
💕
💕
"Pergi dulu, Dadd." Nania mengecup bibir Daryl sebelum dia turun dari mobil.
"Malyshka, tunggu!" Namun pria itu mengikutinya turun.
"Nggak usah nganter aku sampai ke dalam, Dadd. Nanti kamu kesiangan." Dan Nania hampir berlari ke arah gerbang ketika Daryl benar-benar mengikutinya.
"Tidak, tunggu!"
"Apa lagi?" Lalu nania berhenti dan berbalik.
"Kamu lupa bekalmu."Â
"Udah, ini?" Perempuan itu mengangkat tas berisi kotak makanan dan botol air minum di tangan kanannya.
"Bukan itu." Namun Daryl tetap berjalan menghampirinya.
"Terus?"
Pria itu merogoh dompet di saku bagian dalam jasnya, "Uang bekalmu?" katanya, sambil membuka benda tersebut.
"Nggak usah, kan aku udah ada?" Nania menolak dan dia hampir meneruskan langkahnya.
"Bagaimana aku tidak khawatir sementara kamu sudah tidak memerlukan aku lagi?" Namun ucapan Daryl menghentikan langkahnya.
"Ck! Bukan gitu, kan emang udah ada. Kan aku juga punya uang. Ngapain kamu bekalin aku lagi? Mana mama bikinin aku makan padahal dirumah juga udah sarapan. Terus sekarang kamu juga?"
"Ya tidak apa-apa, agar kamu tidak kelaparan."
Nania tertawa. "Jangan lebay, Dadd. Makanan sebanyak ini nggak akan bikin aku kelaparan sampai sore."
"Tapi tetap saja …."
"Akutuh bingung kalau ambil bekal lagi dari kamu."
"Bingung kenapa?"
"Jajannya gimana orang nggak sempat? Abis makan langsung ada kegiatan lagi, terus nanti uang dari kamu mubazir dong?"
"Terus harus aku apakan uang ini? Aku terlanjur meminta uang tunai kepada Dinna karena mungkin harus membekalimu lagi?"
Nania tertawa lagi. "Kasihin siapa kek gitu biar nggak menuh-menuhin dompet kamu."
Daryl memutar bola matanya.
"Ck!" Nania berdecak, namun akhirnya dia kembali ke dekat pria itu. "Ya udah, sini kalau maksa." Lalu dia menengadahkan tangannya.
"Lima puluh ribu cukup?"Â Daryl menarik selembar uang berwarna biru.
"Itu kemarin pas SMA. Masa kuliah nggak naik?"
"Katanya kamu tidak butuh?"
"Kan kamu yang maksa?"
Daryl tertawa. "Terus berapa?"
"Nggak tahu. Kira-kira anak kuliahan jajannya berapa sehari?"
"Tidak tahu juga. Dulu aku menghabiskan setidaknya 10.000 rubel sehari." Daryl mengingat masa-masa kuliah di Moscow.
"Dih, kecil amat cuma 10.000 sehari? Dapat jajan apa?" Nania dengan keluguan perkiraannya.
"Ya memang. Karena rata-rata kalau sedang banyak kegiatan biasa habis sampai 30 sampai 50.000 rubel."
"Ohh … standar ya?" Nania mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, begitulah."
__ADS_1
"Eh, tunggu. 10.000 rubel itu berapa kalau di rupiahin?" Namun kemudian dia bertanya setelah memahami percakapan ini.
"Entahlah, aku rasa sekitar satu juta delapan ratusan kalau sekarang."
"Apa? Terus kalau 50.000 berapa?" Kedua mata Nania membulat dan dia setengah berteriak.
Daryl terdiam sebentar untuk mengira-ngira. "Mungkin sekitar sembilan juta rupiah."
"Hah?" Dan kini suaranya benar-benar nyaring sehingga sempat menyita perhatian orang yang berlalu-lalang.
"Biasa saja, kenapa? Itu bukan jumlah rata-rata, hanya kadang-kadang saja kan?"
"Itu dipakai beli apa aja sehari segitu? Masa makan sama bensin doang?" Nania dengan segala kepolosannya.
"Entah, aku tidak ingat. Lagi pula kenapa harus diingat sedangkan tugasku hanya sekolah saja?"
"Astaga! Nggak kegedean itu? Duit segitu aku kumpulin bisa bikin rumah gedongan!"
Daryl kembali memutar bola matanya. Sudah setahun bersama tapi Nania tetaplah Nania.
"Yaudah, mulai sekarang aku minta bekel lagi. Tapi mau lebih dari kemarin." Dia kembali menengadahkan tangan kepada suaminya yang malah tertawa.
"Ayo cepet kalau mau ngasih bekal jangan tanggung-tanggung!" katanya lagi, dan dia masih memikirkan uang sebanyak 50.000 rubel sehari dikali lamanya Daryl sekolah di negri Mr. Putin itu.
"Seratus ribu?" Kini Daryl menarik selembar uang merah dari dompetnya.
"Nggak mau."
"Terus berapa?"
"Tiga ratus ribu cukup." katanya.
"Serius? Memangnya mau jajan apa? Paling hanya mie ayam dan milk tea? Atau selebihnya permen jeli." Daryl tertawa lagi.
"Terserah aku. Dari pada kamu sembilan juta sehari itu jajanannya apa aja? aku langsung pusing mikirinnya juga."Â
Daryl menggelengkan kepala seraya menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan kepada istrinya. "Biaya hidup di sana kan memang tinggi." Dia bergumam.
"Tadi kamu menolak? Sekarang malah mematok bekal segitu?" Daryl menjawabnya.
"Ya kan kamu yang maksa? Tapi setelah dipikir-pikir, paksaan kamu enak juga." Perempuan itu mengerling genit.
"Duh? Bahasa dari mana itu barusan?"
Namun Nania malah tertawa. "Udah ah, aku masuk dulu ya? Tar dapat lagi hukuman karena telat." Lalu dia pun benar-benar meninggalkan Daryl di sana setelah menyambar uang dari pria itu.
"Hati-hati, Malyshka."
"Bye Dadd." Perempuan itu segera berlari di bawah tatapan tajam Mahendra yang juga baru saja tiba di area parkir.
***
"Kamu benar Nania Arsyad?" Seorang senior perempuan mendekati Nania setelah melihat nama dan datanya di daftar.
"I-iya, Kak." Nania menjawab setelah saling melirik dengan Mahira.
"Benar Nania yang itu?" Senior lainnya datang menghampiri.
"Istrinya Daryl Nikolai?" Dia meyakinkan.
"Ah, soal itu …."
"Pemilik Fia's Secret House dan …."
"Fia's Secret Parfum!" Mereka berdua bersamaan.
"Beneran ya? Waaahhh … selamat datang, selamat datang." Keduanya menyalami Nania dengan ramah.
"Sudah aku duga kan? Dari kemarin nggak ada yang percaya. Iklan itu ikonik! Gimana mungkin mereka nggak ngenalin kamu kan?"
Nania tertawa canggung sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1
Ini mulai menakutkan, aku pikir nggak akan ada yang kenal9. Dia membatin.
"Hey, sedang apa kalian itu? Kita kan sedang bertugas!" Mahendra sedikit berteriak, membuat kedua rekannya itu kembali ke mode awal.
"Oke, Nania. Kita bicara lagi nanti. Sekarang kerjakan tugas dari senior!" ucap perempuan dengan name tagg Alisa dan Sakina itu.
"Baik, Kak."
Lalu mereka berdua segera meninggalkannya saat Mahendra masih menatap.
"Kamu ini artis, atau model? Kok aku nggak pernah lihat di tivi?" Mahira bereaksi setelah menyimak percakapan tersebut.
"Bukan." Nania menggelengkan kepala.
"Terus itu tadi yang mereka bilang?"
"Bukan apa-apa, mungkin mereka cuma penggemar fashion aja."
Teman barunya itu mengerutkan dahi.
"Kamu penggemar fashion atau produk kecantikan, Mahira?" Lalu Nania bertanya.
"Nggak juga. Aku bahkan nggak tahu produk kecantikan atau fashion apa yang kamu maksud?" Mahira menjawab.
"Serius?"
"Ya." Mahira menganggukkan kepala.
"Kalau begitu bagus." Dan Nania tertawa sambil menepukkan kedua tangannya dengan riang.
"Memangnya kenapa? Terus kamu belum jawab pertanyaan aku kan?"
"Oh ya? Yang mana?"
"Ck! Baru aja ditanya udah lupa?"
Nania tertawa lagi.
"Kamu ini artis atau model?" Mahira bertanya lagi.
"Bukan." Kemudian Nania menjawab.
"Terus mereka kok bisa ngenalin kamu, tapi aku nggak?"
"Ah, udah nggak usah dipikirin."
"Serius. Mereka kenal tapi aku nggak." ulang Mahira.
"Iya, nggak apa-apa. Itu lebih bagus. Kita temenan bukan karena aku yang terkenal, tapi karena emang mau aja."
"Hm …."
"Oh iya, soal tugas kita aku udah minta izin sama suami aku. Kamu boleh datang ke rumah untuk ngerjain barengan."
"Masa?"
"Iya."
"Okelah."
"Hey, jangan mengobrol terus! Mau dapat hukuman lagi?" Mahendra, seperti biasa berteriak. Tapi pandangannya dia edarkan ke segala penjuru di mana adik-adik kelasnya berada.
"Cepat buat tulisan tentang kampus dan semua yang sudah kalian tahu sejak pertama kali mengikuti kegiatan ini. Saya mau sebelum istirahat sudah terkumpul di meja panitia, ya? Tidak terkecuali." katanya lagi yang sekilas melirik ke arah Nania dan Mahira.
💕
💕
💕
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lirik-lirik, Bang. Tar bintitan.😆