The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hutan Di Belakang Rumah


__ADS_3

💕


💕


"Sayang, kenapa Daryl marah-marah di depan?" Sofia mengintip dari jendela dan dia menemukan putranya yang tampak mencak-mencak di depan gerbang. 


"Benarkah?" Satria menatap ke arah yang sama.


"Apa Nania belum ketemu?" Perempuan itu menoleh kepada suaminya.


"Entahlah, mungkin." Satria melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6.30 sore.


"Apa mereka bertengkar ya?" Sofia menatap penuh selidik.


"Tidak tahu. Mereka kan sudah jarang ke sini?"


"Ah, aku curiga ada sesuatu."


"Mungkin begitu." Suami istri itu sama-sama terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau yakin tidak melihat Nania lewat?" Sekali lagi Daryl menanyakan hal yang sama.


"Tidak, Pak. Dari tadi saya di sini dan tidak mungkin ada yang masuk atau keluar tanpa pengawasan." Penjaga keamanan menjawab.


"Lalu ke mana dia?" Daryl menyugar rambutnya dengan rasa frustasi. "Pak Maman sudah pulang?" Lalu dia bertanya lagi.


"Sudah barusan, Pak."


"Aarrggh!" Pria itu menggeram kemudian memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


"Pak, tunggu Pak!" Namun teriakan sekuriti menghentikan langkahnya yang hampir mencapai teras.


"Apa lagi?" Dan Daryl kembali berbalik sambil menyalakan ponselnya.


"Mungkin Bu Nania ada di hutan belakang, Pak." katanya setelah pria itu tiba di depan majikannya.


"Hutan belakang apanya? Ini sudah hampir malam."


"Coba Bapak lihat cctv di di depan." 


Daryl mengerutkan dahi.


"Ayo Pak, saya rasa Bu Nania memang …."


Lalu Daryl berlari menuju ke pos satpam di depan dan segera memeriksa monitor yang menyala. Yang salah satunya menampilkan keadaan di hutan belakang rumahnya.


Suasana sudah temaram dan tentu saja sangat sepi, namun tidak mampu menyamarkan sosok yang ada di sana.


Siapa lagi kalau bukan Nania yang tengah berbaring di samping makam anaknya? Dia tampak meringkuk dengan tangan terulur seperti memeluk gundukan tanah yang ditumbuhi rumput dan bunga tersebut.


"Ah … sedang apa dia di sana? Tidak sadar kalau ini hampir malam?" Pria itu segera berlari ke tempat yang disebut.


"Pak Nunu, ada apa?" Beberapa saat kemudian Sofia menghampiri sang penjaga keamanan diikuti Satria di belakang.


"Itu, Bu. Dari tadi Pak Daryl mencari Bu Nania," jawab security berseragam hitam tersebut.


"Dari tadi belum ketemu?" Sofia lebih mendekat.


"Sudah, Bu."

__ADS_1


"Lalu di mana Nania?" Perempuan itu terus bertanya.


"Di hutan belakang, Bu."


"Apa? Jam segini?"


"Iya."


"Sedang apa dia?"


"Tidak tahu, mungkin lihat makam anaknya."


"Astaga!" Dia melihat ke layar monitor yang menampilkan area hutan buatan yang tampak semakin menggelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tidak mungkin itu terjadi lagi! Apa yang akan aku lakukan jika …." Daryl tiba di area yang ditumbuhi pohon besar tersebut.


Suasananya sudah menggelap dan hanya diterangi beberapa lampu taman saja, namun dia dapat melihat perempuan itu yang terbaring di tengah-tengah.


"Astaga, Malyshka!!" Dia mulai panik dan bergegas menghampirinya.


"Malyshka!" Segera saja Daryl berjongkok dan memeriksa keadaannya yang tampak tak sadarkan diri.


"Ada apa denganmu?" Lalu dia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya.


"Malyshka, maafkan aku!" katanya, dan dia hampir menangis.


Nania tidak merespon.


"Malyshka! Bangunlah! Aku sudah mengerti, maafkan aku!" katanya lagi, seraya memeluknya dengan erat.


"Mmm … Daddy, jangan ganggu aku!" Namun tiba-tiba saja perempuan itu bergumam sambil menyingkirkan wajah Daryl yang terbenam di ceruk lehernya.


Dia menatap wajah damai perempuan itu dalam keremangan dengan perasaan heran tak terkira. Lalu dia menghembuskan napasnya dengan keras ketika terdengar dengkuran halus Nania.


"Malyshka, kamu tidak apa-apa?" tanya nya setelah beberapa saat.


"Malyshka?" Dia mengguncangkan tubuh Nania. "Kamu baik-baik saja, kan?" 


"Aarrgghh! Jangan ganggu aku dulu! Akunya ngantuk. Kalau mau berantem lagi besok aja diterusin!" Nania dengan nada kesal, namun membuat Daryl melonjak kegirangan.


"Oh, astaga! Kamu membuatku hampir kena serangan jantung! Jangan begini lagi, Malyshka! Kamu membuatku ketakutan!" Dan dia kembali memeluk Nania dengan erat.


"Udah, stop! Emangnya nggak cukup ya bikin aku kesal terus? Lagi nyepi juga kamu gangguin aku terus. Sebenarnya mau kamu apa sih?" Akhirnya Nania pun terbangun, dan dia benar-benar kesal karena merasa terganggu.


Daryl malah tertawa.


"Nggak di rumah, nggak di telpon, nggak di mana-mana, kerjanya bikin orang kesal terus!" Nania pun bangkit.


"Bisa nggak sekali aja kamu ngerti? Minimal jangan ganggu kalau aku lagi sendiri. Aku lagi memulihkan energi, tahu? Berantem sama kamu bikin tenagaku habis!" Perempuan itu misuh-misuh.


"Dasar laki-laki egois!" Dia pun berjalan tersaruk-saruk di keremangan malam, sementara Daryl mengekorinya dari belakang.


"Udah egois, keras kepala, mau menang sendiri, nggak peduli perasaan orang lain lagi!" Perempuan itu terus mengomel dan dia meluapkan kekesalannya sepanjang jalan.


"Memangnya cuma kamu sendiri yang punya perasaan? Aku juga punya, tahu?" Dan napasnya terdengar menderu-deru karena dia mengomel sambil berjalan, namun Daryl tak menjawabnya sama sekali. 


Pria itu hanya mendengarkan ocehannya sambil sesekali menahannya dari belakang ketika sesekali Nania hampir saja terjatuh.


"Batu sialan!" katanya saat kakinya tersandung sebuah batu yang berukuran cukup besar lalu menendangnya dengan keras. 

__ADS_1


Namun sayang karena benda itu merupakan penanda batasan antara area halaman belakang dan jalan menuju ke hutan buatan, membuatnya cukup keras karena sebagian besarnya tertanam di dalam tanah.


Menjadikan kakinya yang menendang batu tersebut malah terasa sakit dan dia menjerit karenanya.


"Aarrggh!" Nania pun menunduk untuk memegangi kakinya.


"Hati-hatilah, kamu ini …." Mereka berhenti berjalan dan Daryl segera memeganginya.


"Awas!" Namun perempuan itu segera menepisnya.


"Are you okay?" Dia bertanya.


"Nggak ada yang oke! Kepalaku pusing, badan aku capek, kaki aku sakit, terus apa lagi? Kamu mau nambahin?" ketus Nania, membuat Daryl menutup mulutnya rapat-rapat.


"Nggak ada yang oke!" ulang perempuan itu lagi, lalu dia bermaksud melanjutkan langkah.


Nania hampir saja ambruk ketika rasa sakit menjalar di kaki kanannya yang cedera, namun Daryl yang berada di belakang dengan sigap menangkapnya.


"Hati-hati, Malyshka." Dia hanya mampu mengucapkan kalimat itu.


Nania mendengus dan hampir saja kembali menepis tangan Daryl, namun kali ini pria itu tidak melepaskannya sama sekali.


"Diamlah, jangan keras kepala seperti ini. Kakimu terluka." katanya, yang merangkul tubuh perempuan itu.


"Orang pemimpinnya aja keras kepala, gimana akunya nggak keras kepala?" Nania menjawab.


"Diam!" tegas Daryl seraya menegakkan tubuh perempuan itu.


Kemudian dia pindah ke depannya dan membungkukkan badan di hadapannya.


"Naiklah ke punggungku, kita harus segera pulang." katanya, yang tak mendapatkan respon dari Nania.


"Malyshka!"


"Sana aja kalau mau pulang, aku bisa jalan sendiri." Lalu dia menjawab.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri." Namun Daryl tetap pada pendiriannya.


"Nggak usah, aku …."


"Cepat!" Pria itu menggeram, yang membuat nyali Nania menciut juga.


"Umm …."


"Cepat!" ulangnya, dan akhirnya perempuan itu menurut juga.


***


"Kalian kenapa malam-malam begini malah ke hutan?" Sofia dan Satria sudah menunggu di teras yang remang-remang.


"Nania kenapa?" Dia mendapati Nania yang ada dalam gendongan Daryl. 


Pria itu mendengus. Kalau sudah begini, maka ibunya pasti akan ikut campur. Dan tak akan ada yang mampu dia tutupi, apalagi melihat keadaan Nania yang berantakan.


Mati kau, Daryl!! Gumamnya dalam hati.


💕


💕


💕

__ADS_1


Bersambung ...


Nah ... Hajar, Mom! 🤣🤣🤣


__ADS_2