The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Tugas 2


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Kondisinya sudah bagus, badan sehat, psikis stabil, rahim juga kuat. Tapi harus lebih sabar lagi ya, Bu Nania?" ucap dokter setelah menyuntikkan obat kontrasepsi pada tubuh Nania.


"Udah nggak apa-apa kan, Dokter? Kalau misalnya sewaktu-waktu aku hamil nggak akan bahaya, kan?" Nania merapikan pakaiannya kemudian turun dari bangasal pemeriksaan.


"Tidak apa-apa, seperti saya katakan tadi sudah bisa. Hanya saja karena Anda bulan-bulan ini banyak kegiatan, jadi saran saya ya sebaiknya ditunda dulu." jawab sang dokter.


"Baik."


"Vitamin, suplemen dan obatnya jangan lupa diminum sampai habis ya? Agar badannya semakin kuat." Perempuan berkerudung hitam itu menyerahkan beberapa botol obat kepadanya.


"Iya, dokter. Selalu habis kok." Dan Nania segera menerimanya.


"Bagus sekali, memang harus seperti itu. Baik,Β  ada yang akan ditanyakan lagi?" Dokter hampir mengakhiri sesi konsultasi sore itu.


"Nggak, Dokter udah cukup. Permisi?" Nania memberi isyarat kepada Daryl untuk segera keluar dari tempat itu.


***


"Maaf, Pak? Boleh tanya sesuatu?" Mahira mencoba berbicara dengan Regan yang berada di balik kemudinya.


Mereka menunggu di parkiran depan rumah sakit selama Daryl membawa Nania untuk melakukan pemeriksaan dan penyuntikkan ulang obat penunda kehamilannya.


"Silahkan."


"Maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk nggak sopan. Tapi Nania itu …."Β 


"Kamu tidak percaya kalau Nania itu istrinya Pak Daryl?" Regan memotong ucapan gadis itu.


"Eee … maaf, Pak. Saya nggak maksud nggak sopan. Cuma penasaran aja." Mahira sedikit terhenyak dengan jawaban pria di samping.


"Tapi memang itu yang mau kamu tanyakan, bukan?"


"I-iya sih."


"Ya, memang benar."


"Gitu ya? Oke." Mahira mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ada yang ingin dia tanyakan lagi soal Nania. Tapi melihat raut wajah Regan membuat nyalinya menciut seketika. Jadi, dia urungkan saja niatnya dan memilih diam.


Kabarnya, pegawai dari perusahaan Nikolai Grup itu sangat galak dan tidak bisa berkompromi dengan hal apa pun. Setidaknya itu yang dia dengar setelah mengetahui siapa Nania sebenarnya, yang merupakan menantu dari keluarga Nikolai yang terkenal itu.


Lalu perhatiannya beralih ketika Regan turun dari mobil. Dan ternyata Nania juga Daryl sudah keluar dari rumah sakit. Sehingga si bawahan segera membukakan pintu untuk atasannya.


"Makasih, Regan." ujar Nania yang dibiarkan masuk lebih dulu oleh Daryl."


Kemudian tanpa banyak melontarkan pertanyaan, Regan kembali ke balik kemudi dan segera tancap gas dari tempat tersebut.


***


Dan perhatian Mahira lagi-lagi beralih manakala mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah kawasan elit Jakarta yang selama ini hanya dia dengar kemashurannya.


Sebuah kawasan di mana keluarga yang cukup berpengaruh berada, siapa lagi kalau bukan keluarga Satria Nikolai yang selalu disebut-sebut oleh ayahnya yang seorang pengusaha restoran, dyang berjualan di area Nikolai Circle.


Dia tak bisa berkata-kata saat gerbang tinggi itu terbuka dan mereka masuk ke dalamnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah suasana pekarangan yang tampak tak biasa.


Istana megah dengan segala hiasannya menjadi pemandangan pertama yang ditangkap oleh Mahira, dan dia benar-benar kehilangan kata-kata.


Dirinya bukan berasal dari kalangan bawah, tapi ini pertama kalinya dia melihat hal semegah milik keluarga Nikolai. Apa yang orang tuanya miliki bahkan tak menyamai ini.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah besar, Mahira." ucapan Nania membuyarkan lamunannya.Β 


Mereka kemudian turun dari mobil setelah berhenti di depan rumah besar milik Satria Nikolai.


"Ketemu Mama sama Papi dulu ya? Nanti ke rumah aku di belakang." Nania menariknya ke dalam menemui mertuanya.


Dan Mahira merasa lebih takjub lagi setelah memasuki rumah itu. Semuanya tampak tak pernah ada dalam bayangannya. Dan dia benar-benar terpukau.Β 


Rumah besar dengan segala kemegahannya membuat teman baru Nania itu benar-benar kehilangan kata-kata.


"Mama, Papi kenalin ini temen aku." Nania menariknya ke sebuah ruangan di mana dua orang paruh baya tengah bercengkrama.


"Ee … selamat sore, Bapak, Ibu." Mahira menyapa Satria dan Sofia.


"Oh, selamat sore. Selamat datang di kediaman Nikolai." Sofia menjawab sapaannya.


"Oke, kalau gitu aku ke belakang dulu ya? Mau ngerjain tugas." Kemudian Nania menuntun Mahira ke rumahnya yang terletak di belakang rumah besar.


Dan lagi-lagi hal itu membuatnya kembali merasa takjub. Meski rumah Nania tak sebesar rumah sebelumnya, tapi tempat itu memang terlihat tak kalah megahnya.


"Sama, ekspresi aku juga gitu waktu pertama ke sini. Malah, aku sempet tersesat di rumah besar saking gede dan banyaknya kamar." Nania meletakkan dua kaleng minuman dingin di meja.


"Ap-apa?" Kini Mahira beralih kepadanya.


"Ini pertama kalinya ada orang asing bertamu ke rumah setelah beberapa bulan." Nania terkekeh, dan dia tampak senang dengan keadaan itu.


"Kamu serius rupanya? Aku pikir …." Mahira menggantung kata-katanya, lalu dia menatap sekeliling. "Maaf aku sempat berpikiran buruk. Aku kira kamu …."


"Nggak usah dibahas. Nggak apa-apa, aku udah biasa." Nania segera menyela. "Jadi gimana? Mau ngerjain tugasnya sekarang atau …."


"Sekarang aja, Nania. Kita cuma punya waktu dua hari kan? Lusa udah harus dibawa ke kampus. Kalau ditunda-tunda takutnya nggak ada waktu." Mahira segera memutuskan.


"Ya udah kalau begitu." Lalu Nania menuntunnya ke arah galeri di belakang rumah.


Yakni sebuah galeri desain yang terdapat beberapa hal. Didominasi oleh rancangan yang dia yakini merupakan milik Nania.


"Bukan, kan akunya baru belajar."


"Kamu bukannya belajar, tapi tahap penyempurnaan." Gadis itu menyusuri setiap sudut galeri dengan pakaian yang disampirkan pada manekin-manekin yang tersedia.


Nania hanya tertawa.


"Aku curiga kalau ide kamu bakalan diluar bayangan?"


"Nggak, kan cuma pakain?"


"Tapi tetep aja. Sementara ide aku …." Mahira mengeluarkan buku gambarnya. "Duh, aku jadi insecure deh. Jangan-jangan …."


"Ini bagus, tahu!" Nania memeriksa gambar milik Mahira.


"Kok ide kita kayak puzzle sih?" Lalu dia membuka buku miliknya sendiri untuk membandingkan rancangannya dengan milik Mahira.


Dan memang ada sesuatu yang jika dipadu padankan sepertinya akan menghasilkan hal yang luar biasa.


Lalu dua perempuan yang usianya terpaut tak terlalu jauh itu saling pandang, dan sesaat kemudian mereka sama-sama tertawa.


"Ayo kita gabungin?" keduanya mengatakan hal yang sama.


"Baby, kamu mau langsung mengerjakan tugas?" Suara Daryl menginterupsi pekerjaan yang sudah dimulai itu.


"Iya, Dadd." Nania menoleh ke arah suaminya yang sudah klimis. Sepertinya dia langsung mandi begitu sampai di rumah.


"Tidak sebaiknya istirahat dan makan dulu?" Pria itu menawarkan.

__ADS_1


"Tanggung, soalnya waktunya mepet."


"Hmm …."


"Kamu kalau mau makan duluan aja dulu, aku nanti aja." ucap Nania yang kembali fokus pada tugasnya bersama Mahira.


Dan dua partner ituΒ  memang mengerjakan tugas dengan serius. Mereka menggabungkan dua ide pemikiran masing-masing menjadi satu hasil rancangan yang luar biasa indah.


Desain Nania bergaya klasik modern, sementara milik Mahira bergaya kontemporer. Yang menjadikan penggabungan dua rancangan tersebut sebagai hal yang unik daripada yang pernah ada.


Mereka membentuk lakban dengan berbagai macam warna itu menjadi detail-detail yang menghias kain dasar gaun perempuan berwarna putih tersebut.


Berbagai macam bentuk bunga dibuat lengkap dengan dedaunan dan bentuk- bentuk abstrak lain sehingga terciptalah rancangan gaun yang begitu ikonik bergaya klasik dengan desain modern kontemporer.


"Baru seperempatnya, Mahira." Nania menjatuhkan bokongnya di lantai dingin tersebut.


"Iya, aku udah nggak kuat." Dan Mahira pun melakukan hal sama. Dia bahkan sampai merebahkan punggungnya yang terasa kaku setelah kurang lebih tiga jam menempelkan guntingan lakban di bahan gaun tersebut.


***


"Terima kasih ya, Regan. Maaf merepotkan." Nania dan Daryl mengantar kepergian Mahira yang berbarengan dengan Regan. Gadis itu memutuskan untuk pulang setelah menerima jamuan makan terlebih dahulu.


Malam sudah merangkak larut dan mereka tak dapat memaksa untuk melanjutkan tugas hingga selesai. Tapi setidaknya, Nania dan Mahira sudah mengerjakannya hingga hampir setengahnya.


"See, walau kamu paksakan pun tugas itu tidak selesai, Malyshka." Daryl menutup pintu dan memastikan semuanya terkunci rapat.


"Hu'um. Namanya juga tugas dadakan. Segitu juga udah untung masih bisa dikerjain." Mereka berjalan melewati tangga menuju ke lantai atas.


"Yeah, masih untung." Dan Daryl memegangi pundak Nania untuk mendorongnya yang berjalan gontai.


"Iya, tapi besok harus ngebut kan? Biar selesai, jadi Jum'at pagi bisa aku bawa."


"Memangnya harus Jum'at pagi ya, tidak boleh lebih?"


"Iya."


"Suruh orang rumah saja untuk menyelesaikannya besok agar kamu tidak kelelahan." Daryl menemukan solusi cerdas untuk masalah ini.


"Apaan? Nggak mungkin lah, masa aku yang dapat tugas tapi orang lain yang ngerjain? Kan curang." Namun Nania segera menolaknya.


"Tidak, mereka hanya mengganggu. Ide awal dan desain kan kamu yang buat?"


"Nggak ah, aku takut nggak merasa puas kalau gitu." Perempuan itu melenggang ke arah kamar mandi sambil melepaskan kemejanya.


"Mau merasa puas?" Dan Daryl mengekorinya dari belakang.


"Ya, jadi aku mau ngerjainnya sendirian aja." Nania menjawab, dan dia sudah berada di dalam kamar mandi dengan keadaan setengah telanjang.


"Lebih bagus berdua." Dan pria itu hampir melakukan hal yang sama.


"Apaan?" Lalu Nania menoleh dan dia mendapati suaminya di ambang pintu.


"Berdua, agar kamu puas." Daryl tesenyum genit kepadanya.


Segera saja otak Nania berputar dan dia mengerti sesuatu.


"Nggak mungkin." Lalu dalam hitungan detik dia segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat sebelum suaminya sempat mengikutinya masuk, dan membiarkan pria itu tertegun dengan dahi berkerut.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2