
💕
💕
Kedua sudut bibir Anandita tertarik membentuk senyuman saat dia melihat daftar viewer pada status whats appnya yang hanya satu orang saja. Siapa lagi kalau bukan Regan yang sengaja dia atur hanya agar pria itu saja lah yang dapat melihatnya.
Tentu saja, dia tidak akan berbuat kecerobohan dengan membiarkan orang lain melihatnya apalagi kedua orang tuanya. Bisa mati jika itu terjadi.
"Kena kan? Mau apa kamu?" Dia bergumam. Kemudian meletakkan benda pipih tersebut di atas meja belajarnya saat terdengar ketukan di pintu.
"Ya?" Gadis itu menoleh setelah membuka buku pelajarannya.
"Papa boleh masuk?" Dan ternyata sang ayah lah yang datang.
"Masuk aja, pintunya nggak dikunci kok," jawabnya yang tetap di meja belajar.
"Sedang belajar?" Arfan menyembulkan kepalanya setelah membuka pintu.
"Cuma lagi baca-baca doang." Anandita sedikit memutar tubuh.
"Papa mau bicara, boleh?" Arfan pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Boleh, mau bicara apa?"
"Ini soal …." Pria itu menatap sekeliling kamar putrinya yang telah beranjak remaja.
Ruangan yang didominasi warna hijau tosca itu masih tampak nyaman seperti yang diaturnya saat Anandita kecil. Lemari kayu dan meja menjadi pengisi tempat tersebut ditambah rak yang dulunya berisi boneka kini berubah fungsi menjadi tempat meletakkan piala. Beberapa buku pengetahuan juga berada di sana dan menjadi bahan bacaan anak perempuannya itu.
"Apa?"Â
Arfan duduk di pinggir tempat tidur tak jauh dari meja belajar.
"Soal kuliah." katanya.
"Kuliah?"
"Ya, apa kamu sudah memikirkannya?" Topik itu baru saja dia temukan sebagai alasannya berbicara dengan Anandita.
"Belum." Anak gadisnya tersebut benar-benar memutar tubuh.
"Belum ya?"
"Baru mau UTS minggu depan masa udah mikirin soal kuliah?" Anandita tertawa.
"Seharusnya sudah kamu pikirkan dari sekarang."
"Masih lama, Papa."
"Tapi rencana itu harus ada, Ann. Ini akan menentukan masa depan kamu."
"Gitu ya?"
"Ya. Agar semuanya teratur dan kamu bisa menyiapkannya dengan baik."
Anandita berpikir.
"Jangan seperti Arkhan." Pria itu dengan nada sendu.
"Arkhan kenapa?"
"Dia tidak mau kuliah dulu setidaknya untuk dua tahun ke depan."
"Masa?"
"Ya. Kemarin Papa sudah berbicara dengannya."
"Kenapa nggak mau kuliah?"
"Katanya mau mendalami kemampuannya di motor trail."
"Aduh?"
"Papa khawatir setelah dua tahun akhirnya dia benar-benar tidak mau kuliah. Apalagi sudah menguasai kemampuan yang sekarang dipelajarinya."
"Kalau gitu kenapa Papa izinin ngetrail sih? Begini kan jadinya?"
"Papa pikir itu kegiatan positif, tapi nyatanya malah membuat Arkhan nyaman dan tidak mau melakukan hal lainnya. Padahal dia juara di olah raga dan bisa mendapatkan beasiswa jika kuliah nanti."
"Heuh … sayang banget deh."
"Ya, makanya."
"Emangnya nggak bisa Papa paksa berhenti dulu? Minimal sampai selesai kuliah deh, kan nanti dia bisa lanjut. Serius amat ngetrailnya kayak yang mau ikut turnamen internasional aja?"
"Entahlah …."
__ADS_1
"Papa sih kalau sama Arkhan lembek. Apa-apa ngebolehin. Coba kalau sama aku, pasti semuanya nggak boleh."
"Kamu beda."
"Beda apanya? Katanya sama-sama anak Papa? Tapi perlakuan Papa ke aku sama Arkhan berbeda." Anandita melihat kesempatan untuk melayangkan protes kepada sang ayah.
"Konsepnya bukan seperti itu. Kamu perempuan sedangkan Arkhan itu laki-laki. Masa Papa perlakukan sama?"
"Ya bedanya cuma gender doang."
"Tidak Ann, lebih dari itu."
"Apaan?"
"Papa harus menjagamu dengan baik, dan segalanya harus Papa lakukan agar kamu tetap aman."
"Termasuk larang-larang aku?"
"Ya."
"Itu nggak adil."
"Keadilan itu relatif. Tergantung keadaan dan kepada siapa keadilan itu diterapkan."
"Nggak ngerti."
"Perempuan itu sudah kodratnya dijaga, dan itu jadi tanggung jawab kami para laki-laki untuk menjagamu. Sedangkan Arkhan adalah laki-laki yang harus melakukan semua hal yang diperlukan untuk hidup. Termasuk menjaga para perempuan di keluarga."
"Menjaga sama melarang itu beda, Papa." Anandita menyanggah. "Menjaga itu membiarkan siapa pun melakukan apa yang mereka inginkan tanpa penghalang-halangi. Tapi dalam batas keselamatan yang jelas. Kalau membahayakan baru dilarang."
Arfan tertawa. "Kamu sedang menyindir Papa, Heh?"
"Ya sebut aja begitu."
"Jujur sekali kamu ini!"
"Kan emang harus gitu biar Papa ngerti."
"Nanti akan ada masanya Papa membebaskanmu untuk melakukan banyak hal."
"Kapan? Setelah lulus SMA?"
"Tidak. Usia segitu kamu masih tanggung jawab Papa."
"Orang-orang setelah 18 tahun bebas ngapa-ngapain lho. Dan tiga bulan lagi aku 18 tahun." Anandita tersenyum lebar.
"Ck! Papa suka gitu deh."
"Papa harus memastikan kamu baik-baik saja, dan semuanya aman untuk kamu jalankan."
"Kalau gitu kapan aku mandirinya?"
"Mandiri bukan berarti lepas dari pengawasan Papa, Ann. Bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik, mampu mengatur kebutuhanmu dengan benar, dan menjaga diri juga bentuk kemandirian."
"Tapi nggak boleh punya kegiatan lain."
"Kegiatan apa? Kewajibanmu hanya belajar saja, soal yang lainnya biar Papa yang pikirkan."
"Ya kayak anak-anak lain lah."
"Apa? Berkeliaran di jalan? Melakukan hal tidak berguna? Atau membahayakan dirimu dalam pergaulan? Papa rasa itu bukan pilihan."
"Ya nggak gitu juga. Maksudnya aku mau Papa bisa bebasin aku pergi ke mana aja sendirian gitu. Tanpa pengawalan ketat kayak anak presiden. Eh, sekarang anak presiden aja nggak ketat-ketat amat deh kayaknya?"
"Sudah Papa katakan mereka bukan anaknya Arfan Sanjaya, jadi terserah saja." Pria itu tertawa.
"Ah, Papa!" Anandita dengan kesal.
"Mungkin jika sudah kuliah Papa akan sedikit melonggarkan aturan." Namun Arfan berubah pikiran.
"Hum?"
"Hanya jika kamu berjanji akan selalu menjaga diri dengan baik, dan tidak melakukan hal yang berbahaya bagi dirimu sendiri."
"Iyalah, soal itu aku juga tahu." Anandita terlihat sumringah.
"Jadi … akan segera memikirkan mau kuliah di mana?" Arfan kembali pada topik semula.
"Iya iya, sekarang aku mulai pikirin."
"Benar? Atau jika tidak nanti Papa pilihkan kuliah di mana. Ada banyak kampus bagus di Jakarta."
"Nggak usah, biar aku aja."
"Lalu bagaimana dengan jurusannya?"
__ADS_1
"Boleh bebas pilih jurusan nggak sih akunya?"
"Boleh. Tapi kalau boleh Papa sarankan pilih bisnis atau pariwisata saja."
"Apa?"
"Agar ada yang meneruskan usaha keluarga."
"Itu namanya bukan bebas, bilang aja Papa mau aku milih itu." Anandita bersungut-sungut sementara Arfan tertawa.
"Memangnya kamu mau memilih jurusan apa?"
"Seni lukis."
"Seni lukis?" Arfan menjengit. Lalu dia melirik ke sisi lain ruangan di mana banyak terdapat lukisan hasil karya putrinya itu beradaÂ
Ah, dia lupa jika Anandita pandai melukis sejak kecil, dan sudah banyak yang dia buat untuk menyalurkan bakatnya. Bahkan piala-piala di rak dan lemari mereka di lantai bawah sebagian besar merupakan hasilnya ketika menjadi pemenang dalam beberapa ajang lomba melukis.
"Arkhan aja boleh motor-motoran sampai ngetrail gitu, masa aku nggak boleh ngembangin bakat aku di lukisan?" Dan senjata pamungkas itu Anandita lontarkan. Membuat sang ayah terdiam.
"Lalu siapa yang akan meneruskan usaha Papa dan Mommy?" Pria itu berujar.
"Ada Asha sama Aksa."
"Kalau mereka tidak mau? Mereka akan melihat bagaimana kakaknya, dan sudah pasti akan meniru."
Anandita terdiam.
"Ah, Papa lupa kalau seharusnya tidak membebanimu untuk urusan seperti ini. Kamu masih sekolah dan kewajibanmu hanya belajar, bukan memikirkan usaha keluarga." Arfan terkekeh lagi. Dia sedang membalikan pemikiran putrinya soal pendidikan.
"Belajar saja dulu dengan baik, sampai kamu lulus dengan hasil yang memuaskan. Baru kita pikirkan masalah bisnis ini ya?"
Anandita menganggukkan kepala.
"Baiklah, lanjutkan belajarmu. Tapi jangan sampai terlalu malam. Kamu juga butuh istirahat." katanya lagi, dan dia segera keluar dari kamar putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini pulang lebih awal?" Pesan Daryl masuk di ponselnya pada tengah hari. Saat itu suasana bazar mulai ramai karena merupakan hari terakhir mereka berjualan.
"Nggak tahu, kayaknya sore deh. Kan hari terakhir, jadinya banyak yang harus diberesin." Nania membalasnya disela kesibukan melayani pembeli.
"Jadi tidak apa jika aku juga sedikit terlambat? Sore ini meeting terakhir dengan staff."
"Nggak apa-apa. Tapi kalau misalnya lama aku boleh ikut yang lain nggak?"
Tiba-tiba saja Daryl melakukan panggilan telpon sehingga Nania mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ikut siapa? Seniormu yang gondong itu?" ucap Daryl dari seberang.
"Bukan."
"Terus siapa? Ada lagi yang dekat denganmu selain dia? Bagus ya, ini kebebasan yang kamu maksud? Bisa berakrab-akrab ria dengan sembarang orang?"
"Nggak gitu ih!"
"Lalu apa maksudmu ikut orang lain?" Daryl bertanya lagi.
"Ikut Mahira, misalnya. Atau order ojek online gitu?"
"Tidak boleh! Memangnya aku ini siapa? Kalaupun tidak bisa aku jemput, maka aku akan menyuruh siapa saja di Nikolai Grup yang bisa. Ada Regan dan rekan-rekannya, jadi kamu tidak perlu ikut siapa-siapa, apalagi ojek online. Diam saja di depan gerbang sampai salah satu dari kami datang."
Nania terdiam.
"Kamu dengar tidak?"
"Iya." Lalu perempuan itu menjawab.
"Ya sudah, aku mau kembali bekerja. Banyak sekali yang harus aku selesaikan hari ini."
"Baik."
Lalu sambungan pun terputus.
Nania tertegun menatap layar ponselnya beberapa saat. Entah mengapa hal ini menjadi semakin terasa tidak kondusif saja. Keadaan malah terus bertambah tidak baik dan dirinya semakin tersudut.
Dihadapi secara tenang malah merasa tak dianggap. Dirinya bertindak malah berbalik menyerang. Mengalah membuatnya seperti tak berarti, tapi melawan juga tidak membuahkan apa-apa selain perselisihan. Dan segala hal yang dia lakukan menjadi salah.
Jadi sebenarnya aku harus bagaimana? Perempuan itu meniupkan napasnya di udara.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Nggak tau pah, pusing 😩