The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Janji


__ADS_3

💕


💕


"Maafkan Ibu sudah merepotkanmu, Gan." Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit setelah menjalani prosedur pemeriksaan secara menyeluruh sehingga dapat diketahui apa saja yang diderita Mella selain kanker darah yang selama ini menggerogoti tubuhnya.


Regan hanya menatap lampu lalu lintas yang rasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk berubah ke warna hijau.


Sementara ratusan kendaraan lain yang sama sepertinya mengantri di sepanjang jalanan pada pada hampir sore itu.


"Gan?"


"Kenapa Ibu tidak mengatakannya kepadaku?" Dia baru merespon. "Kenapa tidak bicara soal ini dan malah memanggil orang lain untuk mendampingi ibu? Apa fungsinya aku sebagai anak?" Regan menoleh ke arah ibunya yang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Sesibuk-sibuknya aku, tidak mungkin akan menelantarkan Ibu atau Ayah jika ada masalah. Tidak tahu apa jika yang aku lakukan selama ini adalah untuk kalian? Memangnya untuk siapa lagi, Bu? Lantas apa gunanya itu semua jika orang yang aku perjuangkan tidak merasakan manfaat itu? Untuk apa, Bu?"


"Ibu juga tidak tahu …."


"Omong kosong!" Regan mendengus keras.


"Ibu hanya sering merasa tidak enak badan dan tidak pernah mengira akan seperti ini. Ibu tidak tahu, Gan."


Regan memejamkan matanya sebentar.


"Hanya dengan Mia kemarin makanya Ibu …."


"Lalu mengapa Mia, Bu? Mengapa Ibu malah memanggil Mia dan bukan aku? Yang anak Ibu adalah aku, bukan Mia!" Pria itu sedikit menaikkan nada suaranya.


"Ibu tidak memanggil dia. Hanya memesan makanan dan kebetulan dia yang mengantar, jadi …."


"Alasan."


Mella mengkerut di tempat duduknya.


"Mulai sekarang aku melarang Ibu atau Ayah untuk berhubungan lagi dengan Mia. Mau soal urusan pesanan atau apa pun itu alasannya, aku tidak akan mengizinkan."


"Tapi, Gan?"


"Titik! Mulai sekarang semuanya harus lewat aku. Aku yang akan mengurus Ibu dan menyiapkan segala hal. Tidak usah orang lain. Aku pun mampu melakukannya." Ucapan Regan tak bisa ditawar lagi, dan perempuan itu hanya terdiam tanpa bisa menjawabnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania menatap Daryl yang menyesap jus yang dibelinya tadi di perjalanan pulang. Dan tak ada yang membuatnya tertawa setiap kali memperhatikan suaminya itu.


"What?" Daryl meletakkan cup jusnya di meja begitu mereka tiba di rumah.


"Nggak." Dan Nania segera menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Bisa pelan-pelan tidak? Kamu membuatku ngeri." Pria itu memperingatkan.


"Ups! Hehe." Sementara Nania hanya tertawa. Dia lupa jika saat ini dirinya tengah mengandung.


"Biasakan untuk melakukan apa-apa dengan perlahan. Jangan seperti itu, Malyshka." Daryl pun duduk di sofa yang sama.


"Iya, lupa. Maaf."


"Ada tiga anakku di dalam sini, can you imagine?" Pria itu menunduk sambil menyentuh perut Nania.


"Udah berapa kali kamu bilang itu, Dadd. Sampai-sampai aku kayaknya hafal apa yang mau kamu bilang." Nania tertawa.


"Yeah, i mean … i just can't believe that this is happen to us, right now."


"Hmm …."


Pria itu kemudian merapatkan wajahnya dan dia merasakan kehadiran mereka di sana.


Mania tertawa lagi.


"Bagaimana rasanya?" Daryl kemudian mendongak.


"Apanya?"


"Ada mereka di sini?"


"Belum terlalu kerasa."


"Benarkah?"


"Ya. Mungkin kalau nunggu besaran dikit baru muncul."


"Begitu?"


"Iya."


"Is good, isn't it?"


Nania menganggukkan kepala.


"Hanya saja mereka ini bertiga."

__ADS_1


"Iya, terus?"


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya."


"Gimana apanya?"


"You carrying them."


"Ya nggak tahu, kan baru mau."


"Kamu yakin tidak merasakan apa-apa? Mual, pusing atau yang semacamnya?"


"Nggak. Kan udah digantiin sama kamu, hahaha."


Daryl tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya, dan membuat bibir mereka bertemu. Mereka berpagutan untuk beberapa saat dan segera saja suasana menjadi terasa syahdu.


"Masih sore, Dadd." Nania menarik kepalanya sehingga tautan bibir mereka terlepas.


"Oh, aku lupa. Hahaha." Daryl pun tertawa, kemudian mengalah dan memilih menjatuhkan kepalanya pada perut Nania.


Dia kemudian memeluk pinggang perempuan itu, dan mereka tetap dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anandita tertegun ketika mobil yang dikenalnya berhenti tepat di depan, sementara jemputan yang dijanjikan Arfan tak kunjung tiba. Lalu pria itu turun dan berjalan memutar ke arahnya.


"Ayo." Regan menyentakan kepala sambil membukakan pintu untuknya.


Anandita belum merespon.


"Ann?" katanya lagi.


"Kenapa Om yang jemput aku? Di mana Pak Sulis?" Gadis itu melihat sekeliling, namun tak ia temukan sopirnya di sana.


"Tidak ada, jadi aku yang menjemputmu."


"Kenapa?"


"Karena aku mau."


"Terus Pak Sulis?"


"Sudah aku suruh pulang." Senyum samar muncul di wajahnya.


"Kok?"


Anandita masih di tempatnya berdiri.


"Mau aku gendong ke sana atau apa? Kenapa kamu malah diam saja?"


Gadis itu terbelalak, namun dia segera menuruti apa yang Regan katakan.


Mobil pun melaju meninggalkan area itu, dan Regan dengan segala ketenangannya berada di balik kemudi. Namun tak ada satupun dari mereka yang buka suara.


Regan fokus pada lalu lintas, sementara Anandita sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Apakah setiap hari kamu pulang sesore ini?" Lalu setelah beberapa saat Regan membuka percakapan.


"Sekarang iya." Anandita menjawab.


"Sampai kapan?" Dia tidak memacu kendaraan roda empat itu secepat biasanya dan berusaha untuk tetap tenang.


"Ya sampai ujian."


"Ujian akhir?"


Anandita menganggukkan kepala.


"Baiklah."


"Baiklah apaan?"


"Tidak ada, hehe." Pria itu sedikit terkekeh.


"Mulai gaje."


"Om dari mana? Masa jam segini udah pulang? Atau habis ada kegiatan di luar kantor?" Anandita memutar otaknya untuk mencari bahan pembicaraan.


"Sengaja."


"Sengaja jemput aku?"


"Ya."


"Kenapa?" Gadis itu memiringkan kepala.


"Karena aku mau."


"Gimana kalau ada yang lihat?"

__ADS_1


"Ya biar saja."


"Hah?"


Regan menoleh kemudian tersenyum.


"Senyum Om aneh deh?" Anandita memiringkan mata, namun pria itu tidak menanggapi.


"Om?"


"Ya?"


"Nanti mata-matanya Papa lihat."


"Ya biar saja."


"Terus lapor."


"Tidak akan."


"Masa?"


Regan menganggukkan kepala.


"Kenapa?"


"Aku sudah izin."


"Izin?"


"Ya."


"Sama Papa?"


"Bukan."


"Terus?"


"Piere."


"Piere?"


"Ya."


"Kenapa izinnya sama Piere?"


"Karena dia yang memegang perintah."


"Gitu?"


"Kalau ada yang lapor sama Papa gimana?"


"Tidak akan."


"Masa."


"Harusnya, ya."


"Yakin amat?"


Regan tak menyahut, sementara Anandita menatapnya dalam diam.


"Dengarkan aku, Ann." Lalu dia menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah.


"Ini dari tadi aku dengerin."


"Sstt!" Regan menutup mulut gadis itu dengan tangannya. "Bisa diam tidak? Atau aku harus membungkammu dulu agar kamu tidak banyak bicara?" Dia mencondongkan tubuhnya sehingga Anandita semakin mengkeret di kursinya.


Namun kedua bola matanya berbinar saat jarak mereka cukup dekat.


"Dengar. Beri aku waktu beberapa bulan, setidaknya sampai kamu lulus sekolah. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan, dan pasti akan sangat menyita waktu. Tapi aku janji semuanya akan berjalan normal seperti yang kamu inginkan." katanya.


"Mengerti?"


Anandita menganggukkan kepala.


"Maka aku akan melepaskanmu."


Gadis itu mengangguk lagi.


Dan Regan pun kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas itu berubah hijau.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2