The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Bazar Kampus


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Kau sudah mengirim lagi parfumnya?" Daryl mematikan laptop ketika pekerjaannya sudah selesai.


Waktu baru menunjukkan pukul dua siang tapi dia berhasil menyelesaikan beberapa hal dari apa yang dikerjakannya sejak pagi.


"Belum, Pak. Masih santai." Sementara Regan membereskan dokumen yang sudah selesai Daryl periksa.


"Kenapa?"


"Nania belum meminta. Mungkin belum ramai."


"Tapi stok di gudang aman, kan seandainya ada permintaan tiba-tiba?"


"Aman, Pak. Seandainya akhir pekan besok pembelian meningkat juga saya rasa kita punya ancang-ancang."


"Hari ini memang belum ramai ya?" Pria itu memeriksa ponselnya siapa tahu Nania mengirim pesan.


"Hari pertama, Pak. Mungkin belum semua pengunjung datang. Kegiatan kuliah masih berlangsung untuk sebagian mahasiswa, jadi kampus tidak membuka event secara besar-besaran. Tidak tahu nanti." Regan menjeda ucapannya saat ponsel miliknya berbunyi.


"Mahira." Dia segera menjawab panggilan.


"Maaf, Pak. Bisa kirim lagi parfumnya? Yang tadi Bapak kirim sisa dua puluh." Terdengar permintaan dari seberang.


"Apa?"


"Eh, lima belas lagi Pak."


"Mau dikirim berapa?"


"Nggak tahu. Kata Nania mungkin seratus lagi? Ini soalnya pas banget sama waktu keluarnya mahasiswa yang baru selesai kuliah." Gadis itu menjelaskan.


"Baik, sebentar saya kirim." Lalu Regan mengakhiri panggilan.


"Ada apa?" Daryl bertanya.


"Nania minta dikirim stok lagi."


"Duh? Dia jualan parfum apa kacang goreng? Cepat sekali minta tambahan stok? Baru saja kita membicarakannya."


"Untung stok kita banyak." Regan kemudian kembali melakukan panggilan telepon dan memerintahkan bawahannya untuk mengirimkan permintaan Nania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana bazar kampus pada hampir sore itu mulai ramai. Penyebabnya apa lagi kalau bukan bersamaannya dengan jam pulang, dan berakhirnya jam kuliah ditambah hari terakhir kegiatan formal di kampus.


"Udah, Nna. Sebentar lagi Pak Regan kirim parfumnya." Mahira memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Iya, bagus. Kira-kira yang ini bakal habis?" Sekumpulan mahasiswa senior kembali mendatangi stand Nania dan mereka segera melihat-lihat.


"Mungkin."


Nania menerima orang yang datang dengan ramah, dan kali ini dia tak merasa gugup sama sekali. Perempuan itu sepertinya sudah terbiasa berinteraksi kembali dengan orang asing.


"Iya Kak, yang varian itu udah abis, mungkin besok ada lagi. Atau, kalau Kakak mau nunggu sebentar lagi juga sampai." Nania menjawab permintaan pembeli yang menginginkan varian dari selain yang tersisa.


"Nggak bisa nunggu, akunya buru-buru." jawab gadis yang mungkin usianya beberapa tahun diatasnya.

__ADS_1


"Kalau mau besok Kakak bisa datang lagi." tawar Nania, dan dia berusaha untuk tetap menjalankan transaksi meski pembelinyanh satu itu tetap ragu.


"Ya udah, besok aku ke sini lagi. Tapi beneran ada ya?"


"Iya, Kak nanti aku pisahin. Dengan Kakak siapa, maaf? Biar aku simpan terus ditandain nanti."


Lalu gadis itu menyebutkan nama dan nomor ponselnya kepada Nania.


"Oke Kak. Ditunggu besok ya?"


Dan pengunjung lainnya pun berdatangan. Dari mulai mahasiswa dan orang lainnya diluar itu, yang sudah mengetahui perihal kegiatan tersebut sehingga suasana menjadi semakin ramai saja.


Tidak hanya Nania, pedagang di sisi kiri dan kanan pun sama ramainya seperti stand milik perempuan itu.


"Lu tahu, Mahen. Dia udah punya suami." Salah seorang dari temannya menginterupsi lamunan Mahendra yang tengah asyik menatap Nania.


Meski dari kejauhan, pria muda itu tetap bisa melihatnya sebagai manusia paling mencolok karena keramaian di stand miliknya.


"Iya gue tahu, terus kenapa?" Mahendra menjawab.


"Lu tanya kenapa? Lu kagak inget suaminya siapa? Nikolai, Hen."


"Terus?" Mahendra masih menatap ke arah perempuan itu.


"Lu kan tahu gimana orang-orang dari Nikolai kalau bertindak? Lu kagak bakalan selamat. Alamat diratain lu sekeluarga."


"Ahaha, lu lebay." Mahendra tertawa.


"Serius. Abang gue aja dulu kerja di hotel. Gara-gara bos nya gangguin istri entah Nikolai yang mana, hampir diratain tuh hotel. Untung nggak jadi, tapi malah dibeli hotelnya sehari aja setelah kejadian. Nah elu mau bikin dia beli harga diri semua anggota keluarga lu?"


Mahendra hanya menyeringai.


"Hen, sadar lu. Cewek yang udah lama ngejar-ngejar nggak lu gubris, giliran ada istri orang yang kelihatan bening aja lu tandain. Otak lu kalau geser jangan kebangetan lah."


"Gue ingetin lu, pea. Jangan karena nafsu lu bikin wibawa ketua BEM yang agung itu jadi rendah."


"Apaan lu bawa-bawa predikat ketua BEM segala, lu ngaco!"


"Ya karena kelakuan lu yang ngaco juga bakal ngerusak nama BEM."


"Lu kejauhan." Pria muda itu menyesap minuman dinginnya yang sudah berembun.


"Gue cuma takut lu kebeblasan, Mahen."


"Kagak bakalan."


"Yakin?"


"Ya. Gue cuma inget dia ngasih makanan waktu lagi MOS SMP." Mahendra kembali menatap Nania yang masih melayani pengunjung yang membeli barang dagangannya.


"Apaan?"


"Sekarang gue ingat di mana pernah ketemu sama orang kayak si kura-kura."


"Namanya Nania, pea! Dan ini bukan lagi OSPEk. Lu kagak boleh nyebut dia kura-kura lagi."


"Aturan dari mana itu? Serah gue lah."


"Ya jangan."

__ADS_1


Mahendra terdiam lagi.


"Dulu juga gue sebut dia kura-kura waktu MOS di SMP. Karena dia lambat dan nggak terlalu gesit kayak anak lainnya. Dia suka gugup kalau ada yang tanya atau nyuruh apa gitu."


"Namanya juga anak baru masuk SMP. Apalagi ketemu elu yang suka maki-maki, gimana nggak gugup?"


Mahendra tertawa.


"Ketawa aja lu."


"Serius, waktu itu dia lucu. Pas lagi makan gue lihatin aja, eh tahunya ngasih makanannya. Mungkin karena takut gue bentak."


"Hadeh, hobi banget bikin anak orang sawan? Lagian, kalau misalnya lu kenal dia, tapi kenapa dia kagak ngenalin lu?"


"Mungkin dia lupa. Waktu dia baru masuk, gue kan udah di kelas sembilan. Beluk sempat kenalan usah sibuk duluan sama urusan kelas akhir tahun."


"Oh iya, wajahnya nggak bisa lu lupain, tapi wajah lu yang mudah dilupain ya? Ahahaha." Dirga tertawa.


"Dah lah …." Mahendra pun kembali bangkit dari tempat duduknya.


"Kemana lu?" Dirga bertanya.


"Patroli." Mahendra menyahut.


"Patroli aja lu kayak polisi?"


"Biar bazarnya aman."


"Kan ada bagian keamanan, Hen?"


"Nggak apa-apa, biar gue kelihatan kerja."


"Kagak usah patroli, lu kan ketua BEM? Kerjaan lu udah jelas."


"Tapi gue pengen pantroli, gimana dong?" Pria itu melenggang ke arah stand-stand yang berjajar di lapangan tersebut.


"Ah, gue tahu bukan itu maksud sebenarnya." Dirga berjalan di belakangnya. "Tapi lu mau lihat si kura-kura."


"Itu lu tahu?"


"Nah kan?"


Mahendra tertawa.


"Permisi?" Namun suara bariton dari belakang menghentikan percakapan dua sahabat itu, yang ternyata adalah dua orang pria dengan stelan jas hitam.Β 


Satu pria cukup rapi dengan dasi dan rambut klimisnya, sementara pria satunya lagi malah terlihat lebih santai.


Rambut coklatnya bahkan tampak acak-acakan dan wajahnya sudah tampak memerah karena udara di bazar yang cukup panas.


"Nah lu, ada lakinya." Dirga berbisik kepada Mahendra yang tertegun di tempatnya berdiri, menatap Nania yang tersenyum ketika dua pria itu tiba di depannya yang tengah disibukkan dengan kegiatan dagangnya.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...

__ADS_1


Meet Kak MahenπŸ˜‚



__ADS_2