
💞
💞
"Om mau pergi?" Anandita berhenti di teras rumah saat menemukan sang paman tengah memasukkan beberapa barang ke dalam mobilnya.
"Iya." Daryl meletakkan travelbag yang berisi pakaian milik Nania dan beberapa hal yang mungkin akan mereka perlukan dalam perjalanan ke Bandung sore itu.
"Ke mana?" Anandita bertanya lagi.
"Ke Bandung."
"Bandung?"
Daryl menganggukkan kepala.
"Ke tempatnya Abah?"
"Ke mana lagi? Jelas ke sana lah."
"Sepi dong rumah?" Sang keponakan menoleh ketika sosok Nania muncul dari dalam rumah dalam keadaan siap.
"Tidak juga. Adik-adikmu kan banyak? Belum lagi nanti Anya dan Zenya juga datang."
"Tapi kok Om nggak bilang-bilang kalau mau ke Bandung?"
"Untuk apa? Lagipula ini dadakan."
"Ya biar kita juga ikut."
"Sekali-kali lah biarkan kami ini jalan-jalan sendiri, jangan terus kalian ikuti." Daryl menjawab dengan asal, membuat Nania menepuk lengannya agar dia berhenti.
"Kenapa? Memang benar kan? We need some privacy!"
"Dih, privacy apaan? Keluarga Nikolai mana ada privacy? Om ngarang."
"Terserah." Pria itu menutup pintu belakang mobilnya setelah yakin semua barang yang mereka perlukan sudah masuk ke dalam sana. "Kamu siap, Malyshka?" tanya nya kepada Nania.
"Udah. Tinggal pamitan sama mama dan papi." Nania menjawab.
"Oke, then. Ayo kita pamitan?" Daryl merangkul pundak istrinya kemudian menarik perempuan itu ke arah rumah besar.
"Beneran pergi sekarang?" Sementara Anandita mengikuti dari belakang.
"Ya, mumpung masih sore."
"Kalian jadi pergi?" Sofia segera bertanya begitu kedua anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.
"Jadi."
"Sudah menelpon Abah dan nenek?"
"Sudah, Mom. And theyre so exited!"
"Tentu saja, sudah lama belum bertemu Abah dan Nenek sejak kalian menikah."
__ADS_1
Daryl tertawa.
"Dasar cucu durhaka!" Arfan menyahut dari arah ruang tengah.
"Aku sibuk, Om. Tahu sendiri kan bagaimana FSH sekarang?"
"Tahu begitu Kakak juga ikut. Kangen juga sama Abah dan nenek." Dygta ikut berbicara.
"Oooo aku harap tidak, oke? Just let us alone, okay? Don't ruin it!"
"Apa maksudmu? Kamu merasa kami akan mengganggu?" Arfan tentu saja bereaksi setelah mendengar ucapan sang adik ipar.
"Tidak. Maksudku, kami ingin pergi hanya berdua, dan aku mohon kali ini untuk diam saja di sini ya? Tidak usah ikut."
"Babymoon? Ahahaha." Dygta tertawa dengan nada mengejek. "Pas sekali karena di tempat Abah sangat dingin."
"Yeah, right."
Lalu kedatangan sebuah mobil yang mereka kenal mengalihkan perhatian dan Anandita tentu saja segera mendekati jendela.
"Nah, Regan sudah datang. Jadi, ayo kita pergi, Malyshka?" ucap Daryl yang bergantian memeluk kedua orang tuanya juga Dygta untuk berpamitan. Begitu juga dengan Nania.
"Om Regan ikut?" Gadis itu bergumam.
"Tentu saja, memangnya siapa yang mau membawa mobil sejauh itu? Om? Yang benar saja." Daryl menjawab.
Anandita diam-diam menatap ke arah Arfan dengan pikirannya yang segera berputar mencari cara agar dirinya bisa ikut.
Ikut?
"Umm … kalau aku mau ikut boleh? Kayaknya aku juga mau ketemu Abang sama nenek deh?" Anandita mengekori paman dan tantenya kembali ke belakang.
"Apa?" Dan hal itu membuat semua orang yang ada di rumah besar memalingkan pandangan.
"Umm … aku juga mau ikut. Kan udah lama juga nggak ke Bandung." Semua orang menatapnya.
"Masa sih ke Bandung sama Om Der aja nggak boleh? Kan aku nggak pergi sendiri nggak kayak Arkhan? Dia bawa motor ke Bogor, ke Cianjur, ke Tangerang, ke Kuningan! Aku kapan!" Gadis itu meninggikan suaranya dengan nada frustasi.
Tidak mau tahu! Pokoknya kali ini harus berhasil! Batinnya yang terus berusaha menciptakan suasana tak menentu di depan semua anggota keluarganya.
"Sebentar lagi ujian dan aku butuh healing! Bisa stress kalau tetap di Jakarta." Dia menoleh ke arah sang ayah yang hampir membuka mulutnya untuk menjawab. "Dan jangan bilang kalau aku bisa minta pergi liburan sama Papa. Sejujurnya aku mau sesekali pergi sendiri. Walaupun sekarang juga nggak sendiri tapi ada Om Der. Please! Aku mau ikuuutt!" Dia kemudian merangkul lengan Nania untuk mendapatkan dukungan.
"Tante, aku mau ikuuuuttt!" Dia merengek dan tahu jika perempuan yang satu itu tidak mungkin mampu menolaknya.
"No way, you can't just …."
"Baiklah." Dan sesuai prediksi jika Nania memang tak kuasa menolak. Yang tentu saja membuat Anandita melonjak kegirangan.
"Yes!! Makasih, Tante. Sebentar aku ambil jaket dulu!" Lalu dia berlari ke arah sofa di mana tas selempang dan jaketnya berada. Dan tanpa menunggu lama segera berpamitan pada kedua orang tua dan nenek kakeknya, kemudian mendahului Nania dan Daryl berlari menuju Rubicon yang akan Regan kendarai.
"What? Are you kidding?" protes Daryl meski dia terlambat.
"Ya masa mau ditolak? Nggak tega lah akunya."
"But, she can't just go and …."
__ADS_1
"Udah, nanti kita kemalaman." Namun Nania segera menarik suaminya keluar dari rumah besar untuk pergi seperti rencana mereka semula.
Dan keduanya segera masuk ke bagian tengah mobil yang mesinnya sudah menyala tersebut, sementara Regan masih tertegun ketika Anandita tiba-tiba saja masuk di bagian depan bersamanya.
"Kanapa kau ini? Seperti melihat hantu saja?" Daryl segera bertanya pada sang asisten.
"Umm … ini, Pak. Benarkah Ann juga mau ikut ke Bandung?" Pria itu menoleh ke belakang di mana atasannya berada.
"Ya. Sudah terlanjur dan dia tidak bisa dihentikan. Bisa ribut seluruh rumah jika kita tidak menurutinya. Jadi, ayo cepat berangkat!"
"Tapi …." Regan manatap ke arah rumah besar.
"Apa lagi?"
"Yang lainnya tidak ikut?" Dia bertanya.
"Yang lainnya siapa?"
"Pak Satria dan Ibu … juga … Pak Arfan?"
"Tidak."
"Benarkah?" Regan seakan tidak percaya.
"Ya, hanya kita saja."
Dia kembali menatap Anandita yang tersenyum lebar sambil menggerak-gerakkan alisnya.
"Cepat, nanti terlalu sore!" ucap Daryl yang membuyarkan lamunannya sejenak.
"Umm … baik, Pak." Regan kemudian melajukan Rubicon hitam tersebut menuju gerbang dan membawanya keluar dari kediaman Nikolai seperti rencana Daryl.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lita dan Hari menyambut kedatangan cucu menantunya pada lewat petang. Dia memeluk mereka bergantian begitu turun dari mobil dan lebih lama kepada Nania seraya mengusap perutnya yang sudah terlihat menonjol padahal usia kehamilannya baru menginjak empat bulan.
"Senang sekali waktu kamu menelpon, Der." Katanya yang juga memeluk Anandita.
"Ya, Nek."
"Kalau begitu, ayo cepat masuk! Sudah magrib!" Perempuan itu menggiring mereka ke dalam rumah tingkat duanya.
"Kamar kalian sudah siap, dan untuk Ann bisa pakai kamar bekas mommy mu ya? Tapi Regan …."
"Tidak apa, Bu. Saya bisa tidur di sini." Pria yang dimaksud segera menyahut.
"Baiklah kalau begitu. Ayo cepat bersihkan tubuh kalian. Setelah itu makan. Nenek sudah masak banyak." ucap Lita lagi dengan semangatnya meski usianya sudah tak lagi muda. Tapi kedatangan Daryl, Nania juga Anandita dan Regan membuatnya merasa senang. Begitupun suaminya.
💞
💞
💞
Bersambung ...
__ADS_1