
💞
💞
"Ini kita kapan pulang sih? Sampai kapan mau lihatin orang pacaran begitu?" Anandita menatap Daryl dan Nania yang bercengkrama di kursi samping mereka.
"Ya sampai mereka bosan." Regan terkekeh dan dia menatap ke arah yang sama. Di mana Daryl tengah bersenda gurau sambil mengusap-usap perut Nania. Atau sesekali menciuminya tanpa peduli mereka ada di mana.
"Perasaan dari tadi gitu terus? Kayaknya nggak bosan-bosan deh?"
"Memang, hahaha."
"Om setiap hari lihat beginian ya? Apa nggak kesel?" Lalu Anandita beralih menatap wajah Regan.
"Bagaimana mau kesal? Itu kan sudah resiko pekerjaan. Mau tidak mau ya dijalani saja."
"Hmm … asisten yang baik." Anandita tertawa. "Om Der marah nggak soal kejadian semalam?" Lalu gadis itu meneruskan percakapan.
"Tidak, hanya berpesan saja."
"Pesannya apa?"
"Jangan macam-macam, apalagi sampai membuatmu hamil."
"Dih, mana ada?" Anandita menepuk lengan pria itu dengan keras. "Mau diban*ai papa ya?"
"Ya makanya, hahaha."
"Terus bilang apa lagi?"
"Hanya tanya saja apa aku serius atau tidak? Terus mengancam juga."
"Ngancam?"
Regan menganggukkan kepala.
"Ngancam apa?"
"Kalau aku berani menyakitimu, maka Pak Daryl akan menghancurkan hidupku."
"Duh, serem amat?"
"Memang."
"Terus, rencana Om setelah ini apa?"
"Tidak ada."
"Kok nggak ada?"
"Ya seperti rencana awal, kita tunggu sampai kamu lulus dulu."
Anandita mengerucutkan mulutnya.
"Setidaknya aku tau harus bagaimana dulu," lanjut Regan yang sedikit menyeringai.
"Tau soal apa?"
"Soal bagaimana menaklukan singanya Nikolai, eh papamu maksudnya."
__ADS_1
"Hah?"
"Itu kata Om mu, lho. Bukan aku. Tapi benar juga sih apa yang Pak Daryl bilang. Dari sejarahnya saja, tidak ada yang bisa menyaingi kegarangan papamu dalam hal apa pun. Bahkan Pak Galang pun tidak. Ahahaha."
"Yeee, mana ada? Mereka beda karakter lah. Nggak bisa disamain. Tapi diseganinya tetep sama kok. Mana ada yang berani sama orang kedua di Nikolai Grup?"
"Iyalah, kekuasaan itu hanya ada di genggaman tangan. Kamu bisa memerintahkan apa pun dengan mudah bahkan menggerakkan setengah dari perekonomian dunia dalam sekali jentikkan jari."
"Keren ya?" Anandita menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.
"Memang. Dan sepertinya bukan hal yang mudah untuk memantaskan diri di depan papamu." Regan dengan nyalinya yang sedikit menciut jika mengingat hal itu.
"CK! Kok gitu sih ngomongnya?" Anandita menyentuh pundak Regan untuk memberikan semangat kepadanya. "Kayaknya nggak harus jadi orang nomer dua di Nikolai Grup untuk dapat restunya papa."
"Semoga begitu." Pria itu menoleh dan yang dia dapati adalah senyum Anandita.
"Ya iyalah. Kalau semua orang harus jadi asistennya direktur Nikolai terus siapa yang ngurus hal lainnya?"
Regan pun tersenyum mendengar perkataannya yang sedikit lebih dewasa dari usianya.
"Berapa umurmu sebenarnya?" Lalu dia mencondongkan tubuh ke arah gadis itu.
"Bulan depan lapan belas."
"Benarkah?"
"Ya. Om mau ngasih aku kado apa?"
Regan terdiam sebentar.
"Nggak usah yang susah-susah kok."
"Apa yang kamu mau?"
"Tapi mungkin aku tidak akan bisa memberikan semuanya."
"Ya nggak apa-apa. Satu juga boleh."
"Mungkin tidak semewah yang papamu berikan? Atau sebaik yang mommy mu hadiahkan."
"Udah dibilangin nggak apa-apa kok."
"Umm … baiklah, mungkin nanti aku akan mencari yang istimewa untukmu."
Anandita menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Hey kalian!" Lalu sesuatu seperti membentur kepalanya sehingga Regan menarik diri kemudian menoleh ke arah belakang di mana Daryl berada.
"Jangan macam-macam! Kau sudah bosan hidup ya?" ucap pria itu yang kembali melemparkan sebuah cup ke arah bawahannya.
"Maaf Pak?" Sedangkan Regan mengerutkan dahi.
"Mesra-mesraan di depan umum lagi? Kau tidak takut ada mata-matanya Om Arfan mengawasi ya?"
"Hum?" Sang bawahan menatap ke sekeliling area di mana orang-orang semakin ramai berlalu lalang. Tetapi kemudian dia ingat bahwa hal itu tidak akan terjadi tanpa sepengetahuannya karena koneksinya dengan Piere yang begitu baik.
"Tidak mungkin, Pak." Lalu Regan tertawa.
"Percaya diri sekali kau ini?"
__ADS_1
"Oh jelas, kalau itu terjadi saya pasti akan tau."
"Masa?" Nania ikut berbicara.
"Tentu saja, karena …." Tetapi Regan memotong kalimatnya ketika dia ingat bahwa hal itu merupakan rahasianya.
"Apa?"
"Umm … saya pasti mengenali jika ada agen Nikolai Grup atau Sanjaya Corp yang sedang bertugas." Katanya, mencoba untuk masuk akal.
"Benarkah?" Daryl tampak memicingkan mata.
"Tentu saja. Kami ini kan terkoneksi antara satu sama lain. Jadi saya pasti tau."
"Hmmm …." Daryl menggumam sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lalu, apa kita akan tetap di sini? Sebentar lagi petang, Pak." Regan menatap jam tangannya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja tidak. Memangnya aku tidak punya kerjaan ya? Libur lama-lama bisa membuat perusahaan ibuku bangkrut." Daryl pun bangkit dari tempat duduknya. "Ayo baby, kita pulang dulu ke tempatnya abah. Setelah itu pulang ke Jakarta ya?"
"Dih, cuma segitu aja kita jalan-jalannya?" Anandita menyahut dari belakang.
"Memangnya kamu mau apa? Kan pacarannya sudah. Kalau belum sah jangan lama-lama, nanti dosamu banyak." Daryl menarik tangan Nania yang terulur kepadanya.
"Dih, ngomongin dosa?" Nania tertawa terbahak-bahak.
"Memang benar, kan? Orang pacaran itu malah menambah dosa." Daryl pun menjawab sekenanya.
"Ya apa kek. Belanja gitu?"
"Alah, di Jakarta juga kerjaanmu belanja terus. Jadi untuk apa di Bandung juga harus belanja? Kalau mau beli lewat online saja yang tidak merepotkan. Benar kan, Sayang?" Pria itu merangkul pundak Nania kemudian menariknya untuk beranjak dari sana.
"Iyalah, iya." Nania pun menjawab sambil tertawa lagi.
"Ah, kalian nggak asik. Apa serunya jalan-jalan tanpa belanja? Kayak masak sayur tanpa garam." Sementara Anandita menggerutu meski dia pun akhirnya bangkit mengikuti langkah sang paman.
"Ya kalau mau minta belanja saja pada Regan. Dia kan pacarmu?" Daryl menjawab asal membuat Nania tertawa lagi.
"Memangnya kamu mau belanja apa? Pakaian? Di Jakarta juga banyak. Tinggal ke FSH saja." Dan orang yang dimaksud pun menyahut.
"Ya apa kek. Kalau beli yang ada di Bandung tuh feel nya beda." Mereka mengikuti langkah Daryl dan Nania yang menuju ke tempat parkir mobil.
"Semua barang beli di mana saja sama, Ann."
"Ah, Om nggak ngerti!"
"Nanti saja lah kalau waktu liburannya lama. Ini kan sudah sore, lagipula kita harus pulang ke Jakarta."
"Ya kenapa liburannya mepet segala?" Gadis itu terus saja mengoceh karena merasa kesal.
"Namanya juga dadakan."
"Lain kali direncanain dong. Biar seru gitu."
"Memangnya ini tidak seru ya?" Tiba-tiba saja Regan meraih tangannya untuk dia genggam, dan itu membuat Anandita berhenti berbicara. "Padahal aku merasa senang karena bisa seperti ini. Kalau di Jakarta mana bisa?" Lalu di menggandengnya berjalan ke arah yang sama seperti Daryl dan Nania, sementara gadis itu terdiam sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tetapi pipinya tampak merona ketika merasakan kehangatan yang menggenggam tangannya.
💞
💞
__ADS_1
💞
Bersambung ...