The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Tracking


__ADS_3

🍂


🍂


"Aku pikir tracking itu cuma jalan aja." Anandita menatap tebing batu di depannya.


"Bukankah kita memang jalan selama satu jam tadi?" Arfan menjawab ucapan putrinya.


"Ya, tapi nggak panjat tebing juga." Gadis itu mendongak sampai dia bisa melihat ujung atasnya di mana pria-pria yang biasa menjadi pemandu resort berada.


"Tunggu!" Dia mengerutkan dahi.


Sosok yang dikenalnya sudah berada di atas sana dan secara bersamaan dia juga melihat ke arahnya.


"Kayak Om Regan?" gumamnya, pelan. Namun sang ayah masih bisa mendengarnya.


"Memang. Dari pagi dia sudah ada di sini." ucap Arfan ketika dua buah tali khusus diturunkan dari atas. Kemudian Regan perlahan turun dengan tubuhnya yang diikat tali sedemikian rupa.


Dia meluncur dengan mulus seperti seorang akrobatis melewati dinding bebatuan setinggi sepuluh meter itu.


"Aman, Pak. Tapi hati-hati, batunya licin. Karena embun dan lumut bisa membuat tergelincir, jadi kita tidak bisa menggunakan tepung seperti biasa." Regan melepaskan tali di tubuhnya.


"Lalu?"


"Gunakan sarung tangan khusus." Pria itu mengeluarkan sarung tangan dari tas kecil yang dibawanya.


"Hmm …." Arfan hanya menggumam, kemudian menerima benda tersebut dan mengenakannya.


"Kamu juga mau coba?" Lalu Regan menyodorkan sarung tangan lainnya kepada Anandita.


"Apaan? Aku ikut bukan untuk panjat tebing juga, gila apa?" Namun gadis itu menolaknya sambil mendelik.


"Cobalah sesekali, ini seru." ucap Arfan kemudian.


"Umm … sejak kapan Papa suka panjat-panjatan?" Gadis itu menjengit.


"Sejak dulu, gunungnya yang berbeda. Eh, tebing maksudnya."


"Apa?"


Arfan tertawa sementara Regan dan Anandita saling melirik.


"Kamu mau tinggal di sini sementara kami naik? Silahkan saja." Arfan membiarkan Regan memasangkan tali lain dan alat keamanan pada tubuhnya.


"Papa mau naik?" Anandita kemudian bertanya.


"Tentu saja, memangnya kamu pikir mau apa kita ke sini?" Arfan menjawab.


"Kirain cuma jalan aja?"


"Hah, yang benar saja!" Pria itu tertawa.


"Serius?"


Arfan memastikan apa yang menempel di tubuhnya terpasang dengan benar, lalu dia bersiap untuk memanjat tebing ketika mendapatkan isyarat dari atas.


Seseorang menarik tali bersamaan dengan Arfan yang mulai memijakkan kakinya satu persatu pada batu di tebing. Dan pria itu mulai memanjat, sementara Regan menunggu di bawah.


"Ayo, Ann. Kamu harus coba ini karena sangat baik untuk kekuatan kaki dan tanganmu." katanya.


"Hah …." Anandita hanya menghembuskan napasnya dengan keras. "Untuk apa menguatkan kaki dan tangan? Emangnya aku atlit apa?" Gadis itu bersedekap.


Arfan sudah berada di tengah-tengah tebing ketika dia menoleh kepada putrinya yang masih berada di bawah.


"Yakin tidak mau ikut?" tanya pria itu lagi.


"Ada kang ojek nggak? Kalau ada aku mau naik ojek aja biar sampai di sana."


Arfan tertawa lagi, kemudian dia meneruskan pergerakannya hingga tiba di puncak tebing.


"Ann, kamu akan menyesal karena tidak mau ikut kesini." Lalu dia melihat ke bawah lagi.


"Emangnya kenapa?"


"Kamu tidak tahu apa yang ada di sini." Dan dia pun beranjak dari sisi tebing ke area tengahnya.


"Apaan sih, Pah?" Anandita berteriak, namun Arfan tak menjawab.


"Ish … ada apaan sih Om di atas?" Lalu dia bertanya kepada Regan yang masih berada di dekatnya.


Pria itu hanya terdiam menatapnya dengan kedua sudut bibirnya yang sedikit tertarik.

__ADS_1


"Om!" Kemudian Anandita menepuk tangannya sehingga pria itu tersadar.


"Hah? Apa? Kamu bilang sesuatu?" katanya yang sedikit tergagap.


"Di atas sana ada apa?" tanya nya lagi.


"Ada aku." jawab Regan, spontan.


"Hah?"


"Eh, maksudnya …."


"Hey, Regan? Kau tidak bisa memaksanya untuk naik ke sini juga ya? Kalau begitu tinggalkan saja!" Arfan kembali berteriak untuk memeriksa keberadaan putrinya.


"Duh?"


"Cepat, pilih saja. Mau ikut ke atas atau mau kembali ke villa?" ucap Regan kepada Anandita.


"Umm …."


"Aku harus kembali ke atas, Ann." Pria itu kembali berujar.


"Hah, kalian nggak asik!" Yang akhirnya membuat gadis itu menyerah dan mengikuti ucapan ayahnya.


Regan tersenyum kemudian memasangkan tali khusus untuk panjat tebing itu dan memastikan semuanya terikat dengan benar.


"Om senyum-senyum terus?" Anandita bergumam.


Regan tak menjawab.


"Om?"


"Hum?" Regan mengetatkan tali kemudian menariknya sehingga orang di atas mengetahui jika mereka sudah siap.


Pria itu mengacungkan jempolnya kemudian dengan perlahan mereka menariknya.


"Om?"


"Letakkan kakimu di sini, lalu tanganmu seperti ini." Dia menunjukkan bagaimana harus melakukannya.


"Aku nggak bisa." Anandita menjawab.


"Nanti juga bisa."


"Karena hanya kamu yang mau ikut dengan Pak Arfan, bukan adik-adikmu." Regan menjawab sambil memasangkan sarung tangan khusus untuknya.


"Karena niatnya mau ketemu Om."


"Maka … lakukanlah seperti yang papamu lakukan, Ann." Pria itu memegangi pinggang Anandita sambil perlahan mendorongnya agar dia mulai memanjat.


"Eee …."


"Tidak apa-apa jika aku memegangimu seperti ini?" ucap Regan yang sesekali melihat ke atas, mengantisipasi kalau-kalau Arfan memeriksa lagi.


"Jangankan begini, ciuman aja udah kok." Anandita menjawab, membuat Regan tertawa.


"Nanti mau lagi? Tapi di mana ya?" Pria itu berbisik, yang membuat pipinya merona seketika.


Kemudian gadis itu mulai memanjat seperti yang Regan katakan. Satu persatu bagian baru yang menonjol dia jadikan pijakan dan pegangan agar mampu menaiki tebing tersebut, meski membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukannya.


Sesekali dia tergelincir yang membuat Regan dengan sigap menahannya sehingga mereka mulai berinteraksi lebih dekat lagi. Yang membuat kecanggungan kembali tercipta ketika beberapa kali mereka bersentuhan dan berpegangan. Namun tak ada yang mampu Anandita lakukan karena hanya itulah pilihannya.


Regan mendorongnya dari bawah sementara orang-orang di atas menarik tali nya dengan perlahan. Hingga akhirnya mereka tiba dan mampu mencapai puncak tebing dengan napas yang terengah-engah.


"Sumpah, lain kali aku nggak akan mau ikut Papa lagi. Ngeselin!" Anandita merangkak hingga ke tengah kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas rumput.


Dia meletakkan sebelah tangannya di atas wajah dengan mata terpejam, dan dadanya naik turun dengan cepat. Disusul Regan yang segera duduk sambil melepaskan tali dari tubuh mereka.


BUGH!


Anandita memukul punggungnya dengan keras sehingga pria itu mengaduh.


"Hey kalian, cepat kemari! Kenapa malah berkelahi di sana?" Arfan berteriak.


Anandita mengerjapkan mata. Dia baru sadar dengan keberadaan ayahnya, dan gadis itu bangkit kemudian memutar tubuhnya. Dan seketika dia membulatkan mata ketika melihat pemandangan di depannya.


"Whoaaaaa …." Hamparan hutan berwarna hijau yang diselimuti oleh kabut tipis sehingga membuat tempat itu tampak tak nyata. Sementara diatasnya langit berwarna biru cerah dan matahari mulai bersinar terang.


"Bagus kan? Sepadan dengan perjuangannya memanjat tebing setinggi itu." Arfan duduk di kursi yang pemandu bawa dengan secangkir kopi yang dia sesap perlahan.


Anandita mendekat sehingga dia bisa menatap pemandangan itu lebih jelas.

__ADS_1


"Kenapa aku baru tahu ada tempat kayak gini di resort?" Gadis itu bergumam.


"Karena kita baru mengeksplorasinya sekarang-sekarang." Arfan menepuk sisi kosong di sampingnya, dan gadis itu segera duduk.


Dia menghela dan menghembuskan napas pelan-pelan, kemudian kembali menyesap kopinya.


"Papa jangan ngerokok, nanti ketahuan Mommy kena omel lho." Dan Anandita memperingatkan ketika sang ayah mengeluarkan sebungkus rokok lalu mengambil satu batang di dalamnya, kemudian menyalakannya dengan pemantik kecil yang dia bawa.


"Tidak akan." katanya setelah menyesapnya perlahan kemudian meniupkan asapnya di udara.


"Serius, nanti aku juga kena omel karena nggak ingatin Papa lho." ucap Anandita lagi, yang membuat pria itu tertawa.


"Nanti sepulangnya dari sini Papa langsung mandi jadi Mommy mu tidak akan tahu kalau Papa merokok lagi."


"Hmm …."


"Serius."


"Dari bajunya nanti kecium. Kayak nggak tahu aja kalau mommy itu pelacak?" Arfan tertawa lagi sambil mengacak puncak kepala putrinya sehingga rambutnya sedikit berantakan.


"Tapi … Papa sengaja ya pergi ke sini?" Anandita melanjutkan percakapan, meski sesekali dia melirik Regan yang berdiri tak jauh dari mereka, menatap pemandangan dan mengambil gambar dengan ponsel pintarnya.


"Begitulah."


"Cuma biar bisa ngerokok doang?" Gadis itu memiringkan kepalanya, membuat Arfan lagi-lagi tertawa.


"Dih, receh banget sih?"


"Memang sereceh itu, tapi ada hal lainnya juga." Arfan menoleh kepada sang putri.


"Apa?"


"Agar ada sesuatu yang bisa kita lakukan bersama sebelum nanti akhirnya kamu sibuk dengan kegiatanmu sendiri." Dia sedikit mencondongkan tubuhnya.


Anandita mengerutkan dahi.


"Kamu tahu, sebentar lagi kamu ujian. Terus kuliah, yang mungkin akan membuatmu sangat sibuk. Jadi tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Maka, Papa akan memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin agar tidak merasa menyesal nantinya." Arfan menatap wajah putrinya lekat-lekat.


"Menyesal kenapa? Aku kan nggak akan ke mana-mana. Sekarang aja masih sekolah, dan kuliah masih lama."


"Kamu tidak tahu saja jika waktu itu sebenarnya akan berlalu dengan cepat. Dan jika kita tidak memperhatikan, maka akan ada banyak hal yang terlewat dan akhirnya membuat kita menyesal karena tidak melewatinya dengan baik."


"Papa aneh deh ngomongnya begitu. Aku jadi takut, hahaha." Anandita tertawa.


"Dan kamu juga tidak tahu jika dalam hal ini Papa lah yang paling merasa takut." Kemudian Arfan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa?"


"Karena Papa akan kehilangan masa-masa seperti ini."


"Hmmm …." Anandita mengerucutkan mulutnya.


"Dengan Arkhan sudah pasti tidak bisa. Belum apa-apa saja dia sudah sibuk dengan dunianya. Aksa dan Asha apalagi, mereka seperti tak mau diganggu. Hanya denganmu lah Papa bisa menghabiskan waktu karena selalu ikut."


Sang putri tertawa lagi.


"Maka, manfaatkanlah masa-masa seperti ini."


Anandita menganggukkan kepala kemudian merangkul lengan Arfan dengan erat.


"Baiklah, mau sampai jam berapa kita di sini?" Gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak sang ayah.


"Entahlah, mungkin sampai matahari terbenam." Arfan menatap hutan yang terhampar sejauh mata memandang.


"Serius? Nanti Mommy nyariin."


"Tidak akan, Papa kan sudah bilang."


"Asha? Nanti dia mengamuk kalau Papa seharian nggak ada." Arfan terdiam sebentar, kemudian tertawa.


Lalu hal-hal konyol menjadi bahasan mereka seterusnya, yang membuat keduanya benar-benar melewati hari itu dengan gembira. Meski sesekali Anandita melirik ke arah Regan yang tetap berada di sekitarnya.


🍂


🍂


🍂


Bersambung ...


Romantis amat Papa sama anak gadisnya ini.

__ADS_1


Om Regan gimana? jantung aman? 😅😅


__ADS_2