
💕
💕
"Papa, aku mau pulang." Anandita keluar dan menghampiri orangtuanya yang tengah berkumpul di depan villa.
Sore sudah menjelang dan dia baru menyadari kepergian Regan beberapa jam yang lalu setelah tertidur cukup lama di kamarnya.
"Apa?" Arfan menoleh, begitupun yang lainnya.
"Aku … mau pulang. Aku baru ingat kalau ada tugas yang belum selesai." Dia mengulang perkataannya.
"Tugas apa?"
"Tugas sekolah."
"Kenapa tidak dibawa saja? Ini rencananya kita sampai Jum'at depan di sini." Dygta menyela.
"Apa? Lama amat? Kita ini liburan apa pindahan?" Anandita bereaksi.
"Memang rencananya seperti itu, kan bagus kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Mumpung kalian libur sekolah."
Gadis itu mengerucutkan mulutnya.
"Sekarang kenapa lagi?" Arfan menatap raut tidak senang di wajah putrinya yang satu itu.
"Kelamaan!" Yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi malas.
"Sudah kesepakatannya begitu kan?"
"Aku nggak tahu kalau bakal selama itu, tahu gitu ikut pulang sama Om Der aja tadi." Dia menyalakan ponsel dan kembali melihat story what'sapp Regan yang belum berubah.
"Memangnya kenapa sih kalau kita lama di sini? Bagus kan, di rumah juga tidak ada yang akan kamu lakukan selama libur?"
Anandita hanya melirik sekilas.
"Kalau Kak Ara pulangnya kapan?" Dia kemudian beralih kepada Amara dan Galang yang sibuk dengan balita mereka.
"Sore ini, kenapa? Mau ikut pulang?" Amara menjawab.
"Mau!" Dan gadis itu segera bangkit menegakkan tubuhnya dengan semangat.
"Duh?"
"Ya, Papa? Nanti aku ikut sama Kak Ara aja. Papa kalau mau masih disini nggak apa-apa mau sampai tahun depan juga, aku pulang duluan."
Arfan mengerutkan dahi. "Ngawur kamu!" ketusnya sambil mendelik.
"Aku males kalau harus selesaikan tugasnya hari Jum'at nanti, kan mepet banget. Jadinya nggak akan bener nanti."
"Memangnya tugas apa sih?"
"Biologi, Pah."
"Biologi?"
"Iya, eee … project lingkungan hidup. Ya, aku harus bikin miniatur ekosistem gitu. Kan harus ngumpulin bahannya dulu." Anandita dengan idenya yang cemerlang.
"Oh, kalau itu gampang Kak. Disini kan banyak bahannya, nanti aku bantu nyari. Ada taman, cacing, ulat …." Asha menyahut.
"Kaki seribu, landak … nanti aku juga mau bantu." Disusul Anya yang semula sibuk dengan ponsel ibunya.
"Nah, benar Ann. Pasti mudah untuk menemukan benda-benda yang dibutuhkan." Dimitri yang tengah menikmati kopinya pun menimpali.
"Eee …."
"Case closed. Semuanya aman kan?" Arfan seperti menemukan solusi terbaik untuk putrinya.
"Nggak!" Namun Anandita menganggapnya. "Maksud aku, kan bahan utamanya udah dibikin sebelum kita pergi, jadi ya aku harus nerusin itu aja. Kalau disini harus bikin dari nol kan? Capek-capel aku bikin di rumah kemarin." Dia terus berusaha untuk mendapatkan alasan untuk pulang.
"Hah, Kakak ini ribet amat. Udah bagus bikinnya di sini aja, kan?" Aksa ikut bersuara.
"Nggak bisa! Itu kayaknya udah jadi." Dan Anandita terus beralasan.
"Ya sudah kalau mau pulang, bersiap saja." Galang menengahi.
"Oke." Yang membuat sang adik ipar segera pergi untuk melakukan apa yang dia ucapkan.
"Akhir-akhir ini dia sulit diatur." Arfan menatap punggung putri keduanya itu.
"Sulit diatur bagaimana?" Satria menanggapi.
"Kalau ada maunya sulit dilarang, apa-apa memaksa. Padahal kan dia penurut."
"Dia sudah besar, Arfan. Tidak lihat Arkhan bagaimana?" Sang mertua tertawa.
"Kalau Arkhan sejak kecil memang keras kepala dan sulit diatur, meski dia masih menurut. Tapi Ann?"
"Itu artinya dia sudah memiliki kehendak sendiri. Jadi sikapnya berubah, kan?"
"Memang, tapi terkadang ini membuat khawatir." Arfan sedikit terkekeh.
"Khawatir soal apa? Bukankah dia masih dibawah pengawasan?" Mereka pun tertawa.
"Ah, mungkin pengawasannya harus diperketat? Sedikit menakutkan kalau memikirkan dia akan melakukan sesuatu sendirian di luar sana."
"Jangaann!!" Hampir semua yang ada di dekatnya mengucapkan hal yang sama secara bersamaan.
__ADS_1
"Duh?"
"Jangan begitu! Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya. Jangan terlalu ketat menjaganya!" Sofia bereaksi setelah mendengar perkataan menantunya yang satu itu.
"Dia itu anak yang lahir dan tumbuh di zaman modern, jadi kita harus memperlakukannya secara modern. Jangan kolot seperti itu," lanjutnya.
"Kolot?"
"Kontrol boleh, tapi jangan memperlakukannya seperti putri kerajaan yang harus selalu dijaga ketat dengan aturan-aturan baku. Dia itu manusia bebas."
"Umm …."
"Atau dia akan menjauh jika kamu memperlakukannya seperti itu. Anak zaman sekarang mana mau diatur?"
"Tidak mengatur, Ibu Mertua. Hanya mengawasinya saja." Arfan menjawab.
"Sama saja. Kamu pikir dia tidak akan tahu? Ann itu kenal papanya bagaimana, jadi jangan sampai dia memutuskan sesuatu yang nanti akan membuatmu menyesal." Sofia memperingatkan.
"Maksudnya?"
"Dia pergi jauh karena tidak ingin hidupnya terus diawasi."
Dahi Arfan kembali berkerut.
"Awasi secara biasa saja, tanpa dia ketahui."
Arfan membuka mulut bermaksud untuk menjawab ucapan ibu mertuanya, tetapi Dygta segera menghentikannya untuk menghindari perdebatan.
"Sebaiknya kita makan dulu, pegawai sudah menyiapkannya." Katanya yang menyentuh tangan pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai Re?" Mia tengah mengenakan helmnya ketika Regan turun dari mobil. Dan kali ini dia tak bisa menghindar karena perempuan itu menyadari kedatangannya.
"Hai, apa kabar?" Regan menyapanya.
"Baik. Baru pulang dari tugas luar kota?" Mia menatap tas besar di tangannya.
"Begitulah."
"Baguslah kalau sudah pulang, jadi nanti malam aku nggak harus ke sini."
"Maksudmu?"
"Kemarin Tante Mela pingsan, jadi …."
"Apa?"
"Tidak usah khawatir, sekarang sudah membaik. Hanya saja harus banyak istirahat."
Regan terdiam.
Regan mengangguk pelan.
"Aku pamit." ucap perempuan itu yang segera pergi dengan motor maticnya.
"Ibu kanapa?" Regan segera menerobos kamar orang tuanya setelah meletakkan tasnya di sofa ruang tengah, dan mendapati sang ibu yang berada di tempat tidurnya.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya pusing saja." Mela menjawab.
"Pusing kok sampai pingsan?"
"Ya, biasa. Tensi darahnya naik." Rashid, sang ayah menjelaskan.
"Kenapa bisa naik? Ibu ada masalah?" Pria itu mendekat.
"Tidak."
"Lalu kenapa bisa sampai begini?" Dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Ibu lupa minum obat, Gan. Jangan khawatir, ibu tidak apa-apa."
Regan terdiam.
"Sudah, sana istirahat saja. Kamu kan baru pulang, tidak usah memikirkan ibu." Mela mendorong putranya agar menjauh.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Aku bekerja sampai berhari-hari tidak pulang, tapi setelah sampai rumah Ibu malah begini."
"Sudah Ibu katakan kalau Ibu tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Sana, istirahat dulu. Atau makan dulu, sepertinya tadi Mia sudah memasak untuk kita."
Regan memutar bola matanya.
"Jangan begitu, dia hanya membantu." Mela sedikit tertawa.
"Sudah ke dokter?" Regan kemudian bertanya.
"Sudah kemarin sore, makanya kita tahu kalau tekanan darah Ibu naik." Rashid menjawab.
"Obatnya sudah diminum?" tanya Regan lagi yang melirik tumpukan obat di meja rias sang ibu.
"Sudah barusan. Sekali lagi nanti malam."
"Baiklah."
"Sana, istirahat. Kamu pasti sangat kelelahan." ucap Mela lagi, yang segera sang anak turuti.
***
__ADS_1
"Finally home." Regan melihat story anandita lengkap dengan foto rumah Galang sebagai latarnya. Rupanya gadis itu ikut pulang bersama sang kakak dan sepertinya dia menginap di sana.
Regan tersenyum kemudian mengunggah story baru sebagai balasan.
"Kenapa di sana?"
"Biar dapat izin." Tak lama kemudian Anandita pun membalas di storynya.
"Why?"
"Aku doang."
"Yang lainnya?"
"Masih di sana."
Regan mengupload emot heran.
"Sampai Jum'at." Anandita menjelaskan.
"Oh …."
Mereka sama-sama menghapus story yang jumlahnya cukup banyak. Lalu terdiam untuk beberapa saat.
"Been miss you here." Lalu status Anandita muncul lagi.
"Did you miss me?" Status kedua menyusul beberapa detik kemudian.
"Tentu saja."
"Can we see each other?"
Regan terdiam untuk berpikir.
"Impossible."
"Terlalu banyak pengawasan?"
"Yes."
"Oke."
"Tidur saja, lalu kita bertemu didalam mimpi." Tulisan Regan dilengkapi emot tertawa.
"Emangnya bisa?"
"Seharusnya bisa." Pria itu tertawa sebelum kembali menghapus semua statusnya, begitupun Anandita.
"Oke."
"How is your feet?" Namun status lainnya muncul lagi, membuat Anandita mengurungkan niatnya untuk pergi tidur setelah membersihkan diri.
"Masih lecet, sedikit sakit."
"Salep?"
"Lupa."
"Besok aku bawakan?"
Gadis itu terdiam.
"Kamu butuh apa lagi?"
"I just … need you." Ditambah emot love, kemudian dia tertawa setelah mengirimkannya.
Hal sama pun terjadi kepada Regan yang sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia meraba dadanya sendiri yang jantung di dalamnya terasa berdegup begitu kencang.
Ada rasa ngilu di ulu hati tapi dia merasa bahagia setiap kali wajah Anandita melintas di pelupuk mata. Dan dia senang akan hal itu.
"Lihat? Anak remaja seperti dia kenapa bisa begitu mempengaruhi? Apa tidak ada yang salah dengan dirimu?" batinnya bergumam.
Regan menghela napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Hal tak biasa ini terjadi pada dirinya dan itu disebabkan oleh gadis belia yang tak pernah dia duga. Membuatnya seolah lupa dengan ucapannya sendiri.
"Waspada, Regan. Waspada. Dia itu anaknya Arfan Sanjaya yang tidak akan lepas dari pengawasan, dan kau tahu bagaimana ayahnya. Jangan besar kepala!" Dia menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
Regan berusaha untuk tetap rasional tapi hatinya malah berbanding terbalik. Semuanya seperti ingin dia lakukan bersama gadis itu meski dirinya tahu banyak hal yang harus dilanggar. Termasuk standar oprasional dari tugas staf Nikolai Grup yang terintegrasi dengan Sanjaya Corp.
"Ini memusingkan." katanya yang mencari kontak pemimpin staf perusahaan milik Arfan Sanjaya itu.
"Piere." Satu nama muncul dan dia hampir menekannya untuk dihubungi, namun nalurinya mengatakan tidak.
"Kau gila jika melakukannya, Regan!" Dia bermonolog.
Kemudian Regan mengurungkan niatnya dan kembali pada percakapan story yang menjadi satu-satunya cara berkomunikasi dengan Anandita.
"Aku akan mencari cara agar kita tidak begini selamanya." Lalu dia mematikan ponsel dan segera memejamkan mata, sebagaimana janjinya kepada gadis itu, dengan harapan mereka akan bertemu di alam mimpi.
💕
💕
💕
Bersambung ...
cieeee ... yang kasmaran sampai-sampai janjian di alam mimpi. 😆
__ADS_1
emang bisa? hahaha