
💕
💕
"Selamat pagi? Aku pikir kamu ikut orang tuamu ke Bogor." Regan mensejajarkan langkahnya begitu Anandita melintas di jalan setapak halaman belakang kediaman Nikolai.
Gadis itu mengikuti nenek dan kakeknya yang sudah lebih dulu pergi jogging bersama cucu lainnya. Sementara Regan melakukan pengintaian sejak pagi.
"Kok pagi-pagi Om udah ada di sini?" Anandita menoleh.
"Ya, aku tidak pulang." Regan menjawab.
"Masa?"
"Ya."
"Kenapa? Karena aku ya? Cieee, sampai segitunya bela-belain nggak pulang." Gadis itu mengejek.
"Kegeeran kamu. Pak Daryl yang melarangku pulang, katanya bisa saja sewaktu-waktu dia membutuhkan aku." Pria itu berujar.
Anandita memutar bola mata kemudian mulai berlari untuk mengejar ketertinggalan.
"Ann?" Dan Regan pun mengikutinya. "Ann, kenapa sih kamu suka sekali dengan keadaan seperti ini? Tidak capek apa?" Lalu dia meraih pergelangan tangannya.
"Ann? Dengarkan aku bicara, kenapa kamu sulit sekali …."
Namun gadis itu menyentakan tangannya sehingga genggaman Regan terlepas.
"Ini di rumah Opa." Anandita mengingatkan. "Bukannya Om sendiri ya yang bilang kalau kita nggak boleh terlalu mencolok?" Dia kembali berlari, dan kali ini untuk menghindari Regan.
"Tapi di sini adalah satu-satunya tempat yang tidak ada mata-mata Papamu. Jadi, ayo kita bicara?"
Anandita sedikit menjengit. "Om ngaco ah!" Gadis itu melanjutkan langkahnya.
"Tapi Ann?"
Namun kemudian Anandita berhenti lalu berbalik. "Kayaknya omongan Om waktu itu benar deh."
"Soal apa?" Pria itu mengerutkan dahi.
"Om bener kalau aku belum waktunya nya pacar-pacaran. Pikiran aku masih kekanak-kanakkan untuk punya hubungan sama orang dewasa kayak Om. Jadi kayaknya …."
"Apa maksud kamu? Apa ini masih ada hubungannya dengan permintaanmu malam itu? Kenapa masih saja kamu bahas?" Regan ingat interaksi terakhir mereka sebelum akhirnya saling mendiamkan seperti ini.
Anandita tak langsung menjawab.
"Maaf, Ann. Aku tidak bisa mengikuti kemauanmu yang satu itu. Alasannya sudah jelas, orang tuamu tidak ada di rumah, dan tempat itu cukup berbahaya karena papamu pasti akan tetap mengawasi. Lalu jika malam itu aku datang, bayangkan bagaimana anggapan papamu kepadaku?"
Anandita menganggukkan kepala. "Ya … masuk akal. Aku ngerti." Dia menjawab.
"Lalu di mana masalahnya? Kenapa itu masih membuatmu marah kepadaku?" Regan meminta penjelasan.
"Aku nggak marah." Dan Nandita menjawab.
"Tapi sikapmu kepadaku masih saja seperti ini, Ann. Kenapa?"
"Umm … kalau aku kecentilan, terkesan nggak dewasa. Lagian nggak lucu aja kalau misalnya nanti ketahuan kalau kita ada hubungan, terus aku kena hukuman. Bisa-bisa dikirim ke luar negri sama Papa. Hahaha." Gadis itu tertawa.
"Belum lagi nanti Om juga kena masalah kan? Terus suasananya jadi nggak enak. Makanya … udah lah." Mereka melangkah berdampingan.
"Ann? Masa kamu mau kita …."
"Om mau kita udahan?" Gadis itu memotong ucapannya.
"Apa?" Membuat Regan terkesiap.
"Kayaknya aku salah deh karena udah gangguin Om terus? Nggak nyangka kalau punya hubungan bakalan serumit ini. Hahaha." Anandita tertawa lagi. "Umur aku emang belum cukup."
__ADS_1
"Apa ini karena pekerjaanku? Kamu merasa aku terlalu mengabaikanmu dan lebih memilih pekerjaan? Kamu tahu sendiri jika …."
"Nggak. Ini nggak ada hubungannya dengan kerjaan atau apa pun. Ini cuma akunya aja yang terlalu berharap lebih." Anandita memberikan jawaban.
Yang membuat Regan tiba-tiba saja merasa tidak rela. "Ann, jangan begini. Kenapa alasanmu tidak jelas sekali?" Dia kembali meraih tangannya.
"Hu'um, Om. Aku banyakan nggak jelasnya." Anandita tertawa lagi tetapi malah membuat Regan merasa tidak enak.
"Santai, Om. Santai. Aku tetep sayang kok sama Om. Tapi mungkin waktunya yang salah buat kita untuk sama-sama sekarang ini. Aku baru sadar sih soalnya …." Anandita menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Prioritas kita nggak sama."
Dia menatap wajah Regan yang juga sedang menatapnya.
"Tidak mungkin alasannya hanya karena itu saja." Dia buka suara.
"Kamu bukan perempuan pertama yang meminta berpisah ketika hubungan sedang baik-baik saja. Bahkan di saat aku berjuang untuk memantaskan diri tetap saja, bagi kalian para perempuan tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu." katanya.
"Ya, benar. Prioritas kita tidaklah sama. Aku tidak tahu apa yang mungkin akan kamu kejar karena memulai saja belum. Tapi bagiku, semuanya jelas. Aku sedang menguatkan kakiku, sehingga jika nanti berdiri maka tak akan ada yang mampu menumbangkan ku, Ann."
"Tapi … percuma saja aku menjelaskannya, bukan? Karena pada kenyataanya kamu tidak akan pernah mengerti."
Kini Anandita terdiam.
"Jadi, apa yang kamu mau? Aku menjauh?" Regan kemudian bertanya.
Gadis itu menggigit bibirnya lengan keras.
"Enak sekali jika jawabanmu adalah iya." Dia melanjutkan.
Anandita kembali menatap wajahnya.
"Kamu selalu mendekat ketika aku tidak merasakan apa-apanya. Berusaha menarik perhatian saat aku tidak peduli, dan menggoda di saat aku menolak untuk ada di sana. Lalu sekarang, setelah semuanya berubah kamu mau aku menjauh? Begitu?" Regan maju dua langkah sehingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja. Dan itu membuat gadis di depannya terkesiap.
"Kamu ingin menjauh dengan alasan se klise itu? Hum?" katanya lagi, seraya mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga Anandita mundur.
"Ya, dalam mimpimu saja!" Regan sedikit menggeram.
Membuat Anandita segera mendorong dada Regan agar pria itu menjauh darinya. Namun keseimbangannya yang terganggu membuatnya oleng dan hampir terjengkang ke belakang jika saja Regan tak segera meraih tangannya.
"Heh, ditunggu dari tadi malah main-main di sini?" Rania muncul dari tikungan setelah menunggu lama di depan namun keponakannya tak kunjung tiba.
"Eee … ini … Om Regannya, Tante. Eh …." Anandita menutup mulutnya ketika dia hampir saja berbicara.
"Udah, cepetan. Nanti ditinggal Opa." ucap Rania yang menyertakan kepalanya.
"Umm … iya, Tan." Lalu gadis itu bergegas menghampiri Rania yang segera melanjutkan perjalanan menuju hutan kecil di belakang sana.
***
"Kak Ann, you are a princes." Anya memasangkan ikatan bunga yang dibuat melingkar di kepala Anandita.
Mereka duduk di area tengah hutan yang rumputnya tumbuh dengan subur.
"Princess apaan?" Gadis itu tertawa seraya meraih bunga tersebut.
"No! Don't you take it off!" Namun Anya segera menghentikannya.
"Apaan sih, Anya?"
"Itu opa yang bikin, katanya buat princess. Look, aku juga dibikinin." Anak itu menunjukkan ikatan bunga yang lebih kecil.
"Oh, dari Opa." Dan Anandita membiarkan benda tersebut tetap di kepalanya sambil melirik kepada Satria.
Pria itu tersenyum.
"Karena Kak Asha nggak ada, jadi princess nya cuma kita berdua." Anya meloncat-loncat dengan riangnya.
"And me as a prince!" Zenya menyahut sambil bergerak mendekat pada saudara dan kakak sepupunya. Dengan membawa sebatang kayu berukuran kecil yang dia gunakan sebagai pedang.
__ADS_1
"Hadeh, pasti jadi tokoh halu lagi." Rania menenggak air minum yang dia bawa dari rumah.
Dimitri tertawa sambil menatap tingkah putranya yang berlagak seperti orang sedang berkelahi.
"Semalam papi dongengin apa sih sampai imajinasi anak-anak kayak gitu? Sebentar-sebentar jadi tentara di medan perang, sebentar-sebentar jadi raja sama ratu, habis itu jadi Robinhood." Perempuan itu pun berbicara.
"Ya pastinya bukan dongeng yang kita ceritakan. Tentang kapal laut atau balapan di lintasan." Dan Dimitri pun menyahut.
"Cerita kita nggak seru ya untuk mereka?" Rania pun menatap anak dan keponakannya yang asyik dengan mainan baru mereka.
"Bukannya tidak seru. Hanya saja, dongeng papi yang lebih seru." Dimitri tertawa lagi.
"Orang tua jaman dulu itu mang pinter mendongeng. Kadang sampai nunggu banget kalau lagi nginep. Kayak kakek aku juga dulu begitu." Rania bercerita.
"Masa?"
"Serius."
"Ceritanya soal apa?"
"Sakadang kuya jeung sakadang monyet." Rania dengan antusias. Dia kemudian menghadap ke arah suaminya.
"Cerita soal apa itu? Aku baru dengar." Dimitri mengerutkan dahi.
"Masa kamu baru dengar? Itu dongeng populer di kalangan anak jaman dulu tahu?!"
"Oh ya? Tapi kenapa aku tidak tahu?"
"Abah sama nenek nggak pernah dongengin kalau kamu nginep di Bandung?"
Dimitri menggelengkan kepala. "Atau mungkin lupa?"
"Ah, kelamaan di Rusia sih, jadinya banyak nggak inget."
Pria itu tertawa lagi. "Dongengnya tadi judulnya apa?" Lalu dia bertanya.
"Sakadang Kuya Jeung Sakadang Monyet."
"Judul yang lebih bagus apa tidak ada?"
"Ada. Banyak."
"Apa?"
"Sakadang Peucang?"
"Lalu?"
"Sakadang manuk."
"Sakadang buaya juga ada. Pokoknya semua dongeng ada. Jadi kamu nggak akan merasa bosan."
Dimitri tertawa lagi. "Kenapa judul dongengnya lucu sekali? Apa tidak ada yang judulnya lebih keren seperti The Lord Of The Ring? Atau Harry Potter, misalnya."
"Versi Sunda ada." Rania menyeringai.
"Apa?"
"Rebutan Cincin. Atau Dukun Santet."
Dimitri terdiam dengan kening berkerut, kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa karena percakapan absurd tersebut.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....