The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Suara Hati


__ADS_3

💕


💕


"Sore, Pak?" Mima menyapa Daryl yang baru saja tiba pada hampir petang.


Perempuan itu baru saja keluar dari rumah majikannya setelah mengantar makanan dan memeriksa banyak hal.


"Pagi, Mima. Kau memeriksa Nania?" tanya Daryl kepadanya.


"Benar, Pak."


"Dia tidak turun seharian ini?" tanya nya lagi.


"Tadi pagi turun sebentar untuk berjemur, tapi masuk lagi."


"Hmm … begitu? Baiklah. Terima kasih, Mima." katanya, yang segera menuju bkr kamarnya di lantai dua.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Pria itu cepat-cepat menerobos pintu kamar yang tidak benar-benar ditutup rapat, dan mendapati istrinya yang tengah berbaring di tempat tidur persis seperti tadi pagi saat dia meninggalkannya untuk bekerja.


Nania menggerakkan kepalanya yang tersuruk di bantal, lalu menyingkap selimutnya sedikit.


"Kamu sakit?" Daryl bertanya lagi.


"Nggak, cuma lagi nggak enak badan aja." Nania pun menjawab.


Pria itu kembali memeriksa keadaannya. 


"Nggak apa-apa, cuma lagi kurang bersemangat aja." Namun Nania segera menepis sambil tertawa.


"Serius, aku takut kamu kenapa-kenapa." Daryl naik ke tempat tidur setelah melepaskan sepatu dan jas nya, kemudian dia menindih tubuh Nania dan menyurukkan kepalanya di dada perempuan itu.


"Eee … kalau kamunya begini, nanti aku beneran kenapa-napa." Dan Nania tertawa, tetapi tak menolak ketika suaminya melakukan hal itu.


"Hmm …." Daryl hanya menggumam dengan tangannya yang merayap untuk menyentuh tubuh perempuan itu.


"Apa ini?" tanya nya, saat tangannya merasakan sesuatu yang lain di bawah selimut.


"Cuma alat penghangat." 


"Alat penghangat?" Pria itu membeo.


"Iya, tadi aku mulai datang bulan. Banyak banget, makanya lemes. Mungkin itu yang bikin aku jadi nggak semangat juga." jelas Nania yang benar-benar menyingkap selimutnya dan menunjukkan apa yang tengah dia gunakan.


Sebuah alat penghangat elektrik yang biasa dipakainya setiap kali mengalami siklus menstruasi yang akhir-akhir ini sedikit membuatnya kewalahan.


"What?"


"Hehe, aku … lagi datang bulan, Dadd." Nania tertawa canggung karena hal tersebut.


Daryl terdiam menatap wajahnya.


"Hehe … maaf." Dan Nania membingkai wajahnya.


"Ah, baru juga dua malam?" katanya dengan nada kecewa.


"Ya … mau gimana lagi, kan nggak bisa ditunda?"


"Ugh! kamu menyebalkan, Malyshka!" Kemudian Daryl membenamkan wajahnya di dada perempuan itu, sambil memeluk tubuhnya dengan erat. Sementara Nania hanya tertawa sambil balas memeluknya.


Kesal tentu saja dia rasakan, namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena meski ingin sekali melakukannya, tapi tidak mungkin memaksakan kehendak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Regan memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya saat jarak sudah dekat dengan rumah ketika dia melihat motor matic yang di kenalinya menuju ke arah yang sama.


Rupanya Mela benar-benar merealisasikan rencananya untuk mengundang Mia makan malam meski tanpa kehadirannya.


Entah apa maksud sang ibu melakukan itu, yang pasti Regan sudah merasa enggan untuk berinteraksi dengan mantan kekasihnya tersebut.


Regan menunggu hingga motor Mia benar-benar memasuki pekarangan rumahnya, untuk kemudian dia memundurkan mobil dan mengurungkan niat untuk pulang.


Dan setelah berkeliling tanpa arah dan tujuan akhirnya dia menghentikan kendaraan di satu tempat yang sepi.


Sebuah area di mana dari jarak puluhan meter dari tempatnya sekarang dia dapat melihat rumah Arfan Sanjaya yang lampunya tampak berpendar.


Ya, dia kembali ke tempat itu namun entah untuk apa?


Regan merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Dia melonggarkan ikatan dasi, kemudian menariknya hingga lilitannya terlepas.


Tampaknya, hal-hal semacam ini mulai membuatnya gila. Maksudnya, hampir.


Menghadapi seorang anak baru gede yang sedang jatuh cinta kepadanya membuat dirinya mulai kewalahan. Terutama karena dia bukan hanya gadis biasa, tetapi anak dari seorang pria yang dikenalnya sejak lama. Dan Regan tahu ini tidak akan berjalan dengan mudah.


Lihat saja, penolakan dan penyangkalan juga larangan pernah dia lontarkan, tetapi itu tak membuahkan hasil apa-apa selain gadis itu yang semakin agresif saja.


Ditambah kecurigaan kepada ibunya sendiri yang sekarang seolah tengah membuka peluang untuk mengembalikan hubungan percintaan dengan Mia, sang mantan kekasih yang memutuskannya hampir setahun yang lalu.


Dan ini rasanya bahkan lebih memusingkan dari pada mengendalikan perasaannya kepada Anandita.


"Hah?" Regan mengerutkan dahi.


"Kegilaan ini rupanya sudah mulai meracunimu juga, Regan." Dia mengusap wajahnya kasar.


"Kalau sudah begini, lantas apa yang harus aku lakukan?" Regan terus bergumam.


"Hah, anak remaja ini sungguh membuat pusing tujuh keliling." Dia meremat rambut di kepalanya.


"Tunggu! Masa aku menyukai anak remaja? Aneh sekali." Lalu dia menatap bangunan megah di pinggir pantai tersebut.

__ADS_1


"Hah, terlalu banyak bekerja memang benar membuat orang jadi gila." Kemudian pria itu menghidupkan mesin mobilnya.


"Ya, aku butuh tempat istirahat malam ini." Regan menghubungi salah satu rekan kerjanya. "Tidak, hanya untuk tidur saja, aku harus istirahat." 


Terdengar tawa dari seberang.


"Serius, aku sedang tak ingin pulang." katanya lagi yang segera meninggalkan tempat itu menuju arah sebaliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, apa yang sedang kamu tonton?" Dygta naik ke tempat tidur di mana suaminya berada. 


Pria itu sedang asyik menikmati acara malam di mana seorang komedian tengah beraksi di televisi, membuat dirinya tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan. Sedangkan Dygta baru selesai dengan ritual sebelum tidurnya, yakni merawat kecantikan wajah dan tubuhnya yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.


"Biasa." Pria itu membenahi bantal di belakang istrinya. "Ugh, kamu pakai parfum baru? Wanginya enak sekali." Kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke arah Dygta saat aroma yang sangat lembut menggoda indra penciumannya.


"Bukan parfum." Dygta masih mengusap-usap pipinya yang begitu lembut.


"Lalu apa? Body cream?" Dan Arfan semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Dygta, membuat perempuan itu menahan dadanya yang hampir merapat.


"Hanya night cream." Lalu dia menjawab.


"Night cream?"


"Ya. Produk baru dari Kirana. Sepertinya cocok untukku. Lihat?" Dygta memamerkan pipinya yang tampak halus. "Dan wanginya juga enak, aku suka. Apa kamu juga suka?"


Arfan menempelkan ujung hidungnya pada pipi lembut perempuan itu, dan kembali menghirup aroma menyenangkan seperti tadi.


"Ya, aku juga suka." katanya, seraya merangkul tubuh Dygta.


"Bagus kan? Kirana memang ahlinya untuk hal semacam ini, jadi aku akan benar-benar pindah perawatan saja ke kliniknya."


"Hmm … benar. Selain dapat produk bagus, kamu juga akan mendapat keistimewaan kan?"


"Uh'um …." Dygta mengangguk.


"Baiklah, aku rasa masalah sudah selesai sekarang." Arfan menempelkan keningnya pada pelipis perempuan itu, lalu mengeratkan pelukan.


"Belum, Sayang. Sebenarnya aku mau membicarakan hal lain." Lalu Dygta kembali mendorong dadanya sehingga tercipta jarak di antara mereka.


"Ada apa?"


"Ini soal Ann."


"Ann?"


"Ya."


"Ada apa dengan Ann?"


"Kamu masih tetap mengawasi dia kan?" Dygta bertanya.


"Oh, tentu saja. Aku tidak akan memalingkan perhatian dari anak-anakku sebelum mereka benar-benar mandiri."


"Biasa saja."


"Tidak ada yang aneh?"


"Tidak. Dia normal-normal saja. Sekolah, belajar, berteman."


"Tidak ada indikasi punya pacar?"


"Belum terlihat."


"Hmm …."


"Dan aku lega, hahaha." Arfan tertawa. "Memangnya kenapa?" Namun kemudian dia melihat raut wajah istrinya yang berubah.


"Tapi kenapa aku merasa curiga ya?" Perempuan itu berujar.


"Curiga soal apa?"


"Akhir-akhir ini Ann sedikit misterius."


"Hah? Misterius apanya?"


"Ann sedikit kurang aktif di media sosial padahal selama ini apa-apa dia selalu upload. Kegiatannya dijadikan story, atau semacamnya."


"Benarkah? Aku rasa dia memang tidak terlalu aktif belakangan ini."


"Tapi dia selalu membuat story secara sembunyi-sembunyi." Dygta menambahi.


"Apa?"


"Serius." Perempuan itu tertawa. "Aku kan menyadap hp nya, jadi masih tahu. Apa kamu tidak?"


Arfan hampir mengambil ponsel pintarnya.


"Eh, mau apa?" Lalu Dygta menghalangi. Meski tidak berhasil karena pria itu sudah lebih dulu mengambil ponselnya.


"Melihat storynya." Arfan menjawab.


"Memang hapemu bisa?"


"Bisa lah. Meski disembunyikan dengan rapi, tapi story siapa saja bisa aku lihat." Pria itu memeriksa nomor putrinya, namun dia tak menemukan apa-apa.


"Mana? Tidak ada." ucapnya yang menunjukkan layar ponselnya kepada Dygta.


"Masa? Di aku ada lho." Lalu dia pun mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


"Oh iya, dia sudah menghapusnya? Atau kita sama-sama di privasi juga?" katanya yang memeriksa story di ponsel Anandita juga.


"Yang lainnya juga dihapus, padahal hari ini dia mengupload kalimat-kalimat aneh."


"Kalimat aneh apanya?"


"Bahasanya tidak aku mengerti."


"Benarkah?"


"Ya."


"Memangnya bahasa apa yang dia gunakan?"


"Yang aku tahu itu bahasa Korea."


"Sejak kapan dia suka Korea?"


"Sejak dulu. Tidak lihat dia sering mengupload video pemuda-pemuda menyanyi dan menari?"


"Pernah."


"Nah, tapi beberapa hari ini tidak. Hanya kalimat-kalimat saja."


"Seperti apa?"


"Umm … aku lupa. Sarang … saranghe …."


Arfan tertawa.


"Sepertinya akhir-akhir ini aku tidak terlalu memperhatikan Ann. Tapi malah lebih mengawasi Arkhan."


"Hum? Memangnya Arkhan kenapa?" Perhatian Dygta cepat teralihkan. 


"Dia semakin sering pergi, atau berlatih di beberapa tempat."


"Berlatih apa?"


"Entahlah. Sesekali dia seperti orang mau balapan. Tapi di lain waktu menonton acara free style. Tidak jarang juga dia mencobanya."


"Maksud kamu?"


"Anak kita punya kegiatan lain. Sore ini saja dia menemui beberapa orang di komunitas motor cross."


"Dengan siapa?"


"Sendiri."


"Bukannya kamu bilang dia minta izin pergi ke bengkel?"


"Ya. Hanya ganti oli dan pasang rem. Selebihnya dia pergi ke beberapa tempat."


"Lalu bagaimana lagi?"


"Pulang seperti barusan."


Dygta tertegun sebentar.


"Mau apa dia?" gumamnya dengan kening berkerut.


"Entah, tapi sepertinya dia sedang menekuni hal serius. Itu sebabnya Arkhan meminta untuk tidak kuliah dulu."


"Hmm …."


"Anak kita punya kemauannya masing-masing, Sayang." Arfan bersandar pada kepala ranjang.


"Memang. Dan mereka tidak akan bisa diatur-atur lagi."


"Sepertinya begitu. Apa aku harus mulai mengetatkan lagi aturan?" Arfan dengan idenya.


"Ah, tidak akan berhasil." Dygta pun bersandar padanya.


"Apa iya?"


"Aku rasa. Ann dan Arkhan sama-sama keras, tahu sendiri mereka berani menyanggah ucapan kita. Tidak seperti Ara atau Aksa dan Asha."


"Jadi aku harus bagaimana?" Arfan menoleh kepadanya.


"Entahlah, aku mulai pusing." Lalu perempuan itu menyurukkan kepalanya di dada suaminya.


"Membiarkan saja apa yang ingin mereka lakukan?" Pria itu bertanya lagi.


"Aku tidak tahu. Apakah itu pilihan yang baik?"


"Hmm … kita sama-sama buntu untuk sekarang ini ya? Hahaha." Arfan menurunkan tubuhnya sehingga mereka berdua sama-sama berbaring.


"Aku rasa ya."


"Baiklah, soal itu mungkin bisa kita pikirkan lagi nanti." Kemudian Arfan kembali memeluk perempuan itu. "Sekarang kita pikirkan yang lain saja." katanya yang merapatkan tubuh mereka berdua.


"Hum?"


Pria itu tersenyum penuh arti, lalu dia memulai sesuatu yang setiap pasangan inginkan jika mereka berduaan seperti sekarang ini.


💕


💕


💕

__ADS_1


Bersambung ....


Aduh 😜😜


__ADS_2