The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hal Lucu


__ADS_3

💕


💕


"Pak Daryl sedang ada pertemuan di FSH, jadi beliau meminta saya untuk menjemput." Regan membuka pintu mobil begitu Nania mendekat.


"Oke."


"Langsung pulang kan? Tidak ada kegiatan apa-apa?" Pria itu bertanya.


Nania mengangukkan kepala. 


"Kamu mau ikut aku, Mahira?" Sebelumnya dia bertanya kepada tema sekelasnya yang mengantar sampai ke parkiran.


"Nggak, papa aku sebentar lagi jemput kok." Mahira pun menjawab.


"Ya uda kalau gitu. Aku duluan ya?"


Mahira pun mengangguk, lalu Regan menutup pintu, dan setelahnya dia berjalan memutar ke kursi pengemudi.


"Regan?" Mobil hitam milik Regan melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai pada lewat tengah hari itu.


"Ya?" Dan pria itu melirik kaca spion di atas kemudi, melihat Nania yang duduk bersandar pada kursi.


"Aku nggak boleh ikut kegiatan kampus?"


"Kegiatan seperti apa?"


"Misalnya organisasi mahasiswa atau yang lainnya?"


"Setahu saya Pak Daryl tidak akan mengizinkan, kecuali kegiatan yang berhubungan dengan kuliah. Misalnya kerja kelompok, riset atau semacamnya."


Nania tampak berpikir.


"Kenapa? Kamu tertarik untuk ikut organisasi mahasiswa? Organisasi apa? Karena kebanyakan organisasi semacam itu menyita banyak waktu. Kamu tahu Pak Daryl tidak suka hal seperti itu."


"Nggak, berarti tadi jawaban aku bener." Nania terkekeh.


"Jawaban apa?"


"Undangan senior."


"Undangan?"


"Hmm … aku dapat undangan acara yang nantinya bisa bantu nyalurin bakat, terus masuk perkumpulan mahasiswa gitu. Menurut kamu gimana?"


"Negatif."


"Nggak boleh ya?"


"Kamu tidak perlu masuk ke perkumpulan seperti itu. Kalau mau bakatmu cepat disalurkan, kenapa tidak segera bergabung saja dengan Pak Daryl di FSH? Bukankah itu lebih menguntungkan?"


"Masa?"


"Menurut saya, tawaran FSH lebih menjanjikan dari pada ikut perkumpulan. Kamu akan langsung bekerja dan mendapat bayaran pantas atas hasil kerja tanpa menunggu lama untuk menemukan hal apa yang tepat sebagai sarana penyaluran bakat kamu. Bukankah FSH memang sudah menunggu kesediaanmu untuk masuk?"


"Iya juga sih. Cuma, masalahnya aku ngerasa belum pantes."


"Belum pantas karena apa? Kemampuan kamu sudah terbukti dari beberapa kesempatan, bukan?"


"Umm …."


"Soal ilmu, itu bisa didapatkan sambil jalan. Apalagi kamu sedang kuliah juga kan? Tempat dan kondisi mendukung, jadi saya pikir semuanya akan lebih mudah. Lagipula, terlalu banyak bergaul dengan orang asing akan membuat Pak Daryl tidak senang, jadi … lebih baik tidak usah saja."


"Begitu ya?"


"Ya."


Regan sedikit memelankan laju kendaraannya ketika melewati sebuah sekolah terkenal di Jakarta. Dan pandangannya dialihkan ke sebelah kiri di mana kerumunan anak SMA itu terlihat menyemut di depan gerbang.


"Ada yang kamu tunggu?" Nania bertanya.


"Tidak ada, hanya …."


"Itu Ann!!" Nani menegakkan tubuhnya sambil menurunkan kaca mobil ketika melihat keponakannya keluar dari gerbang.


"Ann!!" panggilnya sambil melambaikan tangannya. Dan mobil milik Regan pun menepi.


Gadis yang dimaksud menoleh, lalu dia balas melambai sambil tersenyum. Kemudian turun dari motor yang dikendarai oleh Arkhan.


"Tante pulang kuliah? Kok masih siang?" Anandita melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul 2.30 siang.


"Ya. Lumayan lah, hari pertama." Nania menjawab.


"Hmm …."


"Kamu langsung pulang?"


"Iya." Gadis itu menatap ke dalam mobil dan sekilas melirik ke arah Regan. Entah mengapa hatinya merasa kesal ketika dia melihat wajahnya, seolah pria itu telah berbuat salah kepadanya.


"Mau ikut? Kita antar sekalian?" tawar Nania yang hampir membuka pintu mobil.


"Nggak usah, aku kan sama Arkhan." Anandita menunjuk saudara kembarnya yang menunggu, dan pemuda itu melambai ke arah Nania.


"Udah nggak dijemput Papa?" Nania sedikit tertawa.


"Nggak. Asal pulang pergi sama Arkhan."


"Gitu ya?"

__ADS_1


"Hmm …." Anandita menganggukkan kepala. "Eh, kalau gitu aku duluan ya? Atau Tente mau mampir ke rumah? Mommy ada kok. Kayaknya hari ini nggak ikut Papa."


"Oh iya, lain kali aja kayaknya. Aku ada tugas juga soalnya." Nania menolak.


"Ooo ya udah. Kalau gitu aku duluan ya?" pamit Anandita, dan dia pergi setelah mendapat jawaban dari Nania. 


"Kamu … lagi ada masalah sama Ann?" Nania memulai percakapan saat mobil kembali melaju.


"Tidak." Regan menjawab. Namun pikirannya melayang kepada dia yang telah menghilang di antara kendaraan lain di jalanan tersebut, dan hatinya bertanya-tanya. 


"Tapi kok kalian nggak saling menegur?"


"Tidak tahu."


Memang apa perlunya juga saling menegur? Kami kan tidak ada hubungan apa-apa? Kening pria itu menjengit.


"Aku pikir kalian berantem?"


Regan terkekeh.


"Beneran?"


"Tidak tahu. Sepertinya kamu sedikit ngaco? Saya juga tidak tahu kenapa Ann bersikap seperti itu bahkan sejak minggu lalu. Mungkin dia sedang tidak suka kepada saya?"


"Nggak suka kenapa? Bukanya kalian akur-akur aja sebelumnya?"


"Saya bilang tidak tahu. Tiba-tiba saja Ann begitu."


"Aneh ya?"


"Ya … Begitulah."


"Kamu nggak nanya kenapa Ann bersikap begitu?" Nania berbicara lagi setelah terdiam beberapa saat.


"Tidak, untuk apa? Saya tidak merasa penting untuk melakukannya." Regan menjawab.


"Ya biar tahu aja dia kenapa?"


"Itu bukan urusan saya, lagi pula sikapnya Ann bukan tanggung jawab saya, jadi ya … biar saja lah." jawab Regan lagi yang kembali fokus pada lalu lintas di sekitarnya. Meski tidak memungkiri, jika pikirannya mulai tertuju kepada gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Daddy?" Nania meletakan ponselnya di atas nakas.


Malam sudah cukup larut dan Daryl baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan beberapa urusannya di FSH.


"Kamu lagi banyak kerjaan ya?" Perempuan itu menyandarkan punggungnya pada bantal yang ditumpuk di belakang tubuhnya.


"Lumayan. Kenapa?" Daryl yang baru keluar dari kamar mandi segera duduk di tepi ranjang sambil mengusak rambutnya yang basah.


"Pulangnya bakal malam terus dong?"


"Mungkin ya, mungkin tidak. Tergantung pekerjaannya saja. Ada apa?"


"Aku pikir kenapa." Pria itu bangkit lalu menyampirkan handuk di gantungan pakaian, kemudian naik ke tempat tidur setelah menyisir rambutnya sekilas.


"Kamu mau makan dulu? Sebentar aku siapin." Dan Nania hampir saja beranjak ketika di saat yang bersamaan Daryl menarik lengannya.


"Eh … tidak usah. Aku sudah makan tadi dengan staf." katanya, yang menarik perempuan itu kembali.


"Beneran?"


"Iya."


"Oh ya udah." Dan Nania kembali ke tempatnya semula untuk merebahkan tubuhnya.


"Bagaimana kuliahmu?"


"Biasa aja."


"Tidak ada masalah di hari pertama?" Daryl pun berbaring memiringkan tubuh di sampingnya.


"Nggak. Cuma tadi aku dikasih undangan sama senior."


"Oh ya? Undangan apa?"


"Undangan untuk masuk organisasi mahasiswa."


"Kamu terima?"


"Nggak."


"Kenapa?'


"Soalnya kamu pasti nggak akan izinin."


Daryl tertawa. "Pintar." Dia menepuk pipi nania pelan-pelan. "Nanti kamu terlalu banyak kegiatan diluar kuliah, dan akhirnya malah tidak fokus belajar. Ingat tujuanmu, Malyshka. Bahwa kamu masuk ke sana untuk menambah ilmu agar apa yang kamu bisa tidak hanya sekedar imajinasi saja."


Nania menganggukkan kepala.


"Pekerjaan sudah menantimu bahkan jauh sebelum kamu lulus, jadi tidak usah khawatir soal itu. Kamu akan mendampingiku menjalankan FSH nantinya."


"Apa aku bisa ya?" Nania terkekeh.


Dia sedang membayangkan akan bagaimana jika kelak dirinya bekerja di pusat fashion milik mertua dan suaminya itu. 


"Bisa, asalkan kamu sungguh-sungguh."


"Tapi aku nggak mau ketemu banyak orang kayak kamu. Aku maunya di kantor aja, udah."

__ADS_1


"Ya, memangnya mau ke mana? Tugasmu hanya membuat desain pakaian saja."


"Beneran ya? Nggak usah ketemu-ketemu orang. Aku males."


"Ya kita lihat nanti saja. Kuliah juga kamu baru mulai kan? Perjalananmu masih panjang. Kecuali kamu mau bekerja dari sekarang. Bisa saja pulang kuliah ke FSH dan bekerja di sana sampai malam. Kan bagus kita bersama-sama setiap waktu." Daryl tersenyum sambil menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.


"Dih, curiga selain kerja ada yang lainnya juga, apalagi kalau sama-sama terus." Nania menggumam.


"Ya biasanya juga seperti itu kan? Memangnya tidak boleh ya? Kita kan suami istri. Memangnya siapa yang mau melarang?" Daryl bergeser sehingga jarak mereka sekarang lebih dekat.


"Nah kan? Belum apa-apa udah mau modus duluan, apalagi kalau aku beneran udah kerja di FSH. Bisa-bisa tiap hari kamu modus melulu?"


"Memangnya sebelumnya aku tidak ya? Bukankah setiap hari juga begitu?" Pria itu menjawab.


"Umm …." 


"Kan bagus, bukannya kamu mau punya anak?" Dia kemudian menyeringai.


"Tapi kan masih kb. Mau sesering anuan juga tetep kalau kb mah nggak akan jadi."


"Masa?"


"Iyalah."


"Kamu tidak pernah dengar kasus gagal kb ya?"


"Gagal kb gimana maksudnya?"


"Perempuan yang di kb tapi dia tetap bisa hamil."


"Emang ada?"


"Ada."


"Kok bisa?"


"Ya kalau Tuhan sudah  berkehendak apa saja bisa terjadi. Kita yang punya rencana tapi Tuhan yang menentukan."


"Hah?" Nania mengerutkan dahi hingga alisnya terlihat bertautan. Kemudian dia menyentuh kening Daryl dengan telapak tangannya.


"Why?"


"Kamu nggak lagi demam kan?" katanya, yang menatap wajah pria itu lekat-lekat.


"Maksudnya?"


"Tumben banget ngomongnya begitu? Aku jadi takut kamu kenapa-napa?" Perempuan itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Ish!"


"Habisnya kamu nggak biasanya ngomong begitu. Kan aneh!" Tawanya kini terdengar cukup keras, sementara Daryl hanya memutar bola matanya, sebal.


"Aku lupa kalau sebenarnya kamu ini udah bapak-bapak. Cuma karena kita belum punya anak aja jadinya begini." Nania terus tertawa.


"Diam!" Pria itu mendelik.


"Serius, Dadd. Masa aku juga dikira anak baru lulus SMA. Mahira juga nggak percaya kalau aku udah nikah. Kali orang-orang juga mikirnya aku piaraan om-om ya kalau kamu antar jemput ke kampus?" Dia terkikik membayangkan pikiran orang-orang terhadapnya.


"Haih, memangnya aku setua itu ya? Umur kita kan nggak beda jauh." Dan Daryl mendengus kasar karenanya.


"Nggak tahu. Tapi kayaknya semua orang nggak percaya kalau aku bilang udah nikah. Kayaknya mereka lebih percaya kalau aku ini piaraan om-om ya? Ahahahah."


"Diam, Malyshka!"


"Serius, Dadd. Ini lucu banget."


"Lucu kepalamu!"


Dan tawa Nania menjadi semakin keras sehingga membuat Daryl gemas sendiri. Pria itu kemudian bergeser sehingga tubuh mereka merapat dan dia segera mengungkung Nania di bawahnya.


"Kamu tahu apa yang lebih lucu dari ini?" ujarnya, yang menindih tubuh kecil perempuan itu.


"Apa?" Suara tawa masih belum hilang dari Nania.


"Saat aku melepaskan semua pakaianmu, dan kamu mengerang di bawah kendaliku." Pria itu setengah berbisik.


Nania berhenti tertawa dan dia menatap suaminya dengan berdebar.


"Mati aku!" batinnya bergumam.


"Menurutku itu sangat lucu. Membuatku merasa ingin menghabisimu sekarang juga." katanya lagi yang menyingkap kaus tidur Nania.


Tampak dada indahnya yang bebas tanpa penghalang, juga pusat tubuhnya yang tidak tertutup apa-apa. Perempuan itu memang masih dengan kebiasaan lamanya yang tak mengenakan apa pun ketika hendak tidur, dan hal tersebut memudahkannya untuk menggaulinya kapan pun dia inginkan.


"Umm … Dadd?"


"Apa aku juga terlihat lucu sekarang?" Daryl menundukkan wajahnya sehingga dia bisa mengecup bibir merah Nania.


Dan rasanya sangat menyenangkan menatap istrinya dalam keadaan seperti itu.


"Dan apakah kamu tahu? Kamu juga sangat lucu." katanya lagi yang mengecup leher perempuan itu, kemudian menenggelamkan miliknya yang sudah mengeras di bawah sana.


Dan begitulah seterusnya, pertautan tersebut berlanjut dengan begitu panasnya.


💕


💕


💕

__ADS_1


Bersambung ....


Hadehh😂😂😂


__ADS_2