The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Izin Daryl


__ADS_3

💞


💞


"Terus kalau udah gini gimana?" Anandita menatap jendela kamar Daryl yang berada di lantai kedua rumah Lita, di mana lampunya masih menyala meski suasananya sudah sepi.


"Om! Ngomong dong, jangan diem aja!" Lalu gadis itu menepuk bahu Regan dengan kepalan tangan.


"Aw!" Dan rasa sakit tentu saja dia rasakan karena tepukan itu cukup kencang, membuatnya mengusap bahunya sendiri.


"Om!" Anandita sedikit berteriak.


"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kan kamu sendiri yang mau."


"Hah?"


"Bukankah kamu mau kalau hubungan kita ini diketahui orang-orang? Agar lebih leluasa dan …."


"Tapi bukan begini caranya, apalagi kalau Om Der yang tau lebih dulu. Bisa kacau urusannya!" Anandita menutup mulut pria itu dengan tangannya. "Lagian kenapa juga kita pakai cium-ciuman segala sih? Kan begini jadinya."


"Lho? Bukannya kamu yang mulai? Kamu kan yang peluk aku duluan? Terus diam saja lagi waktu aku cium? Tapi sekarang mau menyalahkan aku?" Regan menunjuk wajahnya sendiri.


"Umm … bukan mau nyalahin maksudnya, cuma …."


"Kamu aneh. Sudah aku bilang untuk tidak terang-terangan seperti ini tapi tetap saja nekat. Tapi giliran Pak Daryl memergoki kita kamunya malah ketakutan."


"Ya siapa yang nggak takut? Orang yang nemuin kita Om Der. Tau sendiri gimana dia kalau ngomong. Apalagi kalau sampai ngadu ke papa."


"Bukankah itu yang kamu mau?"


"Tapi bukan begini caranya. Aku maunya Om yang ngomong ke papa, bukanya tau dari orang lain." Anandita misuh-misuh.


"Ya sudah, masa aku harus mengetuk pintu kamarnya Pak Daryl untuk menjelaskan masalah ini? Rasanya akan aneh sekali, bagaimana kalau misalnya mereka sedang …." Regan menggantung kata-katanya.


"Apaan?"


"Tidak, hanya saja rasanya tidak enak. Sudah malam pula." Pria itu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Ya apa kek. Kirim pesan atau apalah."


"Tidak." Regan melenggang ke arah pintu, tetapi Anandita segera menarik tangannya.


"Om jangan gitu deh, masa …."


"Ann? Sedang apa kalian? Kenapa tidak masuk? Ini sudah malam." Lita muncul dari dalam ketika mendengar suara orang berbicara di teras rumahnya. Lalu dia menemukan sang cicit bersama dengan Regan tengah berpegangan tangan.


"Umm … iya, Uyut. Ini juga mau." Yang membuat Anandita segera melepaskan genggaman tangannya kemudian segera berlari ke dalam rumah.


"Ada apa, Regan? Ann berulah?" Perempuan itu bertanya.


"Eee … tidak, Bu. Hanya bicara saja."


"Benarkah?" Lita menatap curiga.


"Iya, Bu."


"Baiklah. Kenapa kamu masih berdiri di sana? Udara semakin dingin, jadi cepatlah masuk!" ujar perempuan itu yang melebarkan pintu sehingga Regan pun bisa segera masuk.


***


Daryl menutup pintu rapat-rapat begitu dia tiba di kamarnya, lalu tertegun untuk beberapa saat.


"Kamu kenapa?" Dan hal itu membuat Nania yang baru saja berganti pakaian terkejut.


"Umm …." Pria itu kemudian bergegas naik ke tempat tidur di mana istrinya berada.


"Kayak habis lihat hantu? Ada apa?" tanya Nania lagi yang cepat-cepat bergeser ke dekatnya.


"Ann dan Regan pacaran." Lalu dia menjawab meski pandangannya tidak tertuju pada Nania.


"Apa?"


"Malyshka, ternyata Ann dan Regan pacaran!" ulangnya, seraya menoleh pada perempuan itu.


"An sama Regan pacaran?"


Daryl mengangguk.


"Siapa bilang?"


"Aku lihat sendiri tadi mereka di gazebo."

__ADS_1


"Hah?"


"Mereka berpelukan di gazebo, juga … umm … berciuman!"


"Apa?" Kedua bola mata Nania membulat sempurna.


"Aku serius. Mereka bermesraan di sana seperti yang sudah lama berhubungan, dan lagi …." Daryl menggantung kata-katanya. "Ternyata asistenku berpacaran dengan keponakanku!"


"Kamu yakin? Emangnya denger kalau mereka ngomong?"


"Dari caranya berpelukan sambil berciuman saja aku tahu kalau hubungan mereka bukan baru saja terjalin. Mungkin sudah cukup lama. Lagipula …." Pria itu terdiam lagi. "Pantas saja Ann ngotot ingin ikut kita, rupanya dia mau berduaan dengan Regan! Ahahaha!" Lalu dia tertawa.


"Masa? Beneran?" Namun Nania masih belum percaya sepenuhnya.


"Ya, sekarang aku mengerti kenapa Ann sebegitu ngototnya ingin ikut. Dia bahkan sampai berani menyindir ayahnya sendiri soal Arkhan. Ya, semuanya masuk akal sekarang." Daryl mengangguk-anggukkan kepala setelah mengingat banyak hal yang terjadi, yang berhubungan dengan Regan dan Anandita.


"Masa iya Ann pacaran sama Regan?" Nania tetap tidak percaya, namun Daryl hanya tertawa.


"Asistenku pacaran dengan keponakanku. Bukankah itu luar biasa? Ann dua langkah lebih maju daripada Om Arfan! Ahahaha!"


"Terus gimana kalau benar?"


"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Mereka sudah dewasa dan Ann memang sudah ada di masanya. Jadi, biarkan saja lah."


"Serius?"


"Ya, tentu saja." Daryl terus tertawa mengingat adegan yang baru saja dia lihat di bawah tadi meskipun setengah tidak percaya. Dan tiba-tiba saja dia memeluk Nania dengan gemas. "Keponakanku sudah dewasa rupanya. Hahaha."


"Dih?"


"Lucu sekali kalau kamu lihat wajah mereka tadi. Terkejut, ketakutan dan mungkin juga malu." Pria itu tergelak.


"Terus habis itu ngapain?"


"Tidak tau, aku kan langsung kembali ke sini setelah mendapatkan hapeku. Mana mau terus melihat mereka lagi? Malu lah."


"Hmmm … bisa malu juga rupanya?" Nania menggumam pelan namun masih bisa Daryl dengar dengan jelas.


"Bisa lah, aku ini kan manusia."


"Masa? Aku pikir buyutnya Eragon."


"Lepasin lah! Kamu bikin aku sesak, Bapak Dragon!"


"Tidak mau, aku gemas!"


"Mereka yang mesra-mesraan kok malah kamu yang gemes?"


"Tentu saja, aku juga mau begitu."


"Hah?"


"Ayo kita mesra-mesraan seperti Ann dan Regan? Tapi ini lebih."


"Nggak mau, soalnya aku ngantuk. Lagian Nanti Eragon suka baper." Nania sempat menolak.


"Tidak apa, dia kan memang suka begitu." Daryl menarik Nania dan mulai mencumbunya. Dan walaupun perempuan itu sempat menolak tetapi akhirnya dia berhasil juga membawanya mengarungi samudera kenikmatan meski harus sedikit menahan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kabut masih menyelimuti area pertanian di sekitar kediaman Hari dan Lita. Meski matahari sudah menampakkan diri, namun suasana masih tetap terasa dingin di bukit pinggiran kota Bandung tersebut.


"Ann, kamu mau ikut jogging tidak?" Regan mengirimkan pesan kepada Anandita setelah dirinya berada di halaman rumah, dan gadis itu tampak segera membalasnya.


"Nggak mau ah."


"Kenapa? Dingin? Ini segar tau."


"Bukan."


"Terus kenapa?"


"Takut ketemu sama Om Der."


Regan menoleh ke belakang ketika mendengar pintu utama dibuka dan sosok Daryl lah yang muncul. Dia sedikit terkesiap sehingga segera saja memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket kemudian berpura-pura merenggangkan tubuhnya.


"Kau mau jogging juga?" Daryl duduk di kursi kemudian mengenakan sepatu olahraganya.


"Ya, Pak. Udaranya sangat segar." Regan pun bersiap.


"Baiklah, kita lari sama-sama. Ada yang mau aku bicarakan denganmu." Pria itu bangkit setelah selesai mengenakan sepatunya, dan tentu saja Regan tak bisa menghindar meski sebenarnya dia ingin sekali. Yang dilakukannya saat ini hanyalah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan yang paling buruk.

__ADS_1


Memangnya apa lagi? Atasannya akan memberikan selamat karena dia memacari keponakannya? Tentu saja tidak mungkin!


"Ayo cepat! Aku harus membuat perhitungan denganmu." Dan Daryl menepuk pundak sang asisten kemudian menariknya menjauhi rumah tersebut.


"Malyshkaaa! Aku pergi." Dan sebelumnya berteriak ke arah kamarnya di lantai dua di mana dia meninggalkan Nania yang masih meringkuk di bawah selimut.


"Jadi, sudah berapa lama?" Percakapan yang sudah Regan perkirakan itu pun segera dimulai saat mereka memasuki kawasan hutan Pinus di bawah perkebunan.


"Umm … maksud Bapak, apa?" Dia sedikit ragu.


"Jangan banyak basa-basi, kau tau apa maksudku." Dua pria itu berjalan santai di jalan setapak yang masih berkabut.


"Eee … soal Anandita, saya …."


"Aku tanya sudah berapa lama kalian pacaran? Masa begitu saja kau tidak bisa menjawab?" Daryl pun mengeraskan suaranya sehingga sang asisten tampak sedikit terkejut.


"Macam tidak kenal aku saja kau ini? Memangnya kapan aku basa-basi? Berapa lama kau kenal aku?" lanjut sang atasan yang kemudian memberinya kesempatan untuk berbicara.


"Umm … maaf, Pak kalau saya sudah lancang. Tapi jujur, saya dan Ann memang …."


"Ahahahaha." Lalu Daryl tertawa dengan keras sambil menepuk belakang kepalanya. "Sudah kuduga. Dasar kau ini!"


"Eee … Pak?"


"Berani juga kau mencuri hati keponakanku ya? Kau tidak takut dengan Arfan Sanjaya? Dia tidak akan segan-segan menghajar siapa pun yang berani berbuat begitu pada anak gadisnya!"


Regan berhenti sebentar.


"Seandainya Om Arfan tau, maka habislah kau, Regan!" Daryl dengan suara yang sedikit mengancam membuat sang asisten semakin terdiam.


"Kenapa? Kau takut? Aneh sekali." Daryl tertawa lagi sambil menggelengkan kepala. "Seorang lelaki penakut tidak pantas jadi jodohnya keluarga Nikolai, apalagi anaknya Arfan Sanjaya. Bisa habis kau dihajarnya jika begitu."


"Saya tidak takut, Pak. Hanya sedikit menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Setidaknya sampai Ann lulus sekolah, lalu setelah itu saya pasti akan menghadap Pak Arfan untuk meminta izin." Dengan segala keberaniannya Regan menatap wajah Daryl.


"Benarkah? Yang kau hadapi itu Arfan Sanjaya, Regan. Bahkan setan pun takut kepadanya apalagi kalau dia sudah marah. Dan yang kau goda adalah anak gadis kesayangannya yang paling mirip dengan kakak ku."


"Itu tidak masalah, karena Arfan Sanjaya pun masih manusia sama seperti kita. Yang membedakannya adalah dia seorang menantu Nikolai yang paling diandalkan Pak Satria."


"Wah wah, kau berani sekali!" Daryl tertawa lagi setelah mendengar ucapan asistennya tersebut. "Dan kau siap menerima konsekuensinya jika mendekati Ann?" Lalu dia bertanya.


"Apa konsekuensinya? Dipecat dari Nikolai Grup? Kalau itu bisa membuat saya memiliki Ann secara benar kenapa tidak? Saya bisa melakukan apa pun untuk perempuan yang saya cintai walau itu sulit sekalipun."


"Serius?"


"Serius, Pak."


"Jauh sekali pikiranmu. Masa aku akan memecatmu gara-gara kau memacari keponakanku? Memangnya di mana lagi aku bisa menemukan orang sepertimu?"


Perubahan pada raut wajah Regan yang awalnya tampak gentar pun terlihat. Dia mengerutkan dahi tetapi perasaannya mulai lega.


"Bapak merestui saya dengan Ann?" Lalu dia bertanya.


"Merestui? Memangnya aku ini ayahnya? Tentu saja tidak."


"Lalu maksudnya?"


"Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Selagi itu baik, maka aku akan mendukungmu." Daryl mengucapkan kalimat itu dengan jelas.


"Pak?"


"Tapi awas saja kalau kau menyakiti keponakanku. Kau patahkan hatinya, maka akan aku hancurkan hidupmu!" Pria itu mengancam tetapi membuat lengkungan senyum di bibir Regan perlahan muncul.


"Lanjutkan sajalah, terserah padamu. Hanya kuatkan saja dirimu untuk menghadapi ayahnya sang singa Nikolai itu. Aku beritahu saja ya, Arfan Sanjaya bukan tipe orang yang mudah ditaklukan kecuali oleh Kak Dygta. Jadi saranku, dekati dulu kakak ku kalau kau mau berhasil." Dia menepuk pundak Regan kemudian mulai berlari kecil mendahului sang asisten.


"Tapi, Pak. Bagaimana soal semalam waktu …."


"Rahasiamu aman di tanganku. Asal tidak ada agen yang mengawasi kalian, maka semuanya oke saja." Daryl terus berlari menjauh meninggalkan Regan di tempatnya berdiri.


"Jadi tidak apa-apa, Pak?" Kemudian dia mengejar atasannya yang hampir menghilang ditelan kabut pagi ke dalam hutan.


"Tidak apa, asal jangan sampai hamil saja. Kalau tidak, aku sunat lagi kau nanti!" teriak Daryl yang kemudian tertawa terbahak-bahak.


💞


💞


💞


Bersambung ....


aseekkk udah dapat dukungan dari Om Der nih. gass, Om!!! tinggal selangkah lagi.😁😁

__ADS_1


__ADS_2