
💕
💕
"Hape kamu bunyi terus tuh." Arkhan menoleh kepada Anandita yang asyik menikmati sinar matahari pagi di pantai belakang rumah mereka.
Gadis itu berbaring di kursi santai yang sengaja diletakan oleh pegawai di rumah untuk mereka menikmati akhir pekan.
"Biarin lah. Lagi males." Anandita menjawab dengan cueknya. Dan kedua netra di balik kacamata hitam itu tetap tertutup rapat.
"Emangnya telpon dari siapa sih tumben banget? Biasanya hape kamu sepi." Arkhan bertanya.
"Kamu kepo."
"Eh, kok hape kamu kayak beda dari biasanya? Beli lagi ya? Kapan? Kok aku nggak?" Arkhan mencondongkan tubuhnya ke arah saudara kembarnya tersebut.
"Apaa!? Ini sama aja masih hape yang kemarin." Namun Anandita langsung mengambil benda pipih itu untuk menjauhkannya dari jangkauan Arkhan.
"Beda ah. Kayak itu mah tipe terbaru ya? Nggak adil nih Papa, kamu dibeliin hape baru tapi aku nggak." Arkhan misuh-misuh.
"Nggak, Ar. Masih hape lama, tapi casingnga aku ganti."
"Masa?"
"Serius."
"Kayak …."
"Masih yang itu, tahu." Anandita berusaha meyakinkan saudaranya.
"Lagian itu berisik banget sih, siapa yang nelpon coba? Rese!"
Anandita mengubah setelan ponselnya mode silent ketika melihat kontak Regan di layar.
"Pacar ya? Sejak kapan kamu punya pacar?" Arkhan menatap curiga.
"Bukan urusan kamu, Ar."
"Cieeee … udah punya pacar nggak bilang-bilang. Aku aduin Papa lho."
Anandita membukan kacamata hitamnya. "Sana kalau berani."
"Berani."
"Iya kalau bisa jalan. Hahaha." Dia menatap kaki saudaranya yang masih berbalut gips. Dan sejak kecelakaan sebulan yang lalu pemuda itu memang tak bisa pergi ke mana-mana tanpa bantuan.
"Bisa aku telpon." Arkhan menunjukkan ponselnya.
"Serah." Namun Anandita berlagak acuh meski dia berdebar-debar.
Arkhan menatap saudara kembarnya itu yang kembali merebahkan tubuhnya seperti tadi.
"Serius?"
__ADS_1
"Sana. Paling nanti kamar aku digeledah, hape disita, sekolah dikawal ketat. Nggak kayak kamu yang bebas pergi pakai motor dan ada alesan motor mogok atau ke bengkel kalau pulang telat."
Arkhan terdiam.
"Aku kayak tahanan, sementara kamu bebas pergi ke mana aja. Bahkan memutuskan untuk nggak kuliah karena mau jajal hobi juga nggak akan ada yang protes. Coba aku? Mau ambil jurusan kuliah yang aku mau aja harus mikir keras, habis itu berdebat dulu tapi nggak ada ujungnya." Anandita menggunakan senjata pamungkas untuk menyerang ego saudaranya.
"Enak banget jadi anak cowok. Nggak ada yang larang mau apa-apa, mau pergi ke mana-mana, mau ngapain aja nggak jadi masalah. Coba jadi anak cewek? Semuanya serba terbatas bahkan untuk urusan pribadi."
Arkhan mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan dia mendengarkan Anandita berbicara.
"Kadang aku berharap dilahirkan sebagai cowok biar bebannya nggak seberat ini. Karena kayaknya anak cewek itu kok berat banget. Apa-apa harus mempertimbangkan banyak hal dan menjaga nama keluarga. Coba kalau cowok? Rasanya …."
"Udah, udah jangan dibahas terus. Iya iya, ngerti. Kayak didzolimi banget sih ngomongnya? Biasa aja kali. Cuma masalah tanya hape aja bisa ke mana-mana, pakai bandingin soal lahir sebagai cewek atau cowok segala." Arkhan menjawab ucapannya.
Anandita tidak menjawab lagi, namun senyum samar muncul di wajahnya dan dia merasa lega karena berhasil mengalihkan perhatian saudaranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania menatap alat tes kehamilan yang sudah dia celupkan ke dalam air seninya. Dia tertegun dengan perasaan tidak percaya tetapi bahagia juga. Hingga rasa-rasanya dadanya mau meledak saking bahagianya.
"Tapi tunggu!" Dia kembali meyakinkan jika dirinya tidak keliru. Siapa tahu ada kesalahan.
Tapi …
"Nna?" Sofia memanggil sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Bagaimana?" teriak sang mertua.
"Eee … sebentar, Ma." Nania membuka kunci kemudian keluar.
Nania terdiam menatap mertuanya yang tampak begitu berharap.
"Mana, sini!" ucap Sofia lagi, dan Nania dengan gerakan perlahan menyerahkan alat tes kehamilan tersebut kepadanya.
"Oh … positif, positif, positif. Aku mohon Ya Tuhan!" Dia memejamkan mata terlebih dahulu sebelum melihat benda tersebut.
"Ah, jantung Mama seperti mau copot!" Dia terkekeh lalu menatap alat di tangannya. Yang kemudian membuatnya tertegun untuk beberapa saat.
"Ma? Itu … beneran positif kan?" Nania menginterupsi keheningan tersebut.
"Hah! Benar kan apa yang Mama pikirkan?" Sofia segera merangkul menantunya tersebut, kemudian dia menangis untuk sejenak.
"Akhirnya kamu hamil juga, Nak." Dia melepaskan rangkulan tangannya, kemudian menyeka sudut matanya yang basah.
"Ayo kita beritahu Daryl dan Papi." Sofia menarik Nania keluar.
Dua pria di ruang tengah tampak tak terganggu. Satria menatap layar televisi yang menayangkan berita internasional, sementara Daryl masih dalam posisi malasnya seperti tadi.
Namun kedatangan Sofia dan Nania sedikit memalingkan perhatian mereka dari aktivitas tersebut.
"Ada apa?" Satria menatap istri dan menantunya yang tampak sumringah namun dengan kedua mata sembab setelah sekitar setengah jam lamanya berada di lantai atas.
"Kalian habis menangis? Kenapa? Bertengkar?" lanjutnya, dan dia segera bangkit.
__ADS_1
Sofia menggelengkan kepala sambil tersenyum meski masih menyeka air matanya, kemudian dia pindah ke sisi suaminya.
"Ada apa?" tanya Satria lagi.
Sofia tak menjawab, namun dia menatap sang menantu yang masih berdiri di dekat sofa di mana Daryl berbaring.
"Kamu mau Mama yang mengatakannya, atau kamu sendiri?" Dia kemudian bertanya.
Nania melirik ketika di saat yang bersamaan Daryl juga menoleh kepadanya.
"Ada apa?" Pria itu pun bertanya.
Nania merasakan kelopak matanya memanas, dan air bening itu menggenang. Sehingga sekali saja dia mengedipkan mata, maka sudah bisa dipastikan semuanya akan luruh membasahi pipi.
"Ada apa?" ulang Daryl yang kemudian bangkit setelah melihat istrinya hampir menangis.
"Kenapa, Malyshka? Apa karena tadi aku membentakmu?" Dia menarik perempuan itu agar duduk di dekatnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, rasanya hari ini aku sangat kesal. Tidak usah diambil hati ya? Maafkan aku, oke?" katanya, yang malah membuat Nania benar-benar menangis.
"Aaa … Ya Tuhan! Maafkan aku, Malyshka. Aku tidak …."
"Aku hamil." Nania bicara sambil menangis.
"Apa?"
"Aku … ha-hamil." katanya yang menunjukkan alat tes kehamilan yang sudah bergaris dua.
Daryl terdiam menatap benda kecil tersebut.
"Aku hamil. Sunny mau punya adik," lanjut Nania yang kemudian menghambur ke pelukan Daryl lalu menangis dengan kencang di dadanya.
"No way!" Pria itu seakan tidak percaya, tetapi dia segera merangkul tubuh Nania yang tergugu di pelukannya.
"Is it real?" Dia menoleh kepada sang ibu, dan perempuan itu pun mengangguk.
"Benarkah?" Satria pun sama terkejutnya.
"Ya, lihat kan buktinya sudah jelas? Tandanya juga iya, aku tahu bahwa aku tidak akan salah dalam hal ini." ucap Sofia yang juga menangis sambil tertawa.
Dia tentu saja sangat bahagia dengan kenyataan tersebut. Bahwa anggota keluarga mereka akan bertambah lagi, dan hal tersebut menjadi yang terbaik dari segalanya.
"Oh, astaga Tuhan!" Daryl memeluk Nania erat-erat, sementara perempuan itu terus menangis dengan kencang sehingga beberapa asisten rumah tangga berlari untuk memeriksa keadaan.
Dan mereka ikut terharu ketika mengetahui kenyataan bahwa menantu kesayangan di keluarga itu kembali mendapat kepercayaan untuk memiliki keturunan.
Satria dan Sofia bangkit dan mereka sama-sama memeluk Nania, seperti halnya Daryl yang tak melepaskan perempuan itu. Mereka merasakan kebahagiaan yang sama, yang telah cukup lama dinanti.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....