
🍂
🍂
"Kamu sih, kenapa buru-buru? Salah pakai sepatu kan jadinya?" Dygta menyodorkan handuk kecil kepada Anandita yang sedang merendam kakinya di dalam air hangat.
"Ya habisnya Papa yang buru-buru." Gadis itu menjawab.
"Mungkin nanti lebih baik dikompres dingin saja, Bu?" Regan yang masih berada di sana pun menyela.
"Ya, setelah ini."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi?" Pria itu melirik ke arah Anandita yang masih merendam kakinya.
"Ya, Regan. Terimakasih." Dan Dygta menganggukkan kepala. Dia kemudian mengantar kepergian asisten dari adik laki-lakinya itu hingga ke teras ketika di saat yang bersamaan Arfan dan Asha muncul dari bawah.
"Oh, kalian sudah sampai?" Arfan berhenti di tengah-tengah tangga.
"Baru saja, Pak." Regan menjawab.
"Hmm … baiklah. Terima kasih." ucap Arfan yang melenggang ke dalam villa sedangkan Regan pun meneruskan langkahnya pergi dari tempat itu.
"Kaki Ann lecet, Sayang." Dygta mengikuti suami dan anak bungsunya.
"Lecet kenapa?" Arfan memutar tubuh.
"Ya gara-gara jalan cepat lah, mana jauh lagi?" Anandita menyahut dari ruang tengah.
"Lho? Kenapa cepat-cepat? Kan bisa santai? Itulah mengapa Papa meninggalkanmu bersama Regan. Papa tahu kamu tidak bisa diajak buru-buru."
Anandita memutar bola matanya, apalagi setelah melihat adik perempuannya yang berada di belakang sang ayah.
"Habis direndam pakaikan salep, Sayang." ucap pria itu kepada Dygta, yang kemudian melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Sementara Asha memilih untuk duduk di ruang tengah tak jauh dari sang Kakak.
"Kenapa lagi kamu sampai nangis-nangis nggak karuan?" Anandita menanyai Asha yang tampak baru selesai dengan tangisannya.
"Kak Arkhan tadi pakai kaos kaki aku."
"Apa?"
"Mana nggak izin lagi tahu-tahu langsung dipake aja."
"Cuma gara-gara kaos kaki doang bisa bikin kamu ngamuk? Yang bener aja!"
"Itu kaos kaki favorit aku, Kak."
"Bercanda ya? Kaos kaki kita banyak, dengan ukuran dan warna macam-macam. Kamu tinggal pilih mau yang mana aja bebas. Hilang tinggal beli lagi, di mana aja banyak yang jualan."
"Tapi cuma itu yang aku suka. Yang lainnya nggak enak dipake."
"Ngadi-ngadi! Semua kaos kaki sama aja. Fungsinya buat lindungi kaki kita."
"Kakak nggak ngerti sih."
"Ya emang nggak bisa dimengerti. Kamu tuh kadang-kadsng suka aneh. Barang apa aja bisa bikin ngamuk. Bikin jengkel!"
"Mending kalau nggak nyusahin orang, ini semua orang dibikin kelimpungan sama kelakuan kamu, tahu nggak?"
Asha terdiam.
"Nggak ngerti deh. Umur udah 17 tahun tapi kelakuan kayak bocah dua tahun. Mau sampai kapan kayak gitu terus?" Anandita terus mengomel.
"Kakak kayak yang udah dewasa aja ngomongnya?" Sang adik menjawab.
"Tapi nggak kayak bocah juga. Mendingan mana?" Anandita membalikkan jawaban Asha.
__ADS_1
Remaja 17 tahun itu mengerucutkan mulutnya.
"Kamu pikir kamu lucu dengan bersikap kayak gitu? Aku lihatnya malah aneh."
"Kakak ih, tega ngomongnya gitu sama aku?"
"Bukannya tega, tapi jujur."
"Kakak terlalu jujur."
"Emang gitu kenyataannya kok. Segede gini masih aja kolokan?" Anandita menatap adiknya dari atas ke bawah.
"Mending kalau kolokannya normal? Lah ini bikin orang gedeg? Gimana kalau misalnya Papa lagi ada kerjaan di luar kota terus nggak bisa cepet-cepet pulang? Mau gitu terus? Nangis terus gitu sampai Papa balik?"
Asha terdiam lagi.
"Kamu pikir kamu lucu?"
"Udah, Kakak!"
"Apa? Mau nangis lagi? Nangis yang kenceng!"
Asha mulai terisak.
"Ann, apa sih? Baru Asha berhenti menangis masa mau kamu buat menangis lagi?" Arfan kembali setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Hah, Papa terlalu manjain Asha, jadinya dia begitu." Tanpa rasa segan Anandita menjawab ucapan ayahnya.
"Siapa bilang? Kamu ngaco." Pria itu duduk di tengah antara kedua putrinya.
"Kak Ann nya dari tadi ngomel-ngomel terus, Pah." adu Asha kepada sang ayah, sementara Anandita mencebikkan mulutnya.
"Tidak usah didengar." Arfan menjawab aduannya.
Pria itu tertawa.
"Pokoknya nanti Papa harus ambil kaos kaki aku di Kak Arkhan. Kalau itu diambil besok aku mau pakai yang mana?" Topik pembicaraan kembali pada masalah semula yang membuatnya menangis.
"Pakai yang lain saja, Sha. Kan banyak."
"Nggak mau, Pah. Aku maunya yang itu."
"Nanti kita beli saja yang warna nya sama ya?" tawar Arfan kepadanya.
"Nggak mau, rasanya beda."
"Astaga, itu hanya kaos kaki!" Anandita ikut berbicara.
"Tapi kaos kakinya favorit aku."
"Hah, aku pikir cuma makanan aja yang jadi favorit kamu. Tahunya ada yang lainnya?" Anandita memutar bola matanya.
"Udah aku bilang ini beda."
"Bedanya apa sih? Sama-sama kain untuk membungkus kaki."
"Beda, Kakak!"
"Iya, bedanya apa? Itu dikasih sama pacar ya?" Anandita menunjuk wajah adiknya.
"Apa?" Dan hal tersebut membuat Arfan bereaksi.
"Nggak, ih! Bukan dari pacar!"
"Lah, terus kalau bukan dari pacar kenapa kamu sewot begitu kaos kakinya dipakai Arkhan?"
__ADS_1
"Ya … soalnya …."
"Kalau begitu pasti dari gebetan!" ucap Anandita lagi.
"Benar, Asha?" Yang membuat Arfan kembali bereaksi.
"Nggak ih, Papa. Kak Ann ngaco!"
"Kayaknya ita, soalnya ngotot banget itu nggak boleh dipakai sama orang lain."
"Nggak!"
"Asha!" Arfan berseru setelah menyimak percakapan kedua putrinya.
"Nggak, Pah. Kak Ann itu ngasal!"
"Aku serius." Anandita bangkit kemudian mengeluarkan kakinya dari air hangat. Lalu mengeringkannya dengan handuk yang diserahkan Dygta beberapa saat yang lalu.
"Kakak bohong."
"Nggak, kan kamu biasanya begitu. Hahaha." Lalu dia berlari ke arah tangga ketika adiknya kembali merajuk dan sang ayah yang bersiap menangani amukannya.
***
"Dari mana saja kau?" Daryl memyambut Regan yang baru saja tiba di area berkumpul.
"Saya … dari tebing, Pak." Sang asisten menjawab.
"Kenapa tidak memberi tahu? Aku menunggumu sejak tadi."
"Tadi pagi saya mengirim pesan, Pak."
"Mana? Tidak ada pesan darimu yang masuk." Daryl mengeluarkan ponselnya, begitu juga Regan.
Mereka memeriksa ponsel masing-masing dan Regan tertegun saat menemukan jika chatnya untuk Daryl memang tidak dia kirim.
"Astaga!" Pria itu bergumam. "Tidak saya kirim, Pak. Maaf." katanya kepada sang atasan.
"Dasar kau ini?"
Regan mengagumkan mulutnya rapat-rapat.
"Bersiap-siap sekarang, aku mau pulang." ucap Daryl kemudian.
"Pulang?" Regan membeo.
"Ya. Besok sudah bekerja lagi dan aku tidak mau bolos karena kelelahan di perjalanan. Jadi sebaiknya kita pulang sekarang saja." jelas Daryl.
"Yang lainnya?"
"Yang lainnya siapa maksudmu? Aku tidak peduli, mungkin mereka masih akan tetap di sini. Tapi aku harus pulang karena Fia's Secret tidak mungkin berjalan sendiri." Daryl dengan nada ketus.
"Umm … baik Pak. Saya bersiap dulu."
"Hmm …." Daryl hanya menjawab dengan gumaman.
Aku pulang. Dan Regan segera mengupload status di aplikasi chat nya.
🍂
🍂
🍂
Bersambung ...
__ADS_1