
💞
💞
Om lagi sibuk banget ya akhir-akhir ini?" Anandita memulai percakapan setelah beberapa saat diam dalam keheningan.
Lalu lintas jalanan ibu kota pada menjelang siang itu cukup sibuk dan semua orang sepertinya memang berniat menghabiskan waktu akhir pekan mereka di luar rumah.
"Lumayan." Regan menjawab.
"Aku denger ibunya Om sakit ya?" Gadis itu terus bertanya.
"Tahu dari mana?" Regan yang tengah mengemudikan mobilnya sedikit tertawa.
"Denger aja kalau di rumah Opa lagi pada ngumpul."
"Hmm …."
"Sakitnya parah?" Anandita bertanya lagi.
"Cukup parah."
"Separah apa?"
"Cukup, sampai-sampai harus kemoterapi setiap hari di NMC."
"Kemoterapi?"
"Ya." Regan mengangguk pelan.
"Kena kanker ya?"
Pria itu mengangguk lagi.
Anandita terdiam beberapa saat untuk mencari topik lain, karena sepertinya pria ini sedang tak terlalu berminat bercakap-cakap.
"Om kalau emang nggak bisa anter jemput aku nggak apa-apa. Aku bisa diantar Papa terus pulangnya dijemput sopir. Jadinya Om tetep bisa …."
"Tidak, Ann. Aku bisa." Pria itu tanpa memalingkan pandangan dari lalu lintas di depannya.
"Kan kasihan, nantinya malah repot karena …."
"Aku bilang aku bisa. Kenapa sih kamu ngotot sekali? Kalau tidak bisa ya aku tidak akan datang untuk menjemputmu, kan?" Regan menghentikan laju kendaraannya ketika lampu lalu lintas berubah merah, kemudian dia menoleh kepada Anandita.
"Nggak, aku cuma takut ngerepotin Om." Gadis itu menjawab.
"Tidak, aku kan sudah terbiasa seperti ini, jadi ya … bukan masalah."
"Udah terbiasa direpotin maksudnya? Jadi kalau nggak repot berasa ada yang kurang gitu?" ucap Anandita sambil menatap pria itu.
Regan terdiam dan balik menatapnya, kemudian mereka berdua tertawa.
"Seperti ada sesuatu yang hilang. Hahaha," katanya, kemudian ia kembali melajukan mobilnya seperti yang lain saat lampu di depan berubah hijau.
***
"Nanti telpon aku kalau sudah selesai ya? Aku hanya akan ada di rumah sakit setelah ini." Regan menghampirinya setelah menurunkan kotak terakhir yang berisi makanan. Lalu Anandita menganggukkan kepala seraya mempersiapkan keperluannya untuk pengajaran hari itu.
"Tidak apa kan kalau tidak aku tunggui? Semisal kemoterapinya ibu selesai aku akan segera ke sini." ujar pria itu lagi.
"Nggak usah buru-buru. Kalau kemonya belum selesai ya jangan dulu ke sini, apalagi sampai ninggalin ibunya kan? Beresin dulu aja. Soal aku gampang, bisa minta jemput sama sopirnya Oma." Anandita melontarkan jawaban sehingga Regan terdiam menatapnya.
"Apaan Om? Biasa aja lihatinnya nggak usah gitu!" Gadis itu tertawa dan di saat yang bersamaan dia mendekat seraya meraup wajah Regan yang tampak kesal.
"Kamu bicara seperti itu terus seolah tidak membutuhkan aku." ucap pria itu lagi yang meraih tangan dengan jemari lentik milik Anandita kemudian merematnya dengan lembut.
__ADS_1
"Bukan gitu. Tapi kan kasihan kalau misalnya Om harus bolak-balik dari NMC ke sini cuka gara-gara mau jemput aku. Beluk lagi nungguin ibu kan?"
"Ya, tapi ….."
"Nggak usah terlalu mikirin aku untuk sekarang ini, kan belum waktunya." Gadis itu melanjutkan.
"CK!" Yang kemudian membuat Regan berdecak karena lagi-lagi hak itu membuatnya merasa kesal.
"Uda, udah. Sana cepat pergi, kelamaan di sini malah lupa lagi nanti. Hahaha." Lalu Anandita mendorong Regan hingga keluar dari dalam bangunan meski pria itu sempat menolak.
Dia melambaikan tangan kepada pria itu yang akhirnya memutuskan untuk pergi meski dengan berat hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy?" Nania menepuk pipi Daryl yang dengan nyaman merebahkan kepalanya di pangkuan, dan pria itu bahkan hampir memejamkan mata karena saking nyamannya.
Mereka berada di taman samping rumah yang suasananya cukup rindang oleh pepohonan dan tanaman lain yang dibiarkan tumbuh tinggi. Dengan rumput sebagai alasnya sehingga keduanya merasa cukup nyaman berada di sana.
"Daddy, ini udah siang. Kok kita nggak pergi-pergi sih?" ucap perempuan itu yang menundukkan wajah untuk bisa melihat suaminya.
"Sebentar lagi, Malyshka." Daryl menggumam seraya menggenggam tangannya yang masih menepuk-nepuk wajah.
"Dari tadi sebentar-sebentar terus tapi nggak pergi-pergi."
"Sebentar, Malyshka. Rasanya aku masih ngantuk." Dan Daryl mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengusir rasa kantuknya.
"Kamu ngantukan kayak bayi, hahaha." Nania tertawa sambil kemudian mengecup kening pria itu.
"Yes, i am your baby!" Dan Daryl merangkul tubuh perempuan itu sehingga dia bisa mencumbunya untuk beberapa saat.
"Pacaran melulu, ada anak kecil juga." Namun kedatangan Rania menginterupsi interaksi tersebut yang membuat Daryl melepaskan Nania.
"Hah, kenapa sih kamu selalu mengganggu? Memangnya halaman rumah ini sempit apa? Ke sini lagi, ke sini lagi." Daryl protes kepada kakak iparnya, meski Nania segera menepuk pundaknya untuk menghentikan dia.
"Dih, emang tempat ini yang paling bikin betah. Teduh dan sejuk tanpa AC." Dan Rania seperti biasa, tidak mau kalah atas ucapan adik iparnya.
"Biarin aja, ye … rumah Oma opanya ini. Emangnya nggak boleh ya?"
"Ya tidak boleh, kalian kan suda punya rumah sendiri, jadi kenapa …." Daryl menggantung kata-katanya ketika Nania kembali menepuk pundaknya untuk mengingatkan.
"Hak kita sama, tahu. Biar nggak tinggal di sini juga tapi kan tetap anaknya mama sama papi. Bukan kamu doang." Rania sedikit mendelik yang membuat Daryl tertawa.
"Mommy, Mommy! Look, look! I found something!" Anya dan Zenya berlari ke arah mereka dengan sesuatu dalam genggaman.
"Hih! Pasti kalian menangkap serangga lagi ya? Sana lah jangan bawa k sini. Masukkan ke dalam toples dan bawa pulang saja. Om jijik melihatnya." Daryl bagkit dan duduk bersila seperti dua perempuan di dekatnya.
"Bukan serangga, Om Der. Jangan sok tahu." Anya menjawab ucapan pamannya seraya merangsek lebih dekat.
"Kalau bukan serangga ya pasti binatang melata, atau katak. Mungkin juga ulat. Hiiiii menjijikan!" Sedangkan Daryl bergidik seolah telah menemukan hal paling mengerikan di dunia.
"Bukan!" Zenya yang berada di belakang sang kakak pun meyakinkan.
"Terus apa?" Nania kemudian bertanya karena merasa penasaran dengan apa yang dibawa oleh dua keponakannya.
"Wanna see it?" Anya kini yang bertanya.
"Ya."
"Janji nggak akan kaget?" Anak itu lagi dengan seringaian yang mencurigakan.
"Ah, perasaanku tidak enak soal ini. Jangan-jangan itu anak ular lagi?" Daryl memutar bola matanya, dan dia bersiap untuk pergi.
"No! Om salah. Ular itu berbahaya kan? Kata Opa juga nggak boleh diambil apalagi kalau warnanya mencolok. Kita bisa mati kena bisa kalau digigit." Zenja menjawab ucapan pamannya seperti biasa.
"Tahu juga kalian soal mati ya?" Dan Daryl menggumam karena ucapan anak itu.
__ADS_1
"Ofcourse." Zenya dengan wajah imut-imutnya yang tampak memerah dan berkeringat.
"Ya udah … terus apa yang kalian bawa itu? Hum?" Dan Rania pun akhirnya merasa tidak sabar dengan hal tersebut.
"You ready?" Anya hampir saja membuka kedua tangannya.
"Ya, bukalah."
"It's a dragonfly …." Anak itu perlahan membuka kedua tangannya yang semula dikatupkan, lalu tampaklah semacam serangga berjenis capung dengan warna yang merah mencolok seluruhnya.
"What is that?" Kemudian Daryl perlahan mendekat dengan pandangan yang tampak penasaran.
Seekor capung spesies langka yang sudah jarang ditemui di manapun, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Sangat tidak mungkin menjadi tempat hidup serangga yang habitatnya sudah menghilang ditelan zaman itu.
"Is a dragonfly, right Mommy?" Zenya bertanya kepada ibunya yang juga terdiam menatap serangga tersebut.
"Papatong?" Perempuan itu berucap.
"Apa?" Daryl melirik.
"Maksudnya itu capung. Hahaha. Orang Sunda nyebutnya papatong, tahu. Papatong sawah." Jelas Nania yang melihat lebih dekat lagi.
"Kamu apain dia sampai diem aja gini, Anya?" Lalu dia bertanya kepada putrinya.
"Nggak aku apa-apain orang dia yang diem aja di bunga tulipnya Oma."
"Masa?"
"Iya."
"Mustahil banget ada capung di Jakarta? Serangga jenis ini kan adanya hutan, kampung atau di pesawahan juga tempat yag udaranya masih bersih. Nggak bisa hidup di kota, apalagi jenis ini. Mereka sensitif sama perubahan iklim."
Nania dan Daryl menatap wajah perempuan itu dalam diam.
"Apaan?" Lalu Rania bereaksi kenanggapi sikap pasangan tersebut.
"Aku kira pengetahuanmu hanya seputar mesin motor dan mobil, ternyata kamu tahu juga soap capung ya? Hebat sekali." Daryl berujar.
Rania menarik salah satu sudut bibirnya ke atas kemudian mendelik ketika sang adik ipar tertawa.
"Aku emang suka otomotif, tapi bukan berarti nggak tau soal ilmu pengetahuan." katanya.
"Benarkah? Hahaha." Daryl tertawa cukup keras yang membuat capung yang semula tak bergerak di tangan Anya tiba-tiba saja terbang ke udara.
"No, wait!!" Dua anak itu kemudian berusaha mengejarnya.
"Hey, wait! Don't leave!" Zenya bahkan sampai berteriak karena serangga tersebut terus terbang menjauh.
"Yaaahhh … kenapa malah pergi?"
Tawa Daryl terdengar lebih keras melihat kedua keponakannya yang tampak kecewa.
"Om Der jahat, Udah bikin capungnya pergi." Anya mendelik.
"What? Are you kidding?"
"Iya ih, padahal tadi dia diem aja di tangannya Anya," sahut Zenya dengan kening berkerut.
"Dia tadi capek, dan setelah istirahat sebentar di tangannya Anya, baru terbang lagi. Dia harus bebas, tahu?" Daryl kembali tertawa yang membuat anak-anak itu misuh-misuh dan kembali pada petualangan mereka di halaman belakang.
💞
💞
💞
__ADS_1
Bersambung ....
Mas Junn nggak mau pulang ke NT katanya, 🤣🤣🤣