
💞
💞
"Kenapa kamu diam saja? Bukannya tadi mau makan?" Daryl meneguk air minumnya sebelum ia menyentuh pancake yang baru saja Nania buatkan.
"Aku kok kayaknya mau makan yang lain ya?" Nania mendorong piring berisi dua buah pancake yang hampir saja diberi madu di atasnya.
"Makan apa? Kalau begitu, kenapa kamu malah membuat ini? Aneh sekali." Sedangkan Daryl mulai melahap makanan miliknya dengan ekspresi yang gembira, seperti biasa.
"Pancake nya enak, Sayang. Seperti biasa, makanan buatanmu selalu luar biasa." Dia memuji.
"Ah, kamu suka berlebihan deh. Padahal kan udah biasa kayak gitu, ahahaha." Nania tertawa. Meski ini bukan pertama kalinya pria itu memuji, namun rasanya senang juga jika apa yah dibuatnya selalu diapresiasi.
"Aku serius!" Dan Daryl kembali memakannya dengan semangat.
"Hanya saja, sepertinya buah-buahan ini harus ditambah agar rasanya lebih segar, dan kurangi madunya sehingga tidak terlalu manis."
Nania tertawa.
"Lagipula, buah-buahan sangat bagus untukmu, Baby." Pria itu menyentuh perut Nania dan mengusap-usapnya dengan lembut.
"Ish, kenapa sih kamu manis banget? Aku jadi makin sayang deh." Yang membuat Nania bergeser seraya merangkul lengannya, kemudian ia menempelkan wajah di pundak suaminya.
"Benarkah? Mungkin karena aku sudah manis dari sananya. Ahahaha." Lalu Daryl tertawa sambil merangkul pundaknya juga.
"Lalu kalau tidak mau makan ini, kamu maunya apa? Apa perlu aku suruh Mima membuatkan yang lain untukmu?" tanya pria itu setelah dia melahap habis sarapannya.
"Nggak usah lah, nggak jadi." Nania beranjak untuk membereskan meja.
"Lho? Kamu kan belum makan? Bagaimana akan beraktifitas nanti?"
"Aku nggak mau makanannya." Nania meletakkan piring berisi pancake ke dalam kulkas.
"Lalu apa yang kamu mau?" Daryl mengikutinya yang membereskan beberapa hal.
"Kayaknya aku mau ayam bakar deh." Perempuan itu berhenti sejenak.
"Ayam bakar?" Daryl melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.05 pagi.
"Hu'um." Nania mengangguk sambil mengerucutkan mulutnya.
"Masih pagi, Malyshka. Di mana ada ayam bakar sepagi ini? Restoran saja belum buka."
Nania menggendikkan bahu.
"Tunggu aku minta kepada Mima. Siapa tahu di rumah besar ada." Daryl hampir saja beranjak keluar ketika Nania menarik tangannya.
"Nggak usah." Nania menghentikan langkahnya, dan pria itu kembali.
"Lalu?"
__ADS_1
"Ayo kita ke tempatnya ibu, mumpung malam Minggu juga?" ucap Nania dengan mata berbinar.
"Ibu?"
"Ya, makan ayam bakar di rumahnya Ibu. Kalau bisa sekalian nginep." Nania dengan ide yang baru saja melintas di kepalanya.
"Hah?"
"Ayo, Daddy! Kamu nggak ada kerjaan tambahan kan hari ini? Regan juga nggak ke sini kayaknya, jadi kita pergi aja ke rumah Ibu!" Nania segera menariknya ke arah luar.
"Tapi, Malyshka …."
Dan dengan sedikit paksaan akhirnya Nania berhasil membawa Daryl mendatangi rumah Mirna. Yang kebetulan pada pagi hari itu baru saja pulang dari pasar.
Terlihat dari beberapa kantong kresek yang tengah dia buka, yang isinya adalah bahan-bahan untuk dagangan.
"Kenapa kalian sudah ada di sini? Dari mana?" Perempuan itu bereaksi.
"Sengaja." Nania berjalan tergesa dan dia segera menghampiri ibunya.
"Ibu baru dari pasar?" Lalu dia bertanya.
"Ya. Baru saja datang. Kamu sendiri?" Mirna melirik ke arah Daryl yang berjalan pelan ke arah mereka, hanya menatap saja seperti biasa.
"Dari rumah." Nania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Sengaja datang sepagi ini atau apa?" Lalu Mirna bertanya.
"Benarkah?" Mirna sedikit menjengit, lalu dia kembali beralih kepada Nania.
Sang anak pun menganggukkan kepala dan masih tetap tertawa.
"Aduh, ayam bumbunya habis semalam. Ini Ibu baru saja mau mengolahnya lagi."
"Masa?" Nania dengan raut yang sedikit terlihat kecewa.
"Ya. Padahal kemarin pagi memasak cukup banyak, tapi rupanya jualan kita sedang ramai. Apalagi setelah ada food … food apa ya kemarin lusa itu Ibu lupa. Dia makan di sini sambil membuat video, jadi sepertinya …."
"Food vloger?" Nania menyambung ucapan ibunya.
"Ya, itu dia. Food vloger."
"Hmm …."
"Kemarin Ibu hampir kewalahan melayani pembeli, tapi ada tetangga yang bantu. Akhirnya bisa juga menyelesaikan semua pesanan sampai ayamnya habis tidak bersisa." Mirna bercerita diselingi tawa riangnya.
"Ibu sampai kesiangan pergi ke pasar saking nyenyaknya tidur. Karena kemarin sibuk, jadi …." Perempuan itu berhenti untuk menatap wajah putrinya yang tersenyum selama mendengarkannya bercerita.
"Astaga! Ibu sampai lupa. Bisakah kalian menunggu sebentar? Ibu akan membersihkan ayamnya dulu, setelah itu diolah dan nanti kita buat ayam bakarnya ya?" Lalu dengan tergesa dia melakukan pekerjaannya.
Mirna mengangkat satu persatu kantong kresek ke tempat cuci sementara Nania dan Daryl masih tetap di tempatnya berdiri. Sebelum akhirnya perempuan itu berbuat sesuatu.
__ADS_1
"Sstt. Daddy?" ucap Nania kepada suaminya.
"Hum? Apa?" Pria itu menoleh.
"Bantuin Ibu!" Dia setengah berbisik.
"What?"
"Ayo kita bantuin Ibu. Kamu angkatin belanjaannya ke sana, aku yang bantu cuci ayamnya."
"Hah?"
"Bantuin Ibu!" ucap Nania lagi seraya meraih salah satu kantong kresek terdekat yang dapat dia capai dan membawanya ke tempat Mirna berada.
Daryl tertegun untuk beberapa saat, namun kemudian ia melakukan apa yang Nania katakan setelah perempuan itu memberikan isyarat dengan pandangan.
"I didn't signed for this." gumamnya pelan, namun ia tetap mengerjakannya.
"Aaaa … jangan! Kalian diam saja di sana, tidak usah membantu Ibu! Tetap di sana, Nna!" Beberapa kali Mirna menolak namun anak dan menantunya bersikukuh untuk membantunya.
***
"Nah … ini mungkin belum terlalu meresap seperti biasanya, tapi percayalah jika ayam segar berpadu dengan bumbu yang tepat akan menghasilkan rasa yang sangat enak." Seekor ayam utuh dia olah secara khusus untuk Nania.
Sebelumnya dimasak dalam bumbu pekat yang khas, didiamkan beberapa saat, kemudian dibakarnya seperti permintaan sang anak.
"Whoaaaaaaa!" Kedua bola mata Nania membulat dan tangannya bertepuk riang. Raut wajahnya pun tampak gembira dan dia tak sabar untuk segera menikmatinya.
"Sambalnya sengaja dibuat tidak terlalu pedas, khusus untukmu." Satu mangkok kecil sambal juga dia sodorkan, yang membuat Nania tampak semakin gembira.
"Dan ini, lalapan yang sudah Daryl cuci dan siapkan untukmu juga." Lalu satu wadah selada, irisan timun dan terong hijau juga kemangi menjadi hal terakhir yang Mirna berikan kepadanya sehingga binar kesenangan terlihat begitu kentara.
"Lihat, timun sama terongnya kecil-kecil begini. Kamu yang iris?" Nania menunjuk timun sambil menatap wajah suaminya.
"Ya, seperti yang kamu dengar barusan." Daryl menjawab sambil menggendikkan bahu dan memutar bola matanya.
"Manis banget deh, seladanya kamu cuci juga?" tanya perempuan itu lagi sambil terkikik saat membayangkan bagaimana suaminya melakukan hal yang selama ini tak pernah dilakukanya.
"Tentu saja, dan benda ini sekalian aku pisahkan dari tangkainya sehingga memudahkan untuk memakannya. Bagaimana? Hebat kan aku?" Daryl dengan sombongnya.
"Iya, iya kamu hebat. Udah mau bersihin lalapan buat aku." Nania menanggapinya dengan merangkul pundak pria itu sehingga pipinya tampak sedikit merona.
Sementara Mirna hanya tersenyum menatap interaksi anak menantunya tersebut.
💞
💞
💞
Bersambung ....
__ADS_1