
💕
💕
Daryl melepaskan jasnya lalu melemparkan benda tersebut ke atas sofa. Amarahnya ingin dia ungkapkan begitu saja setelah menahannya sepanjang perjalanan. Mengingat interaksi Nania dengan pria lain yang diketahuinya sebagai senior di kampus membuat kemarahannya menyeruak memenuhi dada.
"Sudah berapa kali aku katakan, Nania! Tapi kenapa kamu masih tidak mengerti juga?" Pria itu mengusap wajahnya, kasar.
Nania menghentikan langkahnya yang hampir saja menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai dua. Pria itu bahkan sampai memanggil namanya karena saking marahnya, bukan Malyshka seperti yang biasa dia lakukan.
"Apa harus aku hajar dulu pria itu baru kau akan mengerti?" Daryl mulai berteriak.
Nania memutar tubuh lalu menatap wajah suaminya yang penuh amarah.
"Kamu ini sudah punya suami, terus dengan tenangnya bicara dengan teman laki-laki sambil tertawa. Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" Matanya menatap nanar.
"Kamu bukan perempuan lajang yang bisa bebas bicara dengan siapa saja. Kamu dengar tidak?" teriaknya lagi sambil menunjuk wajah Nania, sementara perempuan itu meremat tas dalam genggaman.
"Kamu tahu aku tidak suka melihatmu dengan laki-laki lain meski itu hanya berbicara. Dan melihat istriku berakrab-akrab dengan lelaki lain yang bahkan tidak aku kenal Itu sangat menggangguku. Dan sudah berkali-kali aku katakan tapi mengapa kamu tetap tidak mengerti?" Dia belum berhenti.
"Perempuan bersuami sepertimu memang seharusnya tidak berinteraksi dengan siapapun, walau itu hanya berbasa-basi. Karena tidak semua pria menganggapmu hanya teman saja. Ada beberapa di antara mereka yang akan menganggap keramahanmu sebagai sesuatu yang lebih. Apa harus terjadi hal buruk dulu baru kamu akan mengerti? Seperti kehilangan Sunny?" Daryl tampak belum puas.
Nania bersedekap dan dia membuka mulutnya untuk menjawab.
"Harus bagaimana aku mengatakannya sehingga kamu mengerti?" Namun pria itu masih saja melontarkan kemarahannya hingga setelah beberapa saat dia berhenti.
"Udah selesai? Udah puas teriak-teriaknya??" Dan Nania mulai bersuara setelah menunggu cukup lama.
Suaranya terdengar tenang dan wajahnya datar-datar saja. Dia bahkan tidak terpancing emosi meskipun suaminya meledak-ledak karena cemburu.
Dan Daryl hanya melayangkan pandangan pada perempuan itu yang berdiri di dekat tangga sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu baru lihat aku ngobrol sambil ketawa sama Kak Mahen aja udah ngamuk kayak gini. Gimana kalau lihat aku dipeluk dan dicium?" Lagi-lagi ada jalan baginya untuk mengungkit masalah yang sebenarnya sudah berusaha dia lupakan.
"Mungkin orangnya udah kamu bunuh, kampusnya udah kamu ratakan dengan tanah dan keluarganya udah kamu hancurkan."
"Kebayang nggak kemarin perasaan aku kayak apa pas lihat suami aku yang kayak gitu?"
Daryl mengerutkan dahi.
"Aku sebenernya udah nggak mau bahas soal ini lagi, capek! Tapi kamu yang bikin aku kayak gitu. Dengan semua prasangka kamu, kecemburuan yang nggak jelas dan kemarahan yang nggak tahu ujung pangkalnya. Tapi semuanya cuma berputar aja di satu titik. Kemauan kamu!" Nania manaikkan nada suaranya satu oktaf.
"Aku memang perempuan, tapi aku juga tahu mana batasan aku apalagi dengan status bersuami. Aku bukan perempuan tolol yang bisa dengan mudahnya berdekatan dengan laki-laki lain yang bukan keluargaku. Apalagi dia hanya senior di kampus. Memangnya aku ini gila apa?"
"Nggak lihat kalau di sana ada Mahira? Kalau nggak percaya tanya aja sama dia. Apa yang aku lakukan setiap hari, sama siapa aja aku bicara, dan gimana aku berinteraksi sama semua orang? Atau kalau perlu, tugaskan aja pegawai kamu di kampus untuk mengawasi aku."
"Semuanya selalu tentang kamu. Apa yang kamu suka, dan tidak kamu suka. Apa yang kamu perbolehkan dan tidak kamu perbolehkan. Tapi nggak ada satupun aturan yang berlaku untukmu." Nania kembali merendahkan suaranya.
"Ya, aku perempuan bersuami yang harus menjaga interaksi dengan orang lain. Tidak boleh berbicara dengan sembarangan orang apalagi berakrab-akrab. Aku tahu aku punya batasan, tapi gimana dengan kamu?"
"Udah aku bilang kalau aku nggak mau bahas hal kayak gini lagi tapi kamu malah membahasnya terus. Tadinya aku udah mulai lupa tapi kamu bikin aku mau ungkit itu lagi, dan kita hanya berputar-putar di sini aja. Masalahnya nggak selesai dan kita kayak memperebutkan hal nggak jelas!"
"Kalau kamu merasa nggak enak pas lihat aku ngobrol sama Kak Mahen, terus kamu pikir apa yang terjadi dengan otak dan hati aku waktu lihat kamu berpeluk cium sama model dan rekan kerja kamu? Kamu pikir aku baik-baik aja karena itu hal sepele untuk kamu? nggak!"
"Sampai sekarang aku ingat dan selalu ngebayangin mungkin kamu berbuat gitu setiap hari. Meski apa yang terjadi itu kamu sebut dengan formalitas tapi otak aku nggak bisa menerima. Terus sekarang kamu ngeributin soal interaksi aku sama Kak Mahen, kalau aku bilang cuma formalitas kamu bakal nerima nggak?" Nania berhenti untuk menghirup udara sebanyak mungkin.
"Kayaknya kamu nggak bakal ngerti, karena semua hal harus tentang kamu. Nggak ada aku di sana. Semua yang kamu lakukan mungkin hanya untuk membuat kamu senang aja." Lalu dia menghembuskan napasnya di udara.
__ADS_1
"Hah, apa sih yang aku bilang ini? Nggak akan ada gunanya kan?" Kemudian Nania berjalan melewati Daryl.
"Malyshka, look …." Pria itu segera meraih tangannya untuk menghentikan dia, namun Nania cepat menepisnya.
"Udah ah, aku capek ngurusin masalah itu-itu aja, bikin stress. Kalau kamu maunya begitu, mulai besok aku kuliah online aja. Biar nggak ketemu orang sekalian!" Dan dia melenggang ke arah dapur.
Daryl hampir kembali membuka mulutnya untuk berbicara, namun panggilan telfon meninterupsinya. Dan kontak Regan lah yang menelpon. Sehingga dia beralih pada panggilan tersebut dan memalingkan perhatian dari perdebatan yang tengah berlangsung.
Sementara Nania memilih untuk keluar setelah meminum dua butir obat ketika sebelah kepalanya terasa nyeri.
***
Nania menjatuhkan bokongnya di samping makam Sunny yang terawat baik. Rumput di pusara janin itu tumbuh dengan subur, dihiasi bunga-bunga yang mulai bermekaran dan pohon bonsai yang Satria letakkan pun menjadi naungannya.
Perempuan itu menghembuskan napas berat seolah tengah melepaskan beban di hatinya. Lalu dia menyentuh rumput tersebut sambil tersenyum.
"Hai, Sayang? Gimana kabar kamu? Pasti baik. Kata Nenek, bayi yang meninggal apalagi sebelum lahir tinggalnya di tempat paling baik. Diasuh sama orang baik dengan keadaan yang sangat baik juga." Dia berbicara seolah ada seseorang di hadapannya.
"Maaf, baru lihat kamu lagi. Habis minggu-minggu ini Mommy sibuk. Tahu kan?" Dia terkekeh.
"Tapi hari ini Mommy sama Daddy berantem lagi. Nggak tahu berantem karena apa?" Lalu dia terdiam.
"Aneh banget deh, beberapa hari ini berantem terus karena hal nggak jelas yang awalnya karena Mommy cemburu." Nania merebahkan tubuhnya di atas rumput di samping pusara nya Sunny.
"Emangnya Mommy salah ya kalau ngerasa cemburu pas lihat Daddy kamu peluk-pelukan sama modelnya? Soalnya Daddy bilang itu bukan apa-apa." Dia menatap langit di antara dedauna pohon kiara yang menjulang tinggi.
Cahaya semakin meredup dan matahari perlahan tenggelam di barat, membiarkan kegelapan berangsur naik pada petang itu.
Keheningan meliputi sekitar area itu dan hanya suara serangga malam saja yang mulai terdengar.
"Padahal Mommy udah agak lupa lho, tapi Daddy malah ngingetin lagi. Kan jadinya berantem. Apalagi pake bawa-bawa Kak Mahen segala yang nggak ada hubungannya sama masalah ini. Daddy mulai nyebelin." Nania menyurukkan kepalanya pada gundukan tanah.
"Rasanya mau nangis, tapi pas dipikir lagi ngapain nangisin masalah nggak jelas ya kan? Buang-buang energi, juga bikin migrain kambuh aja deh. Pusing jadinya." Tangannya terulur memeluk pusara kecil tersebut.
"Mommy capek, Sunny. Besok-besok nggak mau pergi kuliah dulu ah, dari pada dicurigain sama Daddy melulu." katanya yang perlahan memejamkan mata.
***
"Baiklah, aku mengerti." Daryl setelah mendengar laporan Regan tentang percakapan antara Nania dan Mahendra dari Mahira.
"Dia bahkan sudah mengancamnya, Pak. Dan kedatangan staf Nikolai di kampus tadi sepertinya cukup berpengaruh." ucap Regan dari seberang.
"Benarkah? Bagus juga idenya meminta bantuan staf?"
"Ya, sepertinya dia cukup berpotensi."
"Menurutmu begitu?"
"Ya, Pak."
"Hmm … bagus juga. Baiklah pantau terus! Jangan sampai kecolongan lagi. Kalau tidak, karirmu yang jadi taruhannya!" ucap Daryl sebelum akhirnya menyudahi percakapan.
"Hh … ini aku yang berlebihan atau bagaimana?" Daryl menyugar rambut bergelombangnya yang semakin memanjang.
"Tapi …." Lalu dia kembali mengingat ucapan Nania.
Tentang kecemburuannya, dan tentang bagaimana dia memposisikan perempuan itu dengan beberapa masalah yang dianggapnya sepele.
__ADS_1
"Sepele?" Dia mengingat interaksinya dengan Sherin dan model-modelnya tempo hari, lalu membandingkannya dengan apa yang dilihatnya beberapa hari belakangan saat Nania tampak berbincang dengan Mahendra.
"Ish, benci sekali aku kepada anak itu!" Dia menggerutu saat mengingat wajah Mahendra yang tampak ceria setiap kali berbicara dengan Nania.
Bukankah situasinya sama? Dia dan Sherin juga model-modelnya memiliki hubungan profesional sementara Nania dan Mahendra merupakan teman se kampus yang sudah bisa dipastikan akan sering berinteraksi. Tapi perasaannya tak bisa menerima hal itu. Dia tak rela istrinya dekat dengan siapa pun.
"Tapi …."Â
Mungkin begini juga perasaan Nania ketika melihatnya ketika sedang bersama dengan model-model itu, makanya dia begitu marah dan tidak bisa menerima meski sudah dijelaskan bahwa hal tersebut adalah merupaka formalitas seperti yang dikatakanna saat itu.
"Astaga, Daryl! Kalu bodoh!" Pria itu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kalian sama-sama cemburu makanya tidak terima jika ada orang lain yang mendekat!" gumamnya, lalu dia tertawa.
"Cemburu!" katanya lagi, kemudian dia memalingkan wajah ke arah dapur di mana sebelumnya Nania berada.
"Bukankah cemburu itu tanda cinta?" Pria itu bangkit. "Dan dia begitu karena mencintaiku, seperti halnya aku." Dia terus berbicara sendiri.
"Hehe, konyol sekali!" Dan dia mencari keberadaan Nania saat menyadari beberapa hal.
"Malyshka?" Daryl memeriksa setiap sudut dapur hingga kamar mandi di area itu, dan galeri mini di bagian belakang rumah mereka tapi tak menemukannya.
"Ke mana dia?" Lalu Daryl beralih ke ruangan lainnya. Bahkan kamar di lantai dua pun tak luput dari pemeriksaannya, namun tetap tak menemukan keberadaannya.
"Malyshka?" Dan lantai tiga pun menjadi tempat terakhir yang dia periksa. Namun tetap saja Nania tak ada di sana.
"Malyshka!!" Pria itu berteriak kemudian segera berlari keluar dari rumahnya.
"Ada apa, Der?" Sofia segera merespon ketika mendengar teriakan putranya.
"Nania, Mom. Apa dia ke sini?" Pria itu menerobos ke rumah orang tuanya.
"Nania? Mama belum bertemu."
"Tapi dia tidak ada di rumah."Â
"Lalu ke mana?"
"Mana aku tahu? Kalau tahu aku tidak akan bertanya kepada Mama!" Dia mulai panik.
"Masa sampai tidak tahu? Memangnya kamu habis dari mana, bukankah kalian pulang sama-sama?"
"Ya … hanya saja …." Daryl menggantung kata-katanya. Tidak mungkin dia memberi tahunya soal pertengkaran mereka, bisa babak belur dirinya diomel sang ibu jika itu terjadi.
"Ada apa?" Satria pun muncul ketika mendengar sedikit keributan di ruang belakang.
"Umm … tidak ada. Mungkin Nania ada di green house." jawab Daryl, kemudian dia kembali ke belakang di mana rumahnya berada.
💕
💕
💕
Bersambung ...
KirA-kira mereka udahan berantemnya? Capek banget deh😩😩😩
__ADS_1