The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Love Sign


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Anandita menyesap minuman dinginnya hingga hampir habis. Wajahnya ceria dan senyumnya mengembang sempurna, karena dia duduk di samping Regan yang berdiri tegak di luar stand.


"Ann, kamu tidak mau masuk? Di sana panas lho." Dygta memanggil putrinya.


"Nggak usah, Mom. Di sana sempit." Anandita menjawab.


"Tapi kan teduh. Sejuk lagi."


"Tapi sempit."


"Ini lagi Papa kamu kemana ya, kok lama sekali." Dygta bergumam dengan ponsel menempel di telinga.


"Udah, biarin aja. Paling nganter Asha sama Aksa jajan. Nggak setiap hari ini." Gadis itu mendongak kepada Regan lalu dia tersenyum lagi.


Sementara pria yang dimaksud hanya memutar bola matanya.


"Om, Om." Anandita menarik-narik ujung jaketnya. "Nggak panas apa berdiri di sana terus?" Dia bertanya.


"Saya sudah terbiasa." Mau tidak mau Regan menjawab.


"Aku sih nggak terbiasa."


"Ya sudah, kamu masuk sana."


"Tapi nggak apa-apa, kan ada Om di sini yang bikin hati aku sejuk. Hehehe." Dia kembali menyesap minumannya sampai habis dan hanya menyisakan bongkahan es batunya saja.


"Astaga, anak ini cari mati." Regan bergumam.


"Siapa bilang ih, kan aku nyari Om makanya ke sini juga. Kalau nyari mati ya ke jalan raya aja nabrakin diri. Atau jatuhin diri dari gedung tinggi gitu. Ngapain ke bazar? Om suka aneh deh."


"Stop Ann!"


"Kenapa?"


"Ada Mommy kamu."


"Terus?"


"Kamu tidak takut ketahuan? Apalagi kalau Pak Arfan sampai tahu, saya bisa mati." Pria itu melihat ke arah samping stand milik Nania untuk mencari keberadaan Arfan dan kedua anaknya yang lain.


"Nggak akan." Anandita melongok ke dalam stand dan melihat ibunya yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Kan Papa juga lagi bawa Asha sama Aksa jajan."


"Tetap saja, kamu sedang memposisikan kita dalam bahaya."


"Kita?" Gadis itu mendongak lagi sambil membingkai wajahnya sendiri, kemudian tersenyum.


"Umm … maksud saya …."


"Aku ngerti Om, ngerti. Jadi ini harus rahasia-rahasiaan ya? Nggak boleh ketahuan sama orang-orang ya? Oke aku bisa."


"Bagaimana bisa begitu sedangkan kamu … eh … maksudnya bukan begitu juga, tapi seharusnya kamu berhenti bertingkah seperti ini."


"Kenapa?"


"Karena kita tidak ada hubungan apa-apa. Lagi pula, kenapa juga kamu bicara seperti itu seolah kita ada hubungan? Melarang saya berinteraksi dengan orang lain, mencegah saya memberikan sesuatu kepada orang lain. Itu kan hak saya. Memangnya siapa kamu merasa punya hak mengatur-atur seperti itu?"


Gadis itu menahan napasnya sebentar. "Om mau kita ada hubungan apa-apa? Perasaan aku kan udah jelas sama Om. Saranghae." Dan dia menatap Regan dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Haih, bagaimana bicara dengan anak ini?" Regan mulai kesal.


"Om mau kita jadian? Ayo nggak apa-apa backstreet juga, tapi Om bener-bener jadi milik aku seorang." Anandita tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Milikmu apanya! Memangnya saya ini barang apa?" Regan kemudian berjongkok di sisinya sambil mengacak rambutnya dengan perasaan frustasi.


"Aih … Om mau ngajak jadian sekarang? Tunggu, kan aku belum persiapan." Gadis itu merapikan rambut, pakaian lalu mengusap wajahnya yang berkeringat.


"Astaga, Tuhan! Dengar, Ann. Kamu ini masih sekolah. Belum waktunya untuk pacar-pacaran. Belajar dulu yang rajin sampai cita-cita kamu tercapai dan sukses di masa depan."


"Aku rajin belajar kok. Buktinya aku ranking satu terus dari SD. Ya paling jelek sampai di ranking tiga lah." Anandita terus menjawab.


Regan terdiam sebentar untuk berpikir.


"Setidaknya sampai lulus kuliah dulu baru berpikir soal pacaran." sambung Regan ketika dia mendapatkan ide yang sepertinya cukup bagus untuk membuat gadis itu tak lagi mengganggu dengan tingkah konyolnya.


"Om mau nungguin aku sampai lulus kuliah?" Binar yang lebih ceria mendominasi wajahnya.


"Ya. Dan pada saat itu kamu sudah cukup dewasa sehingga Pak Arfan akan memberimu kebebasan untuk menentukan pilihan."


"Masa?"


"Percaya sama saya deh." Satu ide muncul lagi di otaknya. "Kalau kamu cinta-cintaannya dari sekarang, alamat papa kamu akan mengurungmu di rumah seumur hidup. Dan saya pun dalam bahaya karena akan dikira membawa pengaruh buruk."Β 


Anandita terdiam.


"Kamu nggak kasihan sama saya?"


"Bukannya kasihan, kan udah aku bilang saranghae."


"Makanya. Bantu saya untuk tetap bekerja dengan Pak Daryl sambil menunggu kamu dewasa, oke."


Gadis itu tersenyum.


"Ngerti Om."


"Jadi?"


"Nunggu aku dewasa untuk jadian sama Om?"


"Hadeh …."


"Cuma itu yang aku ingat. Heheh …."


"Iyalah, iya. Itu pokoknya. Jadi, bersikaplah yang wajar dan tidak bolehΒ  mencolok. Apalagi bertingkah konyol seperti tadi."


"Ih, kan aku cuma lagi mengungkapkan perasaan, Om."


"Iya tahu, tapi itu sangat berbahaya. Dan kalau Pak Arfan tahu, kita berdua benar-benar dalam bahaya."


"Ah, ribet deh jadi anaknya Arfan Sanjaya, nggak kayak anak lain yang bebas mau ngapain aja."


"Jangan bicara sembarangan. Takdir kamu sudah bagus, hanya harus menjaga dan memanfaatkannya dengan baik."


"Hmm …." Anandita bergumam sambil mengerucutkan mulutnya.


"Tidak usah begitu, kamu jelek!" Regan pun bangkit ketika dari kejauhan terlihat Arfan bersama kedua anaknya.


"Bersikap normal, jangan sampai papamu curiga!" katanya lagi saat pria itu sudah mendekat.


"Ayolah kita pulang sekarang. Cuaca sudah semakin panas!" Arfan dengan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


Dia menyeka dahinya yang berkeringat dan sedikit membenahi kacamata hitamnya.


"Papa borong jajanan?" Anandita pun bangkit dan menatap kedua tangan sang ayah yang menenteng beberapa bungkusan yang diperkirakan berisi makanan.


"Bukan Papa, tapi adik-adikmu." Arfan menjawab.


"Aaa … bagus-bagus. Aku minta." Gadis itu hampir saja meraih salah satu bungkusan, namun Asha buru-buru menghalanginya.


"Apaan? Kalau mau ya beli, jangan minta." ucap sang adik.


"Cuma satu Sha."


"Ogah, beli aja sana!"


"Papa, minta satu. Kan aku juga mau." Anandita beralih kepada ayahnya.


"Udah dibilangin tadi ikut sekalian malah pacaran." Namun Aksa bergumam sambil melenggang melewatinya untuk masuk ke dalam stand.


"Mommy, cepetan pulang. Kasihan Tante Nna stand nya kesempitan karena kita." Lalu dia mendekati sang ibu.


"Ah, iya dari tadi juga Mommy maunya begitu. Tapi kan kalian yang lama." Dan Dygta segera bangkit dan bersiap untuk pergi.


"Bukan aku, Mom. Tapi Asha yang kebanyakan jajan." Remaja tampan itu mendelik ke arah kembarannya yang sibuk dengan makanan padahal sejak tadi dia tidak berhenti mengunyah.


"Hadeh … kenapa aku punya saudara kayak Asha ya? Nggak ngerti deh." Dan dia menggelengkan kepalanya.


"Huss, begitu juga papamu sayang. Nanti marah kalau anak kesayangannya kita bicarakan." Dygta merangkul pundak Aksa lalu berbisik di telinganya.


"Oke, bertemu Tante Nna sudah, jajan sudah, lihat bazar juga sudah, jadi ayo cepat kita pulang?" ucap Arfan lagi kepada seluruh anggota keluarganya.


"Ann, kamu tidak mungkin tetap di sini kan?" Lalu dia beralih kepada Anandita.


"Iyalah, ngapain? Kan udah." Gadis itu menjawab.


"Ya sudah. Der, Nania kami pamit ya? Semoga dagangannya habis." Dia berpamitan kepada adik iparnya.


"Oh, pasti Om. Setiap hari juga habis." Daryl menyahut, dan seketika ucapannya membuat Arfan dan Dygta memutar bola mata hampir bersamaan.


"Sudah, sudah. Sana kalian pulang. Biar pembeliku datang lagi."


"Kau mengusir kami ya?" Arfan bereaksi.


"Bukankah tadi Om sendiri yang pamitan?"


"Sudah, Sayang. Cepat pulang, malu dengan pengunjung lain." Dan Dygta segera mendorong suaminya untuk menghentikan perdebatan.


"Dah Om, Dan Tante." Diikuti Anandita di belakang mereka.


Namun setelah beberapa langkah gadis itu berhenti lalu memutar tubuh. Membuat Regan yang tengah memperhatikannya sedikit terkejut.


Anandita tersenyum lalu menunjukkan finger heart, di mana jari telunjuk dan ibu jari ditempelkan dengan posisi menyilang di dekat wajahnya.


"Astaga, apa lagi itu?" Regan bergumam.


"Hey, cepat sana pulang! Nanti kamu tersesat!" Daryl berteriak dari dalam stand, yang membuat sang keponakan lari terbirit-birit.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•

__ADS_1


Bersambung ....


Siap-siap dibikin kalang kabut sama abege OmπŸ˜†


__ADS_2