
💕
💕
Nania menurunkan tubuhnya sehingga senjata Daryl masuk seluruhnya. Lalu dia segera bergerak mengikuti instingnya sendiri, dan apa yang terjadi setelahnya sungguh membuat mereka semakin kehilangan akal.
Kesadaran benar-benar menghilang, dan yang tersisa hanyalah keinginan untuk menggapai pelepasan bersama.
Daryl meremat bokongnya dan sesekali meraih cumbuan. Lalu seterusnya menikmati kegilaan ini sehingga dia merasa tak lagi bisa bersabar.
Eragonnya terasa direm*s kuat, dihimpit di ruang sempit yang begitu membuatnya gila, dan dimanjakan oleh gerakan Nania yang semakin pandai menyenangkannya.
Des*hannya menambah suasana menjadi semakin erotis saja dan mereka sama-sama terbakar gairah. Gerakan tubuhnya membuat dia semakin menginginkannya, dan setiap ekspresi yang ditunjukkan menambah semangatnya.
"Aww, Daddy!" Nania pun mengerang ketika Daryl menghujam dari bawah. Setelah beberapa lama rupanya pria itu merasa tak tahan juga.
Dia sedikit tertawa kemudian kembali meraih ciumannya. Menyesap bibirnya yang sudah membengkak dan terus menikmati apa yang ada pada Nania.
Kedua dadanya bahkan sudah dipenuhi oleh bercak kemerahan akibat ulahnya, dan Daryl senang melihatnya.
"Mmmhhh …." erang Nania lagi seraya mempercepat gerakan pinggulnya ketika dia merasakan hampir tiba pada klim*ksnya. Dan rematan tangannya pada pundak Daryl menjadi semakin kencang.
"Yeah, come on!" Daryl menatap ekspresinya yang menggairahkan dan dia pun mati-matian menahan diri.
"Oohhh, Daddy!!" Gerakan pinggulnya semakin cepat saja.
Keringat mulai mengucur dari pelipisnya dan dia hampir tiba di puncak.
"Yes, come on Baby!" bisik Daryl yang tidak berhenti menghujam, dan dia pun menekan lebih keras saat merasakan hal yang sama.
Hingga akhirnya mereka sudah tak lagi bisa menahan, dan pelepasan pun segera menghantam keduanya dengan luar biasa.
"Oohhh!!!!" Nania menekan miliknya keras-keras seperti halnya Daryl yang menghujam begitu dalam. Dan mereka saling memeluk satu sama lain dengan erat, lalu terkulai bersamaan setelah beberapa saat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Regan berlari menyusuri jalanan yang pagi itu cukup lengang. Program car free day di hari minggu rupanya cukup efektif mengurangi kendaraan pribadi di hari libur itu.
Dia sudah meninggalkan rumah sejak pagi untuk berolah raga dan akhirnya tiba juga di GBK. Di mana orang-orang dari sekitaran Jakarta juga sudah menyemut.Â
Jarang sekali dirinya bisa punya kesempatan seperti ini karena kesibukannya sebagai staf andalan di Fia's Secret House juga tangan kanan Daryl yang menjadi andalan pria itu untuk menyelesaikan banyak hal.
Dan beberapa tahun ini waktunya memang habis untuk bekerja, sejak staf yang ditugaskan oleh Satria menemukannya kurang lebih setahun setelah dirinya selesai kuliah.
Ini menjadi hal yang cukup menyita waktu untuk dirinya sendiri, dan kehidupan sosial maupun pribadi karena tugas yang banyak dan tidak terduga. Meskipun timbal balik yang diterimanya cukup sepadan, dan dia mendapatkan apa yang pantas atas kerja kerasnya selama ini, dengan keluarga tempat neneknya bekerja dulu.
"Regan?" Seorang perempuan menginterupsi konsentrasinya, dan dia menoleh untuk memeriksa.
Mia yang mensejajari larinya tersenyum manis begitu mengetahui keberadaan pria itu di sekitarnya.
"Kebetulan sekali ya? Kamu jogging juga?" ucap perempuan itu.
"Ya, seperti yang kamu lihat."
"Hmm … sendiri?" tanya Mia kemudian.
"Banyakan." Regan menjawab.
"Benarkah? Dengan siapa saja? Tante Melia dan Om Bian ikut?" Perempuan itu melihat ke sekeliling.
"Tidak."
__ADS_1
"Terus?"
"Ya pelari lain lah, tidak lihat di sini banyak orang?" ketus Regan yang menambah kecepatan larinya sehingga dia bisa mendahului sang mantan kekasih.
Regan berhenti setelah tiga kali berputar mengelilingi stadion terkenal di Jakarta itu. Dan dia memilih pelataran parkir yang agak teduh untuk mengistirahatkan otot-otot kakinya.
Lalu seseorang menyodorkan sebotol air mineral, membuatnya mendongak untuk melihat..Lagi-lagi itu adalah Mia yang dengan manisnya memasang senyuman di wajahnya.
"Kebetulan aku beli minumnya kebanyakan, jadi aku pikir kamu juga butuh minum." katanya, dan dia memang sengaja mencari alasan untuk mendekat.
"Tidak usah, terima kasih." Regan segera bangkit lalu melenggang bermaksud meninggalkan gadis itu.
"Maaf." Tiba-tiba saja Mia minta maaf, dan hal tersebut membuat Regan menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku, Regan." katanya lagi, yang juga membuat pria itu memutar tubuh.
"Kenapa minta maaf? Memangnya kamu ada salah?" Namun Regan malah bertanya.
"Maaf, kalau apa yang aku lakukan membuatmu sakit hati. Dan aku …."
"Tidak." Dia memotong kata-katanya. "Memangnya apa yang kamu lakukan? Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, dan lagi aku memang sudah melupakannya."
Mia menggigit bibirnya keras-keras.
"Kamu … sudah melupakannya?"
"Ya." Regan terkekeh. "Memangnya kenapa? Bukankah kamu baik-baik saja? Nyatanya aku juga, dan kehidupan terus berlanjut, bukan?"
Mia terdiam.
"Akhir-akhir ini aku memang sedang ingat kamu dan orang tuamu. Jadi terkadang ingin bertemu dan mengunjungi mereka."
"Benar."
"Maka datang saja, tidak ada yang melarangmu."
"Kecuali kamu." ujar Mia kemudian.
"Aku?"
"Ya."
"Memangnya apa yang kamu harapkan?" Regan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. "Aku bahagia dan menyambut kehadiranmu yang sedang mengunjungi orang tuaku?"
Perempuan itu terdiam lagi.
"Hubungan yang telah putus tidak akan mungkin kembali utuh dalam bentuk lain, Mia. Walau dengan istilah pertemanan kita bisa tetap berhubungan baik, tapi tetap saja ada yang sudah berubah. Dan jangan berharap sikapku kepadamu akan seperti sebelumnya, karena tidak mungkin seperti itu." Regan menatap wajah mantan kekasihnya lekat-lekat.
"Kenapa, Mia? Bukankah kamu baik-baik saja? Dan sendiri juga lebih bahagia? Jadi aku rasa semuanya juga baik kan?"
"Regan …."
"Aku pamit." ucap pria itu yang memilih untuk segera pergi dan tidak ingin membuat pertemuan ini menjadi lebih lama lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy?" Nania kembali ke tempat tidur setelah membersihkan diri.
"Hmm …." Sementara Daryl menggeliat di bawah selimutnya ketika perempuan itu menduduki perutnya.
"Lihat udah jam berapa? Kamu nggak mau bangun?" Nania berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Ah, pergilah! Aku masih mau tidur." Namun pria itu setengah mengigau.
"Terus kita pulangnya kapan?" Dan Nania masih berada di atasnya dengan masih mengenakan bathrobe yang melindungi tubuh telanjangnya.
"Pulang apa?" Daryl segera membuka mata dan mendapati Nania yang baru saja mandi.
"Pulang ke rumah, Dadd."
Pria itu menatap ruangan di mana mereka berada, dan dia baru ingat bahwa kini Nikolai Tower menjadi tempatnya bermalam.
"Oh, astaga!" Daryl tertawa sambil memijat pangkal hidungnya.
"Masa kamu masih mabuk?" Nania sedikit menunduk.
"Ya, memang masih. Kamu yang membuatku mabuk." katanya yang memeluk pinggang perempuan itu dengan erat. "Jadi, ayo buat aku lebih mabuk lagi?" Daryl terkekeh sambil menarik Nania sehingga tubuh mereka kembali merapat.
"Nggak mauuuuu!" Namun Nania berusaha menolak.
"Oh, ayolah! Eragon juga sudah bangun, dia tahu sarangnya mendekat dan ingin segera masuk."
Nania tertawa terbahak-bahak.
"Ayo." Daryl menyingkap bathrobe sehingga pundak telanjangnya terpampang di depan mata, sementara talinya di bawah dia tarik juga.
"Nggak mau, Daddy?" Kemudian Nania bangkit untuk menghindar seraya membenahi bathrobe nya yang berantakan.
"Oh, come on!"
"Mandi dulu, baru kita main lagi." Nania terkikik kemudian turun dari tubuh suaminya.
"Kalau sudah mandi boleh?" Daryl pun bangkit dan hampir menyingkap selimutnya.
Nania tak menjawab tapi hanya tertawa.
"Malyshka?" Pria itu lantas turun dari tempat tidur.
Nania mengangguk kemudian tertawa lagi.Â
"Benar?"
Perempuan itu mengangguk lagi dan tawa kembali keluar dari mulutnya.
"Baiklah kalau begitu." Daryl pun dengan cepat menghampirinya dan dia mendorong Nania ke arah kamar mandi.
"Tapi, Dadd. Maksud aku kamu aja yang mandi sendiri, bukan sama aku." Nania menahannya di ambang pintu.
"Tapi yang aku mau bukan begitu." Daryl menjawab dan dia berhasil menyeret istrinya ke dalam kamar mandi.
"Tapi kan aku udah mandi tadi …." Terlambat, karena pria itu sudah menyalakan shower dan mengguyur tubuh mereka berdua.
"Daddyyyyy! Aku udah mandi!!!" Nania berteriak, sementara Daryl hanya tertawa.
💕
💕
💕
Bersambung ....
Duh, digeber terus😆😆😆
__ADS_1