The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Let's Cuddle!


__ADS_3

🍂


🍂


"Om mau pulang?" Mereka berpapasan di halaman samping ketika Anandita tengah bermain dengan dua sepupunya, dan Regan bermaksud menuju mobil.


"Ya. Sepertinya Pak Daryl tidak membutuhkan aku hari ini." Regan melirik rumah Daryl yang terletak di belakang rumah besar Satria yang tampak sepi.


"Iya kah? Seharian ini Om Der emang nggak keluar."


Pria itu menganggukkan kepala.


"Dengar, Ann. Aku anggap pembicaraan tadi pagi hanya bentuk protes mu saja. Jadi jangan meneruskannya hingga membuat hubungan kita bermasalah, oke?"


Anandita tidak menyahut.


"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku jika mendengar kata-kata seperti itu." Regan maju dua langkah sehingga jarak di antara mereka semakin dekat.


"Ini baru permulaan, tapi aku tidak main-main dengan perasaanku. Dan yang kita jalani bukan hanya sekedar iseng. Aku pernah ada di posisi ini sebelumnya dan tidak mau itu terulang lagi. Kecuali jika setelah berjuang tetapi keadaan tetap tidak mendukung kita." Dia menatapnya lekat-lekat.


"Salahmu kenapa terus mendekat sehingga aku juga memiliki perasaan yang sama. Dan aku bersumpah tidak akan menyerah begitu saja kali ini. Hanya saja, aku mohon untuk bersabar hingga waktunya tiba. Setidaknya menunggumu untuk lulus sekolah dulu. Dan setelah itu, semuanya bisa kita jalani seperti yang kamu inginkan."


Anandita mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Ann?"


Gadis itu menatap wajahnya.


"Aku bukan pria yang mudah jatuh hati pada perempuan, apalagi sempat mengalami kegagalan karena alasan sama seperti yang kamu katakan tadi. Tapi aku cukup dewasa untuk tahu apa yang aku rasakan saat ini adalah benar. Jadi aku memilih bertahan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Dan aku harap kamu juga ya. Kecuali jika kamu memang benar-benar tidak mau lagi bersamaku." Regan maju selangkah lebih dekat. Dan ini lebih mendebarkan dari apa pun, karena mereka ada di lingkungan kediaman Nikolai dengan pemantauan yang sangat intens terhadap apa pun.


"Aku hanya akan bertanya sekali padamu. Apa kamu benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini?" Dia lantas bertanya.


"Kalau kamu tanya aku, jelas jawabannya tidak. Kita baru saja mulai dan aku tidak ingin secepat itu, perasaanku sudah jelas kepadamu. Tapi jika kamu memang benar-benar ingin berpisah, tidak apa-apa. Aku akan menjauh."


Tubuh Anandita menegang.


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu benar-benar ingin kita berpisah?" Regan mengulangi pertanyaannya.


"Umm … sebenernya sih nggak mau. Om tahu aku tuh udah sayang, tapi …."


"Ya sudah. Kenapa menyiksa diri sendiri dengan bicara seperti itu?"


Anandita menggigit bibirnya keras-keras.


"Aku ambil itu sebagai jawabannya." Kemudian Regan mundur sambil tertawa. Dia senang karena berhasil menjebak gadis itu dengan ucapannya.


"Apa?"


"Nanti malam aku menelpon mu. Jangan ditolak lagi ya?" Katanya, yang beranjak menuju mobilnya.


"Tunggu, Om. Aku belum selesai ngomong, maksud aku kan tadi …." Dan Anandita mengejarnya.


"Stop, Ann! Ini di rumah Opa mu. Bukankah sudah aku katakan jika kita harus menunggu sampai kamu lulus sekolah? Baru setelah itu aku akan berani berterus-terang kepada semua orang. Hanya beberapa bulan lagi, bukan?" Regan memperingatkan.


"Tapi kan masalahnya …."


"Kita tidak ada masalah. Hanya pikiranmu saja yang terlalu berlebihan." Pria itu menyeringai.


"Bye, Ann." Katanya lagi yang kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi, meninggalkan Anandita yang tertegun di sana.

__ADS_1


"Kak Ann sama Om Regan ngomong apaan sih aku nggak ngerti?" Tiba-tiba saja Anya mendekat setelah melihat kakak sepupunya tersebut berlari ke area depan.


"Hah? Apa?" Dan hal tersebut membuyarkan lamunan Anandita.


"Kakak sama Om Regan habis ngomongin apa? Kenapa harus nunggu sampai lulus sekolah?" Anya mengulang pertanyaannya.


"Itu … ee … kamu dengar?" Anandita balik bertanya.


"Denger."


"Semuanya?"


Anya menganggukkan kepala.


"Apa aja?"


"Om Regan mau nelpon Kakak."


"Hah? Terus?"


"Mau nunggu sampai lulus sekolah."


Wajah Anandita memucat. Bisa gawat jika adik sepupunya yang satu ini mendengar banyak hal.


"Apa lagi?"


"Udah."


"Serius? Apa lagi?"


"Udah, itu doang."


"Tadi Anya bilang denger semuanya?"


"Yakin?"


"Iya." Anak itu mengangguk.


"Beneran?"


"Bener. Emang ada yang salah ya? Emang tadi Kakak ngobrol apa aja sama Om Regan?" Lalu dia bertanya.


"Dih, kecil-kecil kepo!" Anandita bergegas kembali ke dalam rumah.


"Hih, anak gede suka aneh-aneh." Anya bergumam, lalu dia mengikuti kakak sepupunya tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Daddy, masih nggak mau bangun?" Nania kembali naik ke lantai atas setelah menyelesaikan aktifitasnya di bawah.


Daryl yang seharian berbaring di tempat tidur pun menoleh.


"Aku udah masak, udah ngerjain banyak hal. Tapi kamu masih tiduran aja. Udah sore lho." Perempuan itu naik ke tempat tidur, dan segera saja Daryl bergeser untuk memeluknya.


"Kalau kamu begini terus bikin aku khawatir. Kamu beneran kayak orang sakit!" Nania tertawa sambil menepuk punggung suaminya.


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya … ini seperti sakit, malas, mual dan pusing yang datang bersamaan."


Nania tertawa lagi.

__ADS_1


"Senang sekali kamu, heh? Kalian sudah bersekongkol mengerjai Daddy ya?" Dia menggerak-gerakkan wajahnya di perut perempuan itu.


"Mana ada? Itu karena kamunya aja yang terlalu posesif, jadi kebagian gejalanya." Nania membingkai wajahnya.


"Masa?"


"Kata Kak Kirana begitu."


"Hmm … jadi aku tidak boleh posesif kepada istriku, hum?"


"Bukan begitu. Tapi coba dikurangi sedikit biar kamunya nggak tersiksa."


Daryl mendengus pelan. "Percuma, aku kan sudah kebagian gejalanya." Lalu dia mengeratkan pelukannya.


Daryl merangsek sehingga dia lebih dekat dan tubuh mereka saling menempel. Dan tanpa basa-basi dia segera mencumbu perempuan itu.


"Daddy … tadi katanya lemes, pusing sama mual!" Namun Nania menjauhkan wajahnya untuk menghindar.


"Yeah, tapi kalau di dekat kamu semuanya hilang." Tapi dia terus mendekat dan tidak membiarkannya menjauh.


"Itu modus! Hahaha." Nania beringsut.


"No! Ini benar."


"Iya, tapi jangan begini dulu, duh!" Nania menahan dadanya yang hampir kembali dia tempelkan dan bermaksud turun dari tempat tidur.


"No, Baby!!"


"Kata dokter jangan dulu, ini baru sebulan doang dan belum aman." Nania mengingatkan.


"Belum aman apanya? Lalu aku bagaimana?" Daryl sedikit merengek.


"Ya nggak gimana-gimana, ditahan dulu aja." Nania tak bisa menahan tawa melihat kelakuan suaminya yang seperti anak kecil.


"Baby!!"


"Ini lagian masih sore aja. Mana kamu seharian nggak keluar dari kamar lagi, kayak pengantin baru."


"Ahh!" Dan Daryl menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur, lalu berguling memunggunginya. Dia merasa tidak senang karena keinginannya tidak tersalurkan.


"Masa mau punya anak masih begini aja?" Lalu Nania kembali ke dekatnya.


"Yang lain aja bisa nggak? Makanan gitu, kan bisa aku bikinin." Dia mengusap punggungnya.


"But i want you so bad!" Daryl berbalik dan kembali memeluknya.


Nania tertawa lagi dan dia pun balas memeluk.


"Boleh, tapi begini aja jangan lebih."


"Tapi …."


"Aku pergi aja ah, orang-orang lagi pada ngumpul tapi cuma kita aja yang nggak hadir. Berasa gimana gitu." Nania hampir kembali turun, Namun Daryl tetap manahannya.


"Okay, okay. Just cuddle!" Pria itu memeluknya erat-erat.


💕


💕

__ADS_1


💕


Bersambung ....


__ADS_2