
💕
💕
Nania memalingkan pandangan saat mobil yang ditumpanginya melewati halte bis seperti biasa. Dan sosok Mirna kembali dia lihat setelah beberapa bulan lamanya.
"Ada apa?" Daryl bertanya.
"Umm … itu …." Perempuan itu kembali ke posisi semula.
Dia melamun sebentar memikirkan beberapa hal.
"Apa? Ada temanmu?" Daryl melihat lewat kaca spion.
"Nggak ada. Aku kayaknya tadi lihat ibu, tapi mungkin salah orang." Nania menjawab.
"Ibu?"
"Ya. Tapi mungkin bukan. Cuma bajunya aja kayak ibu."
Daryl terdiam.
"Umm … hari ini kamu sibuk?" Nanja mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak terlalu. Kenapa?"
"Nanti sore mau k FSH ah."
"Mau apa?"
"Mau aja, soalnya udah lama nggak ke sana."
"Hmm … datang saja, nanti aku suruh Regan menjemput. Tapi benar sore ya, karena setelah makan siang aku harus menerima tamu." ujar Daryl.
"Tamu siapa?"
"Orang dari agensi dengan model-modelnya."
"Ada acara apa?"
"Hanya makan siang."
"Sama model?"
"Ya."
"Di mana makan siangnya?"
"Di FSH, di mana lagi?"
"Kirain di hotel atau restoran, gitu?"
"Ah, itu terlalu royal. FSH juga sudah bagus."
"Huh, dasar pelit. Sama model gitu amat?" Nania tertawa.
"Bukan pelit, tapi bersikap sewajarnya. Nanti mereka keenakan kalau aku traktir di restoran."
"Dih, sebagai bos kamu perhitungan amat? Hahaha."
"Sudah aku katakan ini sikap yang sewajarnya. Lagi pula kemampuan mereka belum teruji. Nanti jika sudah terlihat hasilnya, maka akan aku bawa mereka ke tempat yang benar-benar layak."
"Ada ya bos kayak kamu?"
"Ada, ini buktinya." Daryl menunjuk hidungnya sendiri. "Jangan bersikap terlalu baik dengan orang baru, atau mereka akan menganggapmu mudah ditaklukan. Ciptakan jarak yang jelas untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi."
"Hmm …."
"Bukan hanya untukku, itu juga berlaku untukmu, Malyshka."
"Aku? Apa hubungannya?"
"Kamu akan berhubungan dengan banyak orang. Teman kampus, staff, atau siapa pun. Maka batasan itu harus selalu ada. Bukan hanya karena kamu sudah bersuami, tapi juga untuk melindungi dirimu sendiri. Kamu tidak lupa dengan semua yang pernah terjadi, kan?"
__ADS_1
Nania terdiam sambil menatap suaminya lekat-lekat.
"Aku hanya tidak bisa selalu mengawasimu, apalagi di dalam kampus. Masa aku harus menugaskan orang di sana juga?"
"Aaaa … nggak usah! Apa-apaan itu nugasin orang di kampus? Nggak ada, nggak ada!" Nania bereaksi.
"Makanya, harus bisa menjaga diri sebaik-baiknya. Ingat, kamu datang ke sana hanya untuk belajar dan menyempurnakan kemampuanmu sebelum nantinya bekerja denganku."
"Iya, Dad. Iya, aku ngerti. Dari awal itu terus yang kamu bilang."
"Hanya agar kamu tidak lupa."
"Nggak akan lupa. Orang tiap lihat wajah kamu aku ingat kok."
Daryl tertawa sambil mengusap puncak kepala Nania.
"Jadi, nggak apa-apa kalau nanti aku datang ke FSH?" Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan kampus di mana Nania menuntut ilmu.
"Tidak apa-apa, datang saja sesuka hatimu. Mau setiap hari juga aku senang." Daryl tampak tersenyum lebar, sementara Nania manarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Tapi bagaimana dengan bazarnya?" Rubicon hitam itu berhenti tepat di depan gerbang kampus.
"Hari-hari biasa nggak rame. Kalau hari ini juga sepi aku mau tutup awal ah, terus langsung ke FSH."
"Baiklah kalau begitu."
"Nggak akan ganggu kerjaan kamu kan?"
"Tidak akan. Datang saja."
"Oke kalau begitu." Nania mengisyaratkan dengan tanda oke di tangannya.
Seperti biasa, Daryl mengeluarkan tiga lembar uang pecahan 100 ribuan yang Nania sambar dengan cepat.
"Duh, elang laut." Pria itu bergumam sambil tertawa.
"Aku turun ya?" Nania memastikan kotak makan dan tumblernya dia bawa.
"Heh, ada yang kamu lupa." Namun Daryl menghentikannya terlebih dahulu.
Dia mencondongkan tubuhnya sambil menempelkan ujung telunjuknya di pipi.
"Hadeh … banyak orang, Dadd." Nania menatap ke depan mobilnya di mana mahasiswa lain sudah berlalu lalang.
"I guess i don't care." jawab Daryl yang belum merubah posisinya.
Nania tak dapat menolak, dengan cepat dia mengecup pipi suaminya. Namun disaat yang bersamaan Daryl menggerakkan wajahya sehingga bibir mereka bertabrakan. Dan dia memagutnya untuk beberapa saat.
"Dadd!" protes Nania sambil mendorong dadanya, namun pria itu malah tertawa.
"Sana cepat turun! Atau mau aku bawa ke FSH? Tahu rasa kamu!" Dia setengah mengancam.
Dan Nania memilih segera turun setelah pria itu melepaskannya.
"Telpon saja nanti kalau kamu sudah selesai ya?" Pria itu berteriak, dan Nania menjawabnya dengan anggukkan kepala.
Daryl tak lantas pergi, namun dia menunggu hingga Nania benar-benar masuk ke dalam area kampus. Meski hatinya tetap merasa khawatir jika perempuan itu mungkin akan mengalami sesuatu.
Apalagi setelah mendapat laporan dari Mahira jika senior mereka yang ternyata mengenalnya saat di bangku SMP sering mencoba mendekat. Bukan hal besar, tapi bagi Daryl itu terasa sangat mengganggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nna?" Mahira mendekat.
"Ya?"
"Aku kok denger percakapan kamu sama Kak Mahen kemarin kayak ada yang aneh?" Mereja sama-sama berdiri di dekat meja.
"Aneh apa?"
"Aku salah denger nggak sih kalau Kak Mahen itu kakak kelas kamu di SMP?"
"Oh, nggak."
__ADS_1
"Beneran?"
"Katanya gitu. Tapi aku nggak ingat."
"Nggak ingat?"
"Iya."
"Temen kamu banyak waktu SMP ya?" Mahira bertanya sambil tertawa.
"Nggak juga. Aku malah nggak punya temen dari SD."
"Lho, kok bisa?"
"Bisa lah. Mana ada yang mau temenan sama orang aneh kayak aku?"
"Orang aneh?"
Nania tertawa. "Kamu nggak akan nyangka dulu aku gimana. Tahunya sekarang aja yang udah nikah sama suami aku."
"Emangnya gimana?"
"Rumit lah. Kalau aku ceritain kamu pasti pusing. Aku aja kadang mumet kalau ingat itu."
"Hmm …."
"Mungkin itu yang bikin aku nggak inget sama Kak Mahen, atau yang lainnya?"
"Duh?"
"Asli, aku nggak ingat." Nania tertawa lagi. "Mungkin saking pusingnya sama masalah hidup aku jadi lupa sama banyak hal. Hadeh … ampun dah." Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, kalau hari ini nggak terlalu ramai juga kita tutup awal deh?" Topik pembicaraan pun beralih.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, dari pada pegel diem di sini."
"Tapi lumayan kok ada satu dua yang beli."
"Aku agak malas kalau gini. Aku mau ke tempat kerja suamiku aja."
"Oh … udah ada janji?"
"Nggak janji juga sih, tapi mau aja datang ke sana. Udah lama soalnya."
"Hmm … kalau mau pergi ya pergi aja, jualan biar aku yang nanganin." Mahira kemudian berujar.
"Apa?"
"Iya, kalau kamu mau pergi ya pergi aja. Di sini biar aku yang jualan."
"Tapi kamu sendirian."
"Nggak apa-apa. Sayang kalau ditinggal. Satu dua juga lumayan."
Nania terdiam.
Â
"Udah, pergi aja. Namanya juga jualan kan. Papa aku aja restorannya kalau lagi rame suka minta bantuan aku. Pas sepinya nggak bisa nutup biaya oprasional. Gitulah bisnis."
Â
Nania menepuk pundak teman sekelasnya itu.
"Serius."
"Oke, kita lihat nanti aja." ucap Mahira lagi, yang memastikan barang dagangan mereka rapi seperti biasanya.
💕
💕
__ADS_1
💕
Bersambung ....