The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kencan


__ADS_3

πŸ’ž


πŸ’ž


"Iya, iya. Kau bisa mempercaiku kalau soal itu." Regan masih mencoba meyakinkan Piere yang telah dua kali menelponnya saat dia dan Anandita baru saja selesai makan.


Saat ini mereka tengah ada di spot makan sebuah mall terkenal Jakarta, dan menikmati suasananya yang cukup menyenangkan.


"Aku tidak akan membawanya ke tempat tidak jelas, tahu?" sambungnya seraya melirik kepada gadis itu yang tengah menikmati pasta pesanannya.


"Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang …."


"Eh! Kau pikir aku ini apa? Sembarangan saja kalau bicara?" tukas Regan dengan raut kesal di wajahnya.


Namun terdengar kekehan dari seberang sana, dan rekannya tersebut terdengar mengejek. "Hanya … jangan pernah membiarkan dirimu lepas kendali. Karena jika itu terjadi, aku khawatir akan menghancurkan rencanamu," ucap Piere setelahnya.


"Hmm …." Dan Regan hanya menggumam sambil menyesap minuman dinginnya.


"Baiklah, aku percayakan dia kepadamu untuk sekarang. Dan jangan lupa antarkan Anandita ke rumah Nikolai tepat waktu. Jika tidak, kau tahu sendiri akibatnya." Piere memperingatkan.


"Kau mengancam ya?"


"Tidak, aku hanya mengingatkan. Hahaha." Piere tertawa lagi.


"Sudah, kalau mau pulang sana! Jangan pikirkan aku." Regan dengan nada ketus.


"Cih! Memangnya siapa dirimu harus aku pikirkan? Kekasihku? Dalam mimpimu saja!" Piere menjawab, kemudian panggilan pun diakhiri.


"Aku udah disuruh pulang ya?" Anandita meletakkan garpu di pinggiran piring yang masih ada sisa makanannya.


Sementara Regan pun meletakkan kembali ponsel di meja, kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


"Tidak. Piere hanya mengingatkan aku untuk mengantarmu pulang tepat waktu. Sepertinya dia mengira kalau aku akan membawamu kabur?"


Mereka sama-sama terkekeh.


"Terus emangnya habis ini kita mau ke mana?" Anandita kemudian bertanya setelah ia melahap habis makanannya.


"Aku tidak tahu apa kamu akan menyukainya atau tidak, tapi …." Pria itu mengeluarkan dua lembar tiket dan meletakkannya di depan Anandita.


"Ayo kita nonton film?" katanya, dengan senyum yang dia sunggingkan kepada gadis itu.


"Nonton?" Anandita tertawa.


"Ya, nonton. Bukankah anak muda sepertimu senang dengan hal-hal semacam itu?" Regan menyesap habis minumannya, dan perkataan tersebut membuat Anandita kembali tertawa.


"Om ada-ada aja deh. Emangnya Om udah tua ya? Terus yang seumuran Om ini kalau kencan perginya ke mana aja?"


"Kamu bicara begitu seperti aku ini sudah benar-benar tua?" Regan mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Lah, emangnya Om masih muda? Hahaha."


"Cih! Yang pasti tidak setua Pak Arfan. Dan kalau dibandingkan dengan Pak Dimitri, aku ini masih cukup muda."


Anandita tertawa lagi, namun kali ini sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Senang sekali kamu hari ini ya? Tertawa terus dari tadi?" Regan menatapnya dengan perasaan bahagia teramat sangat.


Sementara gadis itu mengangguk, namun dia masih belum menghentikan tawanya.


"Makannya sudah selesai belum? Kalau sudah kita cepat pergi ke bioskop di lantai atas agar tidak ketinggalan pemutaran filmnya." Lalu dia melirik piring yang hampir kosong di depan Anandita.

__ADS_1


"Iya, Om sedikit lagi. Kata Mommy kita nggak boleh sisain makanan, sayang." Dia menjawab dan dengan cepat menyuapkan makanan terakhirnya.


"Ya, mommy mu benar." Regan mengangguk.


***


Dan sebuah bioskop di lantai paling atas mall terbesar dan terkenal di Jakarta itu menjadi persinggahan mereka selanjutnya. Di mana keduanya mendapatkan kursi di bagian tengah yang bisa dengan leluasa melihat ke mana saja.


Dua cup minuman soda dan satu cup popcorn Regan bawa seperti yang dilakukan oleh beberapa pengunjung lainnya. Sementara Anandita melenggang dengan bebas ke tempat duduk mereka.


"Aku lupa nanya tadi, film apa sih yang mau kita tonton?" Keduanya sudah duduk dengan nyaman. Dan meski ini pertama kalinya bagi Anandita untuk menonton di bioskop dengan pria selain ayahnya, gadis itu merasa begitu senang.


"Oh … Indiana Jones." Regan menjawab. Dan hal tersebut membuat Anandita terperangah.


"Apa? Indiana Jones?" Gadis itu membeo.


"Ya, Indiana Jones. Pasti seru." Regan tersenyum kemudian menyesap minumannya.


"Om pasti bercanda. Masa iya kita nonton film itu?"


"Memangnya kenapa? Dari ulasan banyak orang sepertinya film itu bagus, dan aku suka film action." Pria itu menjawab.


"Tapi nggak sama aku juga nontonnya, soalnya …." Terlambat. Lampu ruangan sudah dimatikan dan layar menayangkan awal dari film yang akan diputar tersebut.


"Mana ada yang kencan nontonnya Indiana Jones?" Dan Anandita masih berbicara ketika film action petualangan tersebut sudah dimulai. Sehingga beberapa orang di dekat mereka memperingatkan untuk berhenti.


"Memangnya kamu mau nonton apa?" Regan berbisik pelan.


"Ya apa kek, yang penting jangan Indiana Jones." Gadis itu mengerucutkan mulutnya.


"Ya aku tidak tahu film apa yang seru selain ini."


"Biar kejutan." Pria itu tersenyum.


"Kejutannya nggak asik. Masa orang pacaran disuruh nonton film action? Om nggak asik."


"Memang ada aturannya orang pacaran harus nonton film apa?" Regan memiringkan kepala.


"Nggak juga sih, cuma ya … pilih yang manis-manis kek. Film romantis gitu, komedi juga bisa, atau kartun sekalian."


"Kartun?"


Anandita masih mengerucutkan mulutnya, sementara Regan terdiam. "Tapi … kalau misalnya kita keluar kita akan kena amuk penonton lain, Ann." Lalu dia melihat sekeliling di mana orang-orang sudah mulai serius pada filmnya. Sedangkan gadis itu hanya mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.


Dan setidaknya, selama dua jam lebih dia harus menyaksikan banyak adegan menegangkan yang membuat adrenalin berpacu sehingga beberapa kali ia, dan penonton lainnya menjerit. Entah itu ketakutan atau terkejut karena si pemeran melakukan adegan berbahaya dan menantang maut


Bahkan tak jarang juga Anandita menutup wajahnya dengan tangan ketika ia melihat hal menakutkan yang terjadi di dalam film petualangan tersebut.


Sehingga tak terasa waktu dua jam lebih telah mereka lewati, sampai film itu pun berakhir.


"Bagaimana? Seru kan filmnya?" Mereka berjalan keluar dari bioskop, sama seperti pengunjung lainnya.


"Lumayan lah. Percuma juga aku protes orang Om udah milih film itu." Anandita menjawab dengan sedikit rasa kecewa. Yang membuat Regan menghentikan langkahnya seketika.


Lalu Anandita pun berhenti saat dia menyadari hal tersebut dan menoleh setelahnya. "Hum? Apa? Ada yang ketinggalan?" Kemudian dia bertanya.


"Mau menonton film yang lain? Kali ini kamu yang memilih." Regan menawarkan.


"Film lain?"


"Ya. Ayo?" ajaknya yang hampir menuntun Anandita ke sisi lain. Tetapi gadis itu menyentakkan tangannya.

__ADS_1


"Udah kemalaman, lagian antrian tiketnya juga panjang bener." Mereka menatap antrian di pembelian tiket sementara waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Kalau aku pulangnya kemalaman, orang-orang bisa curiga." Gadis itu mengingatkan.


"Lalu kamu mau pulang sekarang?" tanya Regan setelah menghela napas yang cukup dalam.


"Ya masa mau nanti? Kerjaan orang lain bisa bahaya kalau aku berbuat diluar batas kan? Om lebih ngerti soal itu."


Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Dahlah, kita pulang. Nanti Opa banyak tanya lagi, terus aku harus jawab apa? Bohong? Nggak mungkin." Gadis itu melenggang mendahului Regan yang kemudian mengejarnya.


***


"Hampir Opa menghubungi papamu karena kamu belum juga pulang." Satria yang berdiri di teras sambil menggenggam ponsel ketika Anandita turun dari mobil Regan.


"Iya, Opa. Tadi mampir main dulu sama temen." Gadis itu menjawab ketika jaraknya sudah dekat.


"Teman siapa? Lalu kenapa kamu sulit dihubungi?" Satria terus bertanya.


"Hape aku mati." Anandita menunjukkan ponselnya yang sudah dia petikan.


"Kan Om Regan udah ngasih tahu tadi. Opa nggak percaya emang?" Gadis itu melirik sekilas kepada Regan.


"Ya … tetap saja kan?"


"Terus sekarang Opa masih mau nelpon papa?" Anandita bertanya.


"Sepertinya tidak, untuk apa? Kamu kan sudah pulang." Dan Satria pun mematikan ponselnya.


"Ya udah, kalau gitu aku masuk duluan ya? Capek banget, Opa. Habis nonton film action. Kepala aku sakit lihat yang tembak-tembakan sama loncatin tebing. Haaahhhh!" Lalu dengan cepat Anandita melenggang masuk ke dalam rumah besar untuk menghindari pertanyaan lain dari sang kakek.


"Saya … permisi, Pak?" Lalu Regan pun berpamitan kepada tuan rumah.


"Tunggu, Regan!" Namun Satria segera menahannya.


Regan yang hampir kembali ke dalam mobilnya pun berbalik. Dan dengan dada berdebar keras pria itu menatap Satria dalam diam.


"Benar dia pergi nonton film dengan temannya?" Lalu dia bertanya.


"Umm … benar, Pak." Regan menjawab.


"Film apa?"


Regan terdiam sebentar. "I-Ind8ana Jones, Pak."


"Oh … baiklah." Satria menganggukkan kepala, kemudian ia menghembuskan napas lega.


"Saya pamit, Pak?" Sementara Regan kembali berpamitan, dan dia segera pergi meninggalkan tempat itu.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Bersambung ....


maaf beberapa hari ini nggak update. ada kerjaan di dunyat yang nggak bisa ditunda. doakan emak tetep sehat ya.


alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2