
💕
💕
"Daddy?" Nania naik ke tempat tidur di mana Daryl sudah berbaring dengan nyaman.
"Ya Baby?" Pria itu merentangkan tangannya sehingga saat Nania sudah dekat dia bisa segera memeluknya.
"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sama Ann?" Nania pun segera merebahkan tubuhnya dengan nyaman dalam dekapan suaminya.
"Ann?"
"Iya. Beberapa hari ini aku perhatiin tingkahnya Ann kok agak lain." Perempuan itu menatap kedua manik coklat milik Daryl yang bergerak-gerak memindai wajahnya.
"Masa?"
"Serius."
"Misalnya apa?"
"Dia kayak lebih centil dari biasanya. Apalagi kalau deket-deket sama Regan. Kayak lagi cari perhatian gitu."
"Hahaha." Daryl hanya tertawa.
"Aku serius, Daddy." Lalu Nania mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak pria itu.
"Anandita memang genit sejak kecil dan dia paling senang cari perhatian. Kamu saja yang baru lihat dia begitu karena akhir-akhir ini dia sering pergi dengan kita."
"Begitu ya?"
"Ya. Jadi tidak ada yang aneh soal itu. Dan kalau soal Regan, mungkin memang sedang masanya menarik perhatian lawan jenis. Dia kan sudah 18 tahun."
"Emang udah ya?"
"Sebentar lagi, dalam beberapa bulan."
"Hmm …."
"Kenapa? Kamu perhatian sekali pada keponakanku, hum?" Daryl mengusap-usap punggung Nania seperti biasa. Lalu dia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya, dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Nggak kenapa-kenapa, cuma akunya merasa aneh aja." Nania tertawa.
"Itu hal biasa untuk remaja. Semua orang mengalaminya, bukan?"
"Kata siapa? Aku nggak."
"Masa?"
"Iya." Perempuan itu mengangguk.
__ADS_1
"Ya, mungkin kamu hanyalah satu orang di antara sejuta yang tidak mengalami apa-apa selain bekerja keras sejak kecil." Daryl mendekap tubuh Nania dengan erat lalu meraih ciuman di bibirnya yang manis.
"Ummm … Daddy! Aku capek ah, nggak mau ngapa-ngapain." Namun Nania segera mendorong wajahnya agar tercipta jarak yang cukup di antara mereka.
"Apa? Aku kira kamu mau sesuatu dulu sebelum tidur?"
"Nggak. Kan udah bilang kalau aku capek." ucap Nania dengan manja.
"Ah, sayang sekali. Padahal Eragon sudah bangun." Pria itu menyingkap celananya dan apa yang ada dibaliknya segera menyembul keluar.
"Ih!" Namun Nania segera menepuknya dengan gemas.
"Aduh! Kenapa kamu ini!" Dan Daryl segera bereaksi ketika sakit dan ngilu dia rasakan atas tepukan tersebut. "Kamu mau menghancurkan aku ya? Ini sakit tahu! Shhh …."
"Aaaa … maaf. Habisnya Eragon bikin aku kaget!" Nania mengusap-usap senjatanya yang perlahan melemas, tak setegak tadi.
"Maaf, Daddy. Ahahaha." Ia tertawa kemudian menciumi pipi suaminya.
"Kalau tidak mau ya cukup bilang saja, jangan memukul juga, Malyshka!" Pria itu menggerutu, dan masih tampak meringis.
"Iya, maaf. Itu cuma aku tepuk ih, nggak aku pukul."
"Sama saja rasanya sakit!"
"Beda, Dadd." Nania masih tertawa mengingat kelakuannya sendiri.
"Ya sudah, kalau mau tidur, cepat tidur. Jangan banyak bicara!" Daryl masih terlihat kesal.
Namun kemudian mereka berdua sama-sama tertawa setelahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau tidak pantas, Regan!" Hatinya bergumam sepanjang perjalanan pulang.
"Meskipun misalnya usia kalian sama, kau tetap tidak setara dengannya."
"Kau harus ingat, dia siapa dan kau siapa. Jangan memiliki keberanian untuk mengambil peran lebih." Dia memasuki halaman yang cukup luas untuknya memarkirkan mobil pemberian mendiang sang nenek yang telah puluhan tahun mengabdi di keluarga Nikolai itu.
"Keturunan pelayan akan selamanya menjadi pelayan dan tuanmu akan tetap ada di posisinya. Dan tidak ada yang lebih pantas untukmu selain orang-orang dari kalanganmu." Dia tak segera turun meski mobilnya sudah berhenti tepat di depan rumah yang masih terang benderang.
"Tunggu! Kenapa aku malah memikirkan Anandita?" Dia menegakkan tubuhnya begitu menyadari pikirannya sendiri.
"Dia yang menyatakan cinta, bukan aku. Lalu mengapa harus aku yang pusing?" katanya lagi.
"Ya, kenapa aku harus memusingkannya? Hehe … dia hanya remaja kemarin sore, yang akan dengan mudah melupakan sesuatu yang baru saja dipikirkannya. Lalu beralih memikirkan yang lain. Seperti halnya dengan perasaan." Dia mengangguk-anggukkan kepala.
"Minggu depan mungkin di akan lupa pernah menyatakan cinta padaku. Atau dalam dua minggu, mungkin. Atau paling lama … sebulan. Ya … tidak mungkin lebih lama dari itu. Dan setelahnya hidupku akan kembali normal. Aku hanya harus bertahan dengan semua bualan dan kekonyolannya." Regan tertawa.
"Dasar anak ingusan. Dia tidak mengerti dengan perkataannya sendiri. Ann, Ann." Dia menggeleng-gelengkan kepala seraya membuka pintu mobil lalu turun dan melenggang ke arah rumah.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti ketika pandangannya menemuka sebuah motor yang sepertinya dia kenal terparkir di dekat teras, lalu Regan menatap rumah yang masih terang benderang dan terdengar percakapan yang cukup hangat dari dalam sana.
"Hmm … para perempuan kenapa sangat berani ya, akhir-akhir ini?" Pria itu bergumam seraya meneruskan langkah, dan benar saja orang yang sudah dia duga memang ada di dalam sana.
"Regan?"
"Malam, Bu?" Dia mempercepat langkah ke arah tangga tanpa menoleh sedikitpun.
"Tidak mau istirahat dulu?"
"Di kamar saja, aku lelah Bu."
"Regan, ada Mia."
"Hmm …."
"Regan?" Sang ayah memanggil, yang membuat langkahnya kembali terhenti.
"Ya, Yah? Maaf, aku tidak bisa bergabung. Aku lelah." katanya, kemudian menoleh dan dia menemukan wajah perempuan yang sudah tak dilihatnya dalam waktu yang cukup lama. "Hai Mia? Apa kabar?" sapanya, tanpa menuruni tangga.
"Baik, Re." Mia menjawab.
"Sudah lama?"
"Sudah, kami mau makan malam. Niatnya mau menunggu kamu, tapi …."
"Aku jarang makan di rumah. Aku sangat sibuk, ingat?" sergah Regan sehingga membuat mulut gadis itu bungkam.
"Selamat malam." katanya lagi, dan dia berbalik kemudian cepat-cepat naik ke kamarnya di lantai dua.
Tiga orang itu terdiam dan saling pandang.
"Ah, tidak apa-apa. Dia kan memang begitu, jadi tidak usah dipikirkan." Rumi memecah keheningan di antara mereka.
Lalu dia kembali mengajak suaminya, dan Mia untuk kembali ke meja makan.Â
"Ayo, kamu kan sudah susah payah memasak semua makanan ini. Jadi jangan didiamkan begitu saja. Kita makan." Dan dia mengisi piring-piring kosong itu dengan nasi dan lauk-lauknya yang baru saja dipindahkan dari penggorengan.
"Tapi … Regan?" Namun Mia sempat melirik ke arah tangga.
"Kalau pulang kerja, sebaiknya dia jangan diganggu. Atau akan mengamuk." Sang tuan rumah tertawa.
"Ayo cepat makan, dari tadi kita hanya bicara saja." katanya lagi yang kemudian duduk di kursinya. Dan mereka bertiga memang benar-benar melahap makanan yang sengaja dibuat khusus hari itu untuk merayakan kunjungan pertama Mia setelah hampir satu tahun lamanya berpisah dari Regan.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Si mbak gercep ya, besti🙄