
💕
💕
"Baby, mungkin aku akan sedikit terlambat. Sore ini ada briefing dengan sponsor untuk Fia's Secret Fashion Week." Nania membaca pesan dari Daryl.
"Oke." Lalu dia mengirimkan balasan singkat.
"Tidak apa menunggu sebentar? Aku tetap akan menjemputmu kok."Â
"Iya." balas Nania lagi, singkat seperti sebelumnya. Lalu setelahnya dia memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Belum ada yang jemput?" Mahira menatap ke arah luar tempat biasa dia melihat Daryl atau Regan sudah menunggu.
"Agak telat dikit soalnya lagi meeting." Nania menjawab.
"Oh … eh, tapi papa aku udah datang." Mahira menunjuk mobil ayahnya yang tiba beberapa saat kemudian.
"Kamu ikut aku aja yuk, nanti dianterin pulang." ajaknya kemudian.
"Nggak ah, makasih. Cuma nunggu bentaran doang kok." Namun Nania menolak.
"Serius ih, mendingan ikut aja kalau emang nggak ada yang jemput. Pak Regan emang sama meeting juga?"
"Nggak tahu, mungkin."
"Ya kan biasanya kalau Pak Daryl nggak bisa suka digantiin sama Pak Regan?"
"Orang suami aku nggak bilang apa-apa selain nyuruh nunggu. Katanya dia yang mau jemput."
"Ya udah, makanya ikut aku aja." bujuk Mahira lagi.
"Kita nggak searah, tahu?" Dan Nania tetap menolak.
"Nggak apa-apa ih …."
"Nggak, nanti suami aku ngambek kalau aku nggak nunggu."
"Ya tinggal bilang aja kalau kamu ikut aku."
"Nggak bisa gitu. Kalau dia bilang mau jemput ya aku harus nunggu. Nanti ngambeknya parah."
"Dih, aneh banget sih?"
"Ya emang." Nania tertawa.
Lalu perhatian mereka beralih ketika ayahnya Mahira membunyikan klakson mobilnya.
"Tuh udah dipanggil. Sana pulang?"
"Beneran kamu nggak mau ikut?" Mahira sekali lagi meyakinkan.
"Iya, nggak apa-apa. Paling cuma nunggu sepuluh menit."
"Ya udah kalau gitu, aku pergi ya?"
Nania menganggukkan kepala, kemudian Mahira pun pergi.
Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit hingga akhirnya sudah sekitar satu jam perempuan itu berdiri di depan gerbang kampus. Namun tak ada tanda-tanda kedatangan suaminya ataupun Regan untuk menjemput. Biasanya, salah satu dari mereka yang datang atau ada orang lainnya yang diutus untuk menjemputnya. Tapi entah mengapa kali ini Daryl tak memerintahkan siapa pun.
Mau menghubunginya, tapi Nania takut mengganggu karena seperti yang Daryl katakan jika dia sedang ada briefing dengan sponsor.
"Nania?" Suara yang dikenalnya membuyarkan lamunan, dan Mahendra menghentikan laju motornya persis di samping perempuan itu.
"Kamu belum pulang?" Pria itu bertanya.
"Masih nunggu jemputan." Dan Nania menjawab.
"Tumben telat?" Mahendra berbasa-basi.
"Iya, lagi pada sibuk."
"Kenapa nggak order ojek atau taksi online aja?"
"Akunya disuruh nunggu."
__ADS_1
"Udah berapa lama ini? Bukannya kamu sudah selesai dari tadi?" Pria itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, sedangkan Nania sudah menutup standnya sejak pukul empat dan tidak meminta kiriman parfum lagi padahal pengunjung bazar masih banyak.
"Iya, tadi nyuruh nunggu katanya cuma sebentar." jawab Nania lagi yang melihat layar ponselnya.
Tak ada pesan ataupun panggilan dari Regan maupun suaminya.
"Sebentar apanya? Udah sejam lebih lho?"
Perempuan itu hanya tertawa.
"Mau bareng aku?" tawar Mahendra setelah beberapa saat.
"Nggak usah Kak, makasih."
"Aku bisa antar kamu ke tempat kerja suami kamu kalau mau?"
"Nggak. Aku nunggu sebentar lagi nggak apa-apa, mungkin lagi di jalan."
"Aku serius, Nania."
"Asli Kak, nggak apa-apa. Makasih. Kalau disuruh nunggu ya artinya harus nunggu. Nggak boleh order ojek, ikut orang apalagi nyusul ke sana. Nanti malah nggak ketemu."
"Begitu ya?" Mahendra menatap wajah Nania yang sedikit muram. Namun kemudian pandangannya menangkap Rubicon hitam itu muncul dan dengan segera berhenti di depan mereka.
"Nah kan aku bilang juga apa?" Dan seketika wajah Nania berubah riang mengetahui suaminya sudah tiba.
"Ya udah, kalau begitu aku duluan ya?" Dan Mahendra pun segera pergi dari sana.
Nania tersenyum sambil menganggukkan kepala, bersamaan dengan Daryl yang turun dari mobilnya.
Pria itu menatap kepergian Mahendra dengan manik kelamnya yang berkilat hingga senior istrinya tersebut melesat dengan motornya di antara kendaraan yang berlalu lalang.
"Aku buru-buru takut kamu menunggu sendirian, tapi rupanya ada yang menemani ya?" ucap Daryl saat Nania mendekat.
"Cuma nanya doang." Perempuan itu menjawab.
"Dan kamu jawab?"
"Iyalah. Formalitas sama senior kan?" katanya, seraya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah Daryl buka sejak beberapa saat yang lalu.
Pria itu tertegun dengan kening yang berkerut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Petang mulai merayap dan langit Jakarta pun menggelap. Tapi mereka masih berada di jalan raya karena saat itu lalu lintas sangat padat.
"Besok terakhir." Nania menjawab tanpa memalingkan pandangan dari layar ponselnya, dan dia sedang ikut dalam percakapan grup bazar kampus yang membahas soal kegiatan mereka hari itu.
"Benarkah? Jadi setelah ini hanya akan ada kegiatan kuliah biasa saja?"
Perempuan itu menganggukkan kepala, namun masih fokus pada ponselnya. "Setelah kuliah biasa, minggu depannya UAS. Habis itu minggu depannya libur."
Daryl sedikit bernapas lega. Setidaknya dia tidak akan melihat istrinya itu berinteraksi lagi dengan seniornya.Â
"Briefingnya udah beres?" Lalu Nania mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam tas ketika obrolan di grup mulai tak menarik lagi.
"Ya, makanya aku menyuruhmu menunggu sebentar untuk menyelesaikannya." Daryl menghentikan mobilnya saat kendaraan di depan pun berhenti.
"Hmm …."
"Lalu bagaimana penjualan parfumnya? Ramai?" Pri itu bertanya.
"Habis." Nania menyandarkan kepalanya pada kursi.
"Wow, hebat sekali?"
"Ya, udah tutup dari jam empat. Nggak minta dikirim lagi karena mau pulang." lanjut Nania yang menatap keluar mobil.
"Apa?"
"Bazarnya sih tadi masih ramai pas aku tutup stand. Terus masih ada yang dateng lagi mau beli, tapi aku tolak karena parfumnya juga udah abis ah. Mau minta kirim lagi tanggung karena udah sore." Perempuan itu tertawa tanpa melihat ekspresi suaminya yang sulit diartikan.
"Kamu langsung keluar dari bazar?"
Nania menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Dan menunggu lama di depan tadi?"
Dia mengangguk lagi.
"Kenapa tidak menelponku kalau memang sudah selesai?" Daryl bereaksi karena hal tersebut.
"Kamu udah lebih dulu ngechat kalau jemput akunya agak telat."
"Aku pikir kamu masih jualan."
"Aku pikir kamu briefingnya sebentar."Â
"Kenapa juga kamu hanya menjawab oke oke saja?"
"Aku kirain emang beneran sebentar."
"Tapi kan kalau memberi tahu sudah selesai aku percepat briefingnya?"
"Kan nggak tahu kalau masih lama."
"Kamu tidak bertanya."
"Iya aku pikir beneran sebentar, kan?"
Daryl terdiam sambil menatap perempuan itu.
"Dan kamu memilih untuk ditemani kakak kelasmu dari pada memberi tahu kalau kamu sudah selesai?"
"Nggak sengaja, Kak Mahen mau pulang."
"Haih, Kak Mahen Kak Mahen!"
"Emang itu namanya kan?"
"Lain kali katakan kalau memang sudah selesai, jadi aku bisa memutuskan untuk cepat menyelesaikan pekerjaanku daripada membuatmu menunggu seperti tadi! Apalagi sampai ditemani pria lain." Daryl terdengar gusar.
"Iya." Lagi-lagi Nania hanya menjawab singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Regan memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe yang pertama dia temukan dalam perjalanan pulang. Memilih sudut paling sepi lalu memesan espresso untuk menikmati petangnya yang cukup santai. Sambil kembali memeriksa ponsel pintarnya, siapa tahu ada pesan penting yang masuk.
Beberapa email yang berasal dari perusahaan rekanan yang bergabung dengan FSH dia periksa, begitupun data lainnya dari beberapa sponsor yang ikut meramaikan acara fashion show pertama majalah hiburan terkenal itu nanti.
Beberapa pesan dia kirimkan kepada Daryl dan Dinna sebagai informasi agar mereka tahu perkembangannya. Dan itu menjadi akhir dari pekerjaannya hari ini.
Namun lagi-lagi perhatiannya tertarik pada pembaruan story whats app Anandita yang cukup banyak sore itu, sehingga dia merasa penasaran untuk kembali melihatnya.
Beberapa foto wajah gadis itu yang terpampang jelas di layar dan kata-kata yang sedikit tak dimengertinya karena menggunakan bahasa selain Indonesia dan Inggris.Â
"Ish, kenapa dia berlagak misterius seperti ini?" Regan mengcopy status tersebut untuk menerjemahkannya pada aplikasi di ponselnya.
"Mengapa juga aku merasa penasaran?" Dan dia terus menggerutu.
"Aku suka, tapi takut."
"Sayang … tapi juga takut."
"Cinta? Aku takut kamu nggak."
"Tapi … aku mau maksa ah …." Yang diikuti emot tertawa.
Begitulah terjemahan dari kalimat-kalimat yang ada pada story whats app Anandita yang dia terjemahkan.
Regan tampak mendengus kasar setelah membaca kalimat tersebut. Dan entah mengapa hatinya terus bertanya-tanya. Untuk siapa kata-kata ini Anandita tujukan?
Apa untuk dirinya, karena gadis itu pernah mengungkapkan rasa? Ataukah untuk orang lain yang mungkin jadi pengisi hati berikutnya?
"Haih, kenapa juga aku peduli? Remaja kan biasanya begitu. Siapa tahu ini untuk idolanya, grup pria-pria bermata sipit dan berwajah cantik itu?" Dia pun menyesap kopinya hingga habis, mematikan ponsel kemudian segera beranjak setelah melakukan pembayaran kepada pelayan.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Hadeh ... Kang Galon Dua🤣🤣🤣