The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Masalalu Dan Pekerjaan


__ADS_3

💕


💕


"Hari ini nggak terlalu ramai ya?" Mahendra menghentikan langkahnya di depan stand Nania saat berpatroli pada siang hari.


"Iya Kak, cenderung sepi sih." Nania yang tengah berdiri di depan menjawab.


"Hari Senin. Ramainya kan kemarin." Pria itu sedikit mendekat setelah yakin situasinya aman. Hanya ada Mahira yang memilih duduk di dalam karena keadaan bazar memang tak seramai biasanya.


"Iya, kayaknya gitu."


Pria itu terdiam sebentar. 


"Kalian hari ini berdua?" Lalu dia bertanya lagi.


"Ya, biasanya juga berdua kan?"


"Maksudnya, nggak ada model sama bodyguard." Dia tertawa mengingat beberapa hari terakhir selalu ada dua pria yang menemani Nania berjualan. 


"Ya kali ada terus? Kan harus kerja." Perempuan di depannya menjawab.


"Hmm … aku pikir pemilik perusahaan itu bebas untuk nggak datang ke kantor. Tahunya harus juga ya?" Mahendra seperti mendapatkan jalan untuk berbincang lebih lama dari biasanya.


"Ya nggak bisa gitu lah. Mentang-mentang yang punya terus bisa bertindak seenaknya. Yang kemarin itu kebetulan aja lagi santai. Kalau nggak mah, boro-boro bisa nemenin, di rumah aja jarang."


"Begitu?"


"Iya." Tiba-tiba saja mereka menjadi akrab.


Nania kemudian menatap ponselnya yang menyala, dan dia tersenyum ketika pesan dari suaminya lah yang masuk.


"Sedang santai, Malyshka?"


"Iya, hari ini nggak terlalu ramai." Nania mengirimkan balasan.


"Bagaimana dengan yang lain?"


Perempuan itu melihat ke kiri dan ke kanan stand nya.


"Sama aja, Dad. Malah ada yang cuma duduk-duduk aja."


"Tidak seramai kemarin ya?"


"Iya. Hari Senin sih."


"Bisa jadi."


"Kamu katanya sibuk? Kok bisa ngechat aku?"


"Sedang menunggu orang dari agensi. Kami ada janji makan siang."


"Oh …."


"Okay, there she is."


"Apa?"


"Dia sudah datang. Aku tinggal dulu ya?"


"Oh, oke."


"Makan dulu selagi santai."


"Iya, Dadd." Lalu aktivitas itu pun berhenti, dan Nania tampak terkejut ketika mendapati bahwa kakak kelasnya ternyata masih berada di sana.


"Kakak lagi ngapain?"


"Menunggu kamu." Mahendra menjawab.


"Nungguin aku?" Perempuan itu menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya."


"Mau apa? Aku pikir udah pergi dari tadi." Dia sedikit tertawa karena merasa jika hal ini cukup konyol.


"Aku mau bicara."


"Bicara?"


Mahendra menganggukkan kepala.


"Sama aku?"


"Ya masa sama meja?"


"Ya maksudnya … kan …." Nania melirik kepada Mahira yang diam di kursinya.


"Ada apa?"

__ADS_1


Mahendra semakin mendekat ke meja.


"Kak, aku udah punya suami lho kalau misalnya Kakak lupa. Dan aku nggak bisa ngobrol terlalu lama sama cowok karena …." Perempuan itu mengedarkan pandangan kensegala arah. 


Dia bersikap waspada kalau-kalau ada oramg suruhan Daryl atau pun Regan di sekitar mereka. Dan hal itu akan membuatnya ada dalam bahaya jika mereka melihat interaksi antara dirinya bersama kakak kelasnya tersebut.


"Kamu … nggak ingat aku?" ucap Mahendra.


"Apa?"


"Sudah beberapa bulan kuliah di sini dan kita cukup sering ketemu nggak membuat kamu ingat aku?" katanya lagi.


"Maksud Kakak?" Nania menjengit, sedangkan Mahira segera bangkit.


"Ternyata benar." Pria itu terkekeh getir.


"Hah?"


"Aku pikir mungkin kamu perlu diingatkan, tapi ternyata kamu memang benar-benar …."


"Maksud Kakak, apa kita pernah ketemu sebelum di kampus ini?" Kini Nania yang bertanya.


"Ya. Apa kamu ingat?" Muncul binar yang jelas di mata Mahendra.


Namun perempuan itu masih mengerutkan dahi. Otaknya berputar keras untuk mengingat wajah dan sosok pria di depannya yang mungkin dia kenal di masa lalu.


"Di mana?" Lalu dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Astaga!"


"Serius, memori di otak aku nggak menemukan Kakak." Nania kemudian tertawa. "Maaf, bukannya menyepelekan. Tapi emang aku nggak ingat. Coba Kakak ingetin di mana kita pernah ketemu?'


"SMP."


"SMP?"


"Ya. Kamu siswa baru yang aku ospek di SMP." Mahendra mulai membuka kenangannya.


"Oh ya?" Dan otak Nania terus berputar.


"Di hari terakhir MOS kamu memberiku makanan bekal …."


"Naaaahhhh!!" Nania kemudian bereaksi.


"Sekarang ingat?"


"Umm … nggak."


"Aku nggak kenal siapa-siapa di SMP. Nggak temenan juga sama anak lain, apalagi sampai kenal kakak kelas."


"Duh."


"Apa aku pernah melakukan sesuatu? Atau pernah bikin salah? Kalau iya aku minta maaf, karena sumpah aku nggak ingat. Asli." Nania mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Hhh …." Mahendra menghela napas kecewa. Jelas sekali jika bukan hal inilah yang dia harapkan.


"Sudahlah, ini konyol." katanya, yang kemudian pergi meninggalkan perempuan itu dengan raut kecewa.


"Dih, aneh. Orang emang beneran nggak inget gimana dong?" Dan Nania menatap kepergian kakak kelasnya tersebut.


"Tapi … emang iya gitu pernah ketemu?" Lalu dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengingat beberapa hal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Terima kasih, senang sekali bekerja sama denganmu, Sherin." Daryl berjabatan tangan dengan kolega barunya setelah menandatangani surat kesepakatan kerja di antara mereka.


Seorang perempuan cantik seusia dirinya yang secara kebetulan juga dia  mengenalnya. 


"Aku juga, semoga kerja sama ini menjadi sangat baik." Sherin menjawab.


"Ya, jadi aku tak harus mengadakan audisi untuk model lagi jika FSH membutuhkan. Karena terus terang saja, itu sangat melelahkan."


"Lalu bagaimana dengan model yang ada?" Perbincangan mereka berlanjut ke hal yang cukup serius.


"Setelah kontrak tahun ini selesai, mereka aku bebaskan untuk memilih tinggal atau pindah." Daryl menyesap kopinya yang sudah dingin.


"Dan aku yakin mereka akan tetap tinggal. Kau tahu, menjadi bagian Fia's Secret itu adalah impian para model."


"Tidak juga. Aku membatasi lama kontrak sampai tiga tahun. Jadi, ada beberapa dari mereka yang sudah habis masanya dan harus keluar."


"Wow, itu kejam sekali." Sherin tertawa.


"Tidak, menurutku itu adil. Jika terlalu lama disini, maka kesempatan mereka untuk bekerja di tempat lain akan hilang. Lagipula, lamanya bekerja di satu tempat akan membuat para model besar kepala."


"Hmm …." Perempuan di depannya mengangguk-anggukkan kepala.


Lalu percakapan terjeda ketika ponsel milik Daryl berbunyi.


"Daddy, hari ini pulang sore nggak?" Dan kmNania yang mengirim pesan.

__ADS_1


"Belum tahu, kenapa?" Dia membalas.


"Nggak. Tiba-tiba aku mau pulang bareng."


"Kan biasanya juga aku menjemputmu ke kampus?" Daryl membalas lagi.


"Tapi hari ini aku pengen banget."


"Baik, nanti aku usahakan pulang sesuai dengan jam pulangmu."


"Beneran ya?"


"Ya."


"Oke." Lalu Nania mengirim emot bibir merah jambu yang membuat Daryl tertawa pelan sebelum dia meletakkan ponselnya dan kembali pada percakapan bersama Sherin.


"Maaf, itu …."


"Istrimu?" tebak perempuan itu.


"Ya."


"Manis sekali dia mengirim pesan."


"Ya, hanya berencana untuk pulang sama-sama."


"Memangnya dia sedang di mana?"


"Kuliah."


"Istrimu kuliah?"


"Yeah."


"Aku hanya sekilas melihat waktu itu, dan tidak menyangka kalau kau menikahi gadis yang usianya jauh di bawahmu."


"Umm … ya, itu tidak ada dalam rencana, tapi … begitulah. Hahaha." Daryl tertawa.


"Ya, lucu juga melihatnya." Sherin berujar. "Oh iya, bagaimana soal undangan reuni? Apa kau akan ikut?"


"Reuni?"


"Ya."


"Belun tahu. Aku kan tidak lanjut di kelas kita. Waktu itu aku pindah ke Moscow kan, jadi bagaimana bisa?"


"Bisa saja. Tidak harus lulus sama-sama untuk reuni kelas. Hanya karena kau pernah ada di kelas yang sama dengan kami maka bisa saja kau diikut sertakan. Makanya aku memberikan undangannya padamu."


"Yeah … lihat saja nanti, kan. Lagipula aku tidak bisa pergi tanpa istriku."


"Bawa saja. Kelas kita terbuka untuk yang mau membawa pasangan."


"Benarkah?"


"Ya."


"Itu bagus sekali."


"Makanya, ayolah daftar?" bujuk Sherin kepadanya.


"Masalahnya istriku tidak terlalu suka keramaian, jadi aku harus membicarakannya terlebih dahulu."


"Yah …."


"Baik, apa masih ada yang perlu aku tanda tangani lagi di sini?" Daryl kembali melihat dokumen kerjasama mereka.


"Tidak, semuanya sudah selesai. Hanya tinggal nanti kau datang ke kantorku untuk bertemu para model."


"Ah, kau saja yang bawa mereka kemari. Sekalian kita makan siang."


"Benarkah?"


"Ya. Sekalian juga agar mereka melihat bagaimana FSH. Karena awal bulan depan akan dimulai Fia's Secret Fashion Week, dan itu bisa menjadi pekerjaan pertama mereka."


"Wow, model-modelku langsung dapat pekerjaan setelah ini?"


"Tentu saja. Kau pikir apa yang akan kau dapatkan dalam kerja sama ini? Apalagi kalau istriku sudah lulus kuliah dan dia benar-benar merealisasikan semua rancangannya. Aku jamin tidak akak ada model yang menganggur."


"Luar biasa. Aku tidak akan menyesal memilih bekerja denganmu." Sherin menanggapi ucapan teman semasa SD nya itu.


"Pastinya, kan?"


"Ya. Kalau begitu aku akan kembali ke kantor sekarang dan mengumumkan hasil kesepakatan kita pada mereka. Dan juga mempersiapkan model-modelku terlebih dahulu. Aku tidak mau mereka membuatmu malu untuk pekerjaan ini."


"Baik, terserah padamu." Lalu keduanya pun berpisah.


💕


💕

__ADS_1


💕


Bersambung ....


__ADS_2