The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kemungkinan


__ADS_3

💕


💕


"Kenapa kamu pulang dengan dia?" Arfan yang berada di teras segera bangkit begitu mobil yang dia hafal sebagai milik Regan memasuki pekarangan.


"Maaf, Pak. Saya menemukan Ann di jalan." Regan yang turun dari kendaraan roda empatnya itu pun menjawab.


"Bukan nemuin, tapi ketemu pas mau pulang." Dan Anandita pun meralat ucapan pria itu.


"Lho, bukannya kamu dengan Rangga ya? Terus kenapa bisa bertemu dengan Regan?"


"Ya … itu. Tadi mau diantar sama Rangga, habis nganter Chia yang terakhir kan, eh ketemu Om Regan. Ya udah ikut aja." Anandita menjelaskan.


"Hmm …." Arfan bergumam seraya melirik kepada asisten dari adik iparnya tersebut. "Terima kasih, Regan. Sudah mengantarkan Ann."


Regan menganggukkan kepala. "Ya, Pak. Kalau begitu saya pamit?" Pria itu pun berujar.


"Ya, pergilah." Arfan pun menjawab.


"Eh, kita nggak nawarin Om Regan mampir dulu gitu? Minum kopi kek, teh. Atau …."


"Saya pamit." Regan beranjak dari tempatnya berdiri, sementara Arfan tak menggubris ucapan anaknya.


"Pah?"


"Sudah sore, Ann. Regan juga harus pulang kan?"


"Ih, nggak asik. Kenapa Papa nggak nawarin Om Regan untuk mampir sih?" Gadis itu dengan kesal saat melihat Regan kembali ke mobilnya.


"Untuk apa? Jam kerjanya sudah selesai, dan kita tidak boleh menghalangi seseorang yang sudah selesai bekerja untuk pulang kan?" Jawab Arfan.


"Ish!! Papa ini nggak asik!" Anandita mengerucutkan mulutnya.


"Kenapa kamu ini?" Arfan menatap wajah putrinya penuh selidik.


"Umm … ya Om Regan kan udah anterin aku pulang. Emangnya Papa nggak mau berterima kasih gitu?" Anandita menatap mobil milik Regan yang bergerak maju mundur di pekarangan rumahnya.


"Kan tadi sudah. Kamu tidak dengar Papa mengucapkan terima kasih Regan, sudah mengantarkan Ann?"


"Itu cuma basa-basi, Papa!"


"Basa-basi apanya?"


"Ah, Papa mah nggak ngerti!" Anandita pun masuk ke dalam rumah ketika akhirnya mobil yang dikendarai Regan meninggalkan kediamannya.


"Kenapa anak itu? Ngotot sekali?" Arfan menggumam.


"Ada apa sih sore-sore begini ribut?" Dygta muncul setelah mendengar kegaduhan di teras rumahnya.


"Putrimu ngotot meminta agar aku berterima kasih dan meminta Regan untuk mampir." Dan Arfan beralih kepadanya.


"Regan? Jadi tadi itu Regan, bukannya Rangga?"


"Bukan."


"Lalu kenapa dia yang ke sini?"


"Mereka bertemu di jalan, jadi Regan mengantarnya pulang."


"Aduuuuuhhh … manis sekali! Sekarang mana Regan nya?"


"Apa-apaan kamu ini?"


"Sekarang mana Regan? Kok tidak ada?" Dygta menatap sekeliling area pekarangan rumahnya untuk mencari keberadaan Regan.


"Tidak ada dia sudah pulang." Arfan dengan nada tidak suka.


"Terus kenapa tadi kamu ribut-ribut?"


"Bukan aku, tapi putrimu."


"Ann?"


"Ya siapa lagi? Memang dia yang selalu ribut kalau ada masalah dengan Regan."


"Duh?"


"Aku curiga, jangan-jangan mereka ada apa-apa." Arfan menatap tangga menuju ke lantai dua yang baru saja dilewati oleh sang putri.


"Ada apa-apa apanya? Kamu ini ada-ada saja." Dygta menepuk pundak suaminya sambil tertawa.


"Coba saja lihat, tingkahnya aneh kalau ada masalah yang berhubungan dengan Regan."


"Hmm …."


"Masa iya dia berhubungan dengan pria itu?" Arfan berpikir.


"Iyakah? hmm … belum pernah terpikirkan. Tapi …." Dygta tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum?" Salah satu alis Arfan tertarik ke atas.


"Masa iya anak kita berjodoh dengan asisten lagi?" Perempuan itu tertawa.


"Apa?"


"Ini lucu sekali! Hahaha …."


Arfan memicingkan mata. "Ann belum lulus SMA." katanya dengan gusar.


Namun Dygta masih tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Apa, Dygta?"


"Tapi Ann sudah besar, Sayang!" Perempuan itu melenggang kembali ke dalam rumah.


"Maksudmu?"


"Nanti kita akan tahu sesuatu." ucap Dygta yang berjalan menjauh.


"Apa?" Kening Arfan berkerut sehingga kedua alisnya tampak bertautan. "Tidak mungkin seperti itu! Tidak mungkin sekarang!" gumamnya yang tiba-tiba saja merasa kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Malyshka?" Daryl terbangun di tengah malam ketika merasakan Nania tak ada di sampingnya. Padahal perempuan itu tak pernah beranjak sepanjang malam meski dia terjaga.


Pria itu bangkit dan melihat sekeliling ruangan yang gelap namun tak menemukannya di sana.

__ADS_1


"Malyshka? Kamu di mana?"


Tak terdengar sahutan.


Kemudian dia turun dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar. Dan Daryl menemukan perempuan itu tengah berada di dapur sibuk dengan kompor menyala.


"Kamu sedang apa?" Daryl mendekat.


Nania mematikan kompor kemudian menuangkan isi panci ke dalam mangkok. Yang ternyata adalah mie instan bercampur sayuran dan telur. Lalu di atasnya dia letakkan beberapa lembar daging asap dan rumput laut juga irisan cabai berwarna merah.


"Bikin mi instan. Kamu mau?" tawarnya setelah dia meletakkan panci kecil di bak cuci.


Daryl menatapnya lekat-lekat.


"Aku lapar jadinya tadi kebangun. Habis itu nggak bisa tidur lagi." Nania membawa mangkok tersebut ke ruang tengah di mana sebotol air minum sudah tersedia di meja depan televisi.


"Kamu mau nggak?" tawarnya lagi sebelum dia menyuapkan mie berkuah yang masih mengepulkan uap panas tersebut.


Daryl yang sudah duduk di sampingnya menggelengkan kepala.


"Oh ya udah kalau nggak mau." Lalu dia menyuapkannya dengan semangat.


Daryl menunggu hingga suapan-suapan itu berhasil Nania telan dan isi di dalam mangkoknya habis dilahap. Perempuan itu bahkan menyeruput air kuah hingga habis tak bersisa.


"Aaahhh … kenyang." Dia menyandarkan punggungnya pada kepala sofa sambil mengusap-usap perutnya yang kini sudah terisi penuh. Kebetulan tadi setelah membersihkan diri, Nani langsung tidur untuk menenangkan kekesalan di hatinya. Tapi dia malah terbangun di tengah malam buta karena perutnya keroncongan.


Nania kembali ke dapur untuk membereskan kekacauan yang dia buat. Membersihkan peralatan makan dan panci kemudian meletakkannya di tempat semula. Sementara Daryl kembali  mengikutinya.


Pria itu merasa tak tahan dengan keadaan seperti ini. Karena biasanya mereka tak pernah saling mendiamkan sebelumnya, dan dua hari rasanya terlalu lama untuk tak berinteraksi seperti biasanya.


"I'm sorry." Daryl memeluknya dari belakang saat Nania telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Maaf karena sudah membuatmu merasa tidak enak, aku salah." katanya seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu.


Nania terdiam.


"Cukup, Malyshka. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Jadi jangan hukum aku lagi." Dia memeluknya semakin erat sehingga Nania merasa sesak.


"Dadd …." Lalu dia meronta untuk melepaskan diri.


"Maafkan aku, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Namun pri itu tak mau membiarkannya lepas dari pelukan.


"Lepas ih, aku sesak!" Nania sedikit memekik dan meremat kedua tangan Daryl untuk melepaskannya, dan pria itu terdiam.


"Lepas, jangan peluk aku sekencang ini." ucap Nania yang kembali menarik kedua tangannya.


"Aku ini manusia, bukan boneka yang bisa kamu atur-atur semaumu. Apalagi dengan larangan keras sementara kamu tetap bebas dan merasa sangat berkuasa. Aku sesak." 


Daryl akhirnya melepaskan lilitan tangannya, dan bersamaan dengan itu Nania memutar tubuhnya sehingga mereka berhadapan.


"Kita ini suami istri, bukannya tuan dengan budaknya. Jadi boleh dong aku minta sedikit aja kebebasan? Bukan berarti mau berontak, tapi aku juga mau ngerasain kalau aku ini punya hidup yang normal. Biarpun dengan menyerahkan hidupku sama kamu udah pasti nggak akan senormal hidupnya orang lain."


Daryl terdiam.


"Tapi bukan cuma itu masalahnya, kan? Pendapat kita beda untuk beberapa hal, termasuk interaksi sama orang lain. Kamu merasa bebas dan berhak untuk berbuat apa aja, sementara aku nggak boleh."


"Kan sudah aku katakan kalau aku …."


"Khawatir itu adalah alasan yang konyol, Dadd. Kamu pikir aku nggak khawatir lihat suami aku deket-deketan sama cewek lain? Sadar nggak kalau batasan yang dilanggar itu kayak membuka celah buat orang lain untuk masuk ke hubungan kita?"


Daryl berpikir.


Daryl tampak menghela napasnya pelan-pelan.


"Kamu boleh nganggap aku berlebihan soal ini, silahkan. Tapi aku juga perempuan, dan aku ini seorang istri. Punya hak ngga sih kalau aku ngerasa nggak suka sama hal yang kayak gitu? Bisa nggak sih formalitasnya sebatas salaman aja? Toh nggak akan bikin uang kamu melayang milyaran. Dan kayaknya mereka juga akan ngerti dengan batasan kita."


"Tapi itu sih terserah kamu ya, yang penting aku udah ngungkapin pendapat aku. Mau dengerin aku syukur, nggak juga nggak apa-apa. Tapi aku ngerasa punya hak untuk bilang karena aku ini istri kamu. Kalau kamu nggak suka lihat aku sama orang lain, boleh dong aku juga merasa gitu sama suami aku?"


"Kata mama, godaan terberat laki-laki itu adalah harta, tahta, dan wanita. Dan kamu jelas punya itu semua jauh sebelum kita ketemu. Kamu udah terbiasa dikelilingi sama hal-hal kayak gitu, aku tahu. Dan biarpun semua orang udah tahu kalau kamu punya istri, udah pasti banyak perempuan yang mengincar kamu. Terus aku ada di mana? Masalahnya keadaan sekarang udah beda sama dulu waktu kamu masih sendiri. Jadi, tolong lah hargai perasaan aku. Bukan karena aku udah pernah lihat kelakuan kamu, tapi dengan kesadaran kamu sendiri biar nggak ada jalan buat mereka yang punya niat nggak baik. Karena zaman sekarang pelakor itu merasa paling berhak dapat suami orang asal mereka punya perasaan yang sama, biar itu nyakitin istri sahnya juga."


"Kamu terlalu jauh, Malyshka." Daryl buka suara.


"Nggak. Aku cuma mengantisipasi aja, jangan sampai itu terjadi sama kita. Dan nggak mau aja kalau itu sampai kejadian. Amit-amit." Nania bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri.


Kemudian dia hampir bergeser menjauh dari suaminya, tapi pria itu malah menahannya agar tetap di tempat.


"Wait?"


"Apa lagi? Masih mau aku omel?" Nania kembali menatap wajah suaminya.


"Omelanmu lebih baik dari pada mendiamkanku."


Nania terkekeh, dan itu membuat Daryl merasa sedikit lega.


"Are you forgive me?" Lalu dia bertanya.


"Nggak. Aku masih sebel!" Namun dia tertawa.


"Malyshka!!!!"


Perempuan itu menyentuh wajahnya.


"Sekarang aku tanya, kamu minta maaf untuk apa? Karena merasa bersalah, karena benar-benar salah, atau karena aku marah?" Nania membalikkan perkataan suaminya.


"Tapi aku tahu kalau kamu minta maaf bukan karena sadar atas kesalahan, tapi karena nggak tahan setelah aku acuhkan. Jadi intinya apa? Kamu cuma nggak bisa hidup tanpa aku perhatikan. Iya kan?" Dia meremat pipi Daryl dengan gemas.


"Aku sebenarnya capek kalau harus banyak omong, apalagi berdebat yang berujung pertengkaran. Perasaan aku jadinya nggak enak, kepalaku pusing. Migrain juga jadi sering kambuh, dan itu bahaya. Jadi tolonglah, ngertiin juga akunya karena aku harus selalu minum obat. Jangan maunya kamu aja yang aku ngertiin."


"Stop!! Aku jadi merasa sebagai orang paling egois kalau begini." Daryl meraup tubuh Nania dan kembali menariknya ke pelukan.


"Dih, nggak sadar juga kalau kamu emang begitu." Dan kali ini Nania membiarkannya saja dia memeluk sesuka hati.


"Just forgive me first. Lalu setelahnya aku akan memikirkannya lagi."


Nania kembali tertawa.


"Malyshka?"


"Kenapa aku harus maafin kamu? Emangnya kamu salah?"


"Just do it, forgive me!"


"Hadeh …."


"Malyshka?"


"Mana ada yang minta maaf maksa banget kayak kamu?"

__ADS_1


"Please!!"


"Nggak dulu, kamu harus dapat hukuman." Nania kemudian berujar.


"Hukuman apa?" Dan pria itu menatap wajahnya tanpa melepaskan rangkulan tangannya.


"Bebasin aku untuk melakukan apa aja yang aku mau."


"What?"


"Nggak lama."


"Sampai kapan?"


"Sampai aku puas."


"How long?"


"Ngga tahu."


"But, Baby …."


"Jangan protes! Mau aku maafin nggak?" Nania sedang menunjukkan kekuasaannya saat ini karena dia tahu Daryl tidak bisa berkutik setelah mendengar perlawanannya.


"Apa itu akan lama?"


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Kamu bersikap baik atau nggak?"


"Bersikap baik apanya? Apa selama ini aku memperlakukanmu dengan buruk?" Daryl mulai merasa frustasi.


"Nggak."


"Terus kenapa kamu bilang begitu?"


"Biar kamu nyadar kalau selama ini kamu terlalu mengekang aku."


"Aku tidak mengekangmu, aku hanya memastikan agar kamu baik-baik saja."


"Dengan mengetatkan semua aturan biar aku nggak bisa apa-apa?" Nania membalikkan semua perkataannya sehingga Daryl tak lagi bisa menjawab.


"Kalau kamu bisa atur aku kayak gitu, terus apa aku nggak boleh minta kelonggaran biar aku bisa sedikit benapas? Aku ini orang, bukan patung." ucap Nania lagi, dan kini dia semakin berani.


"Ah … terserah kamu lah. Yang salah kan kamu, tapi kenapa malah aku yang harus minta-minta?" Nania kembali bergeser.


"Baiklah, baik. Lakukan saja, tapi harus tetap hati-hati. Jangan terlalu percaya orang asing apalagi sampai mau dimanfaatkan." Namun akhirnya pria itu menyerah.


"Kamu pikir aku ini anak TK?"


"Ya kan sebelumnya juga …."


"Nggak usah ungkit masalah lain. Di sini kamu kan tersangkanya?"


"What?"


"Tenang aja, selain sama Regan aku nggak akan minta pendapat orang lain lagi."


"Hah? Lalu aku ini kamu anggap apa?" Daryl menunjuk wajahnya sendiri.


"Suami yang lagi aku hukum." Perempuan itu tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


Kemudian Nania benar-benar beranjak dan kembali ke sofa ruang tengah di mana televisinya menyala.


"Terus, Eragon juga akan kamu hukum?" Daryl berjalan mengikuti Nania sambil menatap bagian bawah tubuhnya yang tampak mengenaskan.


"Apaan?" Nania pun menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Bapaknya yang salah, ya dia juga kena."


"Ah … kenapa begitu?"


"Ya biar kamu tahu rasa. Juga biar ngerti kalau nggak semua masalah bisa diselesaikan di ranjang kayak kata netizen. Enak aja, emangnya aku ini maniak s*x apa?" Nania mendelik sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Terus bagaimana dengan aku?" Daryl pun duduk di sampingnya.


"Ya nggak gimana-gimana. Diem aja di situ."


"Malyshka …." Pria itu berusaha memeluknya.


"Diemlah, aku mau nonton drakor." Namun Nania segera menepisnya.


"Drakor? Apa itu?"


"Drama Korea."


"Sinetron? Masa ada sinetron malam-malam begini?"


"Bukan, tapi drama Korea."


"Bedanya apa? Itu kan semacam sinetron juga, hanya berasal dari Korea kan?"


"Jelas beda."


"Sejak kapan juga kamu suka nonton hal seperti itu?"


"Sejak kamu nyebelin."


Daryl mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan dia memilih untuk menyimak saja apa yang Nania tonton meski dia tak mengerti sama sekali.


💕


💕


💕


Bersambung ....


makasih gaes masih tetep baca biar mungkin cerita ini udah ngebosenin. Makasih juga buat yang bacanya part Ann sama Regan doang. Aku terima itu sebagai apresiasi.


Maaf kalau nggak bisa memuaskan semua orang dan sering kali nggak sesuai dengan kemauan kalian. Tapi di sini aku cuma bikin cerita yang aku mau, bukan yang orang lain mau.


udah nggak ada feel? It's oke karena setiap orang punya rasa yang berbeda. Kalau nggak mau baca nggak usah maksa. Aku nggak apa-apa.


Kenapa aku nerusin cerita ini sampai season 2? Karena emang belum selesai. bukan hanya karena Nania belum punya anak, tapi juga masih ada konflik yang belum sampai dan aku belum puas kalau itu nggak di up karena cerita versi Om Der ini emang seharusnya panjang. Tapi kalau aku terusin di buku lama aku nggak bakal dapat duit lagi karena pendapatan di NT sekarang nggak kayak dulu.


Sekali lagi makasih untuk kalian yang masih bertahan dan menikmati cerita ini, juga mencintai setiap katakter di dalamnya sama kayak di cerita sebelumnya. Kalian yang terbaik!

__ADS_1


Alopyu sekebon dari Emak yang gabut dan baperan 😘😘🤣🤣


__ADS_2