The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Tugas 3


__ADS_3

💕


💕


"Hati-hati, Malyshka!" Daryl menatap Nania yang berlari ke arah Mahira ketika mereka sama-sama tiba di depan gerbang.


Perempuan itu hanya melambaikan tangannya kemudian kembali berlari masuk ke dalam area kampus.


"Kadang aku khawatir kalau melihat dia dekat dengan orang lain seperti itu." Daryl kembali ke dalam mobilnya. "Aku takut seseorang memanfaatkannya lagi. Dia kan mudah percaya orang lain. Kau pikir, apa aku perlu menugaskan seseorang di kampus?" Dia dengan ide briliannya.


"Bisa kalau Bapak mau." Regan menjawab.


"Tapi apa tidak akan mengganggu?"


"Tidak, kalau hanya mengawasi."


"Ah, tapi sepertinya itu berlebihan. Memangnya apa yang mungkin terjadi di dalam sana?" Dia menyandarkan punggungnya pada kursi ketika Rubicon miliknya mulai melaju.


"Ada ratusan mahasiswa dengan berbagai macam karakter yang belajar di tempat yang sama. Saya rasa apa saja bisa terjadi." Regan memberikan jawaban diplomatis.


"Hmm … tapi setelah peristiwa di rumah susun itu aku rasa Nania akan sangat berhati-hati. Dan akhir-akhir ini dia sangat penurut."


"Ya, semoga saja terus begitu, Pak." Dan Regan terus memacu kendaraan roda empat tersebut membelah jalanan ibu kota yang sudah sibuk sejak pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papaku nggak percaya kalau kemarin aku bertamu ke rumah keluarga Nikolai." Mahira bercerita di sela kegiatan mereka.


Para mahasiswa baru membuat tulisan mengenai kesan pertama mereka menjalani kegiatan awal di kampus untuk  diserahkan kepada panitia penyelenggara ospek sore itu.


"Masa?" Nania tertawa.


"Iya, papa bilang aku bohong."


"Terus apa yang kamu bilang biar papa kamu percaya?" Perempuan itu tak menghentikan tulisan tangannya yang sudah membuat tulisan sepanjang satu halaman penuh.


"Aku tunjukin video yang aku rekam sebelum pulang."


"Mereka video sebelum pulang?"


"Ya."


"Apa yang kamu rekam?"


"Halaman depan rumah mertua kamu sama obrolan dengan Pak Regan."


Nania tertawa lagi.


"Terus Papa kamu percaya?"


"Sedikit."


"Nggak apa-apa, itu biasa." Nania menepuk-nepuk pundak teman barunya itu.


"Terus nanti gimana? Kan kamu ke rumah aku lagi untuk beresin tugas kita. Mungkin pulangnya lebih malam dari kemarin."


"Nggak apa-apa, aku bilang nanti akan video call kalau aku udah di rumah kamu."


"Hmm … apa kamu jarang keluar rumah selama ini?" Kemudian Nania bertanya.


"Ya … lumayan lah. Dan semalam pertama kalinya aku pulang larut malam."


"Masa?"


"Serius."


"Kadang orang tua nggak percaya kalau kita bisa melakukan apa aja diluar rumah." Nania menghela napas setelah dia merasa cukup menyelesaikan tulisannya.


"Emang."

__ADS_1


"Eh, bukan orang tua aja deh. Tapi para suami juga gitu." Nania mengingat suaminya yang sering kali tak membiarkannya pergi sendirian walau itu hanya sekedar jalan-jalan. Dan dia tertawa karenanya.


"Masa iya?"


"Hmm …." Dan perempuan itu menganggukkan kepala.


"Suami kamu gitu ya?"


"Ya, dan lebih protektif dari siapa pun."


"Jadi kamu nggak bisa keluar selain kuliah?"


"Hu'um." Nania mengangguk lagi.


"Terkekang dong?"


"Mungkin. Tapi itu karena aku terkadang ceroboh."


"Hahaha, aneh banget deh?"


"Hmm … emang."


"Duh, apa lagi ya, otak aku stuck nih nggak bisa mikir lagi. Kalau capek aku jadi lemot." Mahira kemudian menunjukkan hasil tulisannya yang baru setengah halaman.


"Ya udah aja nggak usah maksain." Dan Nania melihat buku tulis temannya itu.


"Kamu sudah lebih dari sehalaman?" Namun Mahira menunjuk tulisan Nania yang cukup panjang. Tampaknya kegiatan di kampus itu meninggalkan kesan yang bagus untuknya?


"Ya setiap orang kan beda-beda." Nania meletakkan bukunya di pangkuan.


"Lagian semua jurusan disuruh bikin beginian. Kan nggak semua orang bisa mengolah kata jadi tulisan. Emangnya jurusan bahasa atau sastra apa?" Mahira menggaruk-garuk kepalanya yang serasa hampir pecah.


"Se nggak nya kamu udah coba. Ini kan bukan thesis, tapi curahan hati."


"Ahahah, curhat dong …." Keduanya tertawa.


"Bagi yang sudah selesai harap dikumpulkan di meja panitia, agar kalian bisa segera pulang." Suara Mahendra terdengar ada di belakang mereka sehingga Mahira tentu saja menoleh.


"Nggak tahu, tapi kayaknya udah deh. Nggak ada patokan harus nulis sebanyak apa kan?"


"Iya. Mau dikumpulin sekarang?"


"Ayok, biar kita cepet pulang dan bisa beresin tugas."


Nania mengangguk lagi. Lalu dia meminta buku milik Mahira untuk dia serahkan bersamaan dengan miliknya.


"Nah, yang sudah menyerahkan bukunya silahkan membereskan barang kalian lalu segera pulang. Ingat, besok hari terakhir ospek sehingga kalian harus menyiapkan fisik yang baik. Makan yang banyak dan istirahat yang cukup. Kegiatan kita seharian besok akan sangat padat." ucap Mahendra lagi yang tentu saja segera diikuti oleh para mahasiswa yang sudah menyelesaikan tugasnya.


"Ayo, Mahira. Kita pulang? Udah ada yang nungguin di luar." Nania memeriksa ponselnya yang berbunyi saat ada pesan masuk. Lalu mereka berdua pun keluar dari barisan.


***


"Pak Daryl ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini, jadi belum pulang." Regan segera memberi informasi sebelum Nania bertanya.


"Oh … ke aku kok nggak ngasih tahu?" Nania memeriksa ponselnya siapa tahu Daryl mengirimkan pesan.


"Memang tidak sempat karena jadwal hari ini sangat padat." Regan menjelaskan.


"Hadeh." Lalu Nania masuk kedalam mobil diikuti Mahira.


Dan mereka tiba di kediaman Nikolai tak lebih dari satu jam, disambut suasana sepi seperti biasa karena penghuninya yang memang itu-itu saja.


"Kamu … nggak kesepian, Nna?" Dua perempuan itu sudah berada di galeri. 


Nania membawakan Mahira makanan dan minuman, juga hal-hal lainnya yang mereka butuhkan.


"Nggak. Tapi biasanya aku kan suka ke rumah besar kalau ditinggal kerja kayak gini." Dia menyiapkan beberapa barang untuk memulai pekerjaan mereka.


Dia merenggangkan tubuhnya, dan bersiap untuk menyelesaikan tugasnya malam itu.

__ADS_1


Lakban warna-warni yang sudah dibentuk kembali ditempelkan pada alas kain yang hampir sebagiannya sudah ditutupi hiasan sebelumnya.


Satu bentuk dasar menyerupai motif batik tradisional yang diaplikasikan pada pakaian bergaya modern. Dipadukan dengan desain kontemporer yang membuatnya terlihat lebih apik.


Mahira menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk menyemangati dirinya sendiri. Dan dia mengikuti Nania yang sudah lebih dulu mengerjakan bagiannya.


"Non, dipanggil ibu." Mima muncul setelah beberapa saat.


"Mau apa?"


"Disuruh makan."


Nania berhenti sejenak, kemudian menatap Mahira yang tampak serius.


"Mahira?"


"Ya?"


"Kamu mau makan?"


"Nggak, aku mau beresin ini dulu." Mahira menjawab.


"Bilangin Mama, nanti aja Mbak." 


Dan Mima pun segera kembali ke rumah besar setelah tak berhasil membawa Nania.


Lalu pekerjaan itu berlanjut. Nania kembali membentuk lakban menjadi motif yang dia inginkan, sementara Mahira menempelkannya satu persatu, hingga tak terasa berjam-jam sudah berlalu. Mima bahkan sudah memeriksa sebanyak dua kali dan dia memilih untuk mengantarkan makanan saja ke rumah Nania. Dan Regan memutuskan untuk pergi ke tempat Daryl karena Nania tak mengizinkannya untuk membantu.


"Dan … selesai." katanya, ketika satu potongan motif terakhir berhasil Mahira tempelkan.


"Serius?" Nania berhenti menggunting lakban berikutnya.


"Ya lihatlah!" Mahira bangkit dan sedikit mundur.


Dua perempuan itu menatap gaun tersebut dengan raut takjub. 


"Kita berhasil, Mahira! Kita berhasil!" Nania memekik dengan nada gembira. Lalu dua perempuan yang dipertemukan di kampus itu melompat-lompat sambil tertawa.


"Malyshka! Ada apa?" Daryl yang baru saha tiba di rumah segera berlari dari arah luar ketika mendengar teriakan nyaring dari galeri, dan mendapati istri juga teman kuliahnya sedang berjingkrak-jingkrak kegirangan.


"Dadd, lihat! Aku selesai!" Nania berhenti lalu menunjuk gaun buatannya bersama Mahira.


"Sudah selesai?" Daryl memasuki ruangan tersebut.


"Ya. Gaunnya udah selesai." Nania mengangguk.


"Aku kira ada apa? Membuatku terkejut saja!" Namun ekspresi pria itu biasa saja.


"Ih, aku seneng tahu karena tugasnya selesai. Kan nggak kepikiran terus, jadinya malam ini bisa tidur nyenyak."


"Memangnya setiap malam tidurmu nyenyak? Aku rasa kamu lupa. Hahaha." Daryl tertawa, dan otaknya memikirkan hal lain sekarang ini.


"Heh, jangan ngomong sembarangan. Ada anak dibawah umur." Namun Nania mengisyaratkan dengan sebuah lirikan ke samping di mana Mahira berada. Dan Daryl baru menyadari hal itu.


"Eee … oke, harusnya aku pulang nih, udah malam yakan? Hehe." Mahira dengan raut canggung.


"Nggak istirahat dulu sebentar?" tawar Nania.


"Nggak usah, nanti aja istirahatnya sekalian di rumah." Dia segera meraih tasnya di meja.


"Mmm … ya udah. Sayang, Regan masih di sini?" Nania beralih kepada suaminya.


"Masih. Bukannya memang dia menunggu Mahira ya?" Daryl pun menoleh ke arah ruang tengah di mana bawahannya berada.


"Ya udah, aku pamit ya?" Dan Mahira pun segera pergi dari kediaman Nania.


💕


💕

__ADS_1


💕


Bersambung ....


__ADS_2