The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Percakapan Dua Pria


__ADS_3

💕


💕


"Wait!" Daryl menarik Nania agar kembali setelah mereka selesai merapikan diri.


Dirinya mengenakan jas santai seperti biasa, sementara Nania dengan skinny jeans, kaos polos dan sepatu kets. Namun kali ini dengan sedikit sentuhan make up di wajahnya.


"Kenapa kamu berdandan cantik sekali padahal hanya mau pergi kuliah?" Pria itu menyentuh bibirnya yang berwarna sedikit pink karena pulasan lipstik.


"Lalu ini?" Dia pun menyentuh pipinya yang berperona tipis namun membuat Nania terlihat lebih segar dipandang.


"Cuma dandam sedikit, Dadd. Masa mau pergi kuliah kayak bangun tidur?" Perempuan itu menjawab.


"What? Biasanya kamu tidak begini. Hanya memakai day cream dan lip gloss saja. Itu sudah bagus."


"Ugh, kayak anak SMP, aku kan udah kuliah. Mau juga dandan cantik kayak orang-orang."


"Tidak perlu dandan begini juga kamu sudah cantik, Malyshka." Daryl mengusap bibir Nania dengan tisu hingga lipstik berwarna pink itu memudar.


"Emangnya kalau dandan aku jadi jelek ya?"


"Tidak." Pria itu meraih lipgloss di meja rias kemudian mengoleskannya pada bibir Nania lagi.


"Terus kenapa nggak boleh dandan?"


"Kalau dandan kamu tambah cantik." jawab Daryl yang memastikan istrinya itu rapi.


"Kalau gitu kenapa aku punya banyak alat make up tapi nggak dipake? Kan sayang Dadd. Aku lihat cewek-cewek di kampus itu dandannya cantik-cantik. Nggak mencolok kok, tapi cantik banget."


"Sudah aku bilang kamu juga cantik. Dandannya nanti saja kalau pergi denganku. Mau dandan secantik apa pun boleh."


"Apa bedanya sih? Sama-sama pergi kan?"


"Beda, Sayang. Enak saja orang-orang melihat kecantikanmu sementara aku di kantor tidak kebagian?" Daryl kemudian merapikan rambut Nania. Sementara perempuan itu terdiam mengatupkan mulutnya.


"Ahh … pipimu sulit dibersihkan." keluh Daryl saat mengusap pipinya dengan tisu. Padahal rona merah yang sekarang karena Nania merasa senang dengan ucapannya.


"Kamu cowok paling aneh di dunia." Dan Nania menggumam sambil menatap wajah suaminya.


"Memang. Aku tidak mau berbagi istriku dengan siapa pun dan dalam hal apa pun. Apalagi jika ada yang menatapmu dengan cara seperti aku menatapmu. Jadi … jangan lakukan itu."


Nania terkekeh.


"Jangan tertawa."


"Orang lain bangga kalau lihat pasangannya cantik, apalagi kalau dapat pujian." 


"Tidak denganku. Aku senang kalau kecantikanmu hanya untukku saja." Lalu mereka berjalan keluar dari kamar.


"Kalau gitu kayaknya aku harus pakai jilbab plus cadar biar semuanya ketutup dan nggak ada yang lihat?" Nania berkelakar.


"Ooo itu ide yang bagus. Kapan mau beli? Atau kita pesan saja. Aman kan?"


Nania memutar bola matanya.


"Aku serius. Dengan begitu, semua yang ada padamu benar-benar hanya untukku, kan? Dan kalau mau berdandan cantik hanya di rumah saja saat aku ada. Pakai baju seksi juga boleh." Pria itu mengedipkan matanya sambil tertawa.


"Dih, genit."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, genit pada istriku kan bagus. Dari pada genit pada istri orang lain?" Daryl tertawa.


"Awas aja kalau begitu!" Dan Nania mencubit lengan pria itu dengan keras.


"Aaaa, tidaakk! Aku hanya bercanda." Daryl menghindarkan tangannya hingga cubitan menyakitkan  itu terlepas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nania!" Mahira seperti biasa berlari ke arahnya.


"Hey, pasti kita datang barengan lagi?" Nania menoleh lalu berhenti.


"Iya. Aku nunggu sampai suami kamu pergi." Dan Mahira tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ih aneh banget?"


"Udah aku bilang akutuh malu kalau ketemu suami kamu."


"Dih, pakai malu segala?"


"Ya gitu deh." Lalu mereka berjalan ke arah kelas.


"Eh tugas kamu gimana? Beres?" Keduanya duduk bersisian di kursi masing-masing seperti biasa.


"Beres. Kemarin sore langsung aku kerjain. Kamu sendiri gimana?" Nania balik bertanya.


"Beres juga. Tapi aku ngerjainnya sampai malam."


"Kok lama?"


"Iya, aku tuh cari buku nya susah, dan ternyata di rumah nggak ada. Padahal udah persiapan dari minggu kemarin beli buku apa aja yang dibutuhkan. Tapi tetep aja ada yang kelewat."


"Haih, apa sih yang nggak ada di rumah kamu? Pasti deh semuanya ada." ujar Mahira yang membuat Nania tertawa.


Kemudian setelah beberapa saat kelas pun dimulai ketika dosen tiba.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau sudah dapat data teman barunya Nania?" Daryl bangkit dari kursinya begitu Regan muncul di ruangannya.


"Sudah Pak."


"Bagaimana?"


"Mahira, 18 tahun. Lulusan SMA favorit di Jakarta. Tidak terlalu menonjol, tapi dia cukup berprestasi. Setidaknya selalu masuk sepuluh besar ranking di kelasnya." Regan menyerahkan dokumen berisi data dari Mahira.


"Pergaulan?"


"Normal, seperti remaja pada umumnya."


"Dalam artian baik atau buruk? Kau tahu pergaulan anak zaman sekarang bagaimana kan?"


"Sejauh yang saya temukan dia baik-baik saja. Pergaulanya biasa dan tidak terlalu suka keluar rumah juga. Temannya sedikit dan hanya beberapa saja yang dekat. Tapi dia normal." ulang Regan.


"Orang tuanya pemilik restoran di dekat Nikolai Circle, dan dia juga anak tunggal. Jadi, aman."


"Maksudmu aman?" Daryl mendongak ke arah bawahannya.


"Dia anak satu-satunya dan mendapat perhatian penuh di dalam keluarga. Jadi cukup positif untuk Nania karena keadaan keluarganya juga stabil."

__ADS_1


"Hmm … jadi Nania akan baik-baik saja jika berteman dengannya?" Daryl menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja.


"Saya rasa begitu, Pak."


"Lalu bagaimana keadaan di kampus?" Daryl terus mencari tahu.


"Stabil, Pak."


"Kau sudah menempatkan orang di sana?"


"Tidak juga. Bukankah Bapak belum memerintahkan?"


"Iya juga." Daryl tertawa. "Rasanya itu sangat berlebihan." Lalu dia kembali ke tempat duduknya.


"Tapi tetap saja aku khawatir. Dia itu terlalu lugu untuk ukuran perempuan dewasa. Pagi ini saja tiba-tiba mau berdandan karena melihat teman-teman di kampus terlihat cantik."


Regan sedikit menjengit. "Apa salahnya dengan berdandan? Toh sudah kodratnya perempuan ingin tampil cantik di depan siapa saja." Lalu dia menjawab ujaran atasannya.


"Kau gila ya? Memangnya kau mau istrimu dilirik orang lain, lalu mereka meyukainya karena di cantik?"


"Konsepnya tidak seperti itu, Pak. Terkadang berdandan itu menjadi kebutuhan bagi perempuan. Dan mereka melakukannya bukan untuk orang lain, tapi untuk diri mereka sendiri. Karena kadang melihat tampilan yang cantik di cermin itu membuat perempuan bahagia." Regan dengan argumennya.


"Menurutmu begitu?"


"Ya, bukankah itu yang digunakan oleh Fia's Secret? Kebahagiaan perempuan dalam berdandan, maka terciptalah produk kecantikan?"


Daryl terdiam.


"Dan Bu Fia mengerti akan hal itu. Makanya beliau membuat ini semua kan?"


"Yeah, aku rasa itu hanya untuk konsumen saja."


"Nania itu perempuan, Pak. Sudah sepatutnya dia juga senang berdandan. Dan itu normal."


"Bagiku tidak. Aku suka dia yang seperti itu karena mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu." Daryl menempelkan kepalanya pada sandaran kursi, dan dia menatap langit-langit ruang kerjanya sambil tersenyum.


"Bekerja di kedainya Amara dan dia selalu tampil biasa," lanjutnya, lalu dia tertawa pelan.


Salah satu sudut bibir dan alis Regan tampak terangkat bersamaan setelah mendengar penuturan atasannya.


"Ah, jomblo sepertimu mana mengerti perasaanku ini?" Kemudian Daryl berhenti mengenang masa lalu dan dia berniat untuk kembali bekerja.


"Duh? Apa katanya tadi?" Batin Regan bergumam.


"Sekarang pergilah ke kampus dan tunggui dia di sana. Jangan sampai Naniaku menunggu." Dan pria itu benar-benar kembali pada pekerjaannya.


"Masih dua jam sampai jam pulang, Pak." Namun Regan menatap jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 11.30 siang.


"Tidak apa. Kan kau bisa sambil cari jodoh di kampus. Agar mengerti bagaimana rasanya jadi aku." Daryl tertawa mengejek, membuat sang bawahan mencebikkan mulutnya.


Namun tak urung juga dia pergi, karena jika lebih lama berada di sana sudah bisa dipastikan bahwa dirinya akan babak belur dihajar ejekan atasannya.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2