The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hari Pertama Kuliah


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Nanti telfon saja kalau sudah waktunya pulang. Kalau bisa aku yang menjemputmu, atau aku kirim Regan ke sini." Daryl membukakan pintu mobil untuk Nania.


Area gerbang kampus sudah ramai karena hari itu akan dimulai kembali kegiatan kuliah, terutama untuk mahasiswa baru.


"Oke." Nania menganggukkan kepala.


"Bekalmu sudah semua?" Pria itu memeriksa keadaan.


"Udah." Nania mengangkat totebag berisi kotak makan dan tumbler minumannya.


"Baik." Lalu pria itu mengeluarkan dompet dari saku jasnya dan menarik tiga lembar uang kertas berwarna merah.


"Jangan jajan sembarangan, Malyshka." Kemudian ia menyerahkannya kepada Nania.


"Nggak, paling jajan minuman sama seblak." Perempuan itu menjawab.


"Haih, itu yang aku maksud."


Nania tertawa.


"Pokoknya jangan yang aneh-aneh." Daryl memperingatkan.


"Nggak akan Dadd."


"Good girl." Daryl menepuk puncak kepalanya dengan lembut sambil tersenyum.


Namun Nania mengerutkan dahi saat menangkap pemandangan lain, ketika dirinya baru menyadari sesuatu yang masih terlilit di pergelangan tangan kanan pria itu.


Nania meraih tangan suaminya untuk dia periksa. "Kamu masih pakai ini?" Dan ia menyentuh tali berwarna hitam yang dililitkannya berbulan-bulan yang lalu.


"Yeah, why?"


Perempuan itu tertawa.


"Aku lupa kalau nggak lihat hari ini. Masa belum kamu lepas sih?" Dia menyentuh benda itu.


"Kenapa harus dilepas? Bukankah ini jimat darimu? Lagipula ini cukup bagus sebagai aksesoris."


Nania tertawa lagi.


"Jangan tertawa, Malyshka. Cepat masuk ke sana!" ujar Daryl yang meremat jemari kecil milik Nania.


"Oke, Daddy." Perempuan itu kemudian menghambur untuk memeluknya sebentar.


"Baiklah, itu bagus. Kamu tidak lagi malu memeluk suamimu di depan umum ya?" Daryl menepuk-nepuk punggung Nania sambil terkekeh, dan dia menatap sekeliling.


Tentu saja orang-orang menatap ke arah mereka seperti biasa, namun dirinya merasa senang.


"Oke, hari pertama kuliah jangan sampai terlambat kan? Atau kamu akan dikenal sebagai si lambat untuk selamanya." Mereka berdua tertawa.


"Cepat, cepat sana! Temukan teman barumu!" Dan Daryl membiarkannya pergi setelah memastikan jika penampilan Nania sangat baik hari itu.


Dan perempuan itu pun berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya, seolah mereka akan berpisah dalam waktu yang lama.


"Nania?" Mahira berlari dari arah belakang begitu dia mengenalinya. Dan mereka segera berpelukan seperti dua teman lama yang baru saja berjumpa.


"Kayaknya kita datangnya barengan tadi, cuma aku malu mau nyapa kamu di gerbang." Dua perempuan itu melangkah bersisian menuju ruang kelas mereka.


"Masa? Pake malu segala?" Nania tertawa mengingat di gerbang tadi dirinya dan Daryl mengucap perpisahan yang cukup dramatis.


"Iya, kalau ada suami kamu aku rasanya malu." Mahira juga ikut tertawa.


"Hmm … padahal kadang dia yang malu-maluin. Hahaha."


Lalu keduanya berhenti begitu masuk ke dalam kelas di mana orang-orang sudah memilih tempat duduknya masing-masing, dan hanya tersisa dua kursi saja di barisan depan.

__ADS_1


"Kayaknya kita kebagian di depan deh?" ujar Mahira yang segera menarik Nania ke tempat duduk yang tersisa.


Kemudian seorang dosen masuk dan memulai sesi kuliah pada hari itu.


***


"Seriusan, aku nggak akan percaya kalau nggak lihat sama mata kepala sendiri. Masa ada anak kuliahan yang bekel makan ke kampus? Kayak anak TK aja." Mahira tertawa sambil memperhatikan Nania yang tengah melahap makanannya disela istirahat mereka.


"Jujur aja, aku juga emang ngerasa kayak anak TK. Tapi mau gimana lagi?" Perempuan itu kemudian meneguk air minumnya dari tumbler yang bermotif sama seperti kotak makan dan tote bagnya.


"Maksud aku, sesempet itu kamu mikirin mau bekel apa, terus nyiapinnya pagi-pagi, sampai cuci mulut sama camilannya juga ada." Mahira menunjuk bungkusan coklat dan kue yang ada di dalam kotak makan milik Nania.


"Orang rumah ini yang nyiapin dan bukan aku. Tinggal bawa aja apa susahnya?"


"Serius? Ahaha … lucu banget sih."


"Ya, sayang kan kalau nggak dibawa. Masa mama mertua aku capek-capek mikir semalaman mau bekelin apa malah aku tolak?" Nania kembali menyuapkan nasi dengan isian bermacam sayuran dan potongan daging ayam itu ke dalam mulutnya. Lalu dia mengunyahnya dengan semangat.


"Rajin banget sih mertua kamu?"


"Bukan rajin. Mertua aku cuma mikirin mau makanan apa, terus yang bikin pegawai di rumahnya. Nah aku tinggal makan, coba nikmat mana lagi yang mau aku dustakan? Cuma tinggal bawa doang." Nania telah menghabiskan makan siangnya, kemudian dia kembali meneguk air minumnya hingga habis setengahnya.


"Oh, … enak banget sih jadi kamu?" Dan Mahira pun melahap makanan yang dipesannnya dari kantin. Namun ucapannya yang terakhir membuat Nania terdiam sejenak.


"Kenapa malah melamun? Ada ucapan aku yang salah ya?" Gadis itu menoleh ketika Nania tiba-tiba saja terdiam.


"Eee … nggak sih, kamu benar." Dan perempuan itu tertawa kemudian membereskan bekas makannya.


Ya, sekarang memang enak. Batin Nania yang menatap teman barunya itu dalam diam.


"Hey? Boleh bergabung?" Dua orang senior perempuan yang mereka kenali datang menghampiri dan langsung saja duduk di kursi yang kosong.


"Kenalin, aku Jesica."Β 


"Dan aku Yura." Mereka menyalami Nania secara bergantian.


"Ya, Kak?"


"Undangan khusus untuk acara kampus. Dan kamu terpilih sebagai undangan istimewa di antara beberapa mahasiswa baru."


"Undangan?"


"Ya, datanglah besok malam. Ini spesial."


"Umm … kayaknya aku nggak bisa deh Kak. Maaf." Namun Nania segera mengembalikan benda tersebut.


"Apa? Kamu nolak?" Gadis bernama Yura itu cukup terkejut.


"Sengan menyesal iya. Soalnya aku nggak bisa pergi. Serius Kak."


"Tapi ini undangan penting. Banyak orang yang berharap dapat undangan kayak gini tapi kamu malah menolaknya? Lucu sekali."


"Maaf, Kak. Bukan bermaksud nggak sopan. Tapi aku memang bener-bener nggak bisa. Apalagi untuk menghadiri acara kayak gitu. Asli, aku minta maaf banget." jawab Nanja lagi, dan kini dengan nada menyesal.


"Kamu akan menyesal lho, ini acara penting."


"Ya, tapi aku akan lebih menyesal kalau menerima itu."


"Serius?"


Nania menganggukkan kepala.


"Ck! Nggak bisa dipercaya ada yang nolak undangan acara. Padahal ini ketua BEM nya langsung yang ngundang."


"Ya … gimana dong? Mau dosen sekalipun aku emang nggak bisa datang Kak. Maaf." Lagi-lagi Nania meminta maaf.


"Hmmm … ya sudah, tapi kamu jangan menyesal ya? Kamu nggak tahu previlage apa yang bisa didapat kalau misalnya masuk ke acara ini."


"Makasih, Kak. Sekali lagi aku minta maaf." ucap Nania lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, nggak apa-apa." Mereka bangkit dan berniat untuk pergi. "By the way, karya kamu oke juga kemarin. Sayang banget kalau nggak kamu gunakan untuk bergabung di perkumpulan kami. Karena untuk itulah acara ini dibuat."


"Umm …bukan cuma aku, Kak. Mahira juga. Kalau mau, undang Mahira aja bisa kok."


Jesica dan Yura hanya melirik kepada Mahira sekilas, kemudian mereka kembali pada Nania.


"Akan kami pertimbangkan." katanya, kemudian mereka berpamitan.


"Kamu gila ya?" Mahira kemudiam bereaksi.


"Apaan?"


"Nolak undangan senior di acara itu? Kamu tahu nggak apa yang mereka adain itu?"


"Nggak. Lagian aku emang nggak bisa pergi."


"Nania! Itu semacam perekrutan mahasiswa yang punya bakat lebih baik dari yang lainnya. Mereka ngumpulin orang-orang kayak kamu untuk mengasah kemampuan terus melakukan pembinaan untuk disalurkan ke tempat yang tepat. Kamu nggak sadar dengan kemampuan kamu ya?"


"Sadar."


"Terus kenapa ditolak?"


"Emang penting ya untuk masuk organisasi kayak gitu? Aku kok lihatnya lain?"


"Lain gimana? Udah jelas-jelas mereka memuji kemampuan kamu dan mau kamu bergabung. Ini malah ditolak."


"Kamu yakin ini soal kemampuan?"


"Iyalah, nggak dengar apa tadi karya kamu dipuji?"


"Karya yang mana? Gaun dari lakban?"


Mahira menganggukkan kepala.


"Seingat aku, itu kita ngerjainnya berdua, bukam cuka aku. Jadi kalau mau muji ya bukan cuma muji aku, tapi kamu juga. Terus itu barusan kenapa mereka nggak lihat kamu? Segitu aja aku udah notice."


Mahira mengerutkan dahi.


"Kalau yang mereka lihat adalah bakat atau kemampuan, aku rasa tadi mereka nggak cuma ngundang aku, tapi kamu juga. Kan pasti tahu itu gaun siapa aja yang bikin. Tapi kenapa cuma aku yang diundang? Menurut kamu aneh nggak?"


Gadis itu terdiam.


"Aku rasa itu bukan cuma soal kerja, tapi popularitas. Mereka tahu aku siapa dan bakal dapat apa kalau aku masuk ke circle itu."


"Masa gitu?"


"Percaya deh, bukan itu yang mereka mau. Kalau iya, bisa aja tadi undangannya dialihkan ke kamu. Kan pasti tahu kalau waktu itu kita kerja sebagai tim, jadi ada pilihan lain kan selain aku? Bukannya langsung pergi."


Mahira terdiam lagi.


"Aku udah hafal orang-orang kayak mereka. Yang mau mendekat hanya karena kita populer. Eh, padahal aku kan nggak populer ya? Ahaha." Nania tertawa.


"Lagian bahaya kalau aku pergi ke sembarang tempat." Lanjut Nania.


"Bahaya kenapa?"


"Suami aku nggak akan ngizinin."


"Dih, istri taat suami!" Mahira mencibir, lalu keduanya tertawa bersamaan.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ....


Maaf gaess, kayaknya sampai lebaran update episode bakal telat terus deh. Maklum banyak kerjaanπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Tapi semoga kalian nggak bosen ya?


Alopyu sekebon 😘😘😘


__ADS_2