The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Ceramah Perdamaian


__ADS_3

💕


💕


"Keterlaluan." Sofia melipat kedua tangannya di dada setelah beberapa saat mendengar putranya mengatakan banyak hal.


Dan tak ada yang bisa Daryl tutupi dari perempuan itu karena memang sudah terlanjur ketahuan jika mereka bertengkar.


Sedangkan Nania di sofa panjang duduk menjulurkan kakinya, setelah Mima mengobati lukanya.


"Mom, sudah aku katakan …."


"Jangan membela diri! Sudah jelas-jelas kamu salah masih saja mengelak." Sofia tak membiarkan putranya menjawab.


"Sebenarnya ini masalah sepele, seperti yang kamu katakan. Dan mudah saja menyelesaikannya jika segera minta maaf dan mengakui kesalahan. Hanya saja, masalahnya egomu yang terlampau tinggi." Sofia duduk di samping Satria yang sejak tadi mendengarkan.


Kini dia tak bisa lagi bermanis-manis kata dan hati-hati terhadap putranya yang satu itu karena masalah yang mereka hadapi tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata biasa.


"Tidak sadar kalau kamu itu seorang suami? Tidak ingat ada hati yang harus kamu jaga? Tidak berpikir juga bahwa ada orang yang harus kamu jaga perasaannya karena kalian terikat pernikahan hanya karena dalih formalitas?"


Daryl terdiam. Dia tahu saat ini ibunya akan mengulitinya habis-habisan. Selain karena dia juga sama perempuan, tapi semua orang tahu juga bahwa Nania seperti menantu kesayangannya. Maka, apa pun yang terjadi dia akan membela perempuan itu habis-habisan. Terutama jika dirinya yang salah.


"Formalitas kepalamu!" geram sang ibu, yang bahkan Satria pun tak bisa menghentikannya. "Papimu juga punya banyak kolega perempuan, tapi dia tidak pernah begitu. Hanya dengan bersalaman saja apa tidak bisa? Lagipula mereka akan lebih menghargaimu, ketimbang sok akrab seperti itu."


"Berapa kali kalian bertemu? Dua kali? Sepuluh kali? Hanya dengan model baru saja kamu sudah kalah, padahal ada istrimu di sana."


"Mom, stop. Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku sedang bekerja, kenapa kalian menyudutkan aku? Lagipula aku sudah minta maaf kepada Nania."


"Permintaan maafmu terlambat!" sergah Sofia, fan raut wajahnya belum berubah.


"Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?" Daryl menjawab lagi.


"Ya, setelah Nania begini. Kalau tidak, apakah kamu akan sadar dan meminta maaf? Atau harus selalu menunggu terjadi sesuatu dulu baru kalian akan baikan?"


Daryl kembali bungkam.


"Sudah Mama katakan jika ini bukan Eropa atau Amerika. Apalagi Rusia, di mana kamu bisa memeluk orang sembarangan tanpa menimbulkan permasalahan, apalagi kalau statusmu sudah menikah. Kami tidak terbiasa dengan hal itu. Lalu hanya karena kamu bekerja di dunia hiburan lantas kami harus membiasakan diri dengan apa yang biasa mereka lakukan? Tidak! Mama pun akan bersikap sama jika itu terjadi kepada Papimu. Tahu kenapa? Karena milik kami disentuh orang lain. Kamu pikir bagaimana perasaanmu jika itu terjadi kepada Nania?"


Daryl melirik kepada istrinya.

__ADS_1


"Kami ini, para istri tidak rela jika suami kami berinteraksi terlalu intim dengan perempuan lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Karena bagi kami, jika sudah terikat pernikahan, maka apa pun yang ada pada diri suami adalah hak kami. Maka, perempuan akan marah dan cemburu jika itu terjadi. Tapi apakah kalian para pria punya perasaan yang sama? Kenapa Mama pikir tidak ya? Padahal segala aturan kalian terapkan kepada kami. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jangan bicara dengan orang lain, jangan pergi ke sembarang tempat. Tapi kalian?"


"Tentu saja sama, Mom! Kami saling memiliki satu sama lain, thats why i am angry when i see her talking with another man." Daryl bergumam, namun Sofia masih bisa mendengarnya.


"Itu baru bicara, apalagi berpeluk cium seperti yang kamu lakukan. Mungkin kamu sudah menghajarnya sampai mati kalau itu terjadi. Jadi posisikan dirimu seperti Nania, maka kamu akan tahu bagaimana rasanya menjadi dia."


"I'm already have, Mom."


"Tapi sikapmu tidak mencerminkan seperti itu." Sofia sedikit meninggikan suaranya.


Daryl tak menjawab lagi. Sudahlah, sepertinya memang harus pasrah karena menjawab pun tidak ada gunanya. Dirinya tetap salah dan sudah pasti kalah. Apalagi jika ibunya yang sudah maju.


"Kamu juga." Lalu Sofia beralih kepada Nania. "Jangan membiasakan masalah berlarut-larut seperti ini. Sebaiknya nenyikapi segala hal secara dewasa dan berusaha menyelesaikannya sehingga tidak timbul masalah lainnya. Duduklah bersama, lalu bicara yang benar. Kemudian selesaikan masalah dengan kepala dingin, jangan mengedepankan emosi."


"Ingat, perjalanan kalian masih panjang dan akan ada masalah lain yang lebih besar dari ini. Kalau ini saja tidak bisa kalian selesaikan, lalu bagaimana dengan masalah lainnya?" Sofia menatap menantunya.


"Mau menyerah? Tidak mungkin. Kalian harus bisa bertahan dan bersama-ssma selamanya. Jangan biarkan masalah apapun menjadi penyebab keretakan hubungan, apalagi karena salah paham dan orang ketika. Mama tidak rela jika kalian seperti itu."


"Daryl, ingat kamu yang memaksa Nania untuk cepat menikah padahal hubungan kalian belum lama terjalin. Dan Nania, ingat kamu juga menerima anak Mama. Kamu sudah tahu bagaimana dia. Dan sampai saat ini hanya kamu yang sangat mengenalnya lebih dari kami, orang tuanya. Jadi, mama mohon untuk tidak mengedepankan ego dan emosi kalian jika ada masalah. Duduk bersama, dan bicaralah. Jangan biarkan masalah sebesar apa pun menjauhkan kalian." Sofia memandangi anak dan menantunya.


"Adalah tanggung jawab kami mendidik putra kami agar dia menjadi orang yang baik, dan Mama rasa kami sudah menjalankan itu. Tapi jika hasilnya tidak sesuai, maka kami minta maaf. Papi dan Mama, juga Daryl adalah manusia biasa. Kami banyak kekurangan, begitu pun kamu. Tapi menjadi tanggung jawab kalian untuk saling memperbaiki diri, bukan hanya masing-masing. Jadi Mama mohon lah, selesaikan masalah kecil dan jangan menganggap sepele. Karena terkadang kerusakan dan kehancuran berasal dari hal yang paling kecil dan paling sepele." Sofia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan-pelan, seolah dia tengah melepaskan beban berat.


"Mom, jangan bicara begitu. Mama membuatku takut!" Daryl menyela.


"Maka minta maaflah kepada istrimu, dan akui kesalahanmu. Lalu berdamailah." ujar Sofia.


"Dan Nania, maafkan suamimu seikhlas yang kamu bisa, sehingga kalian bisa kembali menjalani rumah tangga seperti biasa. Tidak baik suami istri yang hidup serumah seperti kalian ini."


Daryl dan Nania terdiam.


"Daryl?" panggil Sofia kepada putranya.


"Umm … i'm sorry." Pria itu kemudian menoleh kepada Nania. Dia lantas memegangi tangannya yang bertumpu di lutut.


"Maafkan kesalahanku, Malyshka. Aku tidak akan mengulanginya lagi." katanya, seraya meremat jemari Nania dengan erat.


Mereka masih terdiam, namun setelah beberapa detik Nania menganggukkan kepala.


"Iya, aku juga minta maaf karena nggak mau dengerin kamu." ucap Nania, dan dia membalas rematan tangan suaminya.

__ADS_1


"Nah, kalau begini kan kelihatannya menyenangkan. Kalian harmonis, damai dan bahagia. Tidak ada yang kami inginkan sebagai orang tua selain melihat hal seperti ini. Iya kan, Papi?" Sofia menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi tak bersuara sama sekali dan malah membiarkannya mengomel pada anak dan menantunya.


"Ya, dan itu lebih dari harta sebesar gunung." Satria menyahut.


"Nah, kan? Sekarang rawat istrimu dengan baik, jangan sampai ada kejadian dia harus masuk rumah sakit lagi karena kelakuanmu." Sofia yang bangkit dari tempat duduknya.


"Ayo Papi, kita pulang. Aku lelah." ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada suaminya, dan pria itu segera menyambutnya.


"Ingat apa yang mama mu katakan, Der. Jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri." Satria berujar sambil melenggang mengekori istrinya.


***


"Kamu mau pindah?" tanya Daryl setelah beberapa saat mereka saling mendiamkan.


Nania mengangguk seraya menurunkan sebelah kakinya yang tak cedera. Namun pria itu meraup tubuhnya dengan mudah dan mengangkatnya dalam gendongan. Dan tak ada yang Nania lakukan selain diam dan berpegangan pada pundak kokohnya.


Daryl kemudian segera membawanya ke lantai atas di mana kamar mereka berada, lalu membaringkannya di tempat tidur.


Dan pria itu hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara, namun Nania segera mendahuluinya.


"Jangan bilang apa-apa dulu." katanya yang melirik samar ke arah Daryl.


"Hum?" Membuat suaminya itu mengerutkan dahi.


"Rasanya bakalan canggung." ucap Nania lagi yang membenahi letak bantal di bawah kepalanya.


Daryl hanya menatapnya lekat-lekat, lalu dia bangkit dan melepaskan kemejanya.


Nania sedikit merasa berdebar dan mengira pria itu ingin melakukan sesuatu, tapi Daryl kemudian naik ke tempat tidur. Dia merapatkan tubuh mereka dan memeluknya dengan erat. 


Wajahnya pun dia tenggelamkan di ceruk leher Nania dan merasakan kerinduan yang tak terkira. Lalu keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran yang terus berputar, meski akhirnya mereka tertidur juga.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


Jadi, udahan nih marahannya? Terus anu nya? 🤣🤣🤣


__ADS_2