
💕
💕
Regan berusaha memasang senyum meski dia tahu mungkin tak akan semudah itu Anandita menanggapi kedatangannya, pada hampir sore saat gadis itu mengambil jam istirahat untuk pelajaran tambahannya. Dan seperti biasa, area belakang sekolah menjadi tempat mereka bertemu.
"Katanya sibuk?" Anandita merengut.
"Ada waktu sedikit sebelum menjemput Nania." Regan menatap wajahnya yang tampak masam tapi ia rindukan.
Sebulan belakangan memang hampir tak ada waktu bagi mereka untuk bertemu karena pekerjaan yang Daryl berikan padanya benar-benar menyita waktu dan tak ada kesempatan libur meski di akhir pekan.
"Ah, percuma ketemu juga cuma sebentar," ketus Anandita yang melipat kedua tangannya di dada.
Regan menghembuskan napas pelan.
"Kan kamunya juga sekolah."
"Tapi Sabtu Minggu aku libur lho. Nggak kayak Om."
Pria itu sedikit terkekeh.
"Nggak usah ketawa, nggak ada yang lucu." Namun Anandita memicingkan mata.
"Ayolah Ann, masa kamu marah? Aku kan sibuk bekerja, bukan bermain-main."
"Terus Om pikir aku di sini ngapain? Aku juga lagi belajar, tahu!" Anandita membalikkan kata-katanya.
"Udah deh, kalau misalnya emang lagi sibuk nggak usah berusaha ketemu. Kan percuma kalau sebentar terus cuma ngomongin hal sepele doang. Kerjaan Om lebih penting, kan? Jadi ya udah …."
"Maksud kamu apa sih bicara begitu? Masih marah karena waktu itu aku tidak datang ke belakang rumahmu?"
"Nggak penting."
"Serius, karena sekarang ini aku merasa seperti anak SMP yang sedang bertengkar. Konyol sekali."
Anandita terdiam.
"Ya udah, pergi aja. Aku harus masuk sebentar lagi." ucap Anandita kemudian.
"Tapi, Ann. Aku jauh-jauh memutar dari FSH ke sini hanya untuk menemuimu. Juga mengantar makanan seperti biasa, kamu tidak lihat?" Pria itu mengangkat paperbag di tangannya.
"Aku nggak minta Om untuk ngelakuin itu kok. Aku tahu Om sangat sibuk makanya nggak menghubungi Om beberapa minggu ini. Serius, aku tahu. Jadi … ya udah." Gadis itu menatapnya dengan raut yang tak bisa Regan artikan.
"Ann …."
"Aku nggak bisa keluar lama-lama, lagian bukannya nanti bakal ketahuan ya kalau kita terlalu sering ketemu? Om bilang gitu kan?" Gadis itu berjalan mundur sambil menoleh ke belakang ketika teman sekelasnya memanggil.
"Setidaknya bawa makanan ini, Ann."
"Nggak usah, aku udah makan di kantin." ucap Anandita lagi yang memutar tubuh kemudian berlari ke dalam area sekolah.
"Itu orangnya, Ann?" Terdengar temannya bertanya.
"Jangan dibahas." Dan Anandita memberikan jawaban.
"Serius. Bukannya itu pegawainya Om kamu ya?"
__ADS_1
"Jangan dibahas, Chia! Dan tutup mulut kamu!" katanya yang menarik temannya tersebut menuju kelas, sementara Regan masih tertegun di tempatnya berdiri dengan perasaan yang tidak menentu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Di kantor malah melamun?" Nania memasuki ruang kerja Daryl yang sepi. Dan mendapati pria itu yang menatap keluar jendela ruangannya dengan posisi punggungnya dia sandarkan pada kepala kursi.
Daryl menoleh, dan kedua sudut bibirnya langsung tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Baby!!!" Dia merentangkan tangannya.
Tiba-tiba saja perasaannya berubah bahagia ketika melihat kedatangan istrinya.
Nania tertawa sambil menghambur ke dalam pelukannya, kemudian duduk di pangkuannya.
"Why it took so long? I miss you so much!" Daryl memeluknya erat-erat dan dia menyurukkan wajah di ceruk lehernya. Menghirup aroma tubuh perempuan itu yang sangat ia rindukan.
"Dih, kayak yang nggak ketemu berapa tahun aja?" Nania tertawa sambil membalas pelukan suaminya.
"Seharian serasa setahun, Baby!" Pria itu menjawab, dan membuat Nania kembali tertawa. Dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Kerjaan kamu udah selesai emang? Malah diem aja?" Nania bertanya.
"Sudah. Dan aku merasa bosan." Daryl masih tetap pada posisinya.
"Main game kek, nonton tivi. Apa aja bisa, kenapa malah melamun? Mana cuma lihat keluar lewat jendela lagi? Lihat apaan sih? Pesawat terbang? Mau minta duit?" Nania mengusak rambut bergelombang kecoklatan milik suaminya. Dan pria itu tertawa pelan.
"Eh lupa, duit kamu udah banyak jadi nggak perlu minta lagi. Hahaha." Lanjut perempuan itu yang juga tertawa.
Daryl mendongak, dan dia menatap wajahnya yang meski tak sesegar seperti pagi tadi, Nania tetap menggemaskan di matanya. Lalu tangannya terulur untuk menariknya agar dia bisa menciumnya.
Tetapi ketukan di pintu membuat mereka menghentikan aktivitasnya, dan Daryl dengan sengaja menahan Nania agar tetap berada di pangkuannya ketika Regan masuk. Yang tentu saja tampak terkejut melihat pemandangan tersebut, dan dia hampir saja mundur.
"Umm … maaf, Pak? Hanya membutuhkan tanda tangan untuk dua dokumen ini." Sang asisten menunjukkan dua map berwarna hitam dari ambang pintu. Dan dia tampak gugup.
"Hanya tanda tangan?" tanya Daryl lagi.
"Iya, Pak."
"Kemarikan!" Pria itu menyentak kan kepalanya, dan masih menahan Nania di pangkuannya.
Regan masuk kemudian menutup pintu rapat-rapat. Dan dengan sedikit rasa malu dia menghampiri meja atasannya untuk menyerahkan dokumen yang dibawanya.
"Aku hanya tinggal tanda tangan saja?" Daryl menarik benda tersebut yang sudah terlebih dahulu dibuka oleh Regan.
"Betul, Pak."
"Sudah kau baca dengan teliti?" Pria itu mengambil pulpen miliknya di sisi meja.
"Sudah, Pak."
"Baiklah." Lalu dia segera membubuhkan tanda tangan di beberapa halaman dokumen. Sementara Regan sesekali melirik samar ke arah Nania yang diam saja dengan wajah sedikit memerah.
"Selesai." Daryl meletakkan kembali pulpen dan membiarkan Regan menarik dokumen tersebut.
"Apa tidak ada lagi jadwal setelah ini?" Lalu dia bertanya kepada sang asisten.
"Tidak, Pak. Semuanya sudah selesai." Regan menjawab.
__ADS_1
"Baiklah, itu bagus." Pria itu kembali memeluk Nania dan merapatkan wajahnya di dada perempuan itu.
"Saya … permisi, Pak?" ucap Regan setelah percakapan itu dia rasa selesai.
"Hmm …." Daryl hanya menjawabnya dengan gumaman, dan dia kembali fokus kepada Nania ketika asistennya itu keluar dari ruangan tersebut.
***
"Daddy, kok kita malah ke sini? Bukannya tadi mau pulang ya?" Nania menatap area resort pinggir pantai yang memang sering mereka kunjungi akhir-akhir ini.
"Aku mau ke sini dulu." Daryl menghentikan mobilnya di area parkir khusus yang memang tersedia di tempat tersebut. Dan di saat yang bersamaan pengurus resort datang menghampirinya.
"Selamat sore, Pak?" sapa pria berseragam batik tersebut.
"Sore." Daryl membukakan pintu untuk Nania agar perempuan itu segera turun.
"Semuanya sudah siap, Pak. Silahkan."
Daryl mengangguk, dan dia menuntun Nania menuju ke tempat yang sudah pegawai resort siapkan untuk mereka, seperti biasa.
"Kayaknya kita keseringan nginep di sini, Dadd." Nania membiarkan pria itu menariknya langsung ke kamar tidur.
Dia tahu apa yang pria itu inginkan dan mereka memang sedang menikmati kebersamaan ini seperti baru saja menikah.
Daryl tak bersuara, namun dia melepaskan genggaman tangannya. Dan mereka tetap mendekati tempat tidur dengan pria itu yang melepaskan jas hitamnya.
"Kamu mau langsung aja? Masa kita nggak mandi dulu? Hehe …." Nania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
Pria itu tetap tak menjawab, namun dia sudah melepaskan kemejanya juga.
"Duh, beneran ini." Nania menggumam saat pria itu berbalik dan duduk di sisi ranjang, lalu memintanya untuk mendekat.
"Oke, Oke. Mau langsung aja, siap!" Dia pun melepaskan tas dan menjatuhkannya di lantai kemudian menuruti kemauan suaminya.
Nania pun melepaskan pakaiannya, setelah itu dia naik ke pangkuan Daryl. Dan segera bercumbu seperti yang selalu mereka lakukan jika sudah bersentuhan seperti itu.
Namun kemudian Nania terkejut ketika tiba-tiba saja Daryl merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Dadd?" Perempuan itu menatapnya lekat-lekat.
"Dadd, kamu kenapa?" Dia menepuk pipi Daryl beberapa kali, namun suaminya itu tidak bereaki.
"Daddy? Kamu kenapa?" Nania mendekatkan wajahnya pada wajah Daryl, lalu terdengar dengkuran halus pria itu. Dia tertidur.
"Duh? Kamu tidur?" tanya nya, kembali menepuk wajah suaminya meski tetap tak ada reaksi.
"Daddy! Kamu beneran tidur?" Nania mengguncangkan tubuhnya.
"Aaaa … diamlah, Malyshka! Aku ngantuk!" gerutu Daryl yang mendorong Nania sehingga perempuan itu turun dari pangkuannya, kemudian berbalik memunggunginya.
"Dih?" Membuat Nania tertegun dengan rasa heran di benaknya.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....