"


"Apa boleh? Tapi Pak Daryl masih di sini." Dinna menatap pintu ruang kerja atasannya yang masih tertutup rapat. Padahal biasanya di akhir pekan seperti ini Daryl selalu meminta pulang lebih awal.


"Tidak apa, biar aku yang menunggu. Kau pulanglah." ucap Regan yang melenggang masuk ke dalam ruang kerja atasannya.


"Baik, Pak." Dan Dinna pun segera membereskan meja kerjanya dengan riang.


Regan tertegun di ruangan itu yang tampak sepi. Tak ada Daryl atau siapa pun yang seharusnya masih berada di sana, selain meja kerjanya yang berantakan.


Dokumen sedikit berserakan dan bahkan ada satu yang masih terbuka walau seluruhnya sudah ditandatangani.


"Ke mana penghuninya ya?" Dia bergumam seraya membereskan dokumen dan merapikan meja.


Namun lagi-lagi Regan tertegunΒ  saat dia melihat sepasang sepatu flat yang dikenalinya sebagai milik Nania berada di dekat meja kerja, dan tas milik perempuan itu tergeletak di dekat pintu ruang tidur atasannya.


"Ck!" Pria itu berdecak saat menyadari apa yang mungkin tengah terjadi. Lalu dia menatap pintu di depannya saat sayup-sayup terdengar suara asing dari dalam sana.


"Dasar, tidak tahu tempat!" gumamnya yang segera pergi setelah memastikan pekerjaan Daryl selesai seluruhnya.


***


"Mmm … Daddy, udah! Akunya capek!" Nania mendorong wajah Daryl yang kembali terbenam di dadanya.


"Sekali lagi, Malyshka. Aku janji ini yang terakhir." ucap pria itu yang meremat bulatan kenyal tersebut lalu menyesap ujungnya.


"Ahhhh! Aku udah nggak kuat, aku … nggak mau …." Dan Nania berusaha mendorong pundaknya agar dia melepaskan mulutnya, meski dirinya merasakan pusat tubuhnya kembali berdenyut karena godaan suaminya.


"Realy?" Daryl sedikit menyeringai ketika melihat wajah perempuan itu yang tersipu dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap.


"Uh'um … dari tadi kamu bilang yang terakhir, yang terakhir. Tapi malah diulang-ulang terus." Nania mengingatkan, yang memembuat Daryl tertawa karenanya.


"But i …." Pria itu hampir kembali membenamkan miliknya yang sedikit mengeras ketika Nania melipat kedua kakinya.

__ADS_1


"Baby?" protesnya ketika Nania malah bangkit.


"Kamu mau bikin aku mati kelaparan apa? Jam berapa ini?" Lalu dia mendekat.


Daryl mengalihkan pandangan ke arah jendela yang sudah menggelap, kemudian dia tertawa lagi.


"Order online mau?" tawarnya yang meraih ponselnya di sisi ranjang.


"Nggak mau, Dadd. Aku mau sambil pulang juga. Lagian masa kita mau tidur di sini?" Perempuan itu mendekat.


"So what? Bukankah di mana pun asal tetap bersama semuanya akan baik-baik saja?" Daryl sedikit menunduk ketika Nania semakin mendekatkan wajahnya.


"Uh'um …."


"Jadi, mungkin …."


"Ya masa tidur di kantor juga? Kita kan punya rumah." Nania terkekeh ketika Daryl menarik wajahnya dan kembali mencumbunya.


"Dadd?" Lalu dia lagi-lagi mendorongnya ketika aktivitas itu terasa semakin menggebu-gebu.


"Hmm … aku benci jika harus terganggu seperti ini." Pria itu menggeram.


"Dan aku nggak mau tidur di kantor." sambung Nania yang membuat pria itu mendengus keras.


Nania hanya tersenyum, kemudian dia turun dari tempat tidur dan menarik suaminya ke arah kamar mandi.


"Kita mandi aja ya, jangan macem-macem." ujar perempuan itu sambil tertawa.


"Tidak janji." Sementara Daryl mengikutinya saja.


"Aku nggak akan kasih."


"Aku bisa memaksa."


"Aku kabur."


Daryl tersenyum. "Tapi nanti di rumah diulang lagi ya?" katanya, yang membuat Nania memutar bola matanya.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...

__ADS_1


Duh ...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Semoga aku masih kuat nulis di sini


__ADS_2