
💞
💞
Anandita keluar dari rumah saat mendengar keramaian di bagian belakang. Di mana sebuah gazeebo sudah terang dan Daryl beserta Nania berada di sana.
"Pakai jaketnya, Ann. Nanti kamu kedinginan." Lita melintas dengan sebuah wadah berisi makanan di tangan.
"Mau ada pesta ya?" Anandita bertanya.
"Kita makan."
"Pakai jaketmu, udaranya sangat dingin di sini." Lalu Regan pun mengekori perempuan itu dengan beberapa barang yang dia bawa, dan segera saja Anandita kembali ke dalam rumah untuk mengambil jaket dan mengenakannya seperti yang pria itu katakan.
"Ada lagi yang harus dibawa? Aku bisa bantu lho." Lalu dia menawarkan bantuan.
"Tidak usah, semuanya sudah ada di sini. Regan yang sejak tadi membantu." Lita menepuk bahu Regan yang duduk di sampingnya sehingga pria 27 tahun itu tersenyum.
"Untung aku ajak Regan kan, Nek? Jadi ada yang membantu." Daryl menyahut dari bagian samping gazeebo.
"Ya, sangat beruntung. Para pekerja libur kalau Sabtu begini, jadi tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa dimintai bantuan." Lita menjawab.
"Hey, Regan? Bisa kau bantu aku di sini? Arangnya sulit dinyalakan!" Lalu Daryl memanggil sang asisten.
"Hanya siram dengan spertus juga bisa, Der." Hari yang duduk di kursi santainya pun menyahut.
"Sudah, tapi ini sulit." Sementara Daryl terus memantik api dari korek untuk menyalakan pembakaran.
"Mau bakar apaan sih Om? Ayam?" Anandita pun mendekat begitu Regan menghampiri Daryl.
"Tantemu membuat sate. Padahal kita bisa beli online tapi dia memilih cara rumit untuk makan seperti ini." Sang paman menggerutu tapi membuat orang-orang di sekitar mereka tertawa. Apalagi Nania yang sampai menepuk pundaknya dengan kesal.
"Beli seratus ribu sedikit. Cuma dapat berapa tusuk. Kalau bikin kan jadi banyak!" ucap perempuan itu.
"Ya belinya lebih banyak dong, kenapa sih selalu dibuat susah?"
"Ah, kamu mana ngerti soal ginian? Tahunya makan doang."
"Ya memang. Kenapa juga harus repot-repot buat sendiri kalau bisa beli?"
"Ish, kepuasannya makan di tempat kayak gini tuh beda kalau bikin sendiri. Kalau mau beli ya di restoran aja."
Daryl hampir kembali menjawab tetapi Nania sudah mendahuluinya. "Stop! Nggak baik berantem di depan makanan, nanti nggak berkah!" katanya, sambil mengangkat tangan.
"Nah, menyala." Dan dalam waktu sekejap Regan sudah membuat pembakaran dengan arang itu membara sementara atasannya sedang berdebat.
"How come? Padahal dari tadi aku mencoba menyalakannya tapi susah sekali? Kenapa kau bisa?" Daryl bereaksi karena hal tersebut.
"Itu berarti Om nggak bakat nyala-nyalain api. Bakatnya cuma bikin Tante Nina hamil." celetuk Anandita yang membuat semua orang mengalikan pandangan kepadanya.
"Eh, umm … maaf, aku nggak sengaja. Maksud aku …."
Lalu Hari tertawa terbahak-bahak sehingga keadaan menjadi kembali ramai. "Benar sekali kamu ini. Memang hanya itu yajg bisa dia lakukan. Kenapa jujur sekali?" Pria tua itu tampak senang sekali, dan matanya bahkan sampai berair karena saking puasnya dia tertawa. Dan hal tersebut membuat yang lainnya juga mengalami hal yang sama.
"Untung papamu tidak ada. Kalau ada, habis kamu diomel, Ann." Daryl berbicara pada sang keponakan. "Biarpun itu memang benar. Ahahaha." Lalu dia tertawa seperti halnya Nania.
Anandita yang sempat merasa terkejut dengan ucapannya sendiri hanya bisa tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya yang terasa sedikit meremang. Kemudian mereka memulai acara makan bersama pada malam itu dengan sedikit Senda gurau dan obrolan ringan yang mengalir begitu saja.
"Tante Nna, kalau misalnya buka restoran pasti laku keras." Anandita kembali memulai percakapan dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah sate yang sejak tadi Regan bakar.
"Tentu saja, pelanggan tetapnya kamu." Daryl membuka kaleng minuman dingin setelah dia sendiri selesai dengan makanan-makanan tersebut.
"Nggak lah, orang lain juga pasti suka." Sang keponakan menjawab.
"Memangnya siapa yang tidak? Tapi lebih baik jangan." Pria itu meneguk minumannya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa?"
"Nanti dia sibuk dan lupa kalau punya suami di rumah."
"Siapa bilang? Emangnya Tante Nna yang kerja? Kan nanti punya karyawan."
"Kamu pikir kalau punya karyawan kita tidak harus terlibat? Orang kalau punya usaha ya harus terlibat, entah itu karyawannya banyak ataupun tidak."
"Ya kan tinggal perintah-perintah."
"Tidak begitu juga. Harus tetap diperhatikan."
"Kak Ara nggak."
"Kamu hanya tidak tahu."
Gadis itu bermaksud kembali menjawab sebelum akhirnya Daryl berbicara lagi. "Kamu dari tadi makan tapi tidak peduli dengan yang membuatkanmu makanan."
"Hah?" Dan dia hampir kembali melahap satenya yang Regan letakan di piring.
"Regan belum makan dari tadi karena satenya terus kamu ambil."
Anandita berhenti kemudian menoleh pada pria yang dimaksud.
"Begitu bisa menyarankan orang lain untuk buka restoran?"
__ADS_1
Regan hanya tersenyum.
"Ih … lagian kenapa Om nggak makan juga dari tadi?" ujar Anandita yang segera mengambilkan piring yang dia isi nasi dan segera menyerahkannya pada pria di sampingnya.
"Om mau aku tambahin sayurannya?" Dia lantas menawarkan, yang tentu saja membuat orang-orang di dekatnya menatap curiga.
"Umm …." Apalagi ketika Regan tampak salah tingkah dan dia sedikit ragu untuk menerima benda tersebut.
"Udah, cepetan makan!" Dan gadis itu benar-benar menjejalkan piring ke tangannya setelah dia menambahkan beberapa jenis lauknya.
"Sudah seperti suami istri saja. Ahahaha." Daryl tertawa kemudian kembali meneguk minumannya.
Regan semakin salah tingkah dengan wajahnya yang sedikit memanas. Beruntung hari sudah beranjak malam dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, sehingga orang-orang itu tak dapat melihat pipinya yang bersemu merah.
"Malyshka, kamu sudah kenyang?" Lalu dia kembali pada Nania yang sudah selesai dengan makanannya.
"Udah."
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah? Udaranya semakin dingin sekarang." katanya yang mengulurkan tangan pada sang istri.
"Sebentar lagi, Dadd. Makanannya baru aja turun. Lagian, nanti siapa yang mau beresin ini, masa nenek?"
"Regan kan belum selesai, biarkan dia saja nanti yang membereskan." ujar Daryl yang berjalan keluar dari area itu.
"Kamu ih, masa orang lagi makan malah ditinggalin? Dia telat makannya karena bakarin sate buat kita kan? Jangan gitu lah."
"Kau ada masalah dengan itu, Regan?" Daryl lantas berbicara kepada sang asisten.
"Umm … tidak, Pak. Kalau mau masuk silahkan saja. Biar ini nanti saya yang bereskan." Regan pun menjawab dengan entengnya.
"Iya, nggak apa-apa. Nanti aku bantuin juga kok. Kalau mau ke rumah ya masuk aja. Uyut sama Abah juga. Aku masih mau di sini sebentar lagi." Anandita kemudian menyahut.
"Kan?" Daryl merasa memenangkan perbincangan tersebut, dan akhirnya Nania pun mengalah.
"Kamu yakin? Jangan-jangan nanti malah merepotkan Regan lagi?" Lita sebelum beranjak mengikuti cucunya yang sudah lebih dulu berjalan menjauh.
"Tidak apa-apa, Nak. Regan sudah biasa direpotkan Ann." Daryl yang menyahut dari arah jalan sambil tertawa meski Nania menepuk punggungnya dengan keras.
"Tidak apa-apa, Bu." Regan pun menjawab seraya menoleh ke arah atasannya yang sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dengan mereka.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan terlalu malam ya? Udaranya benar-benar dingin disini."
Dan Anandita hanya menganggukkan kepalanya sebelum perempuan itu dan suaminya juga pergi.
"Hehe." Dia kemudian tertawa setelah yakin orang-orang yang lebih tua tak lagi terlihat di sekitar.
"Senang ya kamu?" Dan Regan bergumam sambil melahap makannya yang masih tersisa di piringnya.
"Oh iya!" Lalu Anandita kembali ke gazebo dan segera mendekati pria itu. "Om mah nggak ngerti sih. Akhirnya berhasil juga kita bisa berduaan." Dia tanpa ragu sedikitpun.
"Emangnya Om nggak seneng ya kalau kita bisa kayak gini? Susah tahu dari kemarin. Banyak bener rintangannya."
"Ya tapi jangan terlalu terang-terangan seperti ini juga."
"Hmmm …." Gadis itu menggumam sambil mengerucutkan mulutnya.
"Ingat, walaupun ini di Bandung bukan berarti papamu melepaskan pengawasan. Tetap harus waspada." Regan setengah berbisik.
"Emang papa ngawasin kita?" Dan Anandita melihat ke sekeliling perkebunan yang menggelap karena hari memang sudah sangat larut. Ditambah kabut yang mulai naik dari lembah membuat suasana sepi itu menjadi semakin hening saja. Hanya suara binatang malam yang terdengar dan percakapan mereka saja yang masih berada di sana.
"Tidak juga sih, hahaha." Regan pun tertawa setelah meletakkan piringnya yang kosong.
"Dih? Terus kenapa berlagak kayak ada yang lagi ngawasin kita?"
"Hanya mengingatkanmu untuk tidak terlalu mencolok seperti tadi. Bisa kacau kalau Om mu menyadari."
Gadis itu mencebikkan mulutnya.
"Sepertinya Pak Daryl tidak ada masalah kalau pun misalnya tahu bahwa kita ada hubungan. Aku hanya merasa tidak enak saja." Regan bergeser ke pinggir setelah membersihkan tangan dan meneguk air minumnya, sehingga dia bisa mendekati Anandita.
"Nggak enaknya kenapa?"
"Ya masa aku berani mendekati keponakannya yang bahkan belum lulus SMA? Mungkin pikirannya akan macam-macam."
"Lagu lama."
Regan hanya tersenyum.
"Kamu tahu aku juga sama sepertimu, tapi kita harus tetap bersabar sampai …."
"Iya iya tahu, sampai lulus sekolah." Anandita segera memotong ucapannya.
"Nah, kalau sudah mengerti sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang. Udaranya benar-benar dingin sekarang ini." Regan kemudian beralih membereskan bekas makan mereka.
"Nggak mau sebentar lagi aja gitu? Baru juga bisa ngobrol kayak gini?"
"Terlalu lama di sini akan membuat orang-orang curiga, tahu?" Regan menjawab. Dan dia membungkuk untuk mengambil benda-benda itu untuk dibereskan ketika tiba-tiba saja Anandita memeluknya dari belakang.
"Ann?" Tentu saja dia terkejut dan segera berusaha melepaskan tangan gadis itu yang melilit tubuhnya.
"Ann, lepaskanlah. Nanti ada yang lihat!" pintanya saat pelukan itu menjadi semakin erat.
__ADS_1
"Ann?"
"Om nggak ngerti sih gimana kangennya aku. Kesempatan kayak gini tuh langka. Mana sebentar lagi aku ujian lagi, jadinya pasti bakalan sibuk banget." Gadis itu malah membenamkan wajahnya di punggung Regan.
"Iya, tapi lepas dulu. Nanti ada yang melihat."
"Siapa? Om bilang nggak ada yang ngawasin kita."
"Ya siapa tahu ada, kan kita …."
"Aku nggak peduli lah kalau misalnya ada yang lihat terus dilaporin sama papa. Paling nanti marah, tapi nggak mungkin tega macam-macam. Gitu-gitu juga papa orangnya nggak tegaan, apalagi sama anaknya."
"Kamu tidak tahu …."
"Om yang nggak tahu, dan nggak paham juga gimana papa. Kalau emang serius mana mungkin papa bakal nolak? Yang ada malah diminta jagain juga nantinya."
"Tidak semudah itu, Ann."
"Gampang! Pikiran Om nya aja yang ribet."
Regan terdiam.
"Nanti paling papa minta Om untuk nikahin aku biar nggak curiga terus." Anandita terasa, tetapi malah membuat tubuh Regan terasa menegang.
"Kenapa? Bukannya bagus kalau begitu? Kalau kita nikah nggak harus kayak gini lagi."
Pria itu kehilangan kata-kata.
"Dari pada kita kucing-kucingan terus."
"Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan, Ann." Regan menepuk kedua tangannya yang memeluk erat sehingga dia hampir saja merasa sesak.
"Soal apa? Nikah?"
"Kamu tidak mengerti. Pernikahan tidak semudah yang kamu kira, jadi …."
"Kenapa? Karena aku belum dewasa? Om pikir karena umur aku belum benar-benar delapan belas terus pikiran aku belum sampai ke sana gitu? Om salah!"
Regan kembali terdiam.
"Om?"
"Dengar!" Dengan cepat Regan melepaskan tangan Anandita kemudian memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. "Ini bukan soal pikiran ataupun soal umur. Pernikahan itu adalah sesuatu yang besar dan kita harus mempersiapkan banyak hal. Terutama mental. Kamu bahkan tidak mengerti soal ini."
"Terus Om ngerti gitu?"
"Masalahnya hanya satu." Regan memindai kedua bola matanya yang bening berkilauan.
"Apa?"
"Kamu belum lulus sekolah, Ann. Dan aku yakin papamu tidak akan setuju."
"Ya kan nikahnya nggak sekarang, aku cuma bilang kalau misalnya papa tahu paling kita disuruh nikah."
Regan menarik napas dalam-dalam. Gadis ini sangat gigih dengan pendapatnya dan entah bagaimana lagi harus menjelaskannya.
"Kamu sangat menyukaiku ya, sampai-sampai rela berbuat begini? Bagaimana kalau misalnya aku tidak bisa berbuat sepertimu?"
"Emangnya Om nggak mau?" Anandita perlahan menarik diri, tetapi pria itu menahan pinggangnya.
"Aku kan hanya bertanya. Bagaimana kalau misalnya?"
Anandita kini yang terdiam.
"Jadi jangan berpikir sekilas saja. Ada hal lain yang seharusnya bisa kita perkirakan. Setidaknya kalau kamu sudah lulus sekolah aku akan lebih leluasa berbicara pada papamu. Mengerti tidak?"
"Aku pusing ah karena Om ngomongnya berbelit-belit. Emang gini ya kalau hubungan sama yang lebih dewasa? Semuanya dibikin ribet?"
"Bukan dibikin ribet, Ann. Hanya saja kamu harus memikirkan apa yang harus dilakukan ke depannya. Karena apa yang kita lakukan ini bukan untuk sementara, tapi kita akan hidup bersama selamanya. Masa asal-asalan? Arfan Sanjaya tidak akan bisa menerima siapa pun dengan mudah."
Anandita mengerucutkan mulutnya.
"Percayalah, aku memikirkan semuanya. Bukan hanya kamu. Dan bebanku menjadi lebih besar karena tidak mau mengecewakan banyak orang, terutama papamu. Kamu pikir aku ini sabar sehingga bisa berkata seperti ini? Tidak, Ann! Jadi …." Regan hampir meneruskan kalimatnya ketika tiba-tiba saja Anandita membingkai wajahnya kemudian menariknya sehingga bibir mereka bertemu.
Dia sempat gelagapan tetapi gadis itu segera membuatnya hampir hilang kesadaran yang akhirnya menyerah saja dalam situasi tersebut. Untuk beberapa saat mereka saling memagut dalam dan membiarkan diri tenggelam dalam perasaan yang begitu besar. Regan bahkan tidak ingin melepaskannya ketika Anandita hampir berhenti dan cumbuan itu berlanjut sebelum akhirnya suara Daryl menginterupsi.
"Hapeku ketinggalan dan aku …."
Tautan bibir mereka terlepas dan mereka menoleh bersamaan dengan Daryl yang terpaku sekitar dua meter dari gazeboo.
"Ups, did i interupted you guys?" Tentu saja pria itu terkejut sementara dua orang yang masih berpelukan tersebut merasa nyawa mereka seakan terlepas dari raga.
"Umm … i didn't mean that. I just …." Daryl dengan hati-hati mengambil ponselnya yang tertinggal kemudian mundur perlahan.
"Go on! Go ahead. Aku akan kembali ke atas. Hehe." Entah apa yang harus dia lakukan setelah memergoki keponakan dan asistennya yang tengah bermesraan, namun pria itu segera berlari kembali ke arah rumah sementara Anandita dan Regan masih terpaku dalam posisi semula.
💞
💞
💞
__ADS_1
Bersambung ....
wahaha ... kepergok OmDer. 😜😜😜