
💕
💕
Anandita menghentikan kegiatannya yang sedang mengenakan sepatunya ketika seseorang menyodorkan satu cup minuman dingin yang tampak menggiurkan. Dan orang tersebut adalah Regan.
Jam pengajaran bahasa telah usai, begitupun dengan pelajaran latihan ujian bagi kelompok baru. Dan sebagian besar relawan sudah pulang berurutan tentunya, sehingga hanya tinggal Regan dan Anandita sajalah yang tersisa.
"Sepertinya kamu haus. Dari tadi bicara tanpa henti di depan anak-anak." Pria itu berujar.
Anandita tidak segera menerimanya.
"Ayo ambil!" ucap pria itu lagi yang posisi tangannya masih sama.
"Nggak mau ah." Gadis itu menjawab.
"Lho? Kenapa?"
"Om memperlakukan aku kayak Mahira." Anandita melanjutkan kegiatannya, dan hal tersebut lagi-lagi membuat Regan mengerutkam dahi.
"Ann, maksud kamu apa sih sebenarnya? Kenapa dari tadi terus-terusan membahas soal Mahira? Ada masalah apa sebenarnya? Kamu kenal dengan Mahira?" Regan duduk di sampingnya.
"Ann?" Dia meletakkan cup minuman tersebut di sisi lainnya agar bisa fokus berbicara dengan gadis itu.
"Om ini benar-benar nggak peka ya? Heran aku, padahal rasanya aku udah ngomong jelas. Aku nggak suka sama Mahira!"
"Iya kenapa? Kamu kenal Mahira?" Regan mengulang pertanyaan.
"Nggak."
"Atau dia pernah melakukan kesalahan kepadamu?"
"Nggak juga."
"Terus kenapa kamu tidak suka kepadanya? Kenal saja bahkan tidak. Hal konyol apa yang membuatmu tidak menyukai seseorang hingga seperti itu?"
"Ann? Kenapa …."
"Karena dia deket sama cowok yang aku suka!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut mungilnya.
Regan tertegun.
"Dari kemarin Mahira, Mahira terus yang disebut. Udah dikasih kode masih tetap nggak ngerti juga. Emang dasarnya Om nggak peka aja!" Gadis itu beranjak dari teras, dan dia segera melenggang ke arah mobil hitam yang terparkir di depan pagar.
Otak Regan masih berputar keras mencerna kata-katanya, namun teriakan Anandita dari luar pagar membuyarkan lamunannya.
"Kita masih mau di sini apa gimana?" Suaranya terdengar melengking sehingga Regan buru-buru menghamprinya.
Anandita tampak bersedekap dan bersandar pada body mobil dengan wajahnya yang masam. Dan Regan sedikit segan untuk menatapnya.
Namun ucapannya barusan membuat dia berpikir lagi.
"Sebenarnya apa yang mau kamu katakan? Saya bukan dukun, jadi jangan membuat saya menerka-nerka seperti ini!" Pria itu berdiri tegap di depannya.
"Ann!" Dan Regan menatap wajah keponakan dari atasannya itu lekat-lekat.
"Om ini nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti sih?" Anandita balik bertanya.
"Iya apa yang tidak saya mengerti? Kamu bicara berbelit-belit sehingga membuat saya bingung." Dua orang itu sama-sama saling menatap.
"Ann, saya ini ditugaskan untuk …."
"Aku suka sama Om." Gadis itu segera saja mengungkapkan perasaannya.
Yang lagi-lagi membuat Regan kembali tertegun.
"Rasanya konyol tapi aku nggak bisa menahannya. Soalnya ini bikin capek, tahu nggak?"
Regan membeku.
"Ah, mau ngomong kayak gimana juga tetep Om mah nggak akan ngerti. Emang dasarnya aja nggak peka!" Anandita merebut kunci mobil dari tangan pria itu kemudian menekan tombol otomatis sehingga berbunyi 'bip' dan kunci pada kedua pintunya terbuka.
__ADS_1
Lalu gadis itu membuka pintu dan bermaksud masuk sebelum akhirnya Regan menarik tangannya sehingga dia kembali.
"Ann! Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan?" ujar Regan sambil menggenggam pergelangan tangan Anandita.
Gadis itu bungkam.
"Anandita!" Dan ini baru pertama kalinya Regan menyebut namanya secara lengkap.
"Ck! Udah nggak peka, ditambah lebay baget sih?" gumam Anandita seraya menyentakkan tangannya sehingga genggaman Regan hampir terlepas. Namun pria itu segera mengeratkan cengkramannya.
"Jawab saya dengan benar!" Dan wajahnya tampak serius dengan suara yang naik satu oktaf.
"Yaelah Om, nggak usah bentak-bentak kenapa? Papa aku aja nggak pernah kayak gitu dari kecil sampai sekarang."Â
Regan mengetatkan rahangnya sambil memejamkan mata selama beberapa detik.
"Emangnya ada yang salah ya sama ucapan aku?" Kini Anandita mencoba untuk menghadapi pria itu.
Percuka juga jika dirinya terus menghindar, karena perasaannya sudah terlanjur dia ungkapkan. Meski sedikit malu, tapi gadis itu memutuskan untuk menjelaskannya saja.Â
"Aku suka sama Om. Makanya aku sebel waktu denger Om sebut-sebut nama cewek lain. Apalagi pas tadi lihat Om memperlakukan dia kayak yang akrab banget. Rasanya tuh kayak …."
"Anandita, kamu tidak sadar dengan ucapanmu." Regan menyela.
"Yaelah orang nggak lagi mabok juga." Gadis itu memutar bola matanya.
"Anandita!"
"Ann, Om. Ann!! Biasanya juga panggil gitu. Kan lebih enak. Kayak panggilan sayang gitu." Dia sedikit tersenyum, sementara Regan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Nih pegang." Anandita melepaskan genggaman tangan Regan, lalu dia memindahkannya pada keningnya yang sedikit berkeringat.
"Ini panasnya cuma gara-gara kena matahari lho, bukan karena gila. Hehe." katanya, dan dia benar-benar tersenyum lebar.
"Ann, kamu ini …."
"Aku tahu maksud Om apa. Ya udah, aku cuma mau ngomong gitu aja." Kemudian dia melepaskannya.
Dan dengan segala keluguannya gadis itu segera masuk ke dalam mobil. Dia duduk manis setelah memasangkan seatbeltnya sendiri kemudian menunggu Regan mengikuti apa yang dia lakukan.
Suasana hening meliputi perjalanan pulang pada hampir sore itu. Dan tak ada satupun diantara mereka yang berniat memulai percakapan. Anandita sibuk dengan ponselnya sementara Regan berusaha mengalihkan perhatian.
Meski sesekali mereka saling melempar lirikan, namun keduanya masih berkutat dengan pikiran masing-masing.
Lampu merah menjeda laju mobil hitam di antara kemacetan jalanan ibu kota. Dan menambah waktu tempuh menjadi lebih lambat dari biasanya. Sehingga kedua orang itu pun memiliki banyak waktu untuk saling mendiamkan.
"Aku nggak bermaksud apa-apa lho, aku cuma ngasih tahu Om soal perasaan aku." Namun akhirnya Anandita merasa tak tahan juga sehingga dia punya inisiatif untuk berdialog.
Regan tak menggubris. Dia hanya menempelkan kepalanya pada kaca yang tertutup rapat.
"Om? Ngomong dong!" ujar gadis itu dengan rasa kesal.
"Apa yang harus saya katakan?" Regan menjawabnya dengan suara pelan.
"Ya apa kek? Nanggepin ucapan aku atau apa gitu?" Anandita dengan nada kesal.
"Saya bingung."
"Bingung kenapa?"
"Ya … bingung saja." Regan melajukan mobilnya saat lampu di depan berubah hijau. "Kamu ini anaknya kakak dari atasan saya."
"Terus?"
"Tiba-tiba saja kamu memgungkapkan perasaan. Lalu apa yang harus saya lakukan?" Dia melanjutkan.
"Ya nggak harus ngapa-ngapain."Â
Pria itu melirik.
"Emangnya Om mikirnya apa?"
__ADS_1
"Entahlah, saya ngeblank."
Anandita tertawa.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Om."
"Kenapa?"
"Nggak tahu, kadang Om itu lucu. Tapi kadang bikin kesel juga. Apalagi kalau ke nggak pekaannya udah kumat." Gadis itu melihat keluar mobil.
"Tapi kan, Ann …."
"Aku bilang gitu cuma pengen biar hati aku nggak sesek doang. Tahu nggak kalau aku ini tersiksa karena sering nahan perasaan padahal orangnya ada tepat di depan aku?" Lalu dia kembali menatap Regan, dan kali ini lebih lama dari sebelum-sebelumnya.
"Aku nggak nuntut apa-apa, cuma pengen Om tahu aja perasaan aku biar nanti-nanti Om nggak seenaknya lagi."
"Seenaknya apa maksudmu?" Pria itu membelokkan mobilnya ke arah rumah besar di mana kediaman Satria berada, dan tiba-tiba saja dadanya terasa berdebar begitu kencang.
"Untuk nggak terang-terangan berbuat baik sama cewek lain di depan aku."
"Duh?"
"Karena biar pun Om bukan siapa-siapa aku, tetep aja aku cemburu. Aku cemburu, Om!!" Gadis itu menekan kata-katanya dengan jelas.
"Aku ini pencemburu berat. Papa aja kalau sedikit lebih condong ke Asha rasanya kesel, apalagi kalau cowok yang aku suka."
Regan menatap gerbang besar yang perlahan terbuka begitu petugas keamanan di dalamnya mengetahui kedatangan mobil yang mereka tumpangi. Dan ini rasanya seperti akan memasuki dimensi lain, padahal setiap hari dia mendatangi tempat tersebut. Tapi kali ini keadaan terasa berbeda.
Dadanya berdebar tak karuan dan hatinya berdenyut ngilu. Entah apa yang saat ini tengah dia alami.
"Aku nggak suka Om deket-deket sama cewek lain, tapi itu hak Om sih. Kita kan bukan siapa-siapa selain ponakan atasan sama asistennya." Dan Regan menghentikan mobilnya di halaman luas milik keluarga Nikolai itu, bersamaan dengan munculnya Arfan Sanjaya dari dalam rumah.
Pria itu terkesiap karena merasa seolah tengah diburu oleh satu pasukan khusus, dan dirinya adalah target utamanya.
Namun Anandita malah memasang senyum terbaiknya, kemudian dia segera turun tanpa menunggu Regan membukakan pintu untuknya.
"Papa!" Dan dia segera menghambur ke pelukan ayahnya.
"Ann?"
"Hari ini yang les banyak banget deh. Ada anak SMPnya juga. Kayaknya kita butuh tempat yang lebih luas untuk belajar mereka. Papa ada ide nggak?" Terdengar celotehan dari mulutnya yang segera mengalihkan perhatian Arfan Sanjaya.
"Oh ya? Benarkah?" Dan pria itu membalas pelukan putrinya meski pandangan tak ia lepaskan dari Regan yang turun dari mobilnya.
"Asli, anak yang belajar makin banyak dan aku pikir rumah bacanya tante Nna aja nggak akan cukup. Kalau tetap di sana nantinya aku pulang lebih malam karena yang belajar harus bergiliran."
"Masa?"
"Iya, Papa. Gimana ya caranya biar mereka bisa belajar bareng gitu tapi nggak desak-desakan? Kan kasihan."
"Soal itu …."
"Kita ngobrol sama Opa yuk? Kali aja Opa sama Oma ada ide. Om Darren sama Om Dimi juga ada kan? Aku mau bilang juga ah ke mereka." Gadis itu menarik sang ayah ke dalam rumah.
"Dah Om Regan. Makasih ya udah jemput?" Sebelumnya dia melambaikan tangan kepada Regan, lalu meneruskan langkahnya memasuki kediaman kakek neneknya. Sementara Arfan Sanjaya tampak memutar bola mata ke arahnya.
"Mati kau Regan! Pasti setelah ini kau akan menghadapi Singa jantan dengan anaknya." Batinnya bermonolog.
💕
💕
💕
Bersambung ...
Nah lu, Om Regan?
Kira-kira, apakah yang terjadi setelah ini?
__ADS_1
Apa Papa Jahe tahu anaknya lagi ketiban lope? Klik like, komen yang banyak sama kirim hadiahnya. Juga sekalian sama vote kalau masih ada. Oke gaess?
Alopyu sekebon 😘😘😘