The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Perasaan


__ADS_3

💕


💕


"Hei Nania!" Mahendra mempercepat laju motornya untuk mengejar Nania. Dan perempuan itu menoleh seraya memperlambat langkah kakinya.


"Ya?" Dia lantas menjawab.


Mahendra mematikan mesin motornya, kemudian hanya menggerakkan benda itu dengan kedua kakinya saja.


"Ini." Lalu dia menyerahkan tas berisi kotak makanan yang tadi pagi Nania berikan.


"Oh … iya." Dan perempuan itu menerimanya dengan raut ceria seperti biasa.


"Makanannya enak, makasih. Temen-temen aku juga suka." ucap Mahendra yang masih mensejajari langkah Nania hingga ke depan gerbang.


"Iya, sama-sama. Seneng juga ada yang suka sama makanan buatan aku." Nania tertawa.


"Kamu hari ini dijemput?" Mahendra mengedarkan pandangan ke seluruh area depan gerbang. Biasanya dia langsung menemukan mobil milik Daryl atau pun Regan sudah menunggu di depan sana. Tapi kali ini tidak ada siapa pun selain jemputan mahasiswa lain.


Nania terdiam. Dia lupa, seharian ini tidak berinteraksi sama sekali baik dengan Daryl atau pun Regan. Dan suaminya tak menghubunginya bahkan untuk sekedar memberi kabar. Padahal biasanya, ponsel mereka tak pernah sepi dari chat tak berfaedah namun membuat hari-hari terasa menggembirakan.


"Nggak dijemput ya?"


"Aku belum ngasih tahu kalau hari ini pulang cepat." Perempuan itu merogoh ponsel di dalam tasnya.


"Umm … mau pulang sama-sama? Kayaknya kita searah. Kamu tinggal di rumah Nikolai, kan?" tawar Mahendra, dengan beraninya.


"Nggak usah, Kak. Makasih. Kalau aku ikut Kakak, nanti timbul fitnah." Nania tertawa. "Lagian banyak orang yang bisa aku panggil untuk jemput kok." Dia mencari kontak siapa pun yang diketahuinya masih berhubungan dengan Regan atau suaminya.


Namun, di saat yang bersamaan Rubicon yang dikenali sebagai milik Daryl pun muncul dan berhenti di depan mereka.


"Nah, kan? Datang juga." ucap Nania penuh dengan keceriaan. Meski dia tahu mungkin sepasang netra dibalik kaca mata hitam itu berkilat penuh prasangka.


Bodo amat! Peluk-oelukan aja dianggap sepele. Batinnya.


"Ya udah Kak, aku duluan ya? Sampai besok." pamit Nania kepada Mahendra, bersamaan dengan Daryl yang turun daru mobilnya.


Perempuan itu bergegas menuju pintu penumpang dan meletakkan tas kotak makanannya di belakang.


"Hai Sayang, bagaimana …." Daryl tertegun mendapati sikap istrinya yang masih mengabaikannya. Namun dia tetap membukakan pintu, dan perempuan itu segera masuk kedalam sana.


Daryl berjalan memutar ke arah kemudi setelah melayangkan tatapan tak suka kepada Mahendra sebelumnya.


"Aku duluan Kak, sampai besok!" Nania menurunkan kaca mobil kemudian melambaikan tangan, yang tentu saja membuat Daryl merasakan dadanya bergemuruh.


Sementara Mahendra membeku di tempatnya, dengan rasa heran memenuhi pikirannya.


"Sejak kapan dia menemanimu seperti itu?" Daryl menggerutu, yang sama sekali tak Nania gubris.


"Bagaimana jualanmu hari ini? Ramai?" Dia segera memulai pembicaraan untuk menetralisir rasa panas di dalam hati mengingat interaksi Nania dengan seniornya beberapa saat yang lalu.


"Ramai." Nania menjawab, namun pandangan matanya fokus pada benda pipih di tangan.


"Katanya Mahira tidak datang? Aku dengar dia sakit?"


"Uh'um." Nania menjawab dengan gumaman, namun kemudian dia mendongak dan menoleh ke arah suaminya.


"Kok kamu tahu? Siapa yang ngasih tahu?" Nania lantas bertanya, karena seharian ini tak ada interaksi antara mereka, apalagi berbicara soal ketidakhadiran Mahira di bazar kampus hari itu.


"Eee … aku tahu dari Regan. Ya, dia yang melapor tadi pagi." Daryl lupa kalau Nania tidak mengetahui perihal kerja samanya dengan Mahira.


"Regan?" Perempuan itu mengerutkan dahi. "Aku juga nggak ngasih tahu Regan kalau hari ini Mahira nggak datang karena sakit. Terus dia tahu dari mana?"


Daryl terkesiap. "Eee …."


"Kalian naruh mata-mata di kampus? Siapa? Kurang kerjaan bener? Emangnya di Nikolai Grup nggak ada kerjaan ya sampai-sampai ditugaskan di kampus untuk ngawasin aku? Nggak ada kerjaan yang lebih penting apa?"


Daryl mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menghindari kesalahan berikutnya. Bisa kacau jika Nania tahu mengenai Mahira yang dia pekerjakan untuk menjadi pengawasnya selama di kampus.


"Hey! Kamu nyuruh orang untuk ngawasin aku di kampus?" Nania menepuk paha suaminya dengan keras.


"Hanya hari ini, itu karena …."


"Kurang kerjaan!" Perempuan itu kembali menepuk paha Daryl, kali ini lebih keras.

__ADS_1


Daryl tidak melawan.


"Apa sih yang kamu mau? Aku kurang nurut apa? Atau saking nggak percayanya sampai-sampai kamu begitu? Keterlaluan!" Nania bersedekap.


"Aku hanya … mengkhawatirkanmu." Daryl memberanikan diri untuk menjawab.


"Ck! Itu kampus, bukan medan perang."


"Yeah, but …."


"Tarik orang itu atau aku berhenti kuliah." Nania mengancam.


"What?"


"Kalau begini aku berhenti kuliah aja lah. Mendingan diam di rumah aja rebahan biar nggak dicurigai terus." Nania kembali bersedekap dengan wajah masam.


"Baik." Sementara Daryl hanya manggut-manggut saja untuk menghindari pertengkaran berikutnya.


***


"Ayolah Malyshka, kenapa kamu masih marah-marah seperti ini?" Daryl menggerutu karena sampai rumah perempuan itu masih saja cemberut.


"Jangan bilang apa-apa, aku masih sebel sama kamu!" Dan Nania bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya yang mengusap wajah frustasi.


Sekarang bagaimana lagi cara untuk membujuknya? Karena sepertinya semua yang aku lakukan selalu saja salah, astaga! Gumam Daryl dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baik, terima kasih. Saya akan beritahu Pak Daryl. Dan secepatnya menghubungi Anda." Regan menghentikan laju kendarannya saat lampu lalu lintas berubah merah.


Bersamaan dengan itu, percakapannya dengan orang di seberang pun berakhir. Lalu dia melepaskan air podsnya setelah yakin semuanya selesai.


Kemudian pandangannya beralih saat dia merasa melihat orang yang dikenalinya di seberang sana, dan ternyata memang benar. Dan segera saja dia mengunci sasaran.


Anandita yang berada di dalam sebuah mobil sedan hitam, dan pengemudinya yang dia ketahui sebagai teman sekelasnya tampak tertawa riang sambil berbicara.


"Apa-apaan itu?" Regan bergumam.


Beberapa detik kemudian lampu berubah hijau dan kendaraan-kendaraan tersebut mulai bergerak. Begitupun mobil Regan, dan yang ditumpangi Anandita di arah yang berbeda.


Awalnya pria itu biasa saja, namun lama kelamaan pikirannya merasa terganggu. Mengingat tawa riang dan ekspresi gembira Anandita di samping pengemudi sedan hitam itu rasanya seperti sedang memergoki kelasihnya selingkuh.


Pikirannya menyangkal dan hatinya menolak. Namun tubuhnya berbuat sebaliknya. Ketika dia menemukan pertigaan dan kesempatan untuk berputar arah, maka terjadilah hal yang tak pernah dia sangka sama sekali.


Regan membanting stir dan berbalik arah menuju jalan yang dilewati mobil sedan tersebut untuk mengikuti Anandita. Meski lalu lintas pada sore itu cukup padat, tapi hal tersebut tak menghentikannya.


Pria itu memacu kendaraan roda empatnya melewati mobil-mobil di depan, dan dia mendadak berubah menjadi pembalap jalanan hingga akhirnya setelah puluhan meter menemukan sedan itu.


"Dari mana dia sore-sore begini? Masa sekolah seharian?" Regan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Apa pengawasan Arfan Sanjaya sudah melunak sehingga membiarkan anak gadisnya sendiri keluyuran di luar? Hah, ironis sekali!" Dia berguman sendirian.


Dan mobil itu terus melaju di jalanan hingga setelah beberapa saat sedan hitam di depan melambat dan menepi.


"Sekarang apa?" Regan pun melakukan hal yang sama.


Dan mobil yang ditumpangi Anandita pun berhenti di depan sebuah stand minuman dingin, lalu gadis itu dan pengemudinya tampak turun.


"Ann?" Suara Regan menghentikan langkahnya, dan gadis itu menoleh.


"Sedang apa kamu di sini?" Regan turun  dan berjalan menghampirinya.


Anandita tertegun untuk beberapa saat, namun kemudian kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyum.


"Om Regan?" katanya dengan kedua bola matanya yang berbinar ceria.


"Saya tanya, kamu sedang apa sore-sore begini masih di jalan? Apa kegiatan sekolah sepadat itu sehingga sampai jam segini kamu belum pulang?" Regan melirik pemuda yang sama-sama berseragam putih abu seperti Anandita.


"Aku habis kerja kelompok, Om jadinya pulang sore. Soalnya kan …."


"Pindah ke mobil saya." Pria itu menyentakkan kepalanya.


"Apa?" Anandita sepertinya terkejut.


"Pindah ke sini, saya antar kamu pulang." ucap Regan lagi, kali ini lebih jelas.

__ADS_1


"Tapi ini juga mau pulang, Om. Rangga mau antar aku pul …."


"Pindah ke mobil saya, Ann!" Kalimatnya kali ini dia tekan cukup keras untuk membuat gadis itu menurut. Dan benar saja, Anandita tampak berubah pikiran.


"Umm … Rangga, aku pindah ya? Makasih udah mau anter sampai sini." Anandita beralih pada teman sekelasnya.


"Ohh … oke." Dan pemuda itu membiarkannya saja mengambil tasa dari dalam mobil.


"Tapi Om, akunya mau …."


"Masuk, sudah sore." Regan seperti sedang berperan sebagai orang tua yang memergoki anaknya berpacaran. Dan Anandita pun menurut saja seperti anak gadis yang tertangkap basah ayahnya.


Dua orang itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Rangga di tempat tersebut.


"Papamu tahu?" Mobil terus melaju menuju kediaman Arfan Sanjaya.


"Tahu." Anandita menjawab.


"Masa? Alasan apa yang kamu katakan sehingga Pak Arfan mengizinkan anak gadisnya masih berada diluar pada jam seperti ini?"


"Kerja kelompok."


"Bohong!"


"Serius."


"Dan papamu percaya?"


Gadis itu menganggukkan kepala.


"Tidak semudah itu Arfan Sanjaya mempercayai sebuah alasan sehingga sesuatu berjalan tanpa pengawasannya."


"Aku beneran kerja kelompok makanya papa percaya terus ngizinin aku pergi." Anandita mencoba untuk meyakinkan.


Namun Regan tampak mendengus keras.


"Serius Om ih!"


"Masa setiap hari kerja kelompok?" Pria itu terus mencari celah.


"Lah, emang lagi banyak tugas kelompok. Apalagi udah kelas 12, kan sebentar lagi ujian. Sekalian belajar bareng gitu?" Gadis itu menjelaskan.


"Seharian? Kamu yakin?" Namun Regan tetap tak percaya.


"Serah Om lah. Emang waktu Om SMA nggak ada kerja kelompok atau belajar bersama kayak gini?" Anandita bersedekap.


"Saya tidak pernah mengikuti hal semacam itu." Regan sesekali melirik ke arah gadis itu.


"Pantesan aja."


"Terus kenapa barusan kalian berhenti di sana? Bukannya langsung pulang, malah mampir-mampir."


"Mau beli minum. Nggak lihat tadi berhentinya di depan tukang jus?"


Regan melirik kaca spion di atas kemudi.


"Belajar seharian bikin haus, tahu?"


"Kalian juga hanya berdua." Regan mencoba mencari tahu keadaan yang sebenarnya.


"Tadi lima orang, tapi yang lainnya udah Rangga anter duluan dan aku yang terakhir. Kita dari perpustakaan kota kan …."


Regan melirik lagi ka arah Anandita.


"Lama-lama Om kayak papa, banyak tanya. Polisi bukan, detektif juga bukan. Tapi sering interogasi aku."


Pria itu bungkam.


"Aku haus, Om. Pengen minum." Gadis itu mengusap-usap lehernya, dan dia merasakan tenggorokannya kering setelah kehabisan air minum beberapa saat sebelumnya.


"Minumnya di rumah saja, sudah terlalu sore." Namun Regan sudah terlanjur salah sangka sehingga dia meneruskan perjalanan mereka saja ke kediaman Arfan Sanjaya.


💕


💕

__ADS_1


💕


Bersambung ...


__ADS_2