
💕
💕
"Daddy?" Nania mengguncangkan tubuh Daryl yang terbaring di atas matras di dalam tenda.
Keadaan sudah sunyi dan udara menjadi semakin dingin. Namun api unggun masih menyala meski orang-orang sudah tidak ada.
"Daddy, bangun. Ayo kita pindah ke dalam." ucap Nania lagi yang meremat wajah suaminya.
"Daddy?"
"Hmm …." Daryl menggeliat kemudian membuka mata. "What?" katanya sambil mengusap wajah.
"Ayo kita pindah, di sini dingin banget aku nggak kuat." Hembusan napas Nania tampak seperti uap karena udara sekitar yang begitu dingin.
"Dingin? Sini aku peluk." Pria itu meraup dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Nggak ih, ayo kita pindah aja." Namun Nania meronta.
"Di sini sama saja, Malyshka. Kita bisa …."
"Nggak mau!"
"Ayo, pasti akan seru. Hahaha."
"Ya udah kalau kamu mau di sini, aku pindah sendirian aja kalau gitu." Perempuan itu pun keluar dari dalam tenda dan Daryl segera mengikutinya.
"Hey, Malyshka! Tunggu!"
"Aku nggak bisa tidur soalnya di tenda sempit. Mana dingin lagi, rasanya juga aneh tidur di alam terbuka."
"Kemarin malam di rooftop kita main di tenda kamu tidak apa-apa." Pria itu tertawa.
"Ish, itu beda. Kita kan masih di rumah."
"Tapi sama-sama di tenda." Daryl merangkul pundaknya.
"Tetep aja beda."
Pria itu tertawa. Lalu dengan mudah dia mengangkat tubuh Nania di pundak dan membawanya berlari ke villa mereka.
"Daddy! Turunin!"
"Diamlah, kaki pendekmu itu tidak bisa aku bawa lari cepat." Pria itu tak mendengarkannya.
"Astaga! Di mana saja mereka tidak peduli." Sementara Regan yang baru saja kembali dari menyelesaikan tugasnya menjemput Arkhan di area bawah melintas di tempat itu.
Kamarnya yang berada tak jauh dari tempat camping tersebut membuatnya melewati jalan setapak menuju area villa keluarga Nikolai menginap.Â
Dan setelah memeriksa beberapa hal untuk memastikan keadaan aman akhirnya dia memutuskan untuk istirahat sejenak di sana.
Regan merebahkan tubuh lelahnya di kursi malas beralaskan matras empuk, menatap langit perbukitan yang kelam. Cuaca mendung dan sedikit berkabut membuat suasana semakin terasa sunyi dan bintang-bintang bahkan tak terlihat. Hanya binatang malam saja yang suaranya sayup-sayup terdengar mengisi keheningan malam itu.
Dia merogoh ponselnya yang sejak tadi sepi selain menerima pesan dari Dinna, dan seperti biasa story Anandita lah yang diperiksanya.
Masih sepi. Gadis itu bahkan tak terlihat aktif sejak selesai mendengarkan dongeng Satria padahal tadi mereka sudah berbicara.
"Memangnya apa yang kau harapkan, Regan? Dia memasang kata sarangheo lagi untukmu?" Regan tertawa.
"Kau pasti bercanda. Remaja seperti dia masih labil dan nanti akan ada lebih banyak tingkahnya yang membuatmu bingung. Maka bersiaplah untuk menghadapinya." gumamnya pada dirinya sendiri.
Kemudian Regan memejamkan matanya sejenak setelah memastikan tak ada pesan yang harus diperiksa lagi di ponselnya.
"Yaaahhh … tidur?" Tiba-tiba saja dia mendengar suara lirih di dekatnya.
"Om? Beneran udah tidur?" Anandita yang tiba di sana memeriksanya.
__ADS_1
"Om?" Gadis itu menusuk-nusuk pundak Regan dengan ujung telunjuknya untuk memastikan jika asisten pamannya itu benar-benar tidur.
Namun Regan membuka mata kemudian menoleh saat dia merasa kesal karena tidak bisa mengabaikannya.
"Eh … aku bangunin Om ya? Hehehe." Anandita tertawa.
"Sudah malam, Ann. Kenapa kamu masih berkeliaran di sini?" Dia melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul satu lewat tengah malam.
"Aku nyari hape dari tadi nggak ketemu." Anandita menyingkap beberapa bantal besar yang ada di sana.
"Apa?"
"Hape aku hilang dari tadi belum ketemu." ulang gadis itu.
"Di kamar tidak ada?" Regan bangkit.
"Ya kalau ada nggak mungkin aku nyari ke sini, memangnya aku kurang kerjaan apa?"
"Siapa tahu kan?"
"Nggak ada, Om. Udah aku cari di kamar. Di bawah selimut, bantal. Di tas juga nggak ada."
"Terakhir kamu main hape di mana Ann? Mungkin jatuh." Pria itu pun menyingkap beberapa benda di dekatnya.
"Nggak tahu, tadi kan pas Om Pergi aku pindah ke sini di suruh Papa. Terus aku duduk di sini." Anandita menunjuk bantal besar di dekat Regan, dan pria itu segera menarik benda tersebut dan mengangkatnya.
Lalu sebuah benda pipih itu terjatuh ke rumput dan bisa dipastikan jika itu adalah sebuah ponsel.
"Nah kan! Huuuh, coba dari tadi nyarinya di sini, bukan malah bolak-balik di kamar ke jalan." Gadis itu segera memungut dan memeriksa ponsel tersebut.
"Selamat, selamat." Lalu dia tertawa.
Regan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Apaan?" Anandita mendongak.
"Modusmu receh sekali sih?" ujar Regan dengan curiga.
"Modus hilang hape agar ada alasan bisa keluar dari kamar. Kamu pikir saya ini bodoh?"
"Dih? Ke geeran. Orang hapenya emang beneran ketinggalan."
Pria itu mencebik.
"Padahal aku sempat mikir mau gitu, hahaha …." Anandita tertawa lagi.Â
Regan berdecak kesal.
"Kan biar bisa ketemu, Om." Gadis itu tersenyum lebar.
"Sudah, cepat kembali ke kamarmu. Bisa murka papamu jika melihatmu ada di sini dengan saya." Pria itu menggiringnya untuk kembali.
"Tapi anter." ucap Anandita sambil menatap jalan setapak menuju villa di mana dia dan keluarganya menginap.
"Apa?"
"Tadi jalannya agak gelap, Om. Aku takut." Gadis itu beralasan.
"Tadi kamu sendiri ke sini tidak takut? Jalannya sama kan?"
"Tadi kan nyari hape, hehehe."
"Ck! Alasan."
"Emang. Eh …." Anandita menutup mulut dengan tangannya.
Pria itu memutar bola matanya.
__ADS_1
"Cepat, saya antar kamu sampai dekat villa." Namun akhirnya dia mengalah dan mengantarkan gadis itu ke villa di bagian atas bukit.
"Om habis ini mau ke mana?" Anandita terus mengoceh sepanjang perjalanan mereka.
"Ya tidur, ke mana lagi?" Regan terus menyalakan senter pada ponselnya untuk menerangi jalan mereka. Meski ada lampu taman di setiap lima meter jalan setapak itu, ditambah lampu dari beberapa villa yang mereka lewati, tetap saja suasananya sedikit gelap di luar sini.
"Kirain jaga semalaman?"
"Kamu pikir saya ini satpam?"
"Ya kali …."
"Ada penjaga resort yang patroli kan?" Mereka berhenti sekitar sepuluh meter dari villa besar di ujung yang terlihat sangat sepi. Benar-benar mencerminkan sosok Arfan Sanjaya yang sulit dijangkau.
"Cepat masuk lalu tidur, dan jangan berkeliaran lagi atau kamu akan tersesat." ucapnya yang mematikan senter di ponselnya.
"Emangnya aku serigala apa jam segini berkeliaran." Anandita menjawab.
"Siapa tahu kamu punya alasan lain untuk keluar lagi?"
"Nggak dong, hahaha."
"Serius, Ann. Atau kamu akan dapat masalah jika terus seperti ini." Regan menatap wajahnya yang memucat karena udara dingin.
"Jangan mempersulit diri sendiri." lanjutnya, yang membuat Anandita terdiam.
"Masuk sana." katanya lagi yang kemudian dituruti oleh gadis itu.
Regan menunggunya hingga ia sampai di depan pintu kemudian memutar tubuh. Mereka saling pandang untuk beberapa saat dan sama-sama merasakan debaran yang semakin jelas, terutama Anandita.
Dia tersenyum kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam villa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daryl?" Panggilan yang cukup nyaring memecah pergumulan pada pagi hari yang berkabut itu.
"Kami mau jalan pagi, apa kau mau ikut?" Suara saudaranya kembali terdengar memanggil.
"Der? Are you sleeping?"
"No!! I mean …." Daryl mengetatkan rahangnya saat merasakan denyutan di bawah yang semakin mengencang.
"Nania belum bagun, jadi … pergi saja lah." katanya.
"What?" Darren masih berdiri di depan pintu.
"Nania masih tidur dan aku tidak bisa meninggalkannya." ucap Daryl lagi yang mati-matian menstabilkan suaranya, sementara bagian bawah tubuhnya tetap menghentak.
Hasratnya sudah di ubun-ubun dan dia hampir tiba di ujung.
"Baiklah, kalau mau menyusul kami ke lembah di bawah ya?"
"Okay."
Lalu Darren pun mengikuti saudara dan iparnya yang sudah terlebih dahulu pergi.
"Ummm … Daddy!" Nania menyingkirkan tangan Daryl yang membekap mulutnya untuk menahan suara des*han, baru dia bisa bernapas lega.
Pria itu kemudian menghentak lebih keras ketika dia sudah tak bisa lagi menahan perasaannya, dan hal yang sama pun Nania rasakan juga.Â
Hingga akhirnya mereka berdua saling menekan dengan tubuh yang sama-sama menggeliat ketika dihantam klim*ks yang luar biasa.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Anu ... 🤣🤣