
π
π
"Ini beneran kan bukan prank?" Rania langsung menerobos pintu begitu dia tiba di rumah besar mertuanya.
Dia dan Dimitri yang sedang menghabiskan waktu dengan anak-anak di taman hiburan pun segera bertolak ke kediaman Satria begitu Sofia memberinya kabar soal kehamilan Nania.
"Ya, Nania hamil!" Sang mertua menerima pelukan bahagia, apalagi Nania yang masih menangis karena mengalami keterkejutan.
"Akhirnya!!" Dan Rania pun segera memeluk istri dari adik iparnya itu. "Selamat!" katanya dengan raut yang jelas bahagia.
"Bisa juga kau ya?" Sementara Dimitri menumbuk lengan adiknya yang duduk tak jauh dari Nania.
"Tentu saja bisa, memangnya hanya Kakak saja?" Daryl menggendikkan bahu. Tiba-tiba saja kekuatannya kembali setelah dia mengetahui soal kehamilan istrinya.
"Sombong!" Rania bereaksi.
"Oh, itu harus. Aku bisa menunjukkan kepada semua orang kalau aku juga bisa seperti kalian." Pria itu dengan angkuhnya.
"Hmm β¦ penyakitnya nggak hilang-hilang. Padahal mau jadi bapak?" Rania mencibir.
Sedangkan Satria dan Sofia hanya tertawa.
"Tante Nna beneran mau punya dedek bayi?" Anya duduk di antara Nania dan Daryl, diikuti oleh Zenya yang menyelinap ke pangkuannya.
"Hey, hey! Jangan begitu! Nanti kamu kena bayinya!" Membuat Daryl segera memindahkan sang keponakan, dan dia pindah ke sisi Nania.
"Om Der mentang-mentang mau punya bayi jadi belagu!" Anya menanggapi ucapan pamannya.
"Apa katamu?"
"Om Der sombong." Zenya juga menambahi.
"Kalian ini, kecil-kecil tidak sopan! Apa di sekolah diajarkan begitu?" Tentu saja membuat Daryl bereaksi.
"Ehh β¦ kenapa kalian ini selalu ribut?" Namun Dimitri segera melerai perdebatan tersebut.
"Kau ini pria dewasa, kenapa begitu senang bertengkar dengan anak-anak? Aneh sekali?" Dia beralih pada sang adik.
"Anak-anakmu menyebalkan, masa mereka bicara begitu?" Daryl menjawab.
"Sstt! Jangan dilanjutkan! Kalian ini sama saja suka berdebat!" Dan Sofia yang menghentikan mereka.
Kemudian perhatian semua orang beralih ketika rombongan lainnya datang berurutan. Ada keluarga Arfan Sanjaya dengan anak mereka terkecuali Arkhan. Darren dan Kirana bersama Baby Lev, dan Amara juga Galang yang membatalkan rencana ke Bandung setelah kabar kehamilan Nania mereka terima.
"Ya Tuhan! Pasukan pemberontak mulai datang." Daryl kembali menyandarkan punggungnya pada kepala sofa.
Moodnya kembali menurun ketika menyadari keramaian di kediaman orang tuanya, dan rasa mual lagi-lagi menyerangnya. .
"Kau ini kenapa? Sebagai calon ayah kau benar-benar terlihat tidak bergairah?" Darren duduk di pegangan sofa di mana saudara kembarnya itu berada.
"Kalian tidak percaya gara-gara dia begitu kami tahu Nania hamil lagi." Sofia menyahut dari tempat duduknya.
"Maksudnya?" Dygta menaruh perhatian pada sang ibu.
"Karena dia mengalami gejala kehamilan makanya kami tahu soal kehamilan ini."
"Hah?"
__ADS_1
"Ck! Nania hamil Daryl yang ngidam?" Rania memperjelas ucapan mertuanya.
"Ya, begitu." Sofia mengangguk sambil tertawa.
"Yang benar saja!" Dan Arfan pun menanggapi sebelum akhirnya dia tertawa juga.
"Serius. Pantas saja beberapa hari ini dia bertingkah aneh. Malas bekerja, maunya di rumah terus. Tampangnya saja seperti orang sakit dan itu karena calon anaknya berulah."
"Astaga!" Darren dan yang lainnya pun tertawa.
"Ah, diamlah kalian semua! Puas sekali melihatku mengalami hal ini." Daryl bangkit kemudian melenggang ke arah pintu belakang.
"Dadd, mau ke mana?" Nania menahan tangannya.
"Pulang, aku lelah. Pusing juga mendengar mereka bicara. Aku mau tidur." Pria itu meninggalkan Nania bersama keluarganya.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Laki-laki yang sedang ngidam memang seperti itu." Sofia berucap, kemudian tertawa lagi.
"Aneh sekali, masa laki-laki di keluarga ini mengalami gejala kehamilan? Apa sudah dari nenek moyangnya yang begitu?" Dygta menatap ke arah Satria yang diketahuinya mengalami hal yang sama ketika ibunya dulu mengandung Dimitri juga si kembar Daryl dan Darren. Lalu dia menoleh kepada Arfan yang juga mengalami hal sama ketika dirinya mengandung.
"Entahlah, mungkin." Sofia menjawab.
"Tapi bagus juga kan? Kita-kita ini tidak mengalami kesusahan." Dygta menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.
"Benarkah? Tapi kenapa aku mengalami gejala kehamilan seperti biasa ya waktu mengandung Lev?" Kirana ikut berbicara.
"Masa?" Rania beralih pada iparnya yang satunya.
"Kamu tidak mengalaminya, Ren?" Dygta juga beralih kepada Darren yang menjawabnya dengan anggukkan.
"Hanya saja dia lebih protektif dari biasanya, selebihnya begitulah." Timpal Kirana setelahnya.
Lalu kumpul keluarga itu berubah menjadi acara makan yang tanpa dihadiri oleh Daryl karena setelah beberapa kali dibujuk pun pria itu tetap tak mau ikut. Aroma makanan kali ini benar-benar membuatnya tersiksa.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Nania mempercepat langkah menuju ke kamarnya di lantai dua ketika mendengar Daryl kembali muntah-muntah, setelah dia memastikan pintu dan jendela terkunci dengan benar.
Perempuan itu kembali ke dalam rumah sesusai nya berkumpul bersama mertua dan para ipar untuk merayakan kehamilannya. Yang setelah diperiksa oleh dokter, mereka yakin bahwa di dalam rahim perempuan itu memang sudah hadir janin miliknya dan Daryl.
"Aarrgghhh!" Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ini sangat menyiksa. Semakin malam dirinya malah merasa semakin tidak baik-baik saja. Dia bahkan tidak bisa makan sesuatu karena itu akan membuatnya kembali muntah-muntah.
"Aneh banget sih, aku yang hamil tapi kamu yang kena gejalanya?" Nania naik ke tempat tidur kemudian mengusap punggung telanjang suaminya.
"Kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku rasakan. Ini seperti perutmu diaduk dengan keras lalu sesuatu mendorongnya hingga ingin memuntahkan semuanya." Pria itu bergeser dan setengah tubuhnya mempelajari kepada Nania.
"Iya aku tahu gimana rasanya."
"Kepalaku juga pusing, Malyshka." Daryl mengadu.
"Hmm β¦ Sayang!" Nania terkekeh, kemudian dia mencium kepala Daryl sambil sesekali menyugar rambutnya yang sudah memanjang.
"Sampai kapan aku akan begini?"
"Nggak tahu, tapi aku baca artikel di internet biasanya sampai tiga atau empat bulan."
"What?"
__ADS_1
"Biasanya, hehe. Tapi nggak tahu, Dadd."
"Oohhh, My God!" Daryl bergumam lagi dan dia menyurukkan kepalanya di perut perempuan itu.
"Apakah benar kamu sudah ada di sana, hum? Kenapa harus menyiksaku seperti ini? Kenapa tidak mommy mu saja?" Dia berbicara.
"Mana ada? Hahaha. Yang bikinnya dua orang masa cuma akuaku? Ini bagus juga karena rasanya adil." Nania masih mengusap-usap punggung Daryl.
"Adil sebelah mana nya? Kamu pikir aku menikmati ini? Jelas tidak adil lah!"
"Ya adil karena kita bikinnya berdua. Terus aku hamil dan kamu yang kena gejalanya. Itu sangat adil."
"Ahhh! Masa aku begini? Aku kan harus bekerja, perlu keluar rumah untuk mencari nafkah dan melakukan banyak hal."
"Terus kamu pikir aku ngapain? Kan aku juga harus kuliah, ngerjain tugas dan bikin desain untuk FSH. Kamu kan ngasih kerjaan ke aku." Nania membalikkan ucapannya.
"Kamu bisa cuti dulu saja lah." Namun Daryl menjawab.
"Enak aja. Selama masih bisa kuliah kenapa harus cuti?" Tetapi Nania dengan cepat menolak.
"But, Baby β¦."
"Eh, lagian kalau aku cuti juga nggak bakalan bisa gantiin kamu mual-mual. Karena kata Mama sama Kak Dygta, kamu itu kena couvade syndrome. Itu adalah gejala kehamilan yang dialami suami karena ikatan batin diantara kita sama bayi ini sangat kuat. Jadi nggak akan pindah ke aku."
"Masa?" Daryl mengangkat wajahnya.
"Iya."
"Jadi, kamu yang hamil tapi aku yang mengalami gejalanya?'
"Uh'um." Nania menganggukkan kepala.
"Dan itu akak berlangsung selama beberapa bulan?"
"Kata Mama tadi gitu."
"Just me? And not you?"
"Ya."
"Impossible. Bagaimana kehamilan yang kamu alami bisa berdampak juga kepadaku? Apa-apaan ini?" Pria itu berguling ke sisi lainnya.
"Ya anggap aja itu gotong royong, hahaha." Nania tertawa lagi, kemudian ia mendekati suaminya.
"Gotong royong apanya?" Daryl memiringkan tubuh sehingga dia memunggungi perempuan itu.
"Udah dibilangin kalau kita bikinnya berdua, ya ngerasain pengalaman kehamilannya juga berdua. Aku yang hamil dan kamu yang ngidam." Dia tertawa lagi dengan tangannya yang menyelinap memeluk tubuh Daryl.
"Bagus kan, Daddy? Aku yang hamil tapi kamu bantuin aku ngidam. Uuhh, so sweet!" Lalu Nania mengecup pipi pria itu dari belakang, sementara yang dikecupnya hanya mendengus kesal.
π
π
π
Bersambung ...
heheπ
__ADS_1