The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Rencana


__ADS_3

💞


💞


"Om udah stand by aja?" Anandita berjalan tergesa menghampiri Regan yang sudah menunggu di depan sekolah.


"Ya. Bagus, bukan?" Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya ketika melihat Anandita menenteng sebuah tote bag berukuran besar.


"Apa ini, berat sekali?" Lalu dia memeriksa isinya yang ternyata beberapa buku berukuran tebal.


"Minggu depan mulai latihan ujian, Om. Jadi aku harus belajar banyak." Dan gadis itu pun menyerahkan benda tersebut.


"Memangnya berapa bulan lagi? Masih ada ujian nasional?" tanya Regan lagi yang meletakkan totebag milik Anandita dan meletakkannya di kursi belakang. Lalu setelah itu dia membuka pintu depan dan menggiringnya masuk.


"Kenapa bisa Om yang jemput aku? Kan Papa ada di Jakarta. Emang udah izin?" Gadis itu melontarkan pertanyaan.


"Sudah." Dan Regan segera menutup pintu ketika Anandita sudah masuk dan benar-benar duduk nyaman di kursi penumpang.


Mobil itu segera melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup padat seperti biasa, dan hiruk pikuk keramaian pun terlihat seperti yang selalu terjadi di hari-hari sebelumnya.


"Seriusan? Masa segampang itu?" Anandita seolah tidak percaya.


"Gampang lah. Hanya mengatakan kalau aku sedang bertugas di sekitar dan bertanya apakah kamu sudah pulang?" Regan menjelaskan.


"Terus, Papa bilang apa?" Anandita memiringkan kepala agar ia dapat menatap wajah pria itu lebih jelas.


"Kebetulan sekali kalau begitu, baiklah sekalian jemput saja Ann." Regan menirukan suara dan gaya bicara Arfan sehingga membuat gadis di sampingnya tertawa.


"Ini aneh banget deh, Om curiga nggak sih? Kok Papa bisa sesantai itu ya? Biasanya paling keras kalau soal ginian?" Mereka meneruskan percakapan.


"Entahlah. Memang agak mencurigakan papamu itu, tapi lihat sisi baiknya."


"Apa?"


"Mungkin dia mulai mempercayai aku." Regan tertawa, begitupun Anandita.


"Tapi harus tetap waspada kan?" Lalu dia menghentikan laju kendaraannya ketika lampu lalu lintas di depan sana berubah merah.


"Waspada soal apa?"


"Soal ini." Regan meraih tangan gadis itu yang semula berada di pangkuan dan menariknya perlahan.


Dia menautkan jari-jari mereka sehingga saling menggenggam erat, membuat Anandita tersenyum.


"Kira-kira, alasan apa yang bisa membuat papamu mengizinkan kalau aku mengajakmu pergi?" Pria itu menatap wajahnya.


"Pergi ke mana?"


"Manemui ibuku, mau?" ucapnya dan hal itu membuat Anandita tertegun untuk beberapa saat.


"Tapi aku tidak punya alasan kuat untuk membawamu pergi. Masa hanya mengatakan kalau ibuku ingin bertemu?" Regan tertawa.


"Mau apa ibunya Om ketemu aku? Emangnya Om udah ngomong ya soal kita?"


"Sudah. Dan sepertinya soal ini harus segera dibicarakan, jadi …."


"Sama papa?" Gadis itu memotong ucapannya.


"Bukan, tapi ibu."


"Kenapa juga Om bilang sama ibu? Katanya kita mau diam-diam dulu? Aku kan belum lulus sekolah." Anandita tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Hanya untuk membuat ibu tenang soal jodoh dan membuatnya berhenti berbicara soal itu."


"Hum?"


"Ibu terus meminta aku menikah." Regan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Anandita.


"Masa?"


"Ya. Dan aku sudah pusing mau memberi penjelasan seperti apa sementara tuntutan itu terus saja ibu katakan."


"Ya nikah aja kalau udah ada jodohnya." Gadis itu tertawa lagi.


"Justru itu, kan jodohku masih sekolah? Masa mau aku nikahi sekarang?" Regan menjawab dan itu membuat Anandita kembali terdiam, kali ini dengan pipi yang bersemu merah.


"Papamu tidak akan mengizinkannya, bukan? Bisa mati dihajar kalau aku melakukannya." Dia tergelak.


"Om serius ya soal ini?" Anandita kembali berbicara.


"Soal ini? Ya, tentu saja."


"Umm …."


"Tapi pertanyaannya, apakah kamu mau kalau aku bawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius?" Pria itu kemudian bertanya.

__ADS_1


"Hah? Nikah gitu maksudnya?" Dan Anandita balik bertanya.


"Bukan menikah." Regan tertawa lagi. "Tunangan, misalnya. Dan semua orang tahu soal hubungan ini, jadi …." Mereka saling tatap untuk beberapa saat.


"Tapi kalau papamu mengizinkan, langsung menikah juga bagus. Hehehe." Dia merasa sedikit canggung soal itu.


"Eee … aku nggak tahu, masalahnya aku kan belum lulus sekolah."


"Soal itu bisa kita bicarakan nanti. Soal kelulusan bisa ditunggu. Tidak lama, hanya beberapa bulan lagi kan?"


Anandita tersenyum sambil mengangguk.


"Jadi ini mau apa dulu? Langsung bilang ke papa? Duh, aku deg-degan." Gadis itu menekan dadanya sendiri sambil tertawa.


"Sepertinya harus bertemu ibu dulu, baru bertemu papamu." Regan kembali melajukan mobilnya ketika kendaraan lain mulai bergerak setelah warna lampu lalu lintas kembali berubah hijau. Namun dia tidak melepaskan tautan tangan mereka.


"Gitu ya?"


Pria itu mengangguk.


"Kapan?"


"Nanti saja kalau jadwal belajarmu longgar. Sekarang sudah sore."


"Oh, kirain sekarang. Udah gugup duluan akunya. Hahaha." Anandita tertawa lagi.


Dan mobil itu kembali berpacu membawa mereka pulang ke kediaman Arfan Sanjaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nggak mau, Daddy. Akunya capek." Nania bergeser ketika Daryl sudah meraup tubuhnya lebih dekat.


"Apa? Aku hanya ingin memelukmu. Jangan kegeeran." Dan pria itu tetap merapatkan tubuh mereka yang sudah berada di bawah selimut.


"Habisnya kalau udah deketan kayak gini kamu suka pegang-pegang. Hahaha." Perempuan itu tertawa.


"Terserah aku lah. Semua yang ada padamu kan milikku." Tangan Daryl sudah merayap dibalik pakaian tidur kekurangan bahan yang melekat di tubuh Nania.


"Tapi jangan begini, nanti kamu …." Sementara si empunya tubuh mencoba menghentikan tangan Daryl yang sudah menggenggam sebelah dadanya.


"Diamlah! Aku hanya mau begini saja. Tapi kalau kamu terus bergerak nanti Eragon bangun." Dan pria itu semakin merapatkan tubuh mereka.


"Nggak deketan kayak gini juga Eragon tetep bangun. Makanya aku mau jauhan."


"Daddy!" Dan hal itu membuat Nania merengek.


"Kalau kamu mau aku diam, maka diam juga lah. Salah sendiri kenapa mau tidur pakai baju begini terus? Aku kan jadinya terpancing." Daryl membenamkan wajahnya di belakang kepala Nania sehingga dia dapat menghirup aroma rambut perempuan itu yang baginya terasa menyenangkan.


"Bukannya kamu yang nyuruh? Setiap pulang kerja bawa baju ginian terus? Lagian kalau misal aku pakai kaos biasa aja juga kamu tetep kepancing. Kapan nggaknya?"


Daryl tertawa sambil mengeratkan pelukan dengan perasaan gemas tak terkira.


"Daddy, meluknya jangan gini amat. Aku sesak!" protes Nania sehingga pria itu sedikit melonggarkan pelukannya.


"Aku hanya punya waktu setidaknya enam bulan lagi sampai triplet lahir, kan? Setelah itu semuanya mereka yang menguasai. Jadi, apa salahnya kalau aku memanfaatkan waktu yang sebentar ini dengan baik?" Daryl memberinya ruang untuk sedikit bergerak.


"Iya, tapi nggak gini juga kan? Kamu lebay deh, kayak setelah itu aku nggak bakal bisa urus kamu lagi?"


Daryl terkekeh. "Takutnya begitu. Ini tiga bayi lho, jadi pasti nanti kamu akan sangat sibuk mengurus mereka."


"Iya kalau kamu biarin aku urus semuanya sendiri. Emangnya nggak akan bantuin aku apa?"


"Bantu soal apa? Sepertinya aku tidak akan bisa membantumu kalau soal mengurus bayi?"


"Ya apa kek? Bantuin megang mereka kalau aku lagi ngerjain tugas atau kerjaan rumah. Ini yang bikin kita berdua, masa susahnya aku sendirian?"


"Hahaha." Daryl tergelak.


"Jangan cuma ketawa, Daddy! Tapi bantuin!" Nania membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka berhadapan.


"Kan sudah." Daryl menjawab.


"Bantu apaan?"


"Aku yang menggantikanmu merasakan gejalanya. Kamu pikir itu tidak berat?"


"Dih, baru segitu. Belum aja kamu ngerasain perut membesar dengan tiga bayi di dalamnya. Mau tidur nggak enak, makan cepet kenyang tapi cepet laper juga. Badan aku nantinya jadi gendut dengan bentuk yang nggak karuan. Habis itu semuanya nggak sama kayak sebelum hamil. Kamu pikir itu nggak berat?"


Daryl menatap wajah Nania yang pipinya mulai terlihat tembem. Mungkin karena efek kehamilan kembar tiga yang dialaminya sehingga perubahan signifikan pada tubuhnya memang dialami perempuan itu.


"Is that hard?" Pria itu bertanya.


"Yang aku baca di buku dan lihat di video sih gitu. Tapi nggak tahu deh."


"See, how Gods create new life in this little tiny body that we can't imagine." Daryl mengusap pinggul hingga ke bagian atas tubuh Nania dengan lembut.

__ADS_1


"And it's amazing." katanya lagi dengan perasaan yang tak dapat ia jabarkan dengan kata-kata.


"Kadang aku merasa takut, Dadd." Dan Nania balas menatap manik kelam milik suaminya.


"Takut soal apa?"


"Apa aku bisa ya sampai lahiran nanti? Soalnya kalau lihat video sama baca pengalaman orang lain, ini kayak berat banget gitu."


"Why are you say something like that?"


"Nggak tahu. Rasanya aja gitu."


"No. Aku tidak akan membiarkanmu menjalaninya sendiri. See, bahkan gejalanya pun kita berbagi, begitu juga dengan yang lainnya."


"Mau bantu ngasuh kalau nanti mereka udah lahir?" Kedua sudut bibir Nania tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Ofcourse. What else? Itu juga yang papi lakukan waktu kami masih kecil, bukan? Maka itu jugalah yang akan aku lakukan kalau nanti mereka sudah lahir."


"Masa?"


"Serius."


"Paling nanti kamu beralasan sibuk kerja, jadinya nggak bisa bantu aku ngasuh mereka."


"Tidak akan. Lagipula, apa gunanya punya banyak saudara dan keponakan jika masalah anak saja membuat kita kerepotan? Minta saja mereka membantumu mengasuh. Bukannya selama ini kami selalu direpotkan ketika semua orang datang?"


Nania hanya tertawa.


"Lalu kamu pikir aku tidak akan mampu menyediakan bantuan untukmu ketika membutuhkannya? Kamu pikir aku ini siapa?"


"Iya iya iya." Perempuan itu tertawa lagi.


"Memangnya butuh berapa asisten rumah tangga agar bisa membantumu mengerjakan semuanya? Tiga? Empat? Sebutkan saja."


"Ahahaha, kalau tiga babysitter gimana?" Nania bernegosiasi.


"Boleh. Tiga babysitter ditambah satu pengurus rumah? Apa itu cukup?"


"Umm …."


"Eh, jangan. Kalau soal mengurus rumah kita serahkan kepada Mima." Daryl berujar.


"Mbak Mima juga repot di rumah besar, tahu?"


"Tidak juga. Kan ada yang lain? Akhir-akhir ini aku lihat Mima lebih santai?"


"Dih nggak boleh aja lihat orang santai sedikit?"


"Hmm … aku kasihan kalau lihat Mima diam. Dia akan ingat keluarganya dan ingin pulang."


"Masa?"


"Percayalah."


"Ya wajar dong. Dia kan punya keluarga. Emangnya nggak boleh?"


"Nanti dia jadi sering pulang kampung kalau begitu."


"Orang mama sama papi aja ngizinin, kenapa kamu yang repot?"


"Rumah besar sepi kalau tidak ada Mima, dan aku agak sungkan untuk berteriak kepada yang lain."


"Dih, jadi fungsinya Mbak Mima itu untuk kamu teriakin ya?"


Daryl tertawa.


"Dasar! Kasihan tahu."


"Cukup aku aja yang kamu teriakin, orang lain jangan."


Pria itu kini terdiam.


"Udah ah, tidur. Kalau kelamaan ngobrol nanti malah ke mana-mana." Nania menyurukkan wajahnya di dada pria itu.


"Hmm … baiklah kalau maunya begitu. Apa boleh buat? Padahal …."


"Ssssttt!" Dan perempuan itu segera menutup mulut Daryl dengan tangannya agar sang suami tak lagi berbicara sementara dirinya mencoba memejamkan mata.


💞


💞


💞


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2