The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Anandita Love Story


__ADS_3

💕


💕


"Aku tanpamu bagai ambulance tanpa uwiw uwiwan." Story whats app Anandita menjadi hal pertama yang Regan buka, seperti biasa.


"Sepi, tahu." 


Lalu Regan terus melihat story lainnya yang pada siang itu memang cukup banyak.


"Aku tahu kamu sibuk, tapi tetep aja galau kalau nggak ada kamu."


"Saranghae." Dan emot love menjadi hal terakhir yang gadis itu upload beberapa detik yang lalu.


"Aarrggh! Kenapa gadis ini malah terus berulah? Dia tidak tahu apa semua masih dibawah pengawasan ayahnya? Bahaya, bahaya!" Akhirnya Regan tak tahan untuk melakukan panggilan. Meskipun gagal karena Anandita tidak menjawabnya.


Dia melihat jam tangan, dan rupanya sudah pukul 1, mungkin gadis itu sedang mengajar anak-anak.


"Tidak bisa ini, tidak bisa! Dia harus dihentikan!" katanya lagi yang mematikan ponselnya.


"Maaf, Pak?" Seorang staf datang menghampiri.


"Ya?" Dan segera pria itu respon dengan cepat.


"Sepatunya sudah datang, Pak." Dia menyerahkan bungkusan yang cukup besar.


"Oh ya? Cepat sekali?"


"Ya, kebetulan memang sedang ada, Pak."


"Bagus sekali. Terima kasih." katanya, seraya menerima benda tersebut dari bawahannya.


"Baik, Pak. Saya kembali bekerja?"


"Ya, silahkan." jawab Regan yang meletakkan bungkusan itu di meja yang terletak tak jauh darinya.


Namun kemudian dia bangkit lalu meraih kembali bungkusan berisi sepatu khusus itu ketika ingat kepada Anandita.


"Hey?" panggilnya kepada salah satu staf di dekatnya yang tengah merampungkan pekerjaan hari itu.


"Ya Pak?"


"Kau bisa memastikan semuanya selesai, kan? Aku harus pergi dulu sebentar." katanya.


"Saya, Pak?"


"Ya."


"Umm …."


"Aku harus mengantar ini untuk Pak Daryl." Dia lantas menunjukkan bungkusan itu kepada staf, lalu bersiap untuk pergi.


"Tidak lama, hanya dua jam. Pastikan semuanya selesai begitu aku kembali." Pria itu segera beranjak.


"Ba-baik, Pak." jawab staf yang terdiam untuk sejenak, sebelum akhirnya seorang rekannya mengingatkan untuk kembali bekerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Serius ini sama jumlahnya?" Yuna memeriksa kembali jumlah uang yang mereka terima dari Mahira.


"Iya kak. Itu yang dikasih sama Nania." Gadis itu menjawab.


"Nggak kegedean?" Dirga juga ikut melihat.


"Itu semua hasil penjualan parfum selama seminggu ini, Kak."


"Semua disumbangin?" Dirga bertanya lagi.


"Ya, seperti yang Kakak lihat."


"Nggak salah?"


"Kayaknya nggak deh, soalnya udah aku tanya juga sama Nania. Katanya, kalau untuk bantu sesama mahasiswa ya bagus juga. Semoga Kakak amanah."


"Hey, maksud kamu apa bilang semoga Kakak amanah? Kamu pikir kami ini akan mengambil keuntungan dari acara donasi?" Mahendra bereaksi setelah mendengar ucapan Mahira.


"Maksud aku semoga bermanfaat, Kak." Lalu gadis itu meralat ucapannya.


"Yang saya dengar bukan itu."


"Iya, Kak aku minta maaf." Mahira berusaha tenang.


"Sembarangan aja!" ucap Mahendra lagi sebelum akhirnya Yuna menghentikan dia.


"Kalau udah yakin bener, kami ucapkan terima kasih. Dan sampaikan juga sama Nania ucapan terima kasih kami ya? Ini sangat berguna buat temen-temen kita, dan akan kami pastikan donasi ini tersalurkan dengan tepat." ujar Yuna.


"Iya, Kak. Sama-sama."


"Terus, Nanianya mana? Kenapa dia nggak ke sini?" Dirga menanyakan keberadaan adik kelasnya yang satu itu.


"Lagi kurang enak badan, Kak. Jadi nggak bisa ke sini." 


"Ooo, begitu. Okelah."


"Baik, kalau udah selesai aku mohon pamit, Kak?" Lalu Mahira berpamitan.


"Kenapa? Orang-orang mau kumpul dulu. Apa kamu nggak mau ikut?" tanya Dirga sebelum gadis itu pergi.


"Nggak Kak, makasih. Akunya ada kerjaan." Mahira pun menjawab, dan dia segera pergi, di bawah tatapan Mahendra yang penuh selidik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Oke … pelajarannya cukup sampai di sini, kita ketemu lagi minggu depan. Jangan lupa kerjain tugasnya ya?" Anandita mengakhiri sesi belajar siang itu, dan anak-anak tersebut segera membereskan alat tulis mereka.


Setelah pembagian makanan dan bingkisan serta uang saku seperti biasa, mereka segera pulang dan tinggallah para relawan yang memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu sebelum pulang.


Mereka membicarakan beberapa rencana yang akan direalisasikan dalam beberapa minggu ke depan. Soal bakti sosial dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pendidikan gratis di Rumah Baca Nania.


"Ehm …." Namun diskusi tersebut terpaksa berhenti ketika Regan muncul secara tiba-tiba.


"Les nya sudah selesai, tapi mengapa kalian masih ada di sini?" Pria itu menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul dua lebih.


"Iya, Pak. Kami sedang berdiskusi." jawab Lisa yang segera memberikan respon.


"Diskusi soal apa?" Regan pun masuk ke dalam bangunan dan melihat keadaan di dalam sana. Tentu saja perhatiannya segera terkunci pada Anandita yang duduk di antara relawan lainnya.


"Soal bakti sosial, Pak." jawab Lisa lagi.


"Mau mengadakan bakti sosial?" tanya Regan yang sejenak beralih pada perempuan itu.

__ADS_1


"Iya."


"Nania sudah tahu?"


"Belum, Pak. Rencananya kami akan memberi tahu Nania kalau sudah fix …."


"Salah!" Regan berujar. "Seharusnya kalian melibatkan Nania sejak awal, bukannya malah merencanakannya sendiri. Walau bagaimanapun rumah baca ini kan milik Nania, dan kalian adalah relawan yang membantunya. Jadi, segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah baca ya harus sepengetahuan Nania juga."


"Kami rasa Nania akan setuju, Pak. Jadi …."


"Tentu saja Nania akan setuju. Tapi keberadaannya sebagai pemilik rumah baca juga harus dihargai. Setidaknya harus diberi tahu soal rencana ini."


"Umm …."


"Bukankah kalian punya grup whatsapp? Kenapa tidak menggunakan itu saja sebagai sarana untuk berdiskusi? Jadi semua orang akan tahu meski mereka tidak hadir."


"Menurut saya lebih baik jika bertemu langsung, Pak." Lisa menjawab lagi.


"Lalu bagaimana jika ada yang berhalangan dan tidak bisa hadir secara langsung? Apa mereka tidak dianggap keberadaannya?" tukas Regan.


"Tidak begitu, Pak. Maksud saya …."


"Lalu apa fungsinya whatsapp grup? Bukankah itu untuk mencakup semua orang meski tidak bisa bertemu? Saya rasa itu lebih efisien juga dan penghematan waktu."


Lisa tak menjawab lagi.


"Sudah, diskusinya dilanjutkan saja di grup, nanti malam saya yang buka chat." Regan mengakhiri percakapan.


"Baik, Pak." Lalu mereka membubarkan diri.


"Siapa yang menjemputmu pulang, Ann?" Regan mendekati Anandita yang tengah mengenakan sepatunya.


"Papa nyuruhnya nelpon aja kalau mau pulang. Nanti dikirim sopir." Gadis itu menjawab.


"Apa sudah menelpon?"


"Belum, baru mau. Tapi Om udah datang aja?" Anandita tersenyum lebar.


"Kalau begitu tidak usah, saya antar kamu pulang."


"Beneran?" Anandita dengan mata berbinar. "Emangnya Om nggak sibuk? Kan nanti malam pembukaan FSH Fashion Week?"


"Ini juga sekalian ke sana."


"Emangnya Om dari mana?"


"Dadi rumah Pak Daryl."


"Habis ngapain?"


"Antar sepatu."


"Ohh …."


"Kalau sudah pakai sepatunya, cepat kita pulang." Regan berjalan mendahuluinya.


"Udah, udah. Um …. Kita?" Anandita lantas mengejarnya. "Om mau anterin aku?"


"Ya, tadi kan saya bilang begitu." Pria itu membuka pintu penumpang.


"Kan jadinya muter lagi Om, kejauhan. Dari rumah aku ke FSH …."


Wajah Anandita sumringah, dan matanya berbinar bahagia mengetahui pria itu akan mengantarnya pulang meski jarak tempuhnya ke tempat bekerja menjadi dua kali lipat.


***


Suasana di dalam mobil masih hening. Tak ada yang berniat memulai percakapan meski pada kenyataannya mereka ingin mengatakan banyak hal.


Anandita menyibukkan diri dengan ponselnya, sementara Regan fokus pada lalu lintas. Namun setelah beberapa saat pria itu akhirnya tak tahan juga.


"Sebaiknya kamu berhenti, Ann." Regan menatap mobil-mobil yang berhenti ketika lampu lalu lintas berganti merah.


"Hum?" Anandita menoleh.


"Sebaiknya … kamu berhenti membuat story-story semacam itu. Kalau tidak …."


"Om lihat story aku?" Gadis itu menyahut. Meski sebenarnya dia mengetahui hal tersebut karena memang sengaja mengatur media sosialnya agar hanya Regan saja yang dapat melihat.


"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak?"


Anandita mengatupkan mulut untuk menahan tawa yang memaksa keluar.


"Bukannya saya kegeeran ya? Tapi Saya kok merasa tujuan kamu membuat story iti untuk saya?"


"Emang, heheh …." Anandita langsung menjawab, sementara Regan mendenguskan napasnya.


"Sengaja. Kan Om udah tahu perasaan aku, masa buat orang lain?" katanya lagi.


"Tapi tidak seharusnya begitu, Ann." ucap Regan yang kembali melajukan mobilnya saat kendaraan lain pun bergerak.


"Kenapa?"


"Bahaya."


"Bahaya kenapa?"


"Bagaimana kalau Pak Arfan atau Bu Dygta lihat? Itu akan menimbulkan kecurigaan."


"Nggak."


"Pasti."


"Nggak akan."


"Pasti, Ann."


"Nggak ih, kan udah aku privasi. Jadi cuma Om doang yang lihat. Eh …." Gadis itu menutup mulutnya.


"Apa?"


"Haih, keceplosan lagi ah!"


"Maksudmu?"


"Sw nya cuma Om yang bisa lihat, yang lain nggak."


Regan terdiam.


"Jadi aman. Ahahaha."

__ADS_1


Regan meniupkan napasnya di udara.


"Kenapa? Om kesel ya? Nggak apa-apa, kesel-kesel juga aku tetep cinta." gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya. 


Bisa-bisanya gue ngerayu om-om. Batinnya.


"Astaga!" Regan bergumam.


"Kan aku nggak minta Om untuk iyain. Tapi masa aku harus pendam sendiri perasaan aku sih? Capek Om."


"Tapi jangan begitu juga." jawab Regan dengan rasa frustasi.


"Kenapa?"


"Kamu berlebihan."


"Nggak ih."


"Serius. Nanti kalau Pak Arfan tahu bagaimana?"


"Nggak gimana-gimana. Biasa aja."


"Hah!"


Anandita terus tertawa melihat pria dewasa di balik kemudian itu nampak frustasi.


"Kamu tidak tahu, dan tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Kamu bahkan belum benar-benar memahami arti dari kata cinta itu sendiri." Regan membelokkan mobilnya ke arah jalan di mana kediaman Arfan Sanjaya berada.


"Ya udah, makanya ajarin."


"Apa?"


"Maksudnya Om ngerti sama paham sama apa yang aku bilang itu."


Regan kembali menghela napas.


"Yang aku tahu, aku punya perasaan. Dan perasaan itu untuk Om."


"Kamu baru mengalaminya, Ann."


"Terus salahnya di mana?"


"Tidak salah, hanya saja kamu belum seharusnya seperti ini."


"Kata siapa? Temen aku banyak yang udah pacaran."


"Itu beda."


"Lagi-lagi soal siapa orang tua aku ya?"


"Bukan."


"Terus?"


"Ya memang belum waktunya. Seharusnya anak seusia kalian ini ya sibuk belajar, mengejar cita-cita. Bukan malah cinta-cintaan."


Anandita terkekeh.


"Serius."


"Kalau misalnya belum boleh, Om mau nungguin aku nggak?"


"Hah?" Mobil hampir tiba di depan rumah.


"Om masih jomblo?"


"Umm … masih." Lalu Regan menghentikan mobilnya di pekarangan rumah.


"Jadi tunggu aku sampai udah waktunya pacaran."


"Memangnya kamu pikir saya punya perasaan yang sama sampai meminta hal seperti itu?"


"Emangnya nggak ya?"


Regan hanya menatapnya.


"Tapi mungkin lama-lama juga bakal." Gadis itu dengan kepercayaan dirinya, lalu dia tertawa lagi. "Om tungguin aku sampai dibolehin sama Papa ya? Habis itu nanti …."


"Saya ini lebih tua dari kamu, Ann." tukas pria itu.


"Terus?"


"Kamu juga akan menemukan orang yang lebih baik dari saya."


"Masa?"


Rasanya Regan kehilangan kata-kata untuk gadis ini. Namun belum juga dia kembali berbicara, pintu rumah yang terbuka membuyarkan fokus mereka. Dan  sosok Dygta yang mendominasi pandangan.


Regan segera keluar bersamaan dengan gadis itu yang juga turun.


"Dari tadi Mommy tunggu kenapa kamu tidak menelpon? Rupanya pulang dengan Regan?" Perempuan itu segera menyambut putrinya.


"Oya, Bu. Maaf. Kebetulan tadi saya ke rumah baca untuk memeriksa beberapa hal." Pria yang dimaksud itu menjawab.


"Iya, terima kasih Regan." ucap Dygta. "Ayo masuk? Kebetulan Papanya Ann juga ada." tawar Dygta dengan segala keramahannya.


"Terima kasih. Tapi sayangnya tidak bisa, Bu. Saya harus segera kembali ke FSH." Namun dia menolak.


"Begitu ya? Masih melakukan persiapan untuk nanti malam?"


"Betul, Bu."


"Baiklah."


"Kalau begitu saya pamit?" ucap Regan yang melirik ke belakang perempuan itu dan samar-samar melihat sosok Arfan yang muncul dan hampir keluar dari rumah mereka.


"Baik, silahkan. Terima kasih sudah mengantar Ann ya?" ujar Dygta sebelum Regan pergi.


Dan pria itu menganggukkan kepala, lalu segera beranjak dari tempat tersebut.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Gimana-gimana? 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2