
💕
💕
"Kamu beneran nggak ingat ya? Padahal aku ingat lho." Mahendra membatin.
Pandangannya masih tertuju kepada Nania yang sibuk melayani pembeli ditemani suaminya yang ternyata aktif juga. Keduanya kompak menyapa orang-orang dan menarik pengunjung untuk datang ke gerai parfum itu dan membeli produk mereka.
Daryl bahkan terlihat menurut-menurut saja ketika seorang perempuan yang tengah hamil besar seperti memintanya untuk berfoto, dan Nania yang mengambilkan gambar.
Bukannya tidak sadar dengan kenyataan yang kini dia hadapi, tapi justru karena itulah Mahendra semakin ingin mendekat.
"Kakak mau?" Masih membekas dalam ingatan ketika Nania menyodorkan bekal makanan yang hampir saja dilahap hanya karena dirinya memperhatikan gadis itu.
"Makan aja. Aku nggak suka berbagi makanan sama anak lain." Mahendra menjawab.
"Nggak berbagi, tapi buat Kakak aja." Nania menggeser kotak makan ke hadapannya.
"Terus kamu gimana?" Mahendra menyeringai karena hal tersebut.
Mengapa sekotak makanan sederhana bisa membuat hatinya merasa gembira? Padahal isinya hanya nasi putih, telur dadar yang sudah dingin, dan semacam oseng-oseng sayuran hijau yang sederhana. Tidak seperti yang selalu tersedia di rumahnya setiap pagi, di meja makan besar yang mewah dan nyaman. Tapi dia selalu sendirian.
Kedua orang tuanya tidak ada karena sudah pergi saat dirinya belum bangun tidur, atau mereka belum kembali saat malam hari. Yang menjadikan hari-harinya penuh kesepian.
"Nggak apa-apa, makan aja." Mahendra kembali menggeser benda tersebut ke hadapan Nania.
"Serius, buat Kakak aja kalau mau."
"Aku nggak apa-apa …."
"Beneran deh, tapi lain kali jangan gini lagi ya?" Nania meraih kotak makan miliknya.
"Maksud kamu?"
"Aku nggak enak kalau Kakak deket-deket terus." Gadis itu menundukkan wajahnya. "Aku pikir Kakak mau apa-apa, jadi …."
"Kamu gila ya? Memangnya kamu pikir kamu itu siapa?" Mahendra bereaksi, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya.
"Umm … maaf, aku cuma …." Nania mulai gugup seperti biasa, namun Mahendra segera pergi meninggalkannya.
Dan sejak saat itu dirinya menyesal, karena pada di minggu berikutnya gadis itu tak dia temukan lagi di sekolah. Kabar yang sampai dari teman sekelasnya adalah Nania memutuskan untuk berhenti karena bermasalah dalam urusan administrasi.
"Kenapa kita bertemu dalam keadaan seperti ini? Kenapa aku ada di tempat dan waktu yang tidak tepat? Kenapa juga aku harus bertemu lagi denganmu? Apakah dunia sesempit itu?" Mahendra menempelkan punggung pada sandaran kursi.
"Permisi, Kak?" Mahira tampak mendatangi stand mereka.
Mahendra melirik ketika salah satu dari temannya menerima kedatangan gadis itu.
"Aku disuruh tanya, soal uang hasil penjualan yang harus didonasikan diserahinnya kapan?" Mahira menatap dua senior yang ada di tempat itu secara bergantian.
"Kalau itu nanti aja setelah bazar selesai. Kita kumpul di kantor BEM terus diakusi lagi." Dirga menjawab.
"Besarannya berapa? Mau seluruh dari hasil penjualan atau gimana?" tanya Mahira lagi.
"Kalau itu gimana kerelaan pemilik stand aja. Mau sebagian boleh, mau keseluruhan dari pendapatan juga bagus. Kita cuma memfasilitasi." jawab Dirga lagi.
"Oo … gitu ya? Baik Kak, makasih infonya." Kemudian gadis itu kembali ke tempatnya semula.
"Kena mental kagak tuh, Mahen?" Dirga melirik ke arah stand parfum yang hari itu memang ramai.
"Apaan?" Sedangkan Mahendra mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel miliknya.
"Lakinya ada, jualannya rame, dia kelihatan seneng-senen aja. Terus apa lagi?"
"Lu ngomong apaan sih, Dirga? Kagak jelas."
"Ngomongin lu, biar kagak salah langkah."
Mahendra memutar bola matanya. "Ya kali gue mau macem-macem? Lu pikir gue cowok apaan? Kagak punya harga diri banget mau ganggu punya orang?"
"Lah itu, lu lihat-lihat Nania terus?"
"Emangnya kagak boleh? Orang stand nya dia ada di depan gue? Ya kelihatan lah." Mahendra menjawab.
"Dari awalnya cuma lihat tar lama-lama ada niat?"
__ADS_1
"Niat apaan?"
"Ya niat kagak bener."
"Lu kira gue cowok murahan?" Mahendra bereaksi.
"Iya."
"Sialan!" Pria itu mengacungkan sebelah kakinya ke arah Dirga, namun temannya tersebut hanya tertawa.
"Kalau misalnya, orangnya kagak bisa gue deketin, ya minimal bisa gue lihat dari sini lah. Kan kalau hari-hari biasa kagak bisa." Mahendra melipat kedua tangannya di dada.
"Dih, sampai segitunya yang cinta bertepuk sebelah tangan?" Dirga mencibir.
"Ya apa dong? Mau di deketin dia udah punya suami. Kalau nggak, tapi dia ada di dekat gue. Ya cuma bisa lihat."
"Hmm …."
"Hehe … lucu ya? Bertahun-tahun gue ingat dia, tapi yang gue ingat malah nggak kenal sama sekali waktu ketemu." Mahendra tersenyum getir.
"Dih, lagian apa manfaatnya juga kalau dia ingat? Orang udah ada lakinya, dan lu kagak bakalan bisa apa-apa."
"Ya bikin gue seneng aja, gitu. Se nggaknya ingatan gue terbalaskan."
Dirga mencebik.
"Lu kenapa, Dirga? Kagak bisa gitu sekali aja menghibur gue? Kan temen lu ini lagi patah hati?"
"Dih, ngapain gue hibur? Orang patah hatinya lu bikin sendiri?"Â
Mahendra tampak mendengus keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gini lho, Opa, Oma, sama Om dan Tante. Jadi, tadi sore itu anak-anak di rumah baca belajarnya harus giliran. Tahu sendiri kan tempat itu nggak gede-gede amat? Jadi, segitu aja mereka udah desak-desakkan. Kan kasihan?" Anandita belum berhenti berbicara.
"Terus?"
"Aku juga udah cerita kan kalau makin ke sini anak-anak yang datang untuk belajar juga nambah terus? Dan bukan cuma anak-anak yang putus sekolah aja, ternyata anak-anak yang masih sekolah juga butuh belajar lebih. Dan mereka juga sama semangatnya, jadi aku pikir mau bantuin mereka lagi."
"Ya apa aja. Mau di gedein lagi tempatnya bisa, atau mau diganti sama yang baru dan lebih luas juga boleh. Apalagi kalau tempatnya strategis, jadi bisa gampang diakses sama semua orang. Itu lebih bagus."
Seluruh anggota keluarga saling melirik.Â
"Lama-lama cara bicara dan ide-idemu terdengar seperti Nania." Arfan menyahut.
"Apa jelek?" Anandita menoleh kepada sang ayah.
"Tidak juga. Malah sangat bagus."
Arfan tersenyum.
"Jadi Papa setuju?"
"Setuju untuk apa?"
"Bantuin anak-anak rumah baca."
"Soal itu …." Arfan kemudian menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Apa sangat darurat sehingga mengganggu proses belajar mereka?" Satria pun kembali berbicara.
"Sekarang sih nggak, kan bisa bergiliran." Anandita menjawab.
"Jadi, tidak harus buru-buru?"
Gadis itu menggelengkan kepala.
"Maka, bisakah menunggu kami berunding dulu?" ujar Satria yang menatap anak dan menantunya satu persatu.
"Opa mau bantu rumah baca biar jadi lebih besar?" Anandita menatap sang kakek dengan mata berbinar.
"Opa tidak janji, tapi Opa akan membicarakannya dengan om dan tantemu bagaimana baiknya."
"Tapi Opa mau bantu kan?" tanya Anandita lagi.
__ADS_1
"Mau, tapi kan harus dibicarakan dulu sebelumnya. Agar apa yang akan kita lakukan itu penuh perencanaan yang matang."
"Oh … gitu ya?"
"Ya."
"Membicarakan apa?" Daryl yang baru saja tiba bersama Nania pun menyela.
"Hey, kalian sudah pulang?" Lalu perhatian semua orang tertuju kepadanya.
"Ya." Dan pria itu segera duduk di tempat yang kosong, begitupun Nania.
"Bagaimana jualan parfum hari ini? Laris?" Sofia segera bertanya sambil menepuk pundak putranya.
"Lumayan." Daryl menjawab.
"Jualan parfum apanya?" Dimitri pun ikut bertanya.
"Kakak tidak tahu kalau Daryl dan Nania jualan parfum di bazar kampus?" Darren menyahut.
"Bukan aku, tapi Nania."Â
"Serius? Dalam rangka apa?" Sang kakak tertawa.
"Hanya bazar untuk acara amal. Itu acara tahunan juga, iyakan Malyshka?" Lalu Daryl menoleh ke arah Nania.
"Iya." Perempuan itu pun mengangguk.
"Dan kau ikut jualan dengan Nania?" tanya Dimitri lagi.
"Iya."
"Seharian?"
"Ya, dari siang kemarin malah."
"Rajin sekali kau ini menemani istrimu di bazar. Aku curiga bukan itu tujuannya?"
"Maksud Kakak?"
"Bazarnya ramai?"
"Tentu saja ramai, namanya juga bazar." jawab Daryl dengan kesal.
"Hmm … pantas." Dimitri menahan tawa.
"Apa?"
"Sudah pasti kau tidak akan bisa membiarkan Nania pergi sendiri, apalagi ke tempat ramai seperti itu." ejeknya, dan semua orang tertawa ketika mereka mengerti dengan maksudnya.
"Ah, sudahlah." Daryl kemudian bangkit dan menarik Nania untuk pergi dari hadapan keluarganya.
"Hey, Daryl! Mau ke mana kau ini? Masih sore untuk pulang ke rumah, tahu?" Namun Dimitri masih menggodanya.
"Daryl?" panggil pria itu lagi namun sang adik tak menggubrisnya.
"Ayo cepat ke rumah?" Dan Daryl cepat-cepat mendorong Nania agar mereka segera keluar dari rumah besar.
"Apaan sih buru-buru amat?"
"Cepat saja lah. Kalau tidak, nanti para keponakan mengetahui keberadaanmu, dan kita tidak bisa istirahat dengan tenang di rumah."
"Emang pernah kita istirahat di rumah? Kayaknya malah lebih capek deh, soalnya …." Nania mengoceh sebelum akhirnya Daryl menutup mulutnya dengan tangan.
"Ssttt! Jangan banyak bicara, nanti anak-anak dengar." Dan pria itu merangkul pundak Nania, lalu menyeretnya ke arah rumah mereka di belakang.
💕
💕
💕
Bersambung ....
No caption ahðŸ¤
__ADS_1