
💕
💕
"Eh, bukankah tadi kita pergi dengan Ann dan Regan?" Darren menghentikan langkahnya setelah menempuh setengah perjalanan pulang.
Tangga tanah berbatu sudah basah mereka lewati dan kabut kembali naik menyelimuti kawasan tersebut padahal hari sudah siang.
"Oh iya, aku lupa!" Dimitri pun menepuk kepalanya dengan keras saat dia mengingat hal yang sama.
"Kalian sih terlalu asyik bermain, seperti anak kecil saja!" Dan Daryl menambahi.
"Kau juga!" Darren kemudian menepuk punggung saudara kembarnya.
"Eh, sudah-sudah. Jangan berdebat! Lebih baik kalian kembali ke bawah dan ajak Ann pulang. Siapa tahu Regan juga tidak menyadari kalau kita pergi." Dimitri segera menghentikan perdebatan yang hampir dimulai.
Dan kedua adik laki-lakinya tersebut segera menurut.
***
"Ann, kamu tidak mau pulang apa? Pak Daryl dan Om mu yang lain sudah pergi." Regan menunggui gadis itu yang masih asyik membiarkan dirinya dijatuhi air terjun.
Anandita bergeming.
"Ann?" Sementara Regan baru saja merapikan jaket juga sepatu mereka dan meletakkannya di tempat yang aman.
"Ck! Kamu jangan berulah terus dong Ann. Nanti saya yang akan dapat kesulitan." Pria itu berteriak karena sepertinya Anandita tidak mendengar.
Beberapa saat kemudian gadis itu mengalihkan perhatian kepadanya.
"Om kalau mau ke atas ya ke atas aja, repot amat? Aku masih betah di sini." Lalu dia berujar.
"Masa saya harus meninggalkanmu di sini sendiri?" Regan kemudian kembali masuk ke dalam air dan melesat ke arah gadis itu, bermaksud untuk memaksanya pulang.
"Ya nggak apa-apa, cuma di resort ini." Anandita menjawab.
"Nanti apa yang akan saya katakan jika Pak Arfan bertanya?" Dan kini jarak mereka sudah cukup dekat, namun Regan harus berteriak agar putri pemilik resort itu bisa mendengar suaranya. Karena gemuruh air terjun di dekat mereka cukup mendominasi pendengaran.
"Ya bilang aja aku masih disini. Gitu aja kok repot?"
Regan mengetatkan rahangnya untuk menahan kekesalan yang menyeruak dalam dada, namun ia tak tega untuk marah.
"Ann?" Lalu terdengar teriakan dari arah atas yang mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Anandita? Kamu masih di bawah?" Suara itu terdengar lagi.
"Hah? Om Der?" Anandita terkejut.
"Ann? Regan?" Suara lainnya juga terdengar.
"Sama Om Darren?" ucap Anandita yang terlihat panik.
Lalu tiba-tiba saja dia meraih tangan Regan dan menariknya masuk ke belakang air terjun.
"Ann?"
"Nanti mereka maksa pulang, tapi aku masih mau di sini." ucap gadis itu yang menarik Regan lebih ke dalam cekungan tebing di balik air yang mengalir dari bukit.
"Tapi …."
"Anandita?" Suara Daryl kembali terdengar memanggil, dan bayangannya terlihat samar dari balik air terjun. Namun dua orang di dalam hanya terdiam.
"Mereka tidak ada, Ren." ucap Daryl yang menatap ke sekeliling.
Keduanya tak menemukan tanda-tanda keberadaan baik Anandita maupun Ringan di sana.
"Mungkin mereka sudah lebih dulu kembali?" Darren mengira-ngira.
__ADS_1
"Yeah, tapi jalan mana?" Daryl kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling lembah yang berkabut.
"Kau lupa jika Ann itu anak pemilik resort ini? Sejak kecil dia sering dibawa Om Arfan tinggal dan menghabiskan liburan di tempat ini. Dia pasti sudah tahu seluk beluk dan jalan pintasnya."
"Kau benar. Lagi pula ada Regan, kan?" Daryl mengamini.
"Benar. Dia terlatih, jadi kita tidak usah khawatir kan?"
"True. Tapi bagaimana kalau Om Arfan bertanya?" Daryl menatap wajah saudaranya.
"Sebisa mungkin jangan menemui Om Arfan sebelum Anandita juga sampai di villa. Atau kita akan kena masalah seperti Arkhan. Hahaha."
"Kau benar, jadi ayo kita pulang?" ajak Daryl, dan akhirnya mereka berdua pun kembali ke arah jalan tangga.
"Mereka beneran udah pergi nggak sih?" Anandita mengintip dari balik air
"Sepertinya begitu." Dan Regan melakukan hal yang sama. "Tunggu! Kenapa kita harus bersembunyi? Bukankah tadi saya memang mengajakmu untuk pulang?"
Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ann, ayo kita …."
"Nggak mau. Aku masih betah di sini." Lagi-lagi Anandita menolak.
"Ann?"
"Om tahu?" Lalu dia memiringkan tubuh sehingga mereka berhadapan. "Cuma dengan cara ini kita bisa berduaan." katanya yang menatap wajah Regan lekat-lekat.
"Dari tadi kita sudah berduaan terus. Ketiga pamanmu bahkan tidak menyadari keberadaan kita, dan lagi …."
"Sssttt! Om banyak omong!" Tiba-tiba gadis itu menutup mulut Regan dengan tangannya.
"Om ngerti konsep romantis nggak sih? Biar Om masih gengsi untuk ngakuin kalau Om juga suka sama aku, itu nggak apa-apa. Yang penting aku udah tahu." katanya dengan percaya dirinya yang tinggi.
"Kegeeran kamu!" Namun Regan segera menyingkirkan tangan dengan jemari yang lentik itu dari mulutnya, meski dia tak segera melepaskannya.
Dan hal tersebut membuat Regan hampir kehilangan kata-kata.
"It's oke, Om. It's oke." Lalu Anandita menyentuh dadanya yang berlapis kaos oblong berwarna putih yang sudah basah.
"Aku bisa menunggu sampai umurku cukup kalau itu yang Om persoalkan, atau juga aku akan sabar sampai Om siap mengakui perasaan Om." katanya dengan pandangan berbinar.
"Kata-katamu terdengar sangat dewasa, Ann." Regan terkekeh, lalu sebelah tangannya yang lain menekan tangan gadis itu yang bertumpu di dadanya.
"Emangnya harus gimana? Harus kedengeran kayak Anya ya?" Gadis itu pun tertawa.
"Tidak, hanya saja …."
"Aku belum cukup umur di mata Om." Mata keduanya saling memindai dan mereka merasakan debaran yang sama.
Namun bagi Regan, seperti ditambah sedikit ngilu di ulu hati. Tapi dia merasa bahagia.
"Bagaimana bisa, Ann?" Pria itu bergumam.
"Apanya?"
"Bagaimana bisa perasaan ini pantas? Sedangkan aku …."
Dan gadis itu kembali menempelkan tangannya pada mulut Regan untuk menghentikannya berbicara.
"Aku kesel kalau Om udah bahas yang lain-lain. Cuma bilang punya perasaan yang sama aja kenapa sih? Kenapa harus disangkut pautkan sama hal yang nggak penting?"
Regan kembali menarik tanga Anandita, namun kali ini tidak dia turunkan.
"Kamu terlalu muda untuk memahami apa yang baru saja kamu ucapkan. Ini bukan hanya soal perasaan yang kita miliki dan apa yang kita inginkan. Tapi lebih dari itu, Ann."
"Apa?"
__ADS_1
"Kita akan menghadapi orang-orang, dan terutama orang tuamu."
Anandita tertawa. "Om takut? Galak-galak gitu juga Papa aku baik lho. Cuma tampang sama gaya ngomongnya aja yang nyeremin, tapi untuk urusan perasaan Papa cukup peka."
"Bukan takut, Ann."
"Terus apa?"
"Aku hanya … merasa kalau ini tidak sepantasnya terjadi." Tiba-tiba sapaannya kini berubah.
"Iya kenapa?"
"Entahlah, hanya saja …."
"Kalau gitu jangan sampai ada orang yang tahu." Anandita sumringah saat menyadari apa yang terkandung dari kalimat yang Regan ucapkan.Â
Dia tahu bahwa pria itu memang memiliki perasaan yang sama dengannya, dan rasanya itu cukup untuk menambah kepercayaan dirinya.
"Nggak usah ada yang tahu. Aku juga sadar mungkin nantinya akan ada masalah kalau misalnya …." Gadis itu terkesiap ketika Regan menghapus jarak di antara mereka.
Apalagi saat dia menarik wajahnya sehingga bibir mereka bertemu. Dan tanpa menunggu lama pria itu memagutnya dengan rakus seolah ingin menghabiskannya untuk dirinya sendiri, membuat Anandita hampir kehilangan napas.
Regan berhenti sebentar untuk membiarkannya mengambil napas sebanyak yang dia bisa, seraya menempelkan kening mereka berdua. Dadanya naik turun dengan cepat, dan dia pun sedang mengatur napasnya sendiri.
"Jika terjadi sesuatu, maka ini semua adalah salahmu, Ann." Pria itu setengah berbisik.
"Salahmu yang selalu mendekat padahal aku sudah berusaha menahan diri." katanya lagi, sedangkan Anandita mengerjap-ngerjap menyeimbangkan kesadarannya.
Ini pertama kalinya dia berciuman, bahkan pertama kalinya seorang pria menyentuhnya. Selama ini dia menjaga dirinya sendiri dan tidak pernah melanggar larangan orang tuanya, apalagi sang ayah. Tapi untuk Regan, Anandita memiliki pengecualian.
"Kamu dengar itu? Salahmu yang membuatku memiliki perasaan yang sama sehingga aku seperti ini." Pria itu terkekeh. "Dan aku menyukainya." katanya lagi, kemudian dia kembali menempelkan bibirnya pada Anandita dan mengulangi cumbuan tersebut, dan kali ini lebih dalam.
"Kamu … menang, Ann." Lalu kedua tangannya merangkul tubuh semampai Anandita sehingga jarak di antara mereka benar-benar menghilang. Dan keduanya terus saling merasai bibir masing-masing, terutama Regan yang memang lebih mendominasi dari pada Anandita yang hanya diam saja karena tidak tahu harus bagaimana selain pasrah.
"Lalu, jika sudah begini kamu akan menurut?" Susah payah Regan berhenti dan menahan diri ketika ia menyadari banyak hal.
"Soal apa?" Anandita pun berhasil menarik kesadaran yang sempat menghilang dari kepalanya.
"Jangan terlalu banyak tingkah agar tidak ada yang tahu, dan …."
Gadis itu tetap menatap wajahnya dengan pandangan berbinar.
"Ayo kembali ke villa sebelum semua orang menyadari kalau kamu tertinggal." lanjut Regan yang melepaskan rangkulan tangannya.
Dia memeriksa keadaan, dan setelah yakin jika situasinya aman, pria itu segera menariknya keluar. Dan tak ada yang Anandita lakukan selain menurut.
Regan membantunya mengenakan jaket dan sepatu, lalu memastikan tak ada apapun yang tertinggal. Kemudian dia menariknya menuju tangga jalan pulang.
"Jangan lewat sana, nanti orang-orang pada curiga." Namun Anandita cepat menghentikannya.
"Apa?" Regan menoleh.
"Lewat sini aja, lebih dekat." katanya yang kini menarik Regan ke sisi lain tebing.
Dia menyingkap semak belukar dan menemukan sebuah jalan setapak menanjak yang sepertinya jarang dilewati. Tentu saja karena hanya dirinya dan Arfan lah yang tahu. Ini semacam jalan rahasia yang tidak ada siapa pun yang tahu selain mereka.
"Lewat sini biasanya aku sama Papa lebih cepat sampai di villa." ucap gadis itu, lalu mereka tertawa.
Kemudian keduanya bergegas menerobos jalan itu, berlomba dengan siapa saja yang menempuh perjalanan di sisi lainnya.
💕
💕
💕
Bersambung ...
__ADS_1
Duh, udah tium-tium. Jadi artinya apa itu teh? ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤