
π
π
"Papa kamu nggak jemput?" Nania bertanya terlebih dahulu ketika mereka sudah tiba di depan gerbang, dan dia tak melihat kedatangan ayah Mahira seperti biasanya untuk menjemput gadis itu.
"Umm β¦ kayaknya nggak deh." Mahira menjawab, dan sekilas dia melirik ke arah Regan.
"Mau ikut aku atau mau order ojek online?" Nania bertanya lagi.
"Umm β¦."
"Regan?" Kemudian Nania beralih kepada pria yang berdiri di dekat mobilnya.
"Ya?"
"Kalau Mahira pulangnya bareng kita boleh nggak?" Dia pun bertanya, sementara Regan melirik kepada gadis itu.
"Anterin sebentar aja sebelum balik ke SFH." Nania seperti biasa, merasa harus memastikan jika orang yang dikenalnya baik-baik saja.
"Baiklah." Regan segera menjawab, yang membuat Nania sedikit keheranan.
Tumben setuju? Batinnya bertanya-tanya.
"Bisa?"
"Ya, bisa."
"Oke kalau gitu, Mahira ayo ikut?" ajaknya, yang segera disetujui oleh teman sekelasnya tersebut.
***
"Maaf Pak?" Mahira memberanikan diri untuk memulai percakapan setelah selama ada Nania dia diam saja.
"Ya?"
"Boleh tahu nggak kenapa Nania perlu dijaga seketat ini?"
Regan tak langsung menjawab.
Nyali gadis itu seketika menciut karena tak ada tanggapan dari pria di sampingnya, dan dia merasa benar-benar bodoh karena bertanya soal hal yang mungkin sangat pribadi untuk mereka.
"Nania itu ceroboh dan sangat mudah percaya kepada orang asing. Asal bersikap ramah dan terlihat baik dia langsung saja menganggap mereka adalah orang yang pantas mendekat sehingga mudah saja untuk dimanfaatkan." Lalu Regan buka suara setelah beberapa saat berpikir.
"Serius?"
"Ya, dan asal kamu tahu kalau enam bulan yang lalu dia baru saja keluar dari klinik kejiwaan setelah direhabilitasi."
"Duh? Kecanduan obat?"
"Bukan."
"Itu kata Bapak direhabilitasi?"
"Jiwanya sedikit terguncang karena keguguran."
"Hah?"
"Sebenarnya bukan kegugurannya, sih. Tapi mungkin rasa bersalah dan kehilangan yang paling besarΒ membuat jiwanya terguncang. Yang penyebab awalnya adalah karena dia terlalu percaya kepada orang lain dan selalu memikirkan kepentingan mereka dari pada dirinya sendiri."
"Yang saya lihat nggak ah. Kalau iya, waktu itu pas ada senior yang ngundang ke acara mereka, Nania pasti dateng. Tapi ini nggak." Mahira mengingat kejadian pada bulan-bulan sebelumnya.
"Saya rasa sekarang hal seperti itu tidak akan mampu menggoda Nania untuk datang, apalagi tanpa suaminya. Dia pasti tidak akan lupa dengan apa yang sudah terjadi dulu."
"Terus kenapa Pak Daryl minta saya untuk ngawasin Nania? Kan dia udah nggak akan tertarik sama yang kayak gitu lagi?"
"Dia itu manusia biasa. Ada lupa nya, ada juga melencengnya. Dan fungsi kamu adalah sebagai pengingat agar dia tidak mengulang kesalahan yang sama, atau malah melakukan kesalahan baru. Karena jika kami yang melakukannya malah akan menimbulkan ketidaknyamanan untuk Nania. Dan Pak Daryl tidak mau itu terjadi. Beliau ingin segalanya kondusif bagi istrinya."
"Oohh β¦ begitu ya?"
"Ya, dan ide yang paling bagus adalah menjadikanmu sebagai pengawasnya." Regan melanjutkan.
"Lucu ya, kayak tentara aja ada pengawasnya?" Mahira tertawa sendiri, sementara Regan membelokkan mobilnya ke area Fia's Secret House untuk membawa gadis itu menemui atasannya.
"Sore, Pak?" Regan membuka pintu setelah mengetuk terlebih dahulu.
Dan sebelumnya dia juga mewanti-wanti kepada Mahira untuk tak banyak bicara selain menjawab jika Daryl bertanya saja.
Tampak pria itu yang tengah menikmati kopi panasnya yang Dinna bawakan beberapa saat yang lalu disela menyelesaikan pekerjaannya.
"Masuk." Daryl menjawab sapaan bawahannya yang segera masuk ke dalam ruangan itu, diikuti oleh gadis yang dia kenali sebagai teman baru Nania.
"Saya bawa Mahira seperti yang Bapak minta." Rega dan Mahira berdiri di depan meja kerja Daryl.
__ADS_1
"Ya, aku lihat itu." Dia meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Hey, maju. Siapa namamu tadi? Teman baru?" Daryl tanpa berbasa-basi sama sekali.
"Sa-saya Pak?" Mahira mendongak ketika Regan bergeser sehingga dia dapat menatap wajah Daryl lebih jelas.
"Memangnya kau lihat ada orang lain di sini?" Daryl bertanya lagi.
"Ti-tidak, Pak." Mahira tergagap.
"Lalu mengapa kau bertanya seperti itu?" Pria itu dengan ketusnya.
"Saya β¦." Lalu Mahira melirik ke arah Regan yang juga sedang melirik ke arahnya. Dan pria itu memberikan isyarat.
"Umm β¦ maaf, Pak. Saya Mahira." Gadis itu akhirnya meminta maaf saja dan segera menjawab.
"Kau tahu kan apa tugasmu mulai besok? Regan sudah menceritakan apa yang harus kau lakukan, bukan?" Daryl berbicara lagi, dan kini langsung pada maksudnya.
"Su-sudah, Pak."
"Apa kau mengerti?"
Mahira melirik lagi kepada Regan yang lagi-lagi memberikan isyarat.
"Me-mengerti, Pak." Kemudian dia menjawab.
"Lalu kau harus apa?" tanya Daryl lagi.
"Harus menjaga, mengingatkan Nania dan melaporkan semua kegiatan yang Nania lakukan di kampus." Mahira menjawab.
"Kau bisa melakukannya?"
"Bisa, Pak."
"Kau yakin?"
"Yakin."
"Baik, kalau begitu besok kau sudah mulai melapor kalau ada apa-apa. Tahu kan apa yang harus kau lakukan mulai besok?"
"Tahu Pak."
"Apa saja?"
"Melapor kepada Pak Regan."
Mencegah segala tindakan yang dilarang dan menjaga Nania dari siapapun yang mendekat apalagi untuk tujuan negatif." Gadis itu benar-benar mengingat apa yang Regan ucapkan kepadanya sebelum mereka masuk menemui Daryl.
Muncul seringaian samar di wajah pria itu, lalu dia melirik kepada bawahannya yang menunggu dengan setia.
"Kau sudah melakukan apa yang harus kau lakukan?" Lalu dia bertanya kepadanya.
"Belum, Pak. Saya masih menunggu perintah." Regan menjawab.
"Kalau begitu lakukanlah, bukankah dia sudah resmi jadi pengawasnya Nania?"
"Baik, Pak. Segera."
"Sudah, pergilah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." katanya lagi, dan dia kembali menyesap kopinya sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaan.
"Baik." Kemudian Regan memberikan isyarat kepada Mahira untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Udah, gitu aja?" Mahira mengikuti langkah pria itu dengan tergesa.
"Sudah. Memangnya apa yang kamu harapkan?" Mereka berjalan ke arah lift.
"Ya apa kek. Saya kan udah resmi jadi pengawasnya Nania sekarang."
"Terus?" Keduanya segera masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka.
"Itu tadi yang Pak Daryl bilang lakukan yang harus Bapak lakukan maksudnya apa?"
Pria itu mendengus pelan. "Kamu ini cerewet juga ternyata?"
"Bukan cerewet, Pak. Tapi saya tanya. Harus jelas dong apa yang Pak Daryl maksud?"
"Hmm β¦." Regan menggumam.
"Pak?"
"Berikan hapemu!" Lalu dia menengadahkan tangannya kepada gadis itu.
"Mau apa?"
__ADS_1
"Berikan saja, ini yang harus saya lakukan."
"Apaan? Ini barang pribadi lho, nggak boleh sembarangan orang lihat."
"Tidak ada yang namanya pribadi kalau kamu sudah terlibat dengan Nikolai Grup. Cepat berikan hapemu!" ucap Regan lagi.
"Apaan sih Pak? Masa begitu?"
"Ya memang begitu."
"Di hp saya nggak ada apa-apa kok, jadi Bapak nggak harus periksa juga." Mahira masih mempertahankan pendapatnya.
"Mau ada apa-apa juga terserah padamu. Tapi saya memang harus melakukan prosedur pekerjaan."
"Prosedur pekerjaan apanya?"
"Berikan saja hapemu! Kenapa kamu ini banyak bicara?" ucap Regan lagi yang kali ini sedikit menggeram, membuat nyali Mahira lagi-lagi menciut. Dan akhirnya dengan terpaksa dia menyerahkan ponsel miliknya.
"Mau diapain Pak?" Gadis itu memperhatikan ketika Regan mengutak-atik ponselnya untuk beberapa saat, lalu menempelkan semacam chip berukuran sangat kecil di belakangnya, untuk kemudian mematikanya sebentar.
"Bapak pakein apa itu?" Dia bertanya lagi.
"Semua orang yang terlibat dengan Nikolai Grup mendapat perlakuan yang sama. Kami akan tahu di mana posisimu, data yang masuk, dan apa pun yang kamu lakukan dengan ponselmu. Benda ini sudah terhubung dengan jaringan di pusat." Regan menjelaskan.
"Apa?"
"Dan kamu harus tetap terhubung dengan kami, jadi hapemu tidak boleh mati sama sekali karena kami akan menganggapnya sebagai tanda bahaya."
"Duh? Bapak nyadap hape saya ya?"
"Sebut saja begitu."
"Kenapa?"
"Karena harus."
"Privasi saya gimana?"
"Staff Nikolai Grup tidak kenal dengan yang namanya privasi."
"Lho, nggak bisa gitu dong Pak!" Pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar berurutan.
"Memangnya apa saja yang kamu lakukan dengan hapemu?" Regan mengeluarkan ponsel miliknya.
"Ya β¦ nggak ada. Masalahnya itu ka barang pribadi. Masa Bapak dengan seenaknya nyadap hape saya?"
"Benar." Regan fokus pada ponselnya, kemudian tertawa ketika dia melihat beberapa hal yang ditemukan di dalam ponsel milik Mahira.
Foto-foto, video lucu dan hal-hal konyol yang gadis itu simpan di dalamnya.
"Bapak ngintipin hape saya?" Gadis itu bereaksi.
"Kalau kamu tidak banyak bicara saya tidak akan mengintip." Regan menjawab. "Jadi, kalau mau barang pribadimu tetap rapi, maka jangan banyak bicara. Kami melakukan ini sebagai bentuk pengamanan untuk Nania agar tidak kecolongan dengan memberimu kuasa untuk menjaganya. Kamu tahu, orang asing sering kali memanfaatkannya karena dia terlalu lugu."
Mahira mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Dan semua yang terlibat dengan Nikolai Grup memang seperti itu. Jadi, diam saja dan jalankan tugasmu seperti yang diperintahkan."
Gadis itu terdiam.
"Mengerti, Mahira?" Regan sedikit mengintimidasi.
"Me-mengerti, Pak."
"Ada pertanyaan lagi? Kalau ada, cepat sekarang. Jangan nanti apalagi bertanya di depan Nania. Kita ini bekerja dibalik layar, jadi tidak boleh ada yang tahu soal ini."
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Tidak ada pertanyaan?"
Lalu dia menggelengkan kepala.
"Baik, besok pekerjaanmu dimulai. Dan ingat, ini rahasia. Jadi bersikap biasa saja di depan Nania." Rega kembali memperingatkan.
"Baik Pak."
"Sudah, saya antar kamu pulang." Pria itu berjalan keluar, dan Mahira kembali mengekorinya dari belakang.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ....
Baik-baik ya, Om.π€£