The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Pengawasan


__ADS_3

💕


💕


"Hah, benar kan apa yang aku bilang?" Arfan menatap ponselnya yang tersambung pada jaringan CCTV di kediamannya. Kemudian dia tunjukkan kepada Dygta.


"Apa?"


"Regan antar Ann pulang lagi." Pria itu memperbesar tampilan pada layarnya.


"Terus masalahnya di mana?"


"Kamu tanya masalahnya di mana? Beberapa kali dia mengantarkan putri kita pulang, dan kamu tanya masalahnya di mana? Tentu saja ini masalah untukku." ucap Arfan dengan nada kesal.


"Bukankah itu biasa? Kenapa kamu bersikap berlebihan?" Dygta menjawab.


"Berlebihan katamu?"


"Ya. Dia asistennya Daryl dan memang terkadang begitu kan? Sudahlah. Mengantar keponakan bosnya bukan tindakan kriminal." Perempuan itu berkata dengan entengnya.


"Memang bukan tindakan kriminal, tapi mereka semakin sering saja bersama."


"Memangnya kenapa? Takut Ann jatuh cinta kepada Regan? Itu masalah?"


Arfan terdiam dengan kening berkerut.


"Aku tidak berpikir seperti itu, hanya saja …." Dia tampak berpikir. "Tapi bagaimana kalau iya?" Dan raut wajahnya tampak bertanya-tanya.


"Bagaimana kalau Ann menyukainya? Kamu tahu, beberapa kali aku menemukan sikapnya agak lain akhir-akhir ini, apalagi kalau dia sudah bertemu Regan."


"Ya lalu?"


"Bagaimana kalau iya?"


"Itu bagus."


"Bagus?" Kening pria itu semakin berkerut sehingga alisnya tampak bertautan.


"Ya. Itu artinya putri kita normal. Dia mengalami perkembangan yang sesuai dengan usianya. Dan yang penting dia menyukai lawan jenis. Aku agak ngeri dengan kelakuan anak zaman sekarang." Dygta sedikit tertawa.


"Tapi …."


"Ah, sudahlah. Tidak usah dipermasalahkan. Memang ada larangannya l? Aku sendiri kesal kalau di usia segitu didikte harus bagaimana."


"Apa?"


"Dan tidak usah mempermasalahkan soal usia jika itu maksudmu. Tidak ingat kita bagaimana?"


"Apa hubungannya dengan itu?" Arfan mendelik.


"Ya siapa tahu kamu mempermasalahkannya karena Regan lebih tua dari Ann."


Pria itu terdiam sambil bersedekap.

__ADS_1


"Ann bukan aku yang akan dengan mudah menuruti aturan. Tapi dia punya sikapmu yang keras kepala, jadi harus hati-hati dengannya. Kalau tidak, nanti dia akan menjauh karena merasa diperlakukan tidak adil."


"Tidak adil apa maksudmu? Apa selama ini aku memperlakukan anak-anak secara tidak adil?"


"Apa yang kita lakukan belum tentu diterima dengan baik oleh anak-anak meski maksud kita sama. Terkadang penerimaan mereka berbeda karena sesuai dengan sudut pandangnya sendiri. Jadi aku rasa, selama tidak menyimpang apalagi melanggar aturan kenapa tidak kita biarkan saja Ann dengan urusan pribadinya sendiri?"


Arfan terdiam lagi.


"Kita memberikan pilihan kepada Arkhan soal hobi dan sekolah. Dengan syarat tidak mengganggu proses pendidikannya. Tapi lihat? Hari ini saja kita mengizinkan dia ikut turnamen sehingga melewatkan sekolah di hari pertamanya. Sedangkan Ann? Begitu banyak syarat yang kamu ajukan agar dia tidak melanggar aturan. Kamu pikir bagaimana tanggapannya soal itu?"


Pria itu membuka mulutnya untuk menyanggah, tetapi Dygta melanjutkan ucapannya.


"Zamannya sudah berubah, Papa. Aku akan membiarkan anak-anak ku dengan pilihan dan urusan pribadi mereka masing-masing dan mendampingi proses apa pun itu. Ketimbang menentang dan membuat mereka menjauh."


"Aku tidak menentang, hanya saja …."


"Lagipula kamu selalu mengawasi mereka, dan Regan pun tahu. Maka, jika benar di antara mereka ada apa-apa, aku rasa dia tidak akan berani berbuat macam-macam, apalagi diluar batas jika itu yang kamu takutkan. Dia tahu reputasimu seperti apa. Memangnya siapa yang berani?"


Arfan memutar bola matanya.


"Hanya awasi saja seperti biasa. Dan jangan terlalu mencolok."


"Kamu menyukai anak itu, heh?" ucap Arfan kemudian. "Kamu selalu menyukai pria-pria yang mendekati anak-anak kita." Dia memicingkan mata.


"Ya karena aku kenal, juga tahu kalau mereka baik. Dan aku suka anak baik." Dygta menjawab sambil tertawa, kemudian merangkul pundak suaminya.


"Apa kamu tidak suka anak baik, hum?" tanya nya kemudian.


"Masa?"


"Lihat saja nanti."


"Kamu juga begitu?" Perempuan itu tertawa lagi, sementara Arfan hanya mendlik kesal.


"Hanya tetap awasi saja anak kitanya. Kalau Regan, aku tahu dia tidak akan gegabah. Mana berani? Baru mendengar namamu saja dia sudah ketar-ketir."


Lalu percakapan itu terjeda ketika terdengar teriakan kencang dari dalam ruangan terapi di mana mereka tengah mengobati Arkhan, yang mengalami kecelakaan di arena turnamen motor trail.


Kemudian suara putra mereka terdengar meraung-raung diiringi permohonan untuk berhenti.


"Dengar itu? Kamu pun memberikan kebebasan untuk Arkhan bahkan sampai dia mengalami kecelakaan seperti ini? Untung hanya terkilir dan tulang lutut dan sikutnya yang bergeser. Masa kepada Ann kamu begitu ketatnya mengekang dia?" Dygta berujar, sementara Arfan hanya terdiam.


"Aku tidak mengekang Ann," sanggah Arfan.


"Ya, benar." Dygta hanya tertawa sambil melipat kedua tangannya di dada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Om nggak bisa jemput aku?" Pesan masuk di ponsel kedua Regan saat pria itu baru selesai memeriksa kesiapan FSH yang harus itu akan menggelar acara besar sebuah majalah Fashion ternama.


"Memangnya kamu mau ke mana?" Dia mengirim balasan.


"Ke Rumah Baca."

__ADS_1


Regan terdiam. Dia baru ingat jika kegiatan di rumah baca juga sudah dimulai pada akhir pekan itu.


"Tidak datang sesekali tidak apa-apa, Ann. Karena sepertinya aku juga tidak bisa datang untuk menjemputmu." Dia kemudian melakukan panggilan telpon sambil sesekali mengawasi keadaan.


"Gimana kalau anak-anak nunggu?" Anandita menjawab.


"Tidak akan. Di sana kan ada relawan lain, pasti ada yang menggantikanmu."


"Jadinya kita nggak bisa ketemu dong? Padahal cuma sebentar aja, Om. Anterin aku doang." bujuk gadis itu, yang membuat Regan sedikit terkekeh.


"Iya, maaf. Aku lupa kalau hari ini sibuk di FSH." katanya.


"Om nggak bilang sih, kan aku bisa minta sopir untuk nggak libur hari ini. Udah keburu pergi deh orangnya?"


"Iya, maaf. Tidak usah pergi saja, anggap kamu sedang libur mengajar." Regan menoleh ketika ekor matanya menangkap bayangan yang bergerak mendekat. Dan Daryl lah yang muncul bersama Nania.


"Aku tutup dulu telponnya, oke? Pak Daryl sudah datang." Dia berujar.


"Nanti kerjanya sampai malam?" Sebelumnya Anandita bertanya.


"Sepertinya begitu."


"Arrggh!" Gadis itu terdengar menggeram.


"Nanti aku telpon lagi ya? Aku harus bekerja dulu." Pria itu hampir mengakhiri panggilan ketika di saat yang bersamaan Daryl dan Nania sudah ada di dekatnya.


"Sebentar, Om!" Anandita sedikit berteriak.


"Ya, ada lagi?" Regan berdeham, kemudian mengangguk kepada atasannya.


"Saranghae …." Lalu gadis itu tertawa sebelum akhirnya dia yang memutuskan panggilan. Membuat Regan mengatupkan mulut dengan pipinya yang sedikit merona.


"Ck!" Daryl terdengar berdecak.


"Tinggalkan dulu urusan pribadimu kalau sedang bekerja. Apalagi ini sedang ada event besar. Kau mau membuat kesalahan?" Pria itu berucap.


"Maaf, Pak. Itu hanya …."


"Sudah ada staff dari Style yang datang?" Lalu Daryl bertanya.


"Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi." Dan Regan menjawab sambil mengedarkan pandangan ke belakang sang atasan.


"Hmm … bagus sekali. Padahal aku sudah buru-buru." Daryl bergumam. "Ayo, Baby. Sebaiknya kita menunggu di atas saja." Daryl menarik Nania ke tempat yang dia sebutkan, dan meninggalkan Regan kembali pada pekerjaannya.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Ehmmm .... 🤭

__ADS_1


__ADS_2