The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hari Terakhir Ospek


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Nania menunggu di samping mobil sementara Daryl dan Regan menurunkan tugasnya yang sudah rampung semalam. Bersamaan dengan Mahira yang juga baru saja tiba.


Di hari terakhir ospek itu suasana kampus sudah sibuk karena semua orang memang mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik.


Regan dan Daryl mendorong manekin berbalut gaun yang ditutup kain hitam, yang di bawahnya diberikan semacam roda agar memudahkan mereka untuk membawanya.


Tentu saja hal tersebut menyita perhatian orang-orang yang sudah berdatangan.


"Sebentar aku tanya senior dulu." Nania menghentikan Daryl dan Regan di pintu masuk ruangan panitia. Lalu dia keluar setelah beberapa saat.


"Dibawa ke auditorium aja di belakang." katanya, yang memandu suami dan bawahannya itu ke arah belakang ruang panitia.


Dan di sana, mahasiswa yang punya tugas serupa pun sudah tiba dengan hasil kerja keras mereka masing-masing. Dan para panitia pun sudah berdatangan.


Perhatian mereka tak hanya tertuju pada mahakarya Nania dan Mahira. Tapi juga pada dua pria bersetelan jas yang mendorong manekin berbalut kain hitam itu.


Suasana menjadi riuh apalagi setelah Daryl dan Regan selesai meletakkan benda itu di tempatnya, bahkan beberapa kamera ponsel baru saja mengambil gambar.


"Aku pamit, Malyshka." Daryl berbisik di telinga Nania sambil memeluknya sebentar. Dan hal tersebut membuat keriuhan menjadi semakin menggema di ruangan itu.


Sedangkan Regan hanya mengangguk kepada perempuan itu, juga beberapa panitia yang mereka lewati sepanjang perjalanan keluar, sementara Daryl acuh saja sambil menegakkan kepala.


"Baik, baik. Tidak usah ribut!" Mahendra seperti biasa, menjadi komando paling depan pada ospek tahun ini.


"Terima kasih, teman-teman karena sudah mengumpulkan tugas kalian tepat waktu. Silahkan kembali ke tempat duduk kalian." katanya. Dan Nania juga yang lainnya pun segera duduk di kursi mereka.


"Baik, tampaknya kalian cukup kreatif ya? Dilihat dari karya-karya hari ini sepertinya kalian sudah bekerja keras." Mahendra menerima beberapa kertas yang diserahkan teman-temannya.


Dia menatap adik-adik kelasnya yang sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing.


"Terima kasih sudah bekerja keras. Kami meminta maaf jika selama beberapa hari ini pernah membuat kalian marah, tersinggung atau merasa tidak enak. Itu hanya sebagian dari banyaknya proses yang harus dilewati oleh mahasiswa baru. Yang diharapkan akan membuat kalian lebih kuat untuk kedepannya, karena akan ada banyak hal yang terjadi setelah ini." Untuk pertama kalinya Mahendra tidak berteriak. Tapi suaranya cukup terdengar dari pengeras suara.


"Baik, sebelum tiba ke acara selanjutnya, mungkin sebaiknya kita melihat beberapa karya teman yang sudah dibawa hari ini. Semoga menjadi inspirasi untuk kalian ya?" ucap Mahendra lagi yang memberi isyarat kepada rekannya untuk menunjukkan tugas yang dibuat oleh mahasiswa baru.


Satu persatu karya dari mahasiswa baru diperlihatkan dan mereka memang terkesan dengan kreatifitas yang ditunjukkan.


Ada desain bangunan, patung tokoh terkenal, lukisan, dan bahkan diorama dan miniatur kota. Yang kesemuanya mendapat pujian dari senior, panitia dan bahkan pada pembina.Β 


Dan tiba giliran karya Nania dan Mahira, yang merupakan karya paling besar dan mencolok di antara yang lainnya.

__ADS_1


"Baik, ini miliknya kura-kura … ee maksud saya, Nania dan … Mahira?" Mahendra membaca tulisan pada kertas di tangannya.


"Apa ini? Sepertinya sesuatu yang besar ya?" Pria itu tertawa diikuti hampir semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Lalu dia menarik kain hitam yang menutupinya sehingga benda itu terlepas dan terpampang lah benda yang ada dibaliknya.


Sebuah manekin berbalut gaun cantik dengan warna-warna dominan membentuk mozaik yang membuatnya terlihat luar biasa.


Gradasi warna berpadu membentuk motif batik yang unik nan indah ditambah detail-detail rumit yang menjadikan benda itu benar-benar memukau.


"Wow …." Semua orang bereaksi hampir serentak dan mereka menatap benda di depan dengan raut takjub.


"Ini … lakban yang kemarin?" tanya Mahendra pada keduanya.


Nania dan Mahira menjawabnya dengan anggukkan kepala.


Kemudian pria itu dan beberapa orang lainnya menyentuh gaun tersebut dan mereka berdecak kagum.


"Bagus sekali." Dan seorang dosen pembina pun mengakui keindahannya.


"Bagus sekali, kura-kura … eh, Nania. Bagus sekali!" Mahendra bertepuk tangan diikuti yang lainnya. Dan ruangan besar itu kembali bergemuruh karena tepuk tangan dan teriakan para mahasiswa baru.


Lalu acara berlanjut hingga ke yang paling inti. Mereka menyajikan hiburan khas anak kampus, yakni pertunjukan musik band dan tarian dari para seniman muda di tempat tersebut.Β 


***


"Daddy …." Nania berlari menghampiri Daryl yang sudah menunggu di dekat mobilnya seperti biasa, dan pria itu pun menyambutnya yang langsung terbenam di pelukan.


"Senang sekali ya kamu hari ini?" Lalu dia memeluknya dengan erat sambil menempelkan dagunya di puncak kepala perempuan itu.


Nania tertawa sambil mendongakkan wajahnya sehingga kedua ujung hidung mereka hampir beradu.


"Bagaimana dengan tugasnya? Memuaskan?" Daryl kemudian bertanya.


"Iya." Nania menjawab.


"Lalu mereka memujimu?"


Perempuan itu mengangguk.


"Lalu apa lagi? Mereka memberimu penghargaan?" tanya Daryl lagi dengan antusias.


"Umm … nggak sih, cuma …."

__ADS_1


"Apa? Dasar. Padahal kamu sudah bekerja sangat keras ya, tapi kenapa tidak dapat penghargaan? Apa mereka tidak tahu kalau kamu mengerjakannya sampai larut malam?" Daryl berlagak kesal.


"Tapi aku dapet ini." Lalu Nania menunjukkan sebuah medali kepada suaminya.


"Mereka hanya memberimu medali kecil ini?"Β 


"Tapi ini cukup bagus untuk mahasiswa baru kayak aku."


"Bukan medalinya yang cukup bagus, tapi kamu memang pantas mendapatkannya, mengingat kerja kerasmu beberapa hari ini." Dia merebut benda bulat berwarna emas dari tangan perempuan itu.


"Bukan cuma aku, tapi Mahira juga." lalu Nania mengingatkan.


"Iya iya, kamu dan teman barumu." Daryl mengeratkan pelukan.


"Mahira, Daddy. Namanya Mahira. Bukan teman baru."


"Iya iya, itu. Mahira."


Nania tertawa lagi.


"Sekarang dia ke mana? Kenapa tidak keluar sama-sama? Biasanya kalian tidak terpisahkan?" Daryl mengedarkan pandangan tanpa melepaskan pelukannya dari perempuan itu, meski orang-orang yang melintas tampak memperhatikan.


"Tadi masih di dalam soalnya dipanggil senior. Seharusnya aku juga."


"Terus kenapa kamu pulang duluan? Dasar tidak setia kawan." Pria itu mencubit pipi Nania dengan gemas.


"Kan kamu udah nunggu di sini, jadi ya akunya pulang duluan aja." Nania menjawab, dan apa yang dia ucapkan membuat Daryl tersenyum lebar.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita cepat pulang?" Pria itu kemudian melepaskannya, dan segera menariknya masuk ke dalam mobil.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...


Hai gaess, maaf ya akhir-akhir ini emak telat up. Maklum lah, ada krjaan di dunia nyata. Tapi kalian tetep nungguin kan?πŸ˜…


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_1



__ADS_2